I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 9



Rafael mencekal tangan Dyana, wajah pria itu sangat dekat dengannya. Dyana begitu tidak nyaman dengan posisi ini. Seumur-umur dia belum pernah sedekat ini dengan pria mana pun.


"Rafael! Aku haus bisa kita minum dulu!? Aku sungguh merasa gugup sekarang, sampai-sampai kerongkonganku terasa kering."


Dengan suara yang dibuat-buat menggoda, Dyana berhasil membuat Rafael menjauhkan tubuhnya.


"Tentu saja, baby. Lagi pula malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita berdua." ucap Rafael kemudian duduk di sofa.


Dyana bernapas lega, dia melenggang mendekati meja yang ada wine. Dengan posisi membelakangi Rafael dituangkannya minuman itu ke dalam gelas.


Digenggamnya gelas berisi wine itu, dia berjalan mendekati Rafael. Sengaja dia buka dua kancing baju teratasnya untuk mengalihkan pandangan Rafael.


"Kenapa kau tidak memakai pakaian yang kuberikan!?" tanya Rafael memperhatikan penampilan Dyana yang memakai mantel bulu selutut.


"Sebenarnya aku sudah memakainya di balik mantelku ini." Rafael menatap Dyana bingung.


"Tapi... kenapa!? Aku yakin kau akan terlihat lebih mempesona memakainya, sayang." Rafael menyentuh dagu Dyana berniat menggodanya.


Dyana hanya bisa menahan rasa risih akan pria ini.


Nanti. Tinggal sebentar lagi, Dyana. Kau akan memberi pelajaran pada pria ini.


Dyana tersenyum simpul.


Diletakkannya minuman itu di meja yang berada di dekat sofa.


"Tidak mungkin aku memakainya di luar, sedangkan pengawalmu tersebar di penjuru rumah." Dia berjalan mendekati pria itu, mengusap dada bidang Rafael dengan lembut. Membuat pria itu terlihat semakin bergairah. "Lagi pula aku ingin memberi kejutan padamu." bisik Dyana tepat di telinga Rafael.


Rafael tersenyum simbul.


"Apa? Cepat katakan. Aku benar-benar sudah tidak tahan." ucapnya sedikit mendesah.


"Berbaliklah!" Dyana membalik tubuh Rafael lembut agar tidak menghadap padanya. "Jangan melihat ke arahku sampai aku menyuruhmu, atau kau akan merusak kejutan ini." bisik Dyana lagi tepat di telinga pria itu.


Rafael hanya mengangguk pasrah, dia menurut saja agar semuanya menjadi cepat. Dia sudah tidak sabar melakukannya dengan Dyana.


Setelah yakin Rafael tidak lagi melihatnya, Dyana segera merogoh botol yang sejak tadi diselipkan di saku mantelnya. Segera ia menuangkan isinya pada salah satu gelas berisi wine dan kembali menyelipkannya ke dalam saku mantel.


Membuka semua kancing mantelnya, melepasnya dan meletakkannya di atas sofa.


"Sekarang berbaliklah Rafael!"


Rafael pun membalikkan badannya. Matanya membulat menatap Dyana tak berkedip. Dengan memakai dress mini berwarna merah menyala yang hanya menutupi setengah pahanya. Baju ini tanpa lengan, sungguh seksi dan menggoda.


Dengan anggun Dyana melenggang mendekati Rafael dengan dua gelas wine di tangannya.


Dyana memberikan minuman itu pada Rafael yang tengah menelan salivanya berat.


Rafael menerimanya tanpa memalingkan wajahnya dari Dyana.


"Untuk mengawali malam ini!"


ucap Dyana.


Mereka bersulang. Rafael meminumnya sekali tegukan, sedangkan Dyana hanya berpura-pura meminumnya.


Rafael benar-benar sudah tidak tahan, dia sudah terbakar api gairah.


Dengan cekatan pria ini mendekati Dyana, mengambil alih gelas minuman Dyana dan meletakkannya di atas meja.


Rafael mengelus wajah Dyana mengikuti garis wajah gadia itu.


"Kau, benar-benar cantik, Eliza. Aku akan membuat malam ini menjadi malam yang tidak terlupakan untuk kita berdua."


Kali ini Dyana yang menelan salivanya, tubuhnya meremang saat Rafael menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.


Dyana berniat melepaskan diri, tapi tidak bisa. Rafael menahan tubuhnya kuat.


Dyana mundur selangkah, Rafael maju selangkah. Hingga tubuh Dyana menabrak tembok. Dyana kembali menelan salivanya berat melihat tatapan penuh gairah dari Rafael padanya.


"Ada apa, sayang? Apa kau terlalu gugup?" Suara Rafael terdengar serak. "Tenang saja kau rileks saja. Aku akan melakukannya perlahan."


Rafael melepaskan tangannya dari pinggang Dyana. Menempelkan satu telapak tangannya ke dinding sedangkan tangan yang satunya mengelus dahi, hidung, hingga bibir Dyana.


Kenapa obatnya lama sekali bereaksi?


"Bibir ini pasti sangat manis." ucap Rafael dengan penuh gairah.


Dyana sudah tidak tahan lagi. Apalagi dia merasakan ada sesuatu yang keras menyentuh kulitnya di bawah sana.


Rafael mendekatkan wajahnya ke arah Dyana. Tangannya memegang dagu Dyana.


BUKH!!!


"Awh!" Rafael meringis sambil memegang selangkangannya saat Dyana menendang kejantanannya dengan keras.


"Berani sekali kau menyentuhku pria brengsek! Kau pikir siapa dirimu, huh!?" teriak Dyana dengan emosi menggebu-gebu.


