
Dyana duduk di sofa setelah mematikan sambungan telepon. Calvin baru saja menghubunginya dan berkata akan mengunjungi Dyana besok, karena ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Sebenarnya Dyana penasaran sepenting apakah itu sehingga tidak bisa dijelaskan melalui telepon.
Dyana meletakkan ponselnya di atas meja. Sesekali dia menoleh ke arah pintu. Dia memang sedang menunggu seseorang.
Dyana menatap sekumpulan bunga yang tersusun rapi di atas lantai. Hari ini dia akan mulai menata kembali toko bunga neneknya dan membuka cafe kecil di sampingnya.
Tiba-tiba Dyana teringat akan Andreas. Apa pria itu mencarinya? Apa pria itu khawatir padanya? Oh.. tentu saja tidak. Dyana yakin pria itu pasti senang, hanya saja sedikit kecewa karena tidak bisa menyiksanya lagi.
Tapi, seandainya pria itu mengetahui dia sedang mengandung anaknya, apa pria itu akan senang dan mengakui anak ini sebagai anaknya? Atau malah akan melenyapkan anak ini beserta dirinya?
Dyana menggeleng. Dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan melahirkan dan membesarkan anak ini apa pun yang terjadi. Bagaimana pun anak ini adalah anaknya dan anak ini tidak berdosa sama sekali. Jadi, jika pria itu tidak menginginkan anak ini, setidaknya dia harus membiarkan Dyana mengurusnya sendiri.
Suara bel berbunyi membuyarkan lamunan Dyana. Dyana yakin itu mereka.
Dyana berdiri dan berjalan menuju pintu. Dyana tersenyum ramah mendapati tiga gadis cantik berdiri di depan pintu.
"Permisi. Apa ini benar rumah nona Dyana?" tanya seorang gadis yang memakai baju berwarna biru cerah.
"Benar. Apa kalian adalah orang yang dibicarakan Bi Sima?" tanya Dyana memastikan apakah benar mereka adalah orang yang dia tunggu.
Mereka bertiga mengangguk. "Benar. Kami orang yang akan membantu Nona untuk mengurus toko bunga dan menjadi pelayan cafe." ucap salah satu dari mereka.
Dyana tersenyum. "Ayo. Silahkan masuk." ajak Dyana ramah.
Mereka bertiga masuk mengikuti Dyana ke ruang tamu. Mereka sempat takjub mendengar Dyana bisa berbahasa Indonesia dengan fasih.
"Jadi, siapa nama kalian?" tanya Dyana sembari meletakkan segelas teh kepada masing-masing mereka.
"Namaku Layla," ucap gadis berbaju biru. "Ini Desi," Menunjuk gadis berbaju putih di samping kanannya. "Dan ini Hana." Menunjuk gadis berbaju kuning.
Dyana mengangguk paham.
"Kalau Nona, kami harus panggil dengan nama apa?" tanya Desi terdengar polos. Dyana yakin jika Desi yang paling muda di antara mereka.
"Panggil saja Dyana." ucap Dyana sedikit terkekeh.
Mereka bertiga hanya tersenyum.
"Oh ya. Kalau boleh tau usia kalian berapa dan apa kalian masih sekolah?"
Layla yang baru saja meminum tehnya berbicara. "Kalau usiaku dua puluh satu tahun."
"Kalau aku dua puluh tahun." sambung Hana.
"Dan aku delapan belas tahun. Aku baru lulus SMA." ucap Desi sambil membenarkan posisi poninya.
"Kami sudah tidak sekolah. Kami semua lulusan SMA." ucap Layla.
Alis Dyana terangkat. "Kenapa kalian tidak kuliah? Aku tidak keberatan jika kalian bekerja sambil kuliah."
"Ya.. begitulah. Karena biayanya mahal." jawab Layla sekenanya.
"Sayang sekali padahal kuliah itu sangat penting." ucap Dyana dengan suara lirih.
"Iya. Aku sangat ingin kuliah. Makanya aku mencari pekerjaan untuk menabung agar aku bisa kuliah nanti," Suara Desi terdengar bersemangat. "dan akan menggapai cita-citaku."
"Hei. Rendahkan nada suaramu!" tegur Hana karena suara Desi memang sedikit keras.
Seketika Desi terdiam. "Maaf," lirihnya.
Dyana tersenyum. "Tidak apa-apa. Justru aku senang mendengar kau ingin kuliah. Kalau boleh tau memang apa cita-citamu?"
"Aku ingin menjadi dokter, agar bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit." Mata Desi terlihat berbinar mengatakannya. Dyana yakin gadis itu bersungguh-sungguh. Dyana ingin sekali membantunya untuk bisa kuliah dan menggapai cita-citanya. Tapi, untuk saat ini belum memungginkan. Nanti, jika usahanya ini berjalan dengan baik Dyana pasti akan membantunya.
"Baiklah, aku harap cita-citamu itu bisa tercapai." Dyana berdiri. "Sekarang apa kalian siap untuk berkerja?"
Mereka bertiga ikut berdiri. "Tentu."
