
Andreas menggebrak meja kerjanya, hingga terdengar suara gedebum yang cukup kuat. Penampilannya berantakan, wajah tampannya terlihat frustrasi.
"BAGAIMANA BISA KALIAN TIDAK MENEMUKAN Sedikit PUN JEJAKNYA!?" bentak Andreas. Pria itu sangat marah karena tidak ada satu pun dari anak buahnya yang berhasil menemukan jejak Dyana.
Semua anak buahnya menunduk tak berani menatap Andreas yang terlihat frustrasi dan marah.
"Maaf tuan. Tapi, kami sudah mencari di rumahnya, tetapi kosong. Kami bahkan mencari informasi di kampusnya, mengenai teman-teman dekatnya, namun tak satu pun yang tahu keberadaan Dyana." Gerald mencoba menjelaskan, walau dia masih enggan menatap mata Andreas.
Pria itu, Andreas, mengusap wajahnya kasar.
"Aku tidak ingin mendengar alasan! Pokoknya kalian harus menemukannya, cari dia di seluruh kota ini kalau bisa hingga ke kota lain! Yang aku mau Dyana harus kalian temukan!" perintah Andreas tidak dapat dibantah.
Gerald dan anak buahnya masih bergeming.
"TUNGGU APA LAGI?!"
Sontak semua anak buah Andreas langsung bergegas meninggalkan ruang kerjanya, meninggalkan dia sendirian.
Setelah tak ada satu pun orang lain di ruangnya. Andreas menyusur meja kerjanya, hingga semua barang-barang yang ada di atasnya berjatuhan.
Andreas terduduk lemah di kursi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Pria itu menangis tanpa sadar.
"Dyana! Maafkan aku. Aku memang bersalah padamu, harusnya aku mempercayaimu bukan mempercayai Liona yang sudah jelas-jelas seorang penghianat...," ucap Andreas parau, suaranya bergetar menahan isakan. Memikirkan Dyana yang sudah tidak ada di sisinya membuat pria itu linglung seperti kehilangan akal.
"Aku mohon Dyana, kembalilah, aku ingin memperbaiki segalanya!" Andreas berbicara seorang diri.
Seseorang memperhatikan Andreas sejak tadi dari pintu, Andreas tidak menyadari kalau Jack melihat semua tingkahnya.
Jack menggeleng-gelengkan kepalanya. Selama dia mengenal Andreas, baru kali ini dia melihat pria itu sehancur ini. Jack sadar jika Dyana sudah mengisi seluruh hati dan pikiran Andreas.
Jack berjalan perlahan mendekati Andreas. Baru setelah Jack berdeham, pria itu baru menyadari keberadaannya.
Andreas terkesiap. Pria itu langsung menghapus air matanya setelah melihat Jack berdiri tepat di hadapannya.
"Boleh aku duduk?" tanya Jack hati-hati.
Andreas mengangguk. "Silahkan!" ucap Andreas kembali menormalkan nada suaranya.
"Aku baru mendapat satu kabar tentang Dyana."
Mata Andreas langsung melebar antusias, dia seperti mendapat setitik cahaya terang di kegelapan.
"Kabar apa?" tanya Andreas berbinar. "Apa kau sudah mengetahui keberadaannya?"
Jack menggeleng, pertanda kalau dia belum mengetahui keberadaan Dyana. "Bukan."
Andreas mendengus, dia kira Jack sudah mengetahui keberadaan Dyana. "Jadi?"
Jack memperbaiki posisi duduknya, mensejajarkan wajahnya dengan Andreas.
"Ini tentang keluarganya, aku baru mendapat informasi jika Dyana hanya memiliki Ayah, ibunya meninggal saat dia berusia enam tahun..." Jack melihat ekspresi wajah Andreas berubah, pria itu tengah memikirkan sesuatu. "Dan Ayahnya sedang sakit, baru sekitar beberapa waktu lalu dioperasi karena kanker paru-paru."
Andreas memejamkan matanya sesaat, meresapi setiap kata yang diucapkan Jack. Fakta-fakta baru tentang Dyana. Andreas yakin wanita itu pasti kesepian selama ini.
"Kau tahu, aku kagum pada Dyana, ternyata dia adalah wanita yang kuat. Awalnya ku kira Dyana mau berkerja untuk kita, membantu menangkap Rafael waktu itu karena dia butuh uang yang banyak untuk bersenang-senang. Ternyata dia butuh uang untuk biaya operasi Ayahnya. Selama ini dia juga berjuang untuk kehidupannya dan Ayahnya, dia membiayai sendiri uang kuliahnya, berkerja paruh waktu dan membuat usaha sendiri." Jack memaparkan kehidupan Dyana yang dia tahu.
