I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 22



Sudah berhari-hari, namun Andreas belum juga tahu keberadaan Dyana dan itu cukup membuat pikiran pria itu kacau.


Bagaimana tidak. Dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri jika dia merindukan wanita itu.


Seseorang mengetuk pintu kamar Andreas, meminta izin masuk.


Pintu terbuka setelah Andreas memberinya izin masuk. Gerald dengan cepat menghampirinya.


"Tuan. Saya mendapat informasi tentang keberadaan Nona Dyana,"


Mendengar itu, sontak membuat Andreas berdiri.


"Benarkah?" Semburat kebahagiaan tidak bisa dia sembunyikan. "Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Andreas tak sabar.


Gerald memperlihatkan foto Dyana yang sedang berjalan beriringan dengan seorang wanita, mereka hendak memasuki gedung apartement yang Andreas tahu, termasuk gedung apartemen mewah.


"Siapa gadis yang bersamanya ini?" Mata Andreas memicing melihat foto wanita yang berada di sebelah Dyana, yang tak lain adalah Keyna.


"Itu adalah sepupunya. Dia seorang dokter ahli penyakit dalam yang berprestasi di usianya yang masih muda," jelas Gerald. Andreas mengangguk mengerti.


Tiba-tiba ponsel Gerald berbunyi. Salah satu anak buahnya menelpon.


"Halo. Ada apa?"


"......."


"Benarkah?"


"......."


"Baiklah terus awasi. Kami akan segera ke sana."


Gerald menutup ponselnya. Andreas menatapnya heran. "Apa ada masalah?"


"Begini tuan. Anak buahku yang ku tugaskan mengawasi apartemen Dyana mengatakan bahwa Dyana sedang membereskan barang-barang ke mobil. Sepertinya dia ingin pergi."


Wajah Andreas seketika berubah cemas. Dia harus menemui Dyana, dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi kemana pun. Dia harus membawa wanita itu kembali ke sisinya.


"Siapkan mobil! Kita harus segera ke sana, sebelum dia pergi!" ucap Andreas. Mengambil jaket dan ponselnya, kemudian berjalan keluar mansion dengan cepat.


"Hubungi Jack! Suruh dia menyusul kita!" perintah Andreas saat memasuki mobilnya.


Mobil Andreas pun melaju dengan cepat menyusuri jalanan kota.


*****


"Mereka sudah pergi tiga puluh menit yang lalu." ucap seorang pengurus apartemen saat Andreas menanyakan keberadaan Dyana.


"Apa kalian tahu ke mana mereka akan pergi?" tanya Andreas lagi.


"Maaf tuan. Mereka tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya menyuruh kami mengawasi apartemen selama mereka pergi."


Andreas mendengus marah. Dia terlambat. Ini semua gara-gara kemacetan yang cukup parah yang menahan mereka lebih lama di jalanan. Andreas menyesali, harusnya dia ke sini menggunakan helikopter saja jika dia tahu jalanan akan semacet tadi.


"Hubungi anak buahmu!" perintah Andreas.


Gerald langsung mengambil ponsel di saku jas dan menghubungi anak buah yang dia suruh mengawasi Dyana.


"DASAR TIDAK BECUS!" Gerald mematikan ponselnya setelah memarahi anak buahnya. Mereka kehilangan jejak Dyana. Bagaimana dia akan mengatakan ini kepada bossnya.


"Apalagi sekarang?!" bentak Andreas.


"Maaf tuan. Mereka kehilangan jejak mobil Nona Dyana. Mereka mengatakan jika Mereka ketahuan membuntuti mobil Nona Dyana."


"APA!?" Tangan Andreas mengepal, giginya bergemelatuk. "DASAR TIDAK BECUS! APA AKU MEMBAYAR KALIAN UNTUK INI!?" bentak Andreas. Membuat semua anak buahnya menunduk takut.


"AKU TIDAK PEDULI. KALIAN HARUS MENCARINYA SAMPAI DAPAT atau..." Andreas menghentikan ucapannya. "Nyawa kalian menjadi taruhannya!"


Gerald bergidik ngeri. Tubuhnya bergetar. Dia takut. Apalagi ekspresi Andreas berubah dingin. Gerald memberi instruksi kepada seluruh anak buahnya agar mereka berpencar mencari Dyana di seluruh kota.


"Jangan lupa periksa juga penerbangan atau transportasi apa pun yang keluar dari kota ini!" Gerald kembali menginstruksi.


