I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 7



Dyana mondar-mandir di depan kamar rawat Ayahnya. Gadis itu tengah cemas memikirkan bagaimana misinya besok. Apa dia akan bisa melakukannya dengan baik?


Tapi, Dyana sedikit lega saat Dokter berkata kalau mereka akan menjaga Ayahnya selama dia pergi. Dengan beralasan untuk bekerja beberapa hari agar dia bisa segera membayar biaya operasi Ayahnya. Walau masih ada sedikit rasa khawatir yang mengguncang dadanya.


Dyana memutuskan untuk duduk di kursi tunggu sembari menenangkan kecemasannya. Saat dia hendak memejamkan mata sejenak, seseorang memanggil namanya.


"Dyana!?" Dyana membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang pria bersetelan rapi melangkah agak sedikit tergesa ke arahnya.


"Calvin? Kau datang?" tanya Dyana terkejut, dia baru mengabari Calvin setengah jam lalu tapi pria ini sudah berada di sini.


"Tentu saja. Mana mungkin aku akan melupakan sahabatku saat dia sedang kesusahan." Calvin tersenyum sembari menepuk bahu Dyana pelan. Untuk menguatkan gadis itu.


"Maaf, mungkin untuk beberapa waktu aku belum bisa bekerja, Calvin. Aku masih harus menjaga Ayahku. Aku harap kamu bisa mengerti." Dyana dan Calvin sudah duduk berdampingan.


Calvin menaikkan satu alisnya.


"Kau tidak perlu memikirkan itu. Aku mengerti. Yang terpenting kamu fokus dulu pada kesembuhan Paman Harry. Aku juga akan tetap menggajimu seperti biasa." Dyana sudah menduga jawaban Calvin, dia memang terlalu baik.


"Tidak perlu Calvin. Cukup berikan aku gaji sesuai pekerjaanku." Tentu saja Dyana akan menolaknya, dia sudah terlalu banyak merepotkan Calvin.


"Aku tidak ingin ada penolakan. Aku hanya ingin membantu sahabatku. Aku tau kau pasti membutuhkannya."


"Tapi, Ak—" Belum sempat Dyana memprotes Calvin sudah memotongnya.


"Sudah ku bilang tidak ada penolakan! Mengerti?" Dyana hanya mengangguk pasrah bagaimanapun dia menolak, Calvin akan tetap memaksanya.


"Ngomong-ngomong apa ada kemajuan tentang kondisi Paman Harry, Dy?"


Dyana menggeleng, tatapannya berubah sedih. Semenjak Ayahnya masuk rumah sakit belum sekalipun ia siuman.


Calvin kembali menepuk bahu Dyana mencoba menenangkannya. "Sabar. Aku yakin paman akan baik-baik saja." Calvin tersenyum meyakinkan Dyana. "Oh, ya. Bagaimana dengan kuliahmu?"


"Kuliahku? Aku sudah mengajukan cuti beberapa hari lalu untuk menjaga Ayahku dan mereka menyetujuinya."


"Baguslah. Kau memang harus fokus menjaga Paman. Dan ingat kau juga harus menjaga kesehatanmu juga." Calvin memberi nasehat pada Dyana yang dibalas anggukan dari Dyana.


"Tentu saja." Dyana mencoba tersenyum di depan Calvin.


*****


Seorang gadis berdiri di depan sebuah pagar rumah yang lumayan besar. Tangannya memencet bel berkali-kali. Tak lama seorang satpam bertubuh tegap berjalan menghampirinya.


"Siapa?" tanya satpam tersebut penuh curiga menatap gadis yang berdiri di depan pagar rumah majikannya.


"Saya Eliza. Maid baru yang akan bekerja di sini." Sang satpam manggut-manggut tanda mengerti lalu berjalan membukakan pagar.


"Silahkan tuan sudah menunggu." Gadis itu mengangguk dan berjalan mengikuti satpam tadi.


"Tunggu di sini! aku akan memanggil bibi Anna dia yang akan membantu menujukkan pekerjaanmu." Lalu meninggalkan gadis itu sendiri di depan pintu.


Eliza yang sebenarnya adalah Dyana. Dia berjalan menuju kursi yang berada di teras rumah itu. Pikirannya kembali mengingat kejadian sebelum dia sampai di sini, di rumah Rafael Arlando.


Pukul lima pagi ponsel Dyana sudah berdering. Dia yang tidur di sofa ruangan rawat ayahnya itu melihat nama yang berada di layar ponselnya. Mr.Jack. Nama itulah yang dia lihat. Pria itu menyuruhnya segera bersiap-siap karena anak buahnya akan menjemput dan mengantar Dyana tepat pukul enam pagi dan dia juga menyuruh Dyana mengganti namanya menjadi Eliza. Alasannya? Karena Eliza adalah nama calon maid yang sebenarnya yang sudah Jack bayar agar tidak jadi bekerja di kediaman Arlando. Tentu saja itu atas suruhan bossnya.


"Eliza?" Sapa seorang wanita paruh baya yang dari penampilannya Dyana yakin adalah kepala pelayan di sini. Dyana melihat-lihat sekeliling wanita tersebut, dia hanya sendiri, satpam tadi tidak ikut bersamanya.


