I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 29



"Ibu?" ucap Andreas menghapiri ibunya yang berdiri di pintu keluar Bandara.


"Andreas!" teriak ibunya, Madam Laura.


"Bukannya ibu di rumah sakit?" tanya Andreas heran. Setahunya ibunya sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan.


"Ibu baik-baik saja," Madam Laura merentangkan kedua tangannya lalu memeluk putra satu-satunya itu untuk melepas rindu. "Ibu sudah keluar dari rumah sakit tadi pagi."


Andreas melepas pelukan ibunya. Menatap curiga sang ibu lalu berkata, "Jangan bilang kalau ibu membohongi ku?"


Madam Laura tertawa. "Ibu tidak berbohong. Ibu memang kecelakaan. Hanya saja ibu menambahi tentang kaki ibu yang patah." ucap Madam Laura tanpa merasa bersalah karena sudah membohongi putranya.


Andreas menepuk jidatnya. "Aduh ibu. Bagaimana jika itu menjadi kenyataan? Ibu benar-benar membuatku khawatir."


Madam Laura mengerucutkan bibirnya, cemberut. "Kalau ibu tidak mengatakan itu, apa kau mau meninggalkan pekerjaanmu yang maha penting itu untuk ibumu yang semakin tua ini?" Madam Laura menatap Andreas kesal sambil bersedekap.


Andreas meraih punggung ibunya, mereka berjalan menuju mobil Madam Laura.


"Maaf. Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan ibu." ucap Andreas terdengar tulus.


Tumben baik.


Andreas membukakan pintu untuk ibunya, lalu mereka duduk berdampingan.


Madam Laura tersenyum dengan wajah berbinar. "Benarkah?"


"Tentu, ibu."


Madam Laura mengarahkan sopir menuju hotel berbintang tempatnya menginap.


"Lalu kapan kau akan menikah?" Madam Laura menatap putra semata wayangnya itu penuh harap. "Ibu sudah sangat ingin memiliki cucu!"


Seketika ekspresi wajah Andreas berubah. Tatapan nanar, tersirat kesedihan di sana.


"Mungkin aku tidak akan menikah." ucap Andreas sukses membuat Madam Laura membulatkan mata.


Menatap Andreas tajam, Madam Laura menjewer telinga putranya itu membuat Andreas memekik kesakitan.


"Aduh ibu! Kenapa ibu menjewer telingaku?"


"Apa maksudmu dengan tidak ingin menikah?" Jeweran Madam Laura semakin kuat di telinga Andreas.


"Ibu sakit!" pekik Andreas memelas. Berharap ibunya melepaskan jewerannya.


"Jawab!" paksa Madam Laura.


"Iya, bu. Tapi, lepas dulu!"


Madam Laura melepas jewerannya di telinga Andreas. Andreas mengusap telinganya yang terasa panas. Pasti telinganya memerah sekarang.


"Ayo jawab!" tagih Madam Laura.


"Itu.. aku memang tidak ingin menikah!" ucap Andreas dengan suara lemah.


Madam Laura menatapnya garang.


"Iya apa alasannya?"


"Karena aku tidak suka komitmen. Mebayangkan pernikahan saja membuatku pusing. Mendengar tangisan bayi, harus setia dengan satu wanita. Semuanya membuatku pusing."


Andreas berbohong. Alasan sebenarnya adalah dia tidak akan menikah dengan perempuan lain selain dengan Dyana, wanita yang sudah merebut hatinya kini, dan wanita itu sudah tidak berada di dunia ini lagi. Jadi, bagaimana dia bisa menikah?


Madam Laura menatap Andreas dengan ekspresi kecewa.


"Kau tetap harus menikah, Andreas! Kita butuh penerus keluarga dan ibu sangat menginginkan cucu." paksa Madam Laura. Bagaimana pun dia adalah seorang ibu, dia sangat ingin melihat anaknya menikah dan memiliki anak.


"Tapi, bu. Aku.."


"Tidak ada tapi-tapian. Jika kau tidak memiliki calon. Ibu sendiri yang akan mencarikannya untuk mu!"


"Itu tidak perlu ibu. Kalau aku mau aku bahkan bisa mencari seratus orang wanita untuk ku." bantah Andreas cepat.


