
Kenapa Julian membawaku ke tempat ini? Dan lagi, siapa yang ingin bertemu denganku?
Begitulah pikiran Dyana semenjak ia menjejakkan kakinya di gedung bernuansa putih ini.
"Ayo masuk, Dy! Dia sudah menunggmu!" ujar Julian mempersilahkan Dyana masuk ke sebuah ruang rawat, rumah sakit.
Dyana menatap ragu Julian. Dan apa hubungan Julian dengan keluarga itu? Kenapa ia memanggil pria itu Ayah? Seingatku, pria itu bukan Ayah Julian. Julian, pernah mengenalkan orang tuanya padaku. Tapi, bukan orang itu.
"Halo, Dy! Kau mendengarku?" Julian melambai-lambaikan tangannya persis di wajah Dyana.
"Eh, iya."
Dyana melangkahkan kakinya ke ruangan itu dengan ragu.
Dan kalian tahu. Apa yang Dyana lihat saat memasuki ruangan itu? Seorang pria yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang tengah menatapnya dalam.
Dyana sedikit bingung, ia memandang Julian meminta pendapat.
Julian mengangguk, meyakinkan Dyana untuk segera masuk.
Dyana masuk, sementara Julian menunggu di luar.
"Hay! Apa kabar?" sapa Andreas dengan senyum ramah. Memandang setiap langkah Dyana.
Dyana memandang Andreas dengan ekspresi datar namun menyiratkan kekhawatiran.
"Kenapa kau disini?" ujar Dyana. Ia sudah berdiri persis di samping Andreas.
Bukannya menjawab, Andreas malah menyuruh Dyana untuk duduk, "Duduklah. Jangan biarkan anakku lelah berdiri!" ucapnya masih dengan senyuman di wajahnya.
Dyana menurut. Ia duduk di kursi dekat ranjang.
Entah karena apa sedari tadi Andreas tidak hentinya tersenyum dan itu, benar-benar membuatnya jauh lebih tampan.
"Aku senang kau baik-baik saja. Apa pria gila itu melukaimu?" Mata Andreas beralih dari wajah Dyana ke lengan Dyana yang dibalut perban. "Shit! Apa itu ulahnya?"
Dyana mengangguk, "Aku akan membunuhnya!" ujar Andreas dengan wajah geram.
"Tak perlu, polisi sudah mengurusnya."
Andreas bernapas lega mendengar penuturan Dyana. Setidaknya Dyana aman sekarang.
"Sebenarnya kau kenapa? Kenapa kau ada disini?" tanya Dyana tak sabar. Sedari tadi hal itu sudah membuatnya penasaran.
"Hanya kecelakaan kecil dan luka yang kecil." jawab Andreas enteng.
Dyana bernapas lega, syukurlah kalau begitu, Dyana sudah sangat khawatir tadi.
"Iya, tapi karena apa? Kau tau selama ini aku mengkhawatirkanmu, aku selalu memikirkanmu, kau dimana, sedang apa, apa kau baik-baik saja. Kau, nyaris tak memberi kabar padaku saat kau kembali ke New York. Aku jadi ragu, apa benar kau mencintaiku atau hanya mempermainkanku?" sinis Dyana panjang lebar sembari memperlihatkan wajah kesal.
Melihat itu, Andreas merasa gemas, kemudian ia mengacak rambut Dyana. "Hei, gadis cerewet! Kalau bertanya satu-satu. Aku bingung harus menjawab yang mana dulu."
Dyana memandang kesal ke arah Andreas karena kini rambutnya berantakan.
"Tidak usah jawab!" ketus Dyana. Tapi, Andreas malah tertawa.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Dyana sok kesal padahal ia sangat ingin tersenyum karena melihat tawa Andreas. Tawa Andreas benar-benar membuat hatinya senang dan... sedikit berdebar.
"Kau lucu!" ucap Andreas masih terkekeh. "Dan menggemaskan!" sambungnya lagi.
Dyana tersipu mendengarnya, wajahnya pasti sudah semerah tomat sekarang.
"Sudahlah, jawab pertanyaanku sekarang!" suruh Dyana.
"Pertanyaan yang mana?" Andreas pura-pura bingung.
"Kenapa kau ada disini dan dimana kau selama ini. Apa kau tidak tau aku merindukanmu." Dyana terdiam sesaat. Sungguh perkataannya yang terakhir, refleks.
"Hmmm... maksudku?" Dyana menjadi kikuk sendiri.
"Aku juga merindukanmu." tegas Andreas. Sekarang ia terlihat serius. "Baiklah, akan aku ceritakan."
Dyana mengangguk, ia menunggu Andreas kembali bicara.
"Waktu itu, saat aku pergi dari apartement Keyna....."
