
Dyana menatap nyalang langit-langit kamarnya. Dia merasa lelah. Kejadian beberapa hari terakhir ini terasa begitu cepat dan menguras tenaga.
Sudah dua hari ia keluar dari rumah sakit dan untung saja selama dua hari ini ia bisa menghindari Andreas yang terus saja meminta bertemu dengannya.
Bukannya Dyana tidak mau memaafkan Andreas. Jujur ia sudah memaafkan pria itu. Tapi, Dyana masih merasa tidak nyaman dan merasa was-was bila berada di dekat Andreas. Trauma yang dialaminya akibat perlakuan Andreas bukanlah suatu masalah yang kecil. Itu cukup mengguncang jiwanya. Pria itu menyiksanya secara fisik dan mental, di mana Dyana sendiri tidak tahu apa kesalahannya pada pria itu.
Tok...tok..tok... suara ketukan pintu membuyarkan semua pikiran Dyana.
Dyana bangun dari ranjangnya dan membuka pintu.
"Ada apa Layla?" tanya Dyana melihat Layla berdiri di depan pintu.
"Ada yang ingin bertemu denganmu." ucap Layla sedikit ragu.
"Siapa?"
Layla mengedikkan bahunya, pertanda ia tidak tahu. "Kau bisa lihat sendiri."
Dyana mengangguk dan segera turun. Dyana melihat ada seorang pria duduk di sofa ruang tamu. Pria itu duduk membelakanginya. Dyana berjalan pelan. Berhati-hati siapa tahu jika orang itu adalah Andreas.
Saat Dyana menapaki lantai satu. Pria itu berbalik dan benar saja, seperti dugaan Dyana pria itu benar-benar Andreas.
Dyana hendak berlari kembali ke atas. Namun, Andreas sudah memperkirakan hal itu, dan pria itu dengan cekatan meraih pergelangan tangan Dyana.
"Dyana. Dengarkan aku. Kita butuh bicara." ucap Andreas dengan suara memohon.
Dyana mencoba melepaskan tangannya. Namun, sangat sulit, tenaga pria itu lebih besar darinya.
"Lepas Andreas. Aku tidak ingin bicara denganmu. Biarkan aku pergi!" Dyana terus memberontak.
"Tidak! Kali ini aku tidak akan melepaskanmu. Kita benar-benar harus bicara sebelum semuanya terlambat."
"Tapi, aku tidak mau." ucap Dyana masih berusaha melepaskan tangannya dari Andreas. "Lepas Andreas. Kau menyakitiku."
Andreas melonggarkan cengkeramannya dari Dyana. Tapi, tidak melepaskannya.
"Ok. Tapi, aku mohon jangan lari. Aku hanya ingin bicara dengan mu." ucap Andreas lembut. Sebisa mungkin ia harus membuat Dyana merasa nyaman padanya.
"Baiklah. Tapi, aku tidak bisa lama." ucap Dyana dengan nada malas.
Andreas melepaskan pegangannya pada Dyana. Dia tersenyum lembut saat Dyana akhirnya ingin bicara padanya.
Dyana menahan napas sebentar saat melihat senyuman Andreas. Jujur baru kali ini ia melihat senyuman semanis itu. Apalagi ini adalah Andreas. Pria arogan yang sangat pelit senyum. Entah mengapa melihat itu, jantung Dyana berdetak lebih cepat. Andreas terlihat berkali-kali lipat lebih tampan saat tersenyum. Dyana yakin dia sedang terpesona saat ini.
"Ayo!" ucap Andreas tiba-tiba membuat Dyana kembali sadar.
"Ke mana?" tanya Dyana bingung.
"Ke suatu tempat." ucap Andreas. Pria itu menarik tangan Dyana lembut keluar dari rumah.
Dyana berhenti saat mereka tiba di depan rumah. Tepatnya di cafe milik Dyana. Pelanggan lumayan banyak sore ini.
"Kenapa berhenti?" tanya Andreas.
"Bilang dulu kita mau ke mana. Bukankah kita hanya ingin bicara. Kita bisa bicara di sini, kan? "
Andreas kembali tersenyum sembari mengenggeleng. "Tapi, aku tidak bisa membicarakannya di sini. Aku sudah menyiapkan suatu tempat untuk kita berdua."
"Apa jaminannya kau tidak akan menyakitiku di sana?" ucap Dyana sarkas. Dia takut jika Andreas akan melakukan hal yang macam-macam padanya nanti.
"Aku jaminannya kau tidak perlu khawatir." ucap seseorang.
Dyana menoleh ke arah suara itu. Dia melihat Madam Laura duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari tempat ia dan Andreas berdiri. Madam Laura sedang menikmati satu porsi cake coklat.
"Madam." ucap Dyana heran. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan madam Laura di sana.
Madam Laura berdiri dan berjalan menghampiri Dyana. Wanita itu tersenyum sebelum berbicara. "Pergilah bersama Andreas. Kau tidak perlu khawatir. Kalau dia macam-macam Madam sendiri yang akan memberinya pelajaran." Madam Laura mencoba meyakinkan Dyana.
"Tapi-"
"Madam mohon, Dy. Ini demi kebaikan kita bersama untuk ke depannya. Kau memang perlu bicara dengan Andreas dari hati ke hati." ucap Madam Laura dengan nada memohon.
Dyana berpikir. Apa dia ikut saja dengan Andreas? Dia memang perlu bicara dengan Andreas.
"Madam mohon, Dy. Selesaikan masalah antara kalian." Madam Laura terus membujuk Dyana.
