
Kalo ada typo kasih tahu yah.
Thank's
------
Tok...tok...tok! Terdengar suara ketukan dari luar.
Andreas yang masih sibuk dengan berkas-berkas, sangat merasa terganggu dengan kehadiran orang yang entah siapa itu.
Dia menghentikan pekerjaan sejenak. Meletakkan pulpen dan berkata, "Masuk!"
Sudah sepuluh detik terlewat. Namun, belum ada tanda-tanda pintu terbuka.
Andreas berdecak, merasa kesal, karena setelah ia mengatakan kata 'masuk' belum ada orang yang masuk dan ketukan di pintu ikut berhenti. Dia merasa dipermainkan. Tapi, siapa kira-kira orang di kantor ini yang berani mempermainkannya?
Dengan perasaan kesal, Andreas melanjutkan pekerjaannya. Menandatangani berkas-berkas yang masih menjulang di depannya. Sesekali ia kembali membaca isi berkas-berkas itu. Memastikan tidak ada kesalahan dan kekeliruan di dalamnya.
Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk. Pekerjaan seperti tidak pernah habis menghampirinya.
Bahkan, ia masih belum menghubungi Dyana lagi. Seminggu kepulangannya ke New York adalah hari terakhir ia menghubungi Dyana. Itupun hanya pesan singkat berisi 'Aku merindukanmu.' Dan hanya mendapat balasan 'Tapi, aku tidak merindukanmu' dari Dyana.
Ini sudah sebulan semenjak ia kembali ke New York. Itu artinya sudah tiga minggu lebih ia tidak menghubungi Dyana.
Tiba-tiba rasa rindu yang selama ini Andreas tahan tidak dapat ia bendung lagi. Mungkin mendengar suara Dyana sekarang dapat mengurangi kepenatan yang ia rasakan akhir-akhir ini.
Andreas berniat menelepon Dyana, karena mengharapkan Dyana yang menghubunginya terlebih dahulu hampir mustahil terjadi. Terbukti tiga minggu ia tidak menghubungi wanita itu, Dyana sama sekali tidak menghubunginya.
Namun, belum sempat Andreas menekan nomor Dyana. Suara ketukan terdengar lagi. Dengan berat hati Andreas meletakkan ponselnya. Kemudian berkata, "MASUK!" dengan Nada Sarkas. Kalau kali ini tetap ketukan orang iseng. Andreas bersumpah akan mencari dan menghabisi orang itu saat itu juga.
Namun, belum sampai tiga detik, pintu itu sudah terbuka dan menampakkan sosok Jack yang masuk dengan setelan resmi. Di tangannya ada sebuah amplop putih.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Seolah kau ingin membunuh ku saat ini juga." ucap Jack yang sudah berdiri di depan meja kerja Andreas.
"Apa kau juga yang mengetuk pintu ruanganku sebelum ini?" tanya Andreas yang belum melepaskan tatapannya dari Jack.
"Tidak. Aku baru datang." jawab Jack bingung. "Tapi, aku menemukan ini di depan pintumu." ucapnya lagi sembari menyodorkan amplop putih ke arah Andreas.
Andreas menerimanya. Menatap amplop putih dan Jack secara bergantian.
Andreas membuka amplop tersebut. Menimbang-nimbang, apa kiranya isi amplop tersebut.
Mata Andreas melotot melihat isi amplop tersebut. Di dalamnya berisi sebuah foto dan selembar surat. Setelah membaca isi surat yang berada di dalam amplop. Andreas berdiri. Mengepalkan kedua tangannya di atas meja kerja. Surat yang berada di tangan kanannya ikut teremas. Andreas menggeram, dengan kekuatannya ia melempar surat itu ke sembarang arah.
Jack yang melihatnya merasa bingung. Apa sebenarnya isi surat itu?
"Kenapa kau tiba-tiba marah? Memangnya apa isi surat itu?" tanya Jack penasaran.
"Apa kau melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar kantor ini?" tanya Andreas masih dengan nada marah, tanpa menjawab pertanyaan jack sebelumnya.
Jack yang masih bingung menggeleng. "Tidak. Memangnya ada apa? Ada masalah?"
"Seseorang mengirim ku surat kaleng. Dia mengancam jika aku tidak menemuinya dan memberi uang sepuluh juta dollar malam ini. Dia akan mencelakai Dyana." jelas Andreas dengan napas memburu.