Flash Back On
Andreas baru saja mendapat sebuah alamat yang dikirim Liona setelah ia mentransfer uang yang Liona minta.
Ia beserta Jack dan anak buahnya yang mengikuti dari jarak jauh pergi ke alamat itu untuk menjemput Dyana. Andreas berharap Dyana baik-baik saja.
Tentu saja Andreas tidak percaya sepenuhnya pada Liona. Ia itu wanita licik yang bisa saja menipunya.
Saat di perjalanan, Andreas menyuruh Jack menghubungi Thomas untuk melacak dimana terakhir kali ponsel Liona berada. Karena setelah wanita itu mengirimkan alamat pada Andreas, ponselnya tak lagi aktif.
Andreas curiga ada yang tidak beres disini. Bisa saja Liona membohonginya. Alamat yang Liona berikan bisa saja palsu dan Dyana tidak ada disana.
Dan benar saja. Tak sampai sepuluh menit, Thomas sudah mengetahui dimana letak ponsel Liona terakhir kali, dan seperti dugaan Andreas, alamatnya berbeda dengan yang ia kirim.
Bisa dipastika jika Liona berbohong. Alamat yang ia berikan tadi jelas palsu.
Anak buah yang ia tugaskan pergi terlebih dahulu ke sana untuk memeriksa kondisipun mengatakan jika alamat yang dikirim Liona itu hanyalah alamat sebuah gudang kosong, dan disana tidak ada siapa-siapa.
"Jack. Kita ke titik dimana ponsel Liona terakhir aktif!" titah Andreas yang langsung disetujui Jack.
Sesampainya disana, mereka hanya menemukan sebuah rumah kosong. Ternyata Liona sudah pergi, membawa uang yang telah diberikan Andreas sebagai tebusan untuk Dyana.
"Cari wanita sialan itu sampai ketemu! Jangan biarkan ia lolos. Ia pasti belum jauh dari tempat ini!" Andreas kembali memerintah.
Kemudian, Jack langsung mengerahkan lebih banyak anak buah untuk mencari Liona ke setiap sudut kota.
"Periksa juga seluruh stasiun, airport. Jangan sampai wanita itu lolos!" ucap Jack kepada seluruh anak buahnya.
Mereka langsung berpencar mencari Liona.
Mereka, terutama Andreas hendak menangkapnya secara diam-diam. Agar ia tidak bisa kabur. Namun, Liona sudah tahu lebih dulu. Ia lari. Mencari tempat yang aman untuk menghindari kejaran anak buah Andreas. Disaat itulah ia menelepon Rafael, saat itu Rafael sudah bersama Dyana dan hendak menjamahnya.
Namun, anak buah Andreas tidak bisa diremehkan. Mereka berhasil menemukan Liona. Ia tengah bersembunyi di sebuah gudang kosong.
Mendengar itu Andreas langsung datang untuk mengeksekusi Liona secara langsung.
Dengan langkah pasti dan seringaian menghiasi bibirnya Andreas menghampiri Liona yang tengah berdiri di sudut gudang, ia terkurung di kelilingi anak buah Andreas.
"Aku tidak ingin basa-basi. Katakan dimana sebenarnya Dyana kau sembunyikan." ucap Andreas kali ini masih dengan nada pelan. Namun, tatapannya begitu dingin dan mengintimidasi.
"Di-dia... aku tidak tahu.." ucap Liona gagap. Ia memang tidak tahu kemana Rafael membawa Dyana.
"Ku tanya sekali lagi, dimana Dyana!" kali ini dengan suara membentak.
"Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak bohong." Liona semakin ketakutan.
Andreas terkekeh, "Oh.. masih tidak mau mengaku? Apa kau tidak menyayangi nyawamu." ucap Andreas dingin dengan seringaian iblisnya.
Melihat itu membuat Liona bergetar hebat karena takut. Ia tahu, manusia macam apa Andreas. Pria ini tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Baiklah. Akan aku katakan." ucap Liona pada akhirnya. Karena ia melihat salah satu anak buah Andreas mengambil pistol.
"Itu lebih baik."
"Dia tidak bersamaku. Sungguh. Dia dibawa oleh Rafael dan aku tidak tahu kemana pria itu membawanya." ungkap Liona.
Mendengar itu, membuat Andreas geram. Ia terbelalak kaget.
"Apa?! Kau! Ternyata kau bekerja sama dengan pria seperti Rafael. Harusnya aku sudah menghabisi manusia seperti kalian sejak dulu." Andreas semakin emosi. Ia menyesal, mengapa tidak ia habisi saja Liona dan Rafael dulu. Sekarang mereka malah membuat ulah.
