I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 24



"Apa? Kau...hamil?" tanya Keyna ragu dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Benar, Key. Aku bingung harus bagaimana sekarang." Dyana menggigit bibir bawahnya. Dia benar-benar bingung dan takut sekarang.


"Kau..tidak berniat membunuhnya kan, Dy? Bagaimana pun dia adalah anakmu." Keyna menasehati Dyana.


"A-aku tidak tahu. Aku bingung. Bagaimana jika aku tidak bisa menanggung semuanya nanti?" Dyana menghela napas. "apa lagi ini adalah anak dari pria iblis itu. Bagaimana jika...,"


Keyna memotong ucapan Dyana.


"Dengarkan aku baik-baik, Dy. Tidak peduli siapa Ayahnya, dia tetap anakmu. Dan masalah beban kau tidak perlu khawatir, aku akan selalu mendukung dan membantumu."


"Tapi... aku masih ragu."


Terdengar helaan napas dari Keyna.


"Terserah pada mu, Dy. Tapi, coba tanyakan pada hatimu sendiri. Kau akan menemukan jawabannya."


*****


Setelah kepergian Dyana, Andreas menjadi lebih pendiam. Dia merasa bersalah dan kehilangan.


Baginya, kematian Dyana merupakan kesalahannya. Harusnya dari awal dia tidak menyakiti wanita itu, semua ini tidak akan terjadi.


Kini hatinya semakin kosong. Hanya Dyana yang masih tersisa di sana.


Pria itu memasuki kamar di mana dulu dia pernah mengurung Dyana. Semua nampak sama. Kilas kenangannya bersama Dyana di sini berputar di otaknya. Suara tangisan Dyana terekam jelas dalam memorinya.


Semua kejadian itu membuat hatinya semakin terasa sesak. Dia marah pada dirinya sendiri.


"AAkkhh!" teriak Andreas. Dia menggebrak meja dan menjatuhkan semua barang yang ada di atasnya.


Lalu pria itu berjongkok, bahunya dia sandarkan di kaki ranjang.


"Kenapa kau pergi secepat itu, Dyana? Aku bahkan belum sempat meminta maaf dan memperbaiki segalanya." ucap Andreas lirih sambil memandang foto Dyana yang dia dapat dari dompet wanita itu.


"Aku memang bodah tidak mempercayaimu waktu itu!" sesalnya.


"Kenapa kau menyiksa ku seperti ini, Dyana. Aku memang bersalah terhadap mu. Tapi, hukuman ini terlalu berat.." Andreas masih menatap foto Dyana, sesekali dia mengelus wajah Dyana di foto itu.


"Kau pergi setelah aku jatuh cinta padamu."


Andreas menjambak rambutnya kasar. Penampilannya saat ini persis seperti orang yang kehilangan akal.


Seseorang mengetuk pintu. Andreas menoleh ke arah pintu yang tidak tertutup itu. Jack berdiri di sana.


Andreas berdiri. "Ada apa Jack?"


Jack berjalan mendekati Andreas.


Andreas menatap setiap langkah Jack yang semakin dekat padanya.


"Begini. Aku baru mendapat kabar dari rumah sakit kalau..." Jack nampak ragu untuk melanjutkan.


"Kalau apa Jack?" tanya Andreas tak sabar.


"Liona sudah sadar dari komanya."


*****


Andreas menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Penampilannya sudah rapi. Kesan arogannya menguar. Entah kengapa pria itu sangat bersemangat kali ini.


Entah karena Liona sudah sadar atau karena dia ingin menghabisi wanita itu.


Liona memandang Andreas dengan mata sayu dan mempersembahkan senyum termanisnya untuk menyambut pria itu. Dia sangat senang saat sadar, dia mengetahui bahwa Andreas lah yang membawanya ke rumah sakit ini. Dan semakin senang saat mendengar akan mengunjunginya hari ini.


Pria itu, Andreas berjalan perlahan mendekati Liona. Senyum sinis dia tunjukkan pada wanita itu. Dia tidak berniat untuk bersikap manis atau lembut pada wanita sialan yang telah menipunya. Lagi pula sebelumnya Andreas sudah berbicara pada dokter yang mengatakan keadaan Liona jauh membaik.