"Iya, saya Eliza maid baru yang akan bekerja disini." ucap Dyana tanpa ragu sedikit pun agar tidak ada yang curiga.


Wanita itu mengangguk paham sembari tersenyum ramah.


"Perkenalkan saya Anna, panggil saja bibi Anna, saya kepala pelayan disini."


"Baiklah bibi Anna. Bibi juga bisa memanggil saya Liza saja." Anna menggangguk mengerti dan mempersilahlan Dyana masuk.


Mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna hitam. Bibi Anna mengetuknya perlahan. "Tuan? Nona Eliza pelayan baru tuan sudah datang."


"MASUK! Pintunya tidak terkunci!" suara berat pria terdengar dari dalam ruangan.


Anna segera membuka pintu.


"Mari masuk, Liza." Dyana mengangguk mengikuti bibi Anna.


Seorang pria tampan tengah duduk di kursi kerjanya. Pria itu menelisik penampilan Dyana dari bawah hingga atas. Seringai menghisi wajahnya.


"Anna. Apa kau sudah memberi tahu apa saja tugas yang harus dia kerjakan selama di sini?"


"Sudah, tuan." jawab Anna sopan.


"Baiklah. Kau bisa tinggalkan kami. Aku butuh berbicara padanya, tentang pekerjaan."


Anna mengangguk mengerti. "Tentu, tuan." Anna pun pergi meninggalkan Dyana bersama bossnya.


*****


"Apa-apaan ini!? Dia pikir dia siapa!? Aku tidak habis pikir dengan pria bernama Rafael itu. Aku pikir dia pria baik. Ternyata dia sama brengseknya seperti pria lainnya." Dyana mendengus kesal saat sudah tiba di kamar sederhana yang disiapkan untuk para maid seperti dirinya.


"Pantas saja, Jack mencurigai dia sebagai dalang di balik menghilangnya kekasih bossnya. Rafael itu tak ubahnya pria mesum brengsek! Kalau saja aku tidak mengingat misiku. Pasti aku sudah akan mematahkan tulangnya." Segala cercaan keluar dari mulut Dyana. Dia tidak habis pikir dengan perlakuan pria tadi, kalau dia tidak sigap, pasti pria itu sudah melecehkannya. Bahkan, dia belum mulai bekerja tapi pria itu sudah berani membuat penawaran padanya untuk menemaninya malam ini, di atas ranjang dan berkata akan membayarnya.


Bayangkan! Dyana memang butuh uang. Tapi, dia tidak akan melakukannya. Lagi pula dia akan mendapatkan uang saat menyelesaikan misi ini.


"Baiklah! Aku akan mempercepat langkahku. Aku akan berpura-pura menuruti keinginannya. Tapi, tidak sekarang. Besok aku akan melakukannya." batin Dyana. Dia pun tersenyum licik.


*****


Matahari belum terbit sepenuhnya. Tapi, Dyana sudah mendengar suara riuh di luar yang membuatnya langsung terbangun.


Dyana bangkit dari kasurnya dan berjalan ke arah jendela. Dyana mengintip dari balik tirai. Dia melihat pria-pria bertubuh besar lumayan banyak sedang berlalu lalang di luar.


Siapa mereka? Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?


Tok...tok...tok..


Suara ketukan pintu menyadarkan Dyana. Gadis itu pun langsung melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Oh... Bibi Anna." Dyana tersenyum. "Ada apa, Bi?"


"Astaga Liza! Kau baru bangun!? Ini hari pertamamu bekerja." Anna sedikit memarahi Dyana. "Cepat kau bersiap-siap. Kau harus menyiapkan sarapan untuk tuan Rafael. Sebentar lagi dia akan turun."


Anna menyodorkan sebuah pakaian pada Anna. "Ini pakailah! Ini adalah baju maid di sini."


Dyana menerimanya, dia pun berbalik hendak kembali ke kamarnya. Tetapi, tidak jadi, dia kembali menghadap Bibi Anna.


"Oh ya. Kenapa banyak pria di luar?"


"Oh... itu? Kau tenang saja. Itu hanya anak buah tuan Rafael. Mereka ditugaskan melindungi tuan Rafael karena seorang informan tuan Rafael mengatakan salah satu musuhnya sedang mengincarnya." Bibi Anna berkata dengan tenang, lain halnya dengan Dyana. Dia sedikit panik dan takut.


"Mu-musuh?" tanya Dyana gugup.


"Iya. Tapi kau tidak perlu takut, mereka semua sangat hebat dan berpengalaman." jelas Bibi Anna mencoba menenangkan. Bukannya tenang, Dyana semakin takut saja. Ya, karena dia adalah salah satu dari orang yang mengincar Rafael itu.


"Oh... sekarang aku akan bersiap-siap." Dyana pun memasuki kamarnya dan menutup pintu. Dia menghela napas kasar.


Aku benar-benar harus berhati-hati dan secepatnya menyelesaikan ini.


Sebuah ide brilian muncul di otak Dyana.