"Ibu tidak mau tahu. Setelah dari hotel, ibu akan memperkenalkan mu kepada seseorang!" ucap Madam Laura tidak mau kalah. "Dia perempuan yang sangat cantik dan baik."


"Aku tidak mau ibu! Aku lelah!" Andreas mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lesu agar terlihat lelah.


"Ibu tidak menerima penolakan!"


Andreas hanya bisa mendengus pasrah. Dia tahu bagaimana pun usaha ibunya itu akan sia-sia saja.


*****


Pagi ini hari sangat cerah, membuat Dyana begitu bersemangat. Apalagi semakin hari cafe dan toko bunganya semakin ramai pengunjung.


Cafe dan toko bunga, bukankah itu perpaduan yang cocok. Contohnya seperti sekarang ini. Ada seorang pria yang baru saja melamar kekasihnya dengan memesan banyak sekali bunga mawar berbagai macam warna setelah mereka selesai minum kopi di cafe Dyana.


Kemarin juga ada pria yang lupa membawa hadiah pada kekasihnya saat datang ke sini. Tanpa mencari tempat yang jauh, dia langsung membeli sebuket bunga untuk kekasihnya itu.


"Desi. Bisakah kau mengantar pesanan ini ke meja nomor 6?" ucap Dyana kepada Desi yang baru selesai membersihkan meja. "Aku ingin ke dapur memasak makan siang untuk kita."


Desi mengangguk dan segera mengantarkan pesanan yang diberikan Dyana.


Dyana membuka kulkas begitu sampai di dapur. Melihat bahan apa saja yang tersedia untuk membuat sup ayam. Sepertinya semua bahan lengkap.


Tanpa membuang waktu lagi Dyana langsung memulai ritual memasaknya sembari menunggu Madam Laura datang menemuinya.


*****


"Kenapa kita ke sini, bu?" tanya Andreas tak mengerti kepada ibunya, Madam Laura, yang membawanya ke area pantai dan menuju ke sebuah cafe yang tidak terlalu besar.


"Bukankah tadi ibu sudah bilang ingin memperkenalkan seseorang padamu?" ujar Madam Laura, menarik Andreas masuk ke cafe outdoor tersebut.


Madam Laura menengadahkan pandangannya ke sekeliling, mencari orang yang ingin mereka temui. Sementara Andreas hanya bisa pasrah mendapat perlakuan dari ibunya yang dia anggap akan sia-sia saja. Siapa pun perempuan yang ingin ibunya perkenalkan itu tidak akan bisa membuat Andreas berpikir untuk menikahinya. Kecuali, perempuan itu adalah Dyana. Tiba-tiba hati Andreas terasa sesak, perasaan rindu dan merasa bersalah yang datang secara bersamaan di saat ia mengingat wanita itu.


Andreas berdiri dan mengahampiri ibunya yang sedang berbicara kepada salah satu pelayan cafe. Dia sempat melirik banyaknya pasang mata yang mencoba mencuri pandang ke arahnya, yang tentu saja ia hiraukan.


"Ibu aku ingin ke toilet." sontak Madam Laura menghentikan interaksinya dengan pelayan tersebut.


"Kau tidak berniat untuk kabur, kan?" Madam Laura memicingkan mata menatap Andreas curiga.


"Tentu saja tidak." Tapi, bisa saja.


"Bisakah kau menunjukkan di mana toiletnya?" Andreas bertanya kepada pelayan yang baru saja berbicara kepada ibunya.


"A..ada di..dalam," ucap pelayan itu yang sebenarnya adalah Hana dengan sedikit terbata karena ada pria yang sangat tampan berbicara padanya.


"Baiklah. Tapi kau jangan lama-lama. Lagi pula orang yang ingin ibu kenalkan padamu sedang sibuk memasak, sebentar lagi dia baru bisa menemui kita," Dyana memang sedang tidak bisa meninggalkan masakannya, karena tidak ada seorang pun di dapur yang mengawasi masakannya, semua orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Ingat jangan kabur!" peringat Madam Laura untuk ke sekian kalinya. "Ibu pergi sebentar ke toko bunga itu."


"Iya ibu. Ibu tenang saja."


Madam Laura pergi menuju toko bunga setelah memberi pelototan tajam ke arah Andreas sebagai peringatan agar dia tidak kabur.