"Kenapa Rafael juga menginginkan Dyana? Apa karena uang juga?" tanya Andreas. kepada Liona.
Liona menggeleng takut, "Aku tidak tahu pasti. Tapi, yang dia bilang ia sudah mengingikan Dyana sejak dulu." ungkap Liona dan mendengar itu membuat Andreas semakin marah.
Melihat Andreas yang semakin marah, membuat Liona semakin ketakutan. Ia harus mencari cara agar ia bisa lepas dari Andreas.
"Aku bisa membantumu menemukannya. Aku bisa meneleponnya dan menanyakan dimana ia sekarang!" tawar Liona. Ia sendiri tidak mau hanya dia yang tertangkap. Kalau ia tertangkap, Rafael juga harus tertangkap.
Andreas nampak menyeringai, "Ya, lakukan saja."
Dengan segera Liona menghubungi Rafael. Rafael memang mengangkatnya, namun ia tidak mau mengatakan keberadaannya kepada Liona, ia berpikir jika itu bisa saja jebakan.
"Apa kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Andreas kepada Jack yang sejak tadi menunggu saat-saat seperti ini.
"Ini. Thomas baru saja mengirimnya." ujarnya. Mereka memang sudah memberi instruksi pada Thomas soal ini.
"Dimana dia sekarang?" tanya Andreas tak sabaran.
"Mereka ada di-"
DOR...
"Akhh!!"
Melihat Andreas dan para anak buahnya lengah, ternyata dimanfaatkan oleh Liona untuk merebut sebuah pistol yang ada pada salah satu anak buah Andreas.
Pistol itu, ditembakkan Liona tepat mengenai perut Andreas.
Jack yang melihat itu, langsung menangkap tubuh Andreas, sedangkan anak buah Andreas langsung menahan Liona yang hendak kabur.
"Dasar wanita sialan! Aku tidak akan membiarkanmu hidup!" ucap Andreas menahan sakit di perutnya. "Seret wanita itu, bawa dia ke penjara!" titah Andreas yang langsung dituruti anak buahnya.
"Kau harus segera dibawa ke rumah sakit!" ucap Jack yang tengah memapah tubuh Andreas ke dalam mobil.
"Tapi, bagaimana dengan Dyana. Aku tidak bisa menjamin ia aman bersama Rafael." ucap Andreas.
Bersamaan dengan itu, ponsel Andreas berdering. Sebuah panggilan dari Keyna.
"Apa ada perkembangan?" tanya Keyna dengan nada khawatir.
"Iya. Tapi, dia tidak ada di tempat yang diberikan Liona. Wanita sialan itu memberi alamat palsu." ujar Andreas, sebisa mungkin menahan sakit di perutnya.
"Lalu bagaimana? Aku sangat khawatir. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Dyana." Nada suara Keyna terdengar semakin khawatir, ia hampir menangis.
"Kau tidak perlu khawatir! Kami sudah mengetahui lokasi sebenarnya." ucap Jack yang memang mendengar semua percakapan mereka.
"Benarkah. Bisa kalian kirim padaku. Aku akan ikut mencarinya. Aku akan meminta bantuan Alex. Disini juga ada tuan Peter." ucap Keyna.
Dahi Andreas mengernyit. Untuk apa tuan Peter ada disana. Apa hubungannya dengan Keyna?
Oh.. Andreas baru ingat. Tuan Peter adalah Paman dari Alex, tunangan Keyna. Tentu saja Peter akan membantunya.
Andreaspun mengirim lokasi Rafael kepada Keyna menggunakan suatu aplikasi yang diprogram oleh Thomas. Aplikasi ini lebih cepat dan akurat dibanding GPS.
Andreaspun dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pertolongan dan perawatan lebih lanjut.
Sementara, di apartement Keyna yang sudah ada Peter, Alex, dan Julian segera mencari Dyana mengikuti petunjuk dari aplikasi itu.
Dan Julianlah yang lebih dulu menemukan Dyana. Ia melihatnya keluar dari taxi dengan terburu-buru. Saat itu mobil Julian juga terjebak macet.
Ia juga melihat Rafael turun dari sebuah mobil dan mengejar Dyana.
Melihat itu, Julian buru-buru menepikan mobilnya. Ia dengan segera mengejar Dyana dan Rafael.
Sayang. Jarak mereka terlalu jauh dan Julian sempat kehilangan jejak.
Setelah mencari lagi. Akhirnya, Julian menemukan mereka. Segera Julian menghantam Rafael dengan balok kayu yang kebetulan ada di dekatnya, saat itu Rafael hendak melukai Dyana lebih jauh.
Rafael pingsan. Dan Julian segera membawa Dyana dari tempat itu dan membawanya ke rumah Peter.
Flash Back Off