I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 23



Seorang dokter dan beberapa perawat terlihat menutup wajah seseorang yang terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit.


Andreas membuka pintu dan memasuki ruang rawat tanpa memedulikan apakah dia diperbolehkan masuk atau tidak.


Seketika seluruh pandangan tertuju padanya. Tapi, dia tidak mempedulikannya. Dia tetap berjalan ke arah ranjang.


Menarik napas berat, lalu membuka kain putih yang menutupi wajah orang yang diyakini adalah Dyana.


Seketika Andreas memalingkan wajahnya saat melihat wajah Dyana. Wajahnya gosong dan menghintam dan sulit dikenali. Tapi, rambut dan postur badannya sesuai dengan Dyana.


"Tidak dia bukan Dyana! Dyana tidak mungkin meninggal!" ucap Andreas bersamaan dengan Jack yang memasuki ruangan dengan membawa sebuah tas di tangannya.


"Terimalah kenyataan, Dre. Dia memang Dyana," jelas Jack mencoba menenangkan Andreas.


"Apa buktinya jika wanita ini memang Dyana? Aku bahkan tidak dapat mengenali wajahnya." Andreas masih bersikeras mengatakan jika itu bukan Dyana.


Dokter diam. Tidak berani menjelaskan. Sama dengan perawat yang lain. Jack mengerti mengenai situasi ini dan mencoba menjelaskan pada Andreas.


"Begini. Dyana kecelakaan mobil bersama dua orang, laki-laki dan perempuan, mereka juga tewas dan tidak dapat dikenali lagi..," Jack membuka tas yang dia bawa dan mengeluarkan beberapa benda dari sana. "dan ini milik Dyana." Jack menunjukkan sebuah dompet yang terdapat foto Dyana di dalamnya.


Andreas menerima dompet tersebut, menelitinya dan benar ada foto Dyana di sana.


"Dan ini..." Jack kembali memberikan sesuatu pada Andreas. Kali ini sebuah buku, tepatnya album foto. "tas ini ditemukan di bersama mayat Dyana."


Andreas diam. Dia masih mencoba mencerna semua yang terjadi.


"Apa sudah ada keluarganya yang datang?" tanya Andreas sembari membuka lembar demi lembar album foto itu dengan perlahan.


"Sejauh ini belum dan memang tidak ada keluarga yang bisa dihubungi."


Andreas mengangguk. "Aku yang akan mengurus pemakamannya." ucap Andreas getir.


"Lalu bagaimana dengan mayat dua orang lainnya?"


"Aku tidak peduli."


Andreas pun keluar meninggalkan ruangan itu. Dia tidak sanggup lagi berada di sana. Dia takut jika nanti dia tidak bisa membendung air matanya dan menangis di depan orang-orang. Itu tidak boleh terjadi. Bagaimana pun dia tidak boleh terlihat lemah.


*****


"Kenapa kau murung? Sebentar lagi pesawatmu akan berangkat." ucap seorang wanita dengan lembut kepada wanita di depannya sambil merangkul bahu wanita itu.


"Apa kau sedih karena tasmu dirampok? Kau tidak usah sedih kita bisa mengganti semua barangmu yang hilang." ucapnya untuk menghibur wanita yang telihat murung itu.


Wanita yang ditanya itu menggeleng.


"Bukan itu masalahnya. Aku tidak peduli dengan tasku yang dirampok dan isinya." Mengingat di dalam tasnya itu memang tidak ada barang-barang yang berharga. Hanya beberapa perlengkapan Make Up, dompet yang isinya tidak seberapa. Tapi, ada satu benda yang paling berharga, yaitu sebuah album foto. Di sana tersimpan fotonya dari bayi hingga dia lulus SMA bahkan di ulang tahunnya yang keenam ibunya masih bersamanya.


"Jadi?"


"Album foto," gumamnya.


Seketika wanita itu paham. "Sudahlah, Dy. Ikhlaskan saja, mungkin kau memang tidak ditakdirkan lagi untuk menyimpannya."


"Tapi, Keyna. Aku.."


"Sudahlah Dy. Sekarang ayo! Pesawatmu sudah mau berangkat."


Mau tidak mau Dyana menurut.


Alex dan Calvin baru saja tiba dari toilet. Melihat Dyana dan Keyna berjalan meninggalkan ruang tunggu mereka pun bergegas mengejarnya.


"Dyana! Keyna! " Panggil Alex.


"Tunggu!" Sambung Calvin.


Dyana dan Keyna seketika berhenti dan berbalik ke arah Alex dan Calvin.


"Kalian lambat sekali di toilet. Aku pikir kalian tidak akan kembali lagi." gerutu Keyna.


Alex menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apa pesawatnya akan segera berangkat?" tanya Calvin.


"Iya." jawab Dyana.


Mereka pun bergegas untuk mengantarkan Dyana ke pesawat.