Andreas hanya bisa mendengus melihat langkah ibunya yang menjauh darinya. Ibunya memang terkadang sedikit kekanakan.


Andreas masuk ke dalam rumah untuk mencari toilet. Dia mencium aroma masakan yang begitu harum. Membuat Andreas seketika merasa lapar.


Tanpa membuang waktu Andreas memasuki toilet. Tak lama ia keluar dan langsung menangkap siluet seseorang dari balik kaca buram. Orang itu sedang memasak. Andreas yakin jika orang itu adalah seorang perempuan. Dilihat dari bayangan rambutnya yang panjang diikat seperti ekor kuda. Sesekali Andreas mendengar wanita itu bersenandung.


Entah dorongan darimana Andreas berjalan mendekati dapur. Dia penasaran bagaimana rupa wanita itu, wanita dengan aroma masakannya yang membuat cacing Andreas berdemo minta segera diisi.


Sedikit lagi Andreas sampai ke bingkai penghubung antara dapur dan ruang tengah itu. Seseorang menepuk bahunya.


Andreas kaget dan langsung menoleh siapa orang yang dengan berani menepuk bahunya. Ternyata yang menepuk bahunya adalah pelayan yang berbicara dengan ibunya tadi.


"Maaf tuan. Ibu anda memanggil anda." ucap Hana sedikit takut karena Andreas menatapnya tajam.


Tanpa menjawab, Andreas langsung meninggalkan Hana dan berjalan keluar rumah.


Hana hanya mengedikkan bahunya dan pergi menemui Dyana.


"Kau lama sekali. Aku kira kau sudah lari." sindir Madam Laura.


Andreas hanya mampu menatap ibunya jengah. Ibunya itu sudah duduk di salah satu meja dengan sepotong cake coklat dan segelas jus jeruk. Bahkan ibunya tidak berniat memesan makanan untuknya.


"Kenapa lama sekali ibu? Aku masih banyak urusan!" Andreas merengut. Dia sudah benar-benar bosan menunggu seseorang yang akan dikenalkan ibunya padanya.


"Dia akan segera datang. Ibu sudah menyuruh Hana memanggilnya," ucap Madam Laura lalu memakan sepotong cake miliknya.


"Hana?" ucap Andreas sembari duduk di depan ibunya.


"Pelayan yang tadi namanya Hana."


Andreas hanya mengangguk acuh.


"Apa ibu tidak berniat memesan makanan untuk anakmu yang sudah kelaparan ini!"


Madam Laura menoleh keyarah Andreas. Menatapnya dengan pandangan menilai. "Bukankah tadi kau sudah makan?" ucap Madam Laura. Mereka memang sudah makan di restoran hotel sebelum datang ke sini.


"Iya, tapi tiba-tiba aku lapar lagi." ucap Andreas dengan nada rendah.


"Kalau kau mau, pesan saja sendiri." Madam Laura kembali memasukkan sepotong cake ke mulutnya.


Andreas kemudian memanggil salah satu pelayan. Pelayan yang Andreas yakini lebih muda dari pelayan yang tadi. Dia memesan cake rasa capuchino dalam porsi besar.


Madam Laura kaget melihat pesanan Andreas. CakeĀ  dengan ukuran setara kue ulang tahun.


"Apa kau benar-benar lapar?" tanya Madam Laura dengan tatapan heran.


Andreas hanya mengangguk dan langsung memakan pesannanya.


Dia terdiam sebentar saat lidahnya mengecap rasa cake tersebut. Sepertinya dia pernah memakan cake seperti ini. Rasanya sama seperti cake yang pernah ia pesan pada Dyana untuk menjebak wanita itu beberapa bulan lalu. Andreas memang sempat mencoba cake buatan Dyana waktu itu.


Lagi-lagi hatinya sesak mengingat Dyana, wanita yang ia cintai yang ia sendiri tidak tahu kapan dan bagaimana perasaan itu tiba-tiba datang.


"Andreas!"


Seseorang memanggil nama Andreas, dari suranya Andreas tahu siapa orang yang memanggilnya. Tetapi, kenapa dia ada di sini?