"Hai, Andreas. Kau datang?" ucap Liona sembari tersenyum manis. Wanita itu mengira jika dia sudah berhasil membuat Andreas kembali padanya dan dia yakin pria itu datang untuk menjemputnya dan membawanya pulang bersama.


"Sepertinya kau sangat bahagia Liona?" ucap Andreas berpura-pura belum mengetahui kebohongan Liona.


"Tentu saja, aku bahagia. Kau ada bersamaku sekarang." ucap Liona tidak tahu malu.


Andreas mendecih pelan, lalu duduk di sisi Liona. "Dia sudah lenyap Liona. Sudah lenyap." ucap Andreas membuat Liona bingung.


"Dia? Siapa maksud mu, Andreas?"


"Wanita yang kau katakan hendak mencelakakan mu karena mengira kau telah merebut kekasihnya." jelas Andreas. Seketika wajah Liona berubah.


"Maksud mu wanita bernama Dyana itu?" tanya Liona memastikan.


Andreas mengangguk. "Ya. Benar dia. Kau bahagia kan, sekarang?"


Liona tersenyum sembunyi-sembunyi dia lega mendengar wanita itu sudah lenyap. Jadi dia tidak perlu susah-susah melenyapkannya lagi.


Andreas melihat senyum Liona, walau hanya sekilas. Andreas yakin wanita itu senang mendengar jika Dyana telah tiada.


Dalam hati Andreas sangat ingin melempar wanita di hadapannya ini jauh-jauh.


"Kau yang melenyapkannya?" Berharap jika Andreas lah yang melenyapkan wanita itu.


Andreas tersenyum sinis. "Bukan aku Liona. Tapi,..." Andreas menggenggam tangan Liona kemudian meremasnya kuat "KAU!"


"Auww.. sakit Andreas apa yang kau lakukan?" ucap Liona sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Andreas.


"Dan apa maksudmu aku yang melenyapkannya!?" Liona tidak terima dengan perkataan Andreas.


"Memang kau Liona, kau yang melenyapkannya. Jika saja kau tidak memfitnahnya, aku tidak akan menyiksanya. Jika kau tidak berbohong padaku tentangnya, aku tidak akan melukainya. Dia tidak akan lari dan mengalami kecelakaan!" bentak Andreas.


"A-apa maksudmu Andreas? Aku tidak mengerti sama sekali." Liona masih tidak mengakui perbuatannya.


"Tidak usah berpura-pura lagi Liona. Aku sudah tahu semua. Kau wanita yang kejam dan licik. Aku menyesal pernah menaruh hati pada mu!" Andreas sangat emosi. Dia sangat geram melihat Liona yang masih tidak mau mengakui kebohongannya.


"Harusnya kau yang mati bukan Dyana, wanita sepertimu tidak pantas untuk hidup!" Ingin sekali rasanya Andreas melenyapkan wanita ini saat ini juga. Tapi, dia masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukannya.


Tiba-tiba Liona menangis. Tentu saja tangisan palsu. "Kau tega Andreas. Aku akui aku memang berbohong pada mu. Aku hanya ingin kita kembali bersama seperti dulu." Tangis Liona semakin menjadi-jadi. "Apa itu salah?"


Liona menangkup tangan Andreas dan meletakkannya di atas dadanya. Berharap Andreas tergoda dan mau kembali seperti dulu.


Andreas tersenyum sinis ke arah Liona. Bukannya tergoda Andreas semakin jijik melihat wanita itu.


Dengan kasar Andreas melepaskan tangannya menjauhi dada wanita itu.


"Dasar jal*ng!" sentak Andreas. "Beraninya kau menyentuh tanganku!"


Liona terkesiap, dia mengira perbuatannya itu akan berhasil membuat Andreas kembali padanya.


"Aku sudah muak melihat wajahmu!" Andreas menunjuk tepat di wajah Liona "Setelah ini jangan berani kau menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi. Atau..." Andreas menyentuh pipi Liona dengan punggung jari telunjuknya. "Aku tidak akan segan-segan menghabisimu." ucap Andreas sarkas lalu menghempas wajah Liona ke samping.


Pria itu berjalan meninggalkan kamar Liona dengan emosi yang tertahan.


Setelah Andreas keluar. Senyum Liona mendadak mengembang. Setidaknya wanita bernama Dyana itu telah mati.


*****