
Langkah Dyana terhenti di depan pintu kayu besar itu. Antara ingin melanjutkan atau tidak.
Kotak itu masih berada dalam rengkuhan tangannya. Kotak yang ia temukan di lemari Ayahnya, Harry, saat ia ingin mengambil barang-barang di rumah lamanya.
Dyana memeluk kotak itu erat, agar tidak jatuh.
Ia memang harus mendapatkan jawaban sekarang. Tidak bisa besok atau nanti. Harus sekarang.
Bodohnya ia. Bahkan ia tidak tahu, jika pria yang selama ini tidak ingin ia temui tengah berkeliaran di sekitarnya. Harusnya ia sudah menduganya sejak awal. Ia memang terlalu naif, sehingga tidak bisa membaca situasi yang ada.
Baru saja Dyana ingin mengetuk pintu, pintu kayu besar itu sudah terbuka dan menampakkan seseorang yang paling Dyana benci. Ya, siapa lagi kalau bukan Tuan Peter Markuen yang terhormat. Ia sekarang tengah menatap Dyana dengan wajah bingung.
"Ada apa Dyana? Tidak biasanya kau ingin menemuiku. Apa ada masalah?" tanya Peter dengan ekspresi bingung.
"Tidak." ucap Dyana dingin. "Hanya saja, saya ingin menanyakan sesuatu pada anda. Tuan Peter Markuen." ucap Dyana dingin namun penuh penekanan. Ia menatap Peter dengan tatapan campur aduk. Antara benci, muak, marah, atau senang.
Senang, karena ia bisa melihat Ayah kandungnya. Tapi, rasa itu tak bertahan lama. Rasa itu terkalahkan oleh rasa benci ketika mengingat pria ini pergi meninggalkan ibunya, Melody, dan ia yang masih berada di dalam kandungan.
Peter terlihat sedikit tersentak ketika Dyana menyebut nama panjangnya. Apa Dyana sudah tahu?
"Apa yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja. Aku akan menjawabnya."
"Dengan jujur?" tekan Dyana.
Peter mengangguk.
"Yah, dengan jujur."
Dyana tersenyum tipis, senyum yang lebih menggambarkan kebencian.
"Apa benar, anda adalah Peter Markuen pria yang telah meninggalkan kekasihnya dua puluh lima tahun lalu dalam keadaan hamil?"
Peter menatap Dyana dalam, ia kaget, benar dugaannya ternyata Dyana sudah tahu yang sebenarnya.
"Begini, Dyana. Aku.."
"Jawab saja, Ya atau Tidak." Dyana memotong ucapan Peter.
Walau sebenarnya Dyana sudah tahu jawabannya. Tapi, ia ingin mendengarnya langsung dari mulut pria yang katanya adalah Ayah kandungnya.
"Ya." Hanya itu yang mampu Peter katakan.
Apa lagi yang bisa ia katakan selain itu. Sementara hatinya tengah sakit karena harus mengingat kebodohannya waktu itu.
"Jadi, apa anda sudah tahu siapa anak dari wanita yang anda tinggalkan itu?" tanya Dyana yang sekarang mengikutsertakan emosi.
"Iya aku tahu, dan orang itu adalah..."
"Stop! Cukup! Hanya itu saja yang ingin saya dengar. Saya tidak ingin mendengar apapun lagi. Semoga Anda bahagia bersama orang-orang yang anda sayangi. Sekarang saya pergi."
Dyana menghela napas. Sudah cukup, hanya itu yang ingin Dyana dengar. Sebuah pengakuan singkat.
Dyana melangkah pergi, namun Peter mencegahnya. "Dyana, Putriku dengarkan Ayah dulu. Ayah bisa menjelaskan semuanya." ucap Peter menahan tangan Dyana.
Dyana melepas cekalan tangan Peter dari tangannya. Kotak yang ada dalam rengkuhannya terjatuh, hingga membuat isinya berserakan di lantai.
Sementara, Dyana berlari menuju pintu keluar dengan air mata yang terus menerus jatuh.
Peter ingin mengejarnya. Namun urung, karena ia melihat sesuatu tergeletak tepat di depan kakinya.
Peter berlutut, mengambil benda tersebut. Ia memandanginya dalam. Air matanya menetes begitu saja.
Benda itu mengingatkannya pada kejadian dua puluh lima tahun silam.
*****
"Andreas! Bisa kau jemput aku?" ucap Dyana.
Wanita itu tengah berdiri di sebuah halte yang lumayan jauh dari kediaman Peter.
Sebelumnya ia menaiki taksi hingga ke sini.
"Baiklah. Aku mohon cepat."
"Aku baik-baik saja."
Dyana menutup teleponnya. Ia memeluk dirinya sendiri agar dapat mengurangi sedikit rasa dingin yang menerpanya.
Ia bahkan tidak berpamitan pada Keyna. Biar saja, biar sepupunya itu tahu rasa. Keyna sudah tahu semuanya. Tapi, ia tidak memberitahu Dyana. Ia malah ikut-ikutan membohongi Dyana.
Tak lama, mobil Andreas berhenti tepat di depan Dyana. Pria itu buru-buru keluar dari dalam mobilnya. Ia melihat Dyana sedang memeluk dirinya sendiri. Sangat jelas kelihatan jika wanita itu sedang kedinginan.
Tanpa berkata apapun. Andreas membuka jas yang ia pakai dan menyampirkannya pada bahu Dyana.
Wanita itu hanya menatap Andreas dalam. Ia cukup kaget melihat aksi Andreas yang tiba-tiba.
"Pakailah, kamu pasti kedinginan. Jangan sampai kamu sakit nantinya." ucap Andreas penuh perhatian.
"Terima kasih." ucap Dyana.
Andreas hanya tersenyum, kemudian ia menuntun Dyana memasuki mobil.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ada yang menyakitimu di rumah itu? Sehingga kau harus pergi malam-malam begini?"
Kini mobil Andreas tengah melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota New York yang selalu ramai siang maupun malam.
Sedari tadi, Dyana menatap bahu jalan. Ia mencoba menghindari tatapan Andreas. Ia tidak mau Andreas tahu jika tadi ia baru saja menangis.
Padahal, walau Dyana menutupinya seperti itu. Pria itu sudah tahu jika Dyana baru saja menangis. Dalam sekali lihatpun, Andreas sudah tahu ada yang tak beres pada Dyana.
Andreas melirik Dyana yang masih setia menatap bahu jalan.
"Baiklah, Dy. Kalau kau tidak mau menceritakannya sekarang. Kau harus menceritakannya nanti di rumah. Sekarang kau tenangkan dirimu dulu." ucap Andreas penuh pengertian.
Ia berjanji, ia tidak akan membiarkan orang-orang yang telah membuat Dyana menangis seperti itu.