Andreas dan Madam Laura menoleh ke asal suara tersebut dan benar Calvin sedang berdiri di sisi meja mereka, memandang Andreas dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Calvin sedikit panik. Apa Andreas sudah bertemu dengan Dyana?


"Harusnya aku yang bertanya. Ada urusan apa kau di sini?" tanya Andreas tak mau kalah.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Calvin sukses membuat Andreas merasa bingung.


"Bertemu dengan siapa maksudmu?"


Melihat ekspresi Andreas, Calvin yakin jika pria ini belum bertemu dengan Dyana. Ya, belum. Yang artinya akan segera bertemu jika Calvin tidak segera bertindak.


Tanpa menjawab pertanyaan Andreas, Calvin pergi meninggalkan Andreas dengan tergesa. Menuju ke dalam rumah untuk memperingatkan Dyana.


Tanpa sadar, tingkahnya itu justru membuat Andreas menatapnya curiga.


Andreas berdiri ingin menyusul Calvin.


"Kau mau ke mana!?" tanya Madam Laura sarkas.


"Aku harus menyusulnya ibu. Aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan."


Tanpa menunggu Madam Laura berbicara lagi, Andreas langsung pergi menuju ke arah perginya Calvin tadi.


Madam Laura hanya bisa menggelengkan kepala. Menatap tingkah aneh Calvin dan Andreas. Sebenarnya dia juga kaget melihat Calvin tiba-tiba ada di sini.


Tanpa ingin berpikir mengenai hal yang sebenarnya terjadi. Madam Laura kembali memakan cake, kali ini bukan cake miliknya melainkan milik Andreas karena cake miliknya sudah habis sedari tadi.


Kenapa mereka sangat lama? batin Madam Laura merasa heran Dyana belum juga datang dan sekarang Andreas dan Calvin juga ikut-ikutan menghilang.


*****


Dyana baru saja mematikan kompor dan akan menemui Madam Laura. Dia yakin Madam Laura sudah menunggunya sejak lama. Dyana menjadi merasa tidak enak.


Baru saja Dyana keluar dari dapur tiba-tiba Calvin datang dan menariknya kembali masuk ke dalam dapur.


"Calvin! Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba kau menarikku?" tanya Dyana heran melihat tingkah Calvin yang sedikit aneh.


"Kau harus bersembunyi Dyana dan lebih baik kau jangan keluar!"


"Kenapa?" tanya Dyana bingung.


"Andreas! Dia ada di sini!" ucap Calvin sukses membuat Dyana membelalak mata.


"Bagaimana bisa?" tanya Dyana kaget dan mulai panik.


"Tentu saja bisa. Ini tempat umum, siapa saja bisa datang kemari."


Mendengar ucapan Calvin membuat Dyana semakin panik.


"Tapi aku harus menemui seseorang dia sudah lama menungguku sejak tadi." Dyana menjadi merasa bingung harus berbuat apa. Bagaimana pun dia harus menemui Madam Laura. Wanita paruhbaya itu sudah menunggunya sejak tadi.


"Siapa?" tanya Calvin.


"Madam Laura. Dia pelanggan pertamaku!" ucap Dyana. Yang kali ini membuat Calvin membulatkan matanya.


"Hah! Kau tidak salah? Dia ibunya Andreas!"


Lagi-lagi Dyana kaget dan semakin panik. Benarkah? Jadi, putra yang dimaksud Madam Laura adalah Andreas? Andreas Alfaro? Pria yang telah membuat kehidupan Dyana semakin menderita.


"Baiklah, tapi aku harus sembunyi di mana?"


Dyana merasa tidak masalah lagi jika dia tidak menemui Madam Laura. Justru jika dia menemuinya akan membuat masalah yang lebih besar lagi.


Calvin menatap ke sekeliling. Tatapannya terkunci di pintu keluar yang ada di dalam dapur.


"Kita keluar dari sana! Kita pergi ke mana saja nanti. Asal Andreas tidak melihatmu!"


Dyana mengangagguk setuju.


Namun, baru saja beberapa langkah mereka berjalan. Suara seseorang menghentikan langkah mereka. Mereka berbalik dan melihat Orang yang sejak tadi mereka bicarakan dan mencoba mereka hindari sudah berdiri di belakang mereka, menatap mereka dengan tatapan tajam dan sulit diartikan.


*****