*****


"Apa mereka masih mengikuti kita?" tanya Dyana kepada Alex yang sedang menyetir mobil. Di sampingnya ada Keyna, sementara Dyana duduk di belakang bersama Calvin.


"Baguslah! Untung kita bisa menghindar," ucap Keyna. Dia bersyukur. Untung Alex mengambil jalan berbelok-belok, sehingga orang-orang yang mengejar mereka tadi kehilangan jejak. Walau perjalanan mereka menuju bandara menjadi lebih jauh.


"Aku yakin itu pasti anak buah Andreas," ucap Calvin. Pria itu terlihat kesal.


"Eh.. kau kenapa, Dy?" tanya Keyna melihat wajah pucat Dyana.


Calvin menyentuh wajah Dyana.


"Apa kau sakit? Wajahmu terlihat pucat?" tanya Calvin khawatir.


Dyana menggeleng. Dia menghindari sentuhan Calvin di wajahnya.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya saja..." Dyana tidak melanjutkan ucapannya. Dia terlihat enggan mengatakannya.


"Ada apa? Kenapa kau diam?" tanya Keyna sedikit khawatir melihat Dyana yang tidak melanjutkan ucapannya.


"Aku.. aku ingin ke toilet," ucap Dyana ragu.


Keyna, Calvin, Alex menarik napas. Mereka kira ada sesuatu yang terjadi.


"Apa kau tidak bisa menahannya lagi?" tanya Keyna sambil mengedarkan pandangan ke arah jalanan.


Dyana menggeleng malu.


Keyna menyuruh Alex menepikan mobil di depan sebuah super market.


"Hati-hati dan cepat kembali!" peringat Alex pada Dyana dan Keyna.


Keyna turun dan menemani Dyana ke toilet. Mereka harus tetap waspada. Bisa saja anak buah Andreas ada di sekitar sini.


Sekitar lima menit mereka keluar dari toilet.


Mobil mereka terparkir di sebrang jalan.


Dyana berjalan di depan Keyna. Wanita itu berjalan sambil melihat isi tasnya.


Hingga dia tidak sadar akan sesuatu. Sebuah mobil melaju cepat ke arah Dyana.


"Dyana. AWAAASSS...!!" teriak Keyna berusaha menggapai tangan Dyana.


*****


Sudah dua jam Andreas mencari Dyana setelah tidak menemukan wanita itu di apartemen sepupunya.


Mereka hendak menuju bandara internasional New York untuk mencari informasi tentang penumpang.


Ponsel Andreas berdering. Jack menelpon.


"Tidak mungkin!" ucap Andreas. Pria itu tidak percaya tentang apa yang diucapkan Jack barusan.


"Kau pasti salah!" Andreas mencoba untuk tetap tenang walau ada rasa cemas di hatinya. "Tidak... katakan kalau kau bercanda!" bentak Andreas.


Andreas masih mendengar Jack yang terus berbicara.


"Tidak mungkin. Dyana....Dyana... tidak.. itu tidak mungkin terjadi. Dyana..." Andreas menjatuhkan ponselnya. Ekspresinya tidak terbaca.


"Gerald putar arah. Kita menuju rumah sakit!" perintah Andreas yang langsung dituruti Gerald. Walau sebenarnya dia masih tidak tahu kenapa tiba-tiba Andreas menyuruhnya memutar arah.


Andreas berlari menuju sebuah ruangan yang dikatakan Jack setelah tiba di rumah sakit. Dia memperlambat larinya saat melihat Jack berdiri di depan sebuah ruangan. Pria itu menunggunya.


"Katakan jika kau berbohong tentang tadi, Jack!" Andreas berharap jika Jack berkata jika dia berbohong. Tapi, apa yang Andreas harapkan tidak terjadi. Jack menggeleng, pria itu menatap Andreas iba.


"Tapi, dia memang sudah tidak ada. Dia tewas."


Andreas merasa ribuan pisau menancap di dadanya. Kepalanya juga terasa berat, seberti tertimpa beban berton-ton. Dia kehilangan tenaganya. Dia terjatuh. Berlutut di lantai. Dia nampak tidak berdaya.


Pria itu mengusap wajahnya. Kasar.


"Tidak... Dyana... tidak mungkin..."


Andreas bangun dan langsung menuju ruangan yang berisi jenazah Dyana. Dia harus memastikan.


*****