"Semangat!" seru mereka bertiga.
*****
Entah mengapa akhir-akhir ini Andreas menjadi sensitif. Dia menjadi sangat mudah marah dan perfecsionis. Sedikit saja pekerjaan yang dia perintahkan salah, atau kurang memuaskan, dia akan langsung memarahi orang itu habis-habisan.
Bahkan yang paling parah. Dia baru saja memecat sekretarisnya yang sudah bertahun-tahun bekerja dengannya hanya karena wanita itu salah mengatur jadwal.
Sebenarnya Andreas bisa saja memaafkannya jika wanita itu meminta maaf setelah dimarahi habis-habisan olehnya. Tetapi bukannya meminta maaf, wanita itu malah menggodanya. Aneh bukan. Tanpa berpikir lagi Andreas langsung memecat sekretarisnya itu secara tidak hormat.
"Sebenarnya kau kenapa, Ndre? Kau sangat mudah marah akhir-akhir ini?" tanya Jack. Saat pria itu bertemu dengan Andreas di ruangan Andreas.
"Aku juga tidak tahu. Akhir-akhir ini emosiku memang sangat mudah meledak."
"Kau bahkan memecat Angie. Padahal dia sudah bekerja denganmu selama bertahun-tahun?" Jack tidak habis pikir melihat Andreas dengan mudah memecat sekretarisnya itu.
"Dia tidak becus. Dia bahkan mencoba menggodaku." ucap Andreas dengan nada dingin.
Jack terkekeh. "Bukannya dari dulu dia memang suka menggodamu dan kau juga sering bermain dengannya. Jadi kenapa baru sekarang kau marah?" tanya Jack dengan nada sedikit mengejek.
"Sudahlah, Jack. Tidak perlu membahas ini lagi. Yang terpenting sekarang kau harus mencari sekretaris baru untukku!" perintah Andreas dengan nada kesal.
"Baiklah! Tapi aku rasa akan sedikit sulit karena syaratmu itu!"
"Apa masalahnya. Aku hanya ingin sekretaris yang cantik, masih muda, belum menikah, pekerja keras, tidak lamban dan yang terpenting tidak akan menggoda ku."
"Nah. Itu dia masalahnya. Aku tidak yakin akan ada orang yang seperti itu. Maksudku, aku tidak menjamin ada wanita yang tidak akan menggoda mu nanti." Mengingat Andreas memang seorang pria yang sangat tampan dan mempesona. Dia juga memiliki karisma yang kuat. Sangat jarang ada wanita yang kebal akan pesonanya.
"Aku tidak peduli! Pokoknya kau harus menemukannya secepatnya!" paksa Andreas tak terbantah.
"Baiklah. Terserah kau saja. Kau bosnya." Jack sedikit menyindir.
*****
Malam ini Andreas tebangun lagi. Lagi-lagi dia memimpikan Dyana bersama seorang bayi. Namun, selalu menghilang tiba-tiba di saat Andreas lengah.
Andreas menatap jam weker yang ada di atas nakas. Masih pukul dua malam dan rasanya dia tidak mengantuk lagi.
Andreas memilih bangun dan duduk di sisi kasur. Dia merogoh sesuatu di bawah bantalnya. Sebuah album foto milik Dyana.
Andreas membukanya satu demi satu. Menatap semua foto Dyana penuh perasaan. Andreas tersenyum melihat salah satu foto. Di mana Dyana duduk tanpa memakai pakaian. Itu foto Dyana saat berusia satu tahun.
Andreas tiba-tiba memeluk album itu. Album yang selalu dia buka saat dia merasa kesepian atau merindukan sosok Dyana.
"Dyana aku merindukanmu!" lirih Andreas.
Di tempat lain. Tiba-tiba Dyana terbangun. Dia merasa ada suara seseorang yang menyebut namanya. Suara itu tepat berbunyi di telinganya. Seolah suara itu dibisikkan secara langsung.
Dyana mengernyit. Sepertinya dia mengenal suara itu. Itu seperti suara pria iblis itu.
Akkh...!!! Kenapa dia menjadi mengingat pria itu lagi. Dyana merutuki dirinya sendiri, dia sadar walau dia sudah pergi jauh tapi dia masih sering memikirkan pria itu.
Entah kenapa Dyana juga tidak tahu. Tidak mungkin dia jatuh cinta pada pria itu kan? Tentu saja tidak. Mungkin karena dia tengah hamil anak pria itu, makanya dia sering memikirkannya dan terkadang jadi....merindukan pria itu.
Dyana menggeleng. Bukan dia. Tepatnya pasti bayinya lah yang merindukan ayahnya. Benarkan?
Dyana aku merindukanmu! Tiba-tiba suara itu terdengar lagi. Seperti dibawa angin tepat ke telinganya.
Atau jangan-jangan dia hanya berhalusinasi saja. Atau dia sedang bermimpi.
Sudahlah dia bingung. Dia bisa stres jika terus memikirkannya dan itu tidak baik untuk kandungannya.
Dyana memutuskan untuk kembali tidur dan mencoba tidak memikirkanya lagi.
*****