Andreas masih terlihat diam, hatinya terasa nyeri membayangkan bagaimana kehidupan Dyana selama ini. Wanita itu pastilah wanita yang baik, tapi dia malah menyakiti wanita sebaik Dyana.
"Dari mana kau mengetahui semua ini?"
Seketika mata Andreas melebar.
Calvin? Kenapa dia melupakan itu. Bukankah Dyana sebelumnya bekerja dengan Calvin? Mungkin Andreas bisa mendapat informasi dari Calvin. Mengenai saudara-saudara Dyana, atau teman-teman yang mungkin Dyana datangi.
"Jack siapkan mobil! Kita ke Cafe Calvin, Sekarang!"
*****
Andreas memasuki Cafe Calvin. Malam ini, pelanggan lumayan banyak. Andreas ingat, kalau tempat ini adalah tempat pertama kali dia bertemu Dyana.
Setelah menanyakan keberadaan Calvin pada salah satu pelayan yang mengatakan kalau pria itu tengah berada di kantornya. Andreas yang diikuti Jack, berjalan menuju ruangan kerja Calvin di cafe ini.
Tanpa mengetuk pintu, Andreas langsung membuka pintu ruangan Calvin. Menampakan pria berbadan tegap, tengah duduk di kursi kerjanya sambil membalik-balik berkas.
Mata Calvin teralih dari berkas-berkas yang dia periksa ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Kening Calvin mengernyit, bingung. Tidak biasanya Andreas menemuinya tanpa memberitahu terlebih dahulu. Pasti ada masalah yang penting.
Calvin berdiri, memperlihatkan wajah yang terlihat lelah. "Andreas, tumben kau datang? Ada apa?" tanya Calvin hangat.
Andreas duduk di depan Calvin setelah pria itu mempersilahkan.
Calvin menatap wajah teman semasa kecilnya itu. Andreas terlihat sedang tidak baik-baik saja. "Apa ada masalah?" tanya Calvin memecah keheningan di antara mereka.
Andreas terlihat ragu untuk bicara.
"Begini. Apa Dyana datang ke sini?"
Mata Calvin membulat saat mendengar nama Dyana disebut. Dari mana Andreas mengenal Dyana? Dan kenapa Andreas menanyakan Dyana padanya?
Seperti Andreas, Calvin juga tidak tahu keberadaan Dyana. Wanita itu tidak pernah kembali lagi ke cafenya setelah permisi untuk mengantar pesanan. Calvin juga sibuk mencari Dyana, apalagi wanita itu tidak bisa dihubungi.
"Kenapa kau menanyakan Dyana? Maksudku apa kau mengenalnya?" tanya Calvin dengan heran, pasalnya tidak mungkin rasanya jika Andreas mengenal Dyana, teman semasa SMAnya yang menghilang bagai ditelan bumi.
"A-aku hanya mengenalnya begitu saja,"
Calvin menatap Andreas curiga, tidak mungkin rasanya jika seorang Andreas menanyakan seseorang yang hanya dia kenal begitu saja, bahkan repot-repot mencarinya. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Dyana dan Andreas.
"Jujur saja. Kenapa kau menanyakan Dyana!?" Suara Calvin sedikit meninggi. Tentu saja ini tentang Dyana.
"Apa aku perlu menjawabnya?" tanya Andreas datar.
"Terserah kau saja, jika kau tidak menjawabnya, aku juga tidak bisa menjawab pertanyaanmu."
Andreas berpikir sejenak. Tidak ada salahnya bercerita kepada Calvin, mereka sudah mengenal sejak lama. Mungkin Calvin bisa membantunya.
"Baiklah. Begini....." Andreas mulai menceritakan semua pada Calvin. Semua. Tidak ada yang terlewat.
Andreas mengira saat dia selesai bercerita pada Calvin. Temannya itu akan membantu atau sekadar memberi saran. Namun, kenyataannya jauh dari perkiraan Andreas.
Mata Calvin berkilat penuh amarah. Dia mendadak emosi mendengar semua cerita yang dilontarkan Andreas. Dadanya terasa nyeri, tidak menyangka jika hilangnya Dyana awalnya adalah ulah dari perbuatan Andreas.
"BRENGSEK! ********!" umpat Calvin kepada Andreas. Pria itu menarik kerah baju Andreas hendak meninjunya.
Andreas mencoba tetap tenang tanpa mengelak dari cengkeraman Calvin. Dia perlu tahu dulu kenapa temannya ini tiba-tiba ingin memukulnya.
"Kau kenapa?" tanya Andreas yang bingung melihat respon Calvin yang telihat berlebihan. Dia tau jika Dyana adalah salah satu pegawai Calvin, dan perbuatannya memang salah. Tapi, respon Calvin ini benar-benar berlebihan untuk ukuran boss dan pegawai.
"AKU MENCINTAINYA, BRENGSEK!"
*****