"Hmmm. Baiklah." Dyana akhirnya mau pergi bersama Andreas. Dia tidak bisa menolak permintan Madam Laura. Apalagi Madam Laura adalah nenek dari calon bayi yang dikandungnya.
"Makasih, mom. Sudah membujuk Dyana." ucap Andreas sembari merangkul Dyana menuju mobilnya.
"Iya. Hati-hati. Ingat Andreas jangan sedikit pun kau membuat Dyana terluka kau harus menjaganya." teriak madam Laura melihat mereka yang akan memasuki mobil.
Madam Laura tersenyum melihat mobil Andreas yang melaju. Dia sangat berharap banyak pada Dyana. Dari awal bertemu Dyana, ia tahu kalau Dyana adalah wanita yang baik.
Madam Laura juga bisa merasakan ada sesuatu pada Dyana saat pertama kali melihat dan berbicara pada wanita itu. Dia merasa kalau ada sesuatu yang mengikat dia dengan wanita itu. Dia merasa berbicara dengan anak sendiri saat berbicara dengan Dyana. Itu sebabnya ia sempat ingin memperkenalkan Dyana kepada Andreas. Siapa tahu mereka cocok dan berjodoh.
Tapi, siapa yang bisa menduga takdir. Mereka sudah saling mengenal, bahkan sudah ada anak yang tumbuh yang mengikat mereka.
Madam Laura tidak membenarkan perbuatan Andreas. Dia tahu Andreaslah yang bersalah sepenuhnya di sini. Itu sebabnya ia akan mendukung apapun keputusan Dyana nantinya. Tapi, sebelum itu ia harus berusaha agar Dyana bisa bersama dengan Andreas.
Entah mengapa, tapi Madam Laura dapat merasakan ada cinta yang besar di antara Dyana dan juga Andreas. Namun, masih tertutupi oleh rasa takut dan keraguan.
Dia yakin semua akan baik-baik saja pada waktunya.
******
"Sebenarnya kita ingin pergi ke mana?"
Entah sudah berapa kali Dyana bertanya. Namun, tidak kunjung dijawab oleh Andreas. Pria itu hanya akan tersenyum dan berkata, "Sebentar lagi kau akan tahu."
Dyana mendengus. Wanita itu merasa kesal, percuma bertanya jika tidak mendapatkan jawaban yang pasti.
Dyana memilih menatap bahu jalan dibanding bertanya lagi. Dia mengerucutkan bibirnya dan melipat tangan di dada.
Sesekali Andreas mencuri-curi pandang ke arah Dyana. Pria itu tersenyum merasa gemas dengan apa yang dilakukan Dyana. Rasanya ia sangat ingin memeluk wanita itu sembari mengacak-acak rambutnya.
Andreas merasa sangat senang dan lega melihat Dyana ada di sampingnya sekarang. Rasanya ia masih kurang percaya dengan kenyataan kalau Dyana masih hidup. Dia akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Dyana nanti.
Hening beberapa saat di antara mereka. Namun, tak lama Andreas membuka suara memecahkan keheningan yang ada.
"Apa dia nakal?" tanya Andreas tiba-tiba
"Siapa?" tanya Dyana acuh tak acuh. Dia masih menatap bahu jalan.
"Anak kita." Dyana tertegun mendengar ucapan Andreas. Dia kemudian menoleh ke arah pria itu.
"Maksudnya?" tanya Dyana bingung.
Andreas lagi-lagi tersenyum. Membuat Dyana mau tidak mau harus terbiasa merasakan sesuatu yang aneh menimpa jantungnya.
"Ya, maksudku. Apa dia meminta hal-hal yang aneh? Yang aku tau wanita yang sedang hamil suka menginginkan sesuatu yang berasal dari permintaan sang bayi." jelas Andreas. Dyana sekarang paham.
"Maksudmu ngidam?"
"Ya. Itu istilahnya." ucap Andreas sembari fokus menyetir.
Dyana menaikkan kedua bahunya.
"Aku tidak terlalu sering merasakannya. Mungkin dia tau kalau ibunya sangat sibuk dan tidak ada yang memperhatikan. Makanya dia tidak ingin meminta hal-hal yang aneh. Paling-paling ia sering meminta rujak." jelas Dyana.
Andreas menoleh sebentar. "Rujak?" ucap Andreas bingung. Dia baru mendengar nama makanan itu.
"Ya. Itu semacam makanan yang berasal dari berbagai macam buah-buahan yang dicampur lalu ditaburi kuah yang rasanya pedas dan asin." Dyana mencoba mendeskripsikan apa itu rujak. Namun, kelihatannya Andreas masih bingung. "Itulah yang kutahu mengenai makanan itu."
Andreas hanya mengangguk. Mungkin dia sudah mengerti.
Dyana menutup lurus ke depan.
Hening kembali beberapa saat.
"Maaf," gumam Andreas pelan. Namun, masih bisa didengar oleh Dyana.
"Untuk?"
"Semuanya." ucap Andreas pelan namun terdengar tulus.
"Hmmm." Hanya itu jawaban dari Dyana. Membuat Andreas sedikit kecewa.
Tak lama Andreas menghentikan mobilnya di sebuh restoran mewah berlantai tiga.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Dyana setelah mereka turun dari mobil.
Andreas hanya tersenyum dan berkata.
"Nanti kau juga tahu." ucapnya tak berniat menjelaskan.
"Ayo!" ajak Andreas. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Dyana dengan gerakan tiba-tiba. Membuat Dyana tertegun dan tidak bisa menolak. Dia hanya menurut dan mengikuti ke mana Andreas akan membawanya.
******