Mata Jack terbelalak. "Sepuluh juta?" tanya Jack memastikan.
Andreas hanya mengangguk dan terlihat berpikir.
"Kau tidak perlu khawatir. Bukankah Dyana masih berada di Indonesia?" Jack mencoba menenangkan Andreas.
Andreas menatap jack, kemudian menggeleng. "Tidak. Dia sudah berada di New York." jawab Andreas.
Andreas memperlihatkan foto yang berada di tangan kirinya ke arah Jack.
Di dalam foto itu terlihat Dyana yang berjalan di eskalator sebuah mall yang ada di pusat kota New York.
"Dyana sudah kembali ke New York. Aku sempat mendapat kabar kalau sepupunya akan menikah dengan Alex."
"Alex si Dokter muda. Pewaris tunggal Rose Hospital?"
"Iya." jawab Andreas singkat.
Andreas membuka laptopnya. Kemudian, memeriksa rekanan cctv. Dia memutar rekaman yang terekam kira-kira dua puluh menit yang lalu.
Jack mendekati Andreas. Mereka berdua menatap rekaman itu dengan saksama.
Terlihat seorang pria berbadan besar mendekati pintu ruangan Andreas. Pria itu meletakkan amplop tersebut, kemudian mengetuk pintu. Setelah itu ia pergi begitu saja dengan cepat.
Pria itu memakai seragam officeboy, topi dan masker wajah. Hingga wajahnya sama sekali tidak terlihat.
"Jack! Ku percayakan tugas ini padamu. Selidiki orang itu. Periksa semua rekaman cctv di kantor ini. Dan tanyai penjaga satu per satu. Jika ada di antara mereka yang mencurigakan bereskan saja!" perintah Andreas kepada Jack yang langsung diangguki pria itu.
Andreas mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Jack yang melihat Andreas hendak keluar dari ruangan.
"Aku harus menemui Dyana dan memastikan keselamatannya." jawab Andreas.
"Sebaiknya kau membawa pengawal atau melapor pada polisi." saran Jack.
*****
Andreas mengendarai mobilnya dengan kecepatan melebihi batas normal. Yang ia pikirkan sekarang adalah ia harus menemui Dyana secepatnya, membawa wanitanya itu ke tempat aman dan memberi pelajaran pada siapa saja orang yang mengancamnya.
Entah sudah berapa kali Andreas menghubungi Dyana. Tetapi, nomornya tidak aktif. Entah mengapa Andreas mulai khawatir sekarang.
Karena terlalu fokus pada ponsel, Andreas tidak menyadari ada seseorang yang hendak menyebrang jalan. Hanya beberapa meter lagi mobil Andreas akan menyentuh orang itu. Andreas menyadarinya dan dengan sigap Andreas mengerem mobil. Namun, mobilnya tidak kunjung berhenti. Remnya blong. Andreas membanting setir, menghindari pejalan kaki itu. Dan pada akhirnya mobil Andreas berhenti karena menabrak pembatas jalan.
Asap terlihat keluar dari bagian depan mobilnya. Sementara, Andreas mulai kehilangan kesadarannya.
*****
"Hei, Dy. Kau mau ke mana?" tanya Keyna yang melihat Dyana hendak keluar dari rumah. Padahal hari sudah sore.
"Aku ingin ke super market. Ada yang ingin ku beli. Sekalian aku ingin jalan-jalan sebentar."
Mata Keyna memicing curiga ke arah Dyana.
"Jangan bilang kau mau ke tempat itu lagi." ucap Keyna sembari menunjuk Dyana.
Dyana tersenyum kecut. Yah, dia ketahuan.
"Hanya sebentar." ucap Dyana.
Keyna nampak menghela napas.
"Tuh kan, aku benar."
"Pliss!" mohon Dyana. "Hanya sebentar dan aku sudah akan kembali sebelum gelap."
"Tapi, Dy. Kau harus ingat kau itu sedang hamil. Perutmu sudah semakin besar." Keyna tidak setuju.
"Aku bosan di rumah. Tolong ijinkan aku. Hanya sebentar." mohon Dyana masih tidak mau menyerah.
"Baiklah. Hanya sebentar." ucap Keyna pada akhirnya.