"Hati-hati, Dy. Jaga dirimu baik-baik." ucap Keyna sambil memeluk Dyana.


"Jaga dirimu, Dy." ucap Alex juga.


"Terima kasih, Alex."


Calvin menatap Dyana dengan pandangan tidak rela. Perlahan dia mendekati Dyana dan memeluknya. "Aku pasti merindukanmu, Dy. Jaga dirimu baik-baik dan selalu kabari kami."


"Terima kasih, Cal. Selama ini kau sudah sangat baik padaku." Dyana membalas pelukan Calvin.


"Tolong kalian jaga Ayahku. Aku juga pasti merindukan kalian!" ucap Dyana menahan air matanya.


"Pasti, Dy. Kau tidak perlu khawatir. Paman sudah ku anggap sebagai Ayahku sendiri." ucap Keyna tulus.


Dyana menghela napas lega. Dia bisa mempercayakan Ayahnya pada Keyna, walau sebenarnya ini sulit untuk dia lakukan. Tapi, mau bagaimana lagi, ini memang yang terbaik yang bisa dia lakukan sekarang.


Tak lama pesawat Dyana pun melaju meninggalkan kota New York.


Dia berharap semoga hidupnya lebih baik di sana dan tidak pernah lagi bertemu dengan pria berhati iblis seperti Andreas.


*****


Sudah seminggu sejak keberangkatan Dyana. Sekarang dia sudah berada di negara asal Ayahnya. Indonesia.


Ternyata negara ini banyak berubah. Terakhir kali dia ke sini saat dia berusia empat tahun. Saat itu dia bersama kedua orang tuanya berkunjung ke rumah neneknya di Bali.


Tapi, neneknya meninggal saat dia berusia enam belas tahun dan sekali lagi dia harus kehilangan orang yang dia sayangi.


Sekarang dia yang menempati rumah neneknya. Walau sudah lama tidak ditempati rumah ini masih terawat. Karena memang rumah ini sering dibersihkan oleh orang yang diupah Ayah Dyana, setidaknya satu sampai dua kali dalam sebulan.


Dyana menatap toko kecil yang berada di depan rumah. Dulu itu toko bunga milik neneknya. Tapi, sudah tidak dipergunakan lagi. Dia berencana memperbaiki tempat itu dan membuka toko bunga neneknya lagi.


Rumah ini tepat menghadap ke pantai. Banyak wisatawan yang berkunjung setiap harinya. Pasti akan banyak pelanggan yang berkunjung nanti.


Disamping itu, dia juga bisa membuka cafe kecil di sini. Cafe yang hanya menyediakan kopi dan kue. Itu pasti tidak akan terlalu merepotkan.


Sisa uang tabungannya ditambah uang yang diberikan Keyna padanya masih cukup untuk mempekerjakan pegawai untuk membantunya. Apa lagi dia masih harus melanjutkan kuliah, dua semester lagi dia akan lulus jadi sayang jika dia harus berhenti.


"Uueekk!" Tiba-tiba Dyana merasa mual. Kepalanya terasa pusing. Dia bergegas meninggalkan beranda rumah dan berlari menuju kamar mandi.


Wanita itu memuntahkan semua isi perutnya. Sesekali, dia memijat pelipisnya. Dia bingung, beberapa hari ini dia sering mual. Dia rasa dia hanya masuk angin saja, apalagi akhir-akhir ini dia kurang tidur, pasti itu penyebabnya.


Namun, ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas di otaknya. Wanita itu mengingat-ingat kapan terakhir kali dia datang bulan.


Dyana tersentak. Dia baru menyadari kalau dua bulan yang lalu adalah terakhir kali dia datang bulan.


Dyana menggeleng. Tidak, tidak mungkin kalau dia.., akh dia harus membuktikannya.


Dyana segera keluar dari kamar mandi, mengambil tas lalu keluar dari rumah. Dia akan pergi ke apotek membeli alat tes untuk menjawab semuanya.


Tidak sampai satu jam Dyana sudah kembali ke rumah. Dia segera ke kamar mandi untuk memeriksanya. Dyana ragu untuk melihat hasilnya. Dia menutup mata dan perlahan-lahan membukanya.


Setelah dia membuka mata, apa yang dia takutkan akhirnya terjadi.


Wanita itu menggeleng beberapa kali. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin jika dia hamil. Apa dia bermimpi? Tapi ini kenyataan.


Dyana bersandar di dinding kamar mandi, tatapannya kosong. Apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin dia membunuh anak tidak berdosa ini. Tapi, dia takut kalau dia tidak bisa menanggung beban ini sendirian.


Di tengah rasa bimbang yang dia rasakan. Dia mengambil ponsel dan menelpon Keyna. Bagaimana pun Keyna harus tahu masalah ini. Siapa tahu Keyna memiliki jalan keluar.


*****