"Kau!" Rafael berjalan mendekati Dyana dengan geram. Tapi, belum sempat dia menyentuh Dyana. Selangkangannya sudah lebih dulu ditendang oleh Dyana lebih keras dari sebelumnya.


Rafael meringis menahan sakit, belum sempat rasa sakitnya hilang. Dyana kembali menendang pria itu lagi, kali ini di bagian perutnya. Membuat Rafael jatuh tersungkur ke lantai.


"Untung aku sempat belajar karate dulu!" Dyana menatap Rafael yang kesakitan. Dia tersenyum penuh kemenangan, akhirnya rasa kesal yang telah ia tahan selama beberapa hari ini pada Rafael tersalurkan juga malam ini.


Rafael mencoba berdiri, dia berteriak memanggil anak buahnya, tetapi tidak ada yang datang.


"Mereka semua tidak akan datang!" ucap Dyana tersenyum meremehkan.


Tentu saja karena tadi Dyana sudah memasukkan obat bius ke makanan anak buah Rafael dan Dyana yakin Jack bersama anak buahnya sudah berhasil memasuki rumah Rafael.


"Kau!?" Rafael hendak melangkah mendekati Dyana, tetapi tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya berkunang-kunang hingga dia ambruk ke lantai.


"Itu pantas untuk pria brengsek sepertimu!" ucap Dyana dengan nada tegas.


*****


Dyana turun dari mobil Jack setelah pria itu memberikan cek kepadanya. Gadis itu turun tepat di depan gerbang rumah sakit. Awalnya Jack bingung mengapa Dyana menyuruhnya menurunkannya di sini bukannya di rumahnya, tapi Dyana mengatakan untuk menjenguk seorang teman sebentar.


Dia tidak mau menceritakan yang sebenarnya pada Jack. Dyana takut jika nanti Jack menganggapnya hanya mencari simpati saja.


"Dyana. Pekerjaanmu sangat bagus, bossku sangat senang mendengar kita berhasil meringkus seorang Rafael Arlando." Dyana tersenyum. Dia juga sangat senang, bukan hanya karena keberhasilan mereka menangkap Rafael, tetapi karena dia sudah berhasil mendapatkankan biaya operasi ayahnya.


"Aku turut senang, Jack."


"Baiklah. Aku pergi dulu masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Senang berkerja sama denganmu."


Jack memberi isyarat kepada supirnya untuk jalan. Dyana menatap kepergian mobil Jack hingga mobil itu menghilang di persimpangan.


Ditatapnya cek yang diberikan Jack itu. Dia tersenyum, merasa haru. Hampir saja dia meneteskan air mata.


Syukurlah semua sudah selesai. Setelah ini kehidupanku akan normal kembali.


Dyana melenggang melewati halaman rumah sakit. Dia masih memakai pakaiannya yang tadi, tapi dilapisi oleh mantel bulu di luar.


*****


Lagi-lagi Dyana harus merasa khawatir, dan mondar-mandir tidak jelas. Ayahnya sudah berada di ruang operasi, Dr. Zacro langsung melakukan tindakan karena lebih cepat ayahnya dioperasi itu lebih baik.


Lama Dyana menunggu. Sudah lima jam, kini hari sudah hampir pagi.


Dyana duduk di kursi tunggu dengan harap-harap cemas. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.


Empat puluh menit berlalu, sinyal lampu ruang operasi redup menandakan operasi sudah selesai.


Dyana berdiri menunggu Dr. Zacro keluar. Saat pintu terbuka dan menampilkan Dr. Zacro, gadis itu berjalan mendekatinnya dengan tergesa.


"Bagaimana, Dok?". Dyana tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Operasinya berjalan lancar, beliau berhasil melewati masa kritis." Dyana menghela napas lega. "Setelah ini Pak Harry akan dipindahkan ke ruang perawatan, kita tinggal menunggunya sadar."


Tak henti-hentinya Dyana mengucap rasa syukur dalam hati.


"Terima kasih, Dokter." ucap Dyana tulus.


*****


Seorang pria yang baru sadar mengerjapkan matanya. Dia melihat ke sekelilingnya, tak ada seorang pun yang ada di ruangan ini kecuali dirinya.


Tangannya terikat ke belakang, begitu juga kakinya. Mulutnya yang tidak tertutup apapun berteriak-teriak meminta dilepaskan.


Dia tidak akan memaafkan orang yang telah menyebabkannya seperti ini. Dia akan menemukan orang itu dan membalasnya. Ya, dia akan membalasnya dengan berkali-kali lipat. Satu nama sudah tertulis di hatinya, Eliza nama yang akan menjadi sasaran utamanya.


"SIAPAPUN LEPASKAN AKU! KEPARAT!" umpatnya dengan suara keras. "APA KALIAN TIDAK TAU SIAPA AKU!? KALIAN PARA ******** YANG HANYA BERANI MELAWAN DENGAN CARA YANG LICIK! AKU PASTIKAN KALIAN AKAN MENERIMA PEMBALASANKU!" ucapnya penuh ancaman.


Tiba-tiba pintu terbuka, beberapa orang pria terlihat memasuki ruangan yang lebih terlihat seperti gudang ini. Mata pria itu memicing mencoba melihat, apa dia mengenal orang-orang yang berjalan mendekatinya atau tidak.


"Apa kabar Rafael? Aku harap kau tidak lupa padaku." ucap pria tampan bersetelan jas rapi. Nada suaranya terdengar tenang namun penuh ancaman. Pria itu duduk di hadapan Rafael dengan angkuh, raut wajahnya memperlihatkan aura permusuhan.


Rafael mencoba mengingat siapa pria yang berada di hadapannya ini.


"Andreas!?" ucapnya setelah memorinya memperlihatkan siapa pria yang memandang penuh ancaman kepadanya saat ini.