Dyana memeluk Keyna sebentar. Merasa senang karena sepupunya itu mengizinkannya.
Dyana kemudian pergi menuju ke tempat biasa ia mengenang masa kecilnya dulu. Tempat yang ia kunjungi jika ia merindukan ibunya. Dan sekarang ia mengunjungi tempat itu lebih sering dari biasanya, karena sekarang selain ibunya, ia juga merindukan Ayahnya.
Dyana duduk di ayunan yang ada di taman. Taman yang mereka sebut dengan nama little star.
Masih ia ingat kata-kata Ayahnya sebelum meninggal. Yaitu kata-kata yang menyuruhnya untuk tidak menangis dan bersedih. Sejauh ini ia berhasil melakukannya.
Dyana merogoh sakunya. Dia kembali membuka surat terakhir Ayahnya yang membuatnya bingung mengambil keputusan.
Di dalamnya tertulis,
**Hay, little star, putriku. Jangan menangis, karena kau sudah berjanji.
Maafkan Ayah. Jika, selama ini Ayah belum bisa menjadi Ayah yang terbaik. Tapi, Ayah yakin kau bisa menjadi ibu yang terbaik untuk anakmu kelak.
Percayalah, Ayah sangat menyayangimu dan Ayah sangat sangat percaya jika kau juga sangat menyayangi Ayah.
Tapi, Ayah tidak yakin apa kau masih menyayangi Ayah atau justru membenci Ayah setelah Ayah menceritakan sebuah rahasia yang selama ini Ayah tutupi darimu.
Sebenarnya kau bukan anak kandung Ayah dan Ibu. Ibumu adalah seorang model dulunya. Namanya, Melody Syafira. Dia orang Indonesia, sahabat Ayah dulu.
Dulu, hidupnya hampir sempurna sebelum ia bertemu dengan Peter Markuen, Ayah kandungmu. Mereka saling jatuh cinta. Peter adalah seorang pengusaha besar asal Prancis. Karena berjanji akan menikahi ibumu, Melody menyerahkan segalanya pada Peter. Hingga Melody mengandungmu.
Tapi, saat Melody memberitahu Peter tentang kehamilannya. Tiba-tiba pria itu menghilang. Saat itu hidup Melody benar-benar hancur. Karirnya berhenti sampai di situ. Ayah dan ibu sangat prihatin melihatnya.
Hingga, Melody meninggal dunia setelah melahirkanmu. Hanya Ayah dan Ibu yang berada di sana. Sebelum Melody mengembuskan napas terakhirnya ia menitipkanmu pada kami. Saat itu Ayah dan Ibu sudah menikah selama setahun. Tetapi, belum memiliki anak. Dengan senang hati kami menerima dan mengangkatmu sebagai anak.
Sebelum Melody meninggal ia juga sempat memberikan sebuah kotak pada Ayah. Dia berkata jika suatu saat kau ingin menemui Ayah kandungmu, semua petunjuk ada di kotak itu. Kotak itu Ayah simpan di dalam lemari Ayah di rumah kita yang dulu.
Maafkan Ayah, Dy. Karena selama ini merahasiakannya darimu.
Sekarang keputusan ada di tanganmu. Tetap menjadi Dyana Alexa anak Ayah. Atau pergi dan mencari Ayah kandungmu.
Ayahmu, yang selalu menyayangimu**.
Rasanya Dyana ingin menangis jika membaca surat ini. Tapi, cepat-cepat ia tahan. Dia benar-benar tidak menduga fakta ini sebelumnya.
Dia menjadi sangat membenci pria bernama Peter Merkuen itu. Sangat benci. Kenapa ada pria seberengsek itu?
Dyana merasa hidupnya sangat miris. Ternyata ia lahir dari rahim ibunya sebelum menikah. Dan apa anaknya akan seperti itu juga?
Dyana menggeleng. Dia tidak akan membiarkan nasib anaknya sama sepertinya. Dia harus menemui Andreas dan meminta pria itu bertanggungjawab secepatnya.
Dyana mengantongi surat itu kembali. Besok ia harus benar-benar menemui Andreas. Namun, saat ia berdiri tiba-tiba ada yang menutup hidung dan mulutnya dari belakang. Tiba-tiba kepalanya terasa pening dan tak lama semua gelap.
Dyana tidak sadarkan diri.
*****