I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 33



Dokter baru saja keluar dari kamar rawat Dyana, yang mengatakan kalau Dyana sudah stabil dan sudah bisa pulang hari ini.


"Ingat apa yang dikatakan dokter, Dy. Kau tidak boleh lelah kalau tidak mau menginap di rumah sakit lagi."


Dyana hanya mengangguk mendengar ucapan Calvin. Pria itu sedang membereskan barang-barang Dyana. Tidak membiarkan Dyana membantu sedikitpun.


Mereka hanya berdua di dalam kamar. Sementara Andreas sedang berbicara dengan Madam Laura di luar.


"Apa kau tidak lelah, Cal?" tanya Dyana memperbaiki posisi duduk. "Kau sudah lama di sini. Apa tidak masalah meninggalkan pekerjaanmu di New York terlalu lama?"


Calvin yang baru selesai membereskan barang-barang Dyana ke dalam tas segera menghampiri wanita itu.


Calvin tersenyum ke arah Dyana.


"Aku sudah mengurus semuanya. Kau tidak perlu khawatir." ucap Calvin mencoba meyakinkan Dyana. Pria itu menggenggam tangan Dyana lembut.


"Yang terpenting. Aku bisa memastikan dirimu aman."


Calvin menatap dalam ke arah manik mata Dyana.


"Tapi, kau tidak perlu repot-repot seperti ini. Aku bisa menjaga diriku sendiri."


Dyana melepaskan genggaman Calvin dari tangannya pelan, agar Calvin tidak tersinggung.


"Aku tidak merasa repot sama sekali. Lagipula bukankah sebentar lagi kita akan menikah?"


Dyana diam. Enggan menatap Calvin.


Calvin benar. Dyana memang menerima lamaran Calvin sehari setelah pria itu mengungkapkan perasaannya. Dengan syarat menunggu Ayah Dyana siuman dulu. Tapi, jika dalam jangka tiga bulan Ayahnya tidak siuman juga. Mereka akan tetap menikah. Itu Dyana lakukan karena khawatir melihat perutnya yang akan semakin membesar.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu untuk menikahiku, Cal?" Dyana masih enggan menatap pria itu. "Kau tidak akan menyesal? Masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dariku."


Calvin menghela napas. Dia meraih wajah Dyana mengalihkan pandangan wanita itu agar melihat dirinya.


"Aku yakin, Dy. Sangat yakin. Kau tidak perlu meragukan hal itu." ucap Calvin lembut.


Dyana memaksakan senyumnya. Entah mengapa sejak mendengar pengakuan Andreas yang mengatakan bahwa pria itu mencintainya. Membuat Dyana ragu pada keputusan yang satu ini. Keputusan untuk menikah dengan Calvin.


"Apa kau khawatir tentang Andreas?" tanya Calvin melihat wajah Dyana yang menyiratkan keraguan.


Dyana mengangguk. "Bagaimana pun anak ini adalah anak Andreas. Bagaimana jika ia menginginkan anak ini dan menentang pernikahan kita nantinya?"


Calvin terdiam. Dyana benar. Calvin sendiri tahu dari cara Andreas menatap Dyana bisa ia lihat dengan jelas kalau pria itu menginginkan Dyana.


"Aku... aku akan berjuang-" ucapan Calvin terhenti saat seseorang memotong ucapannya.


"Tentu saja aku menentang pernikahan kalian nantinya!" ucap Andreas yang baru saja masuk ke dalam kamar Dyana dengan nada tegas.


Pandangan Dyana langsung mengarah pada Andreas yang berjalan mendekati mereka.


"Jadi anak itu memang anakku?" ucap Andreas menatap dingin ke arah Dyana. "Seperti dugaanku. Kau tidak bisa mengelak lagi Dyana."


"Dan kau benar. Aku menginginkan anak itu dan tidak akan membiarkan kalian menikah." Andreas tersenyum sinis.


Calvin berdiri. Menatap tajam ke arah Andreas yang juga menatapnya tajam.


"Apa maksudmu!? Kau sama sekali tidak berhak untuk melarang kami menikah!" bentak Calvin dengan nada tinggi.


"Tentu saja aku berhak! Dyana mengandung anakku! Jika ada yang akan menjadi ayah dari anak itu akulah orangnya! Karena aku adalah ayah kandungnya." sentak Andreas dengan nada yang tidak kalah tinggi.


"Tapi dari awal kau tidak menginginkan anak itu! Kehadirannya adalah sebuah kecelakaan yang kau buat untuk menghancurkan Dyana!" ucap Calvin tidak menurunkan oktaf suaranya.


"Tapi, itu tetaplah anakku dan aku menginginkannya!" sentak Andreas.


"Sudah cukup! Bisa kalian hentikan semua ini! Aku sudah lelah dan ingin pulang!" Dyana sudah turun dari ranjang. Melewati Calvin dan Andreas begitu saja, kemudian mengambil tasnya yang berada di atas meja sebelum melangkah menuju pintu.


"Dy! Tunggu! Aku akan mengantarmu!" ucap Calvin yang sudah mengejar Dyana.


"Aku yang akan mengantar Dyana! Aku harus memastikan anakku selamat." Andreas meraih tangan Dyana hendak menariknya pergi.


"Jangan sentuh aku lagi Andreas! Aku akui ini memang anakmu. Tapi, kau sama sekali tidak berhak atas anak ini dan mengatur hidupku." ucap Dyana tajam ke arah Andreas.


"Kau lupa. Anak ini ada bukan karena kemauanku ataupun kemauanmu. Tapi, anak ini ada karena kesalahanmu. Kau menyiksaku, memaksaku hingga aku menjadi seperti ini." Kali ini air mata Dyana menetes. Padahal dari tadi sudah susah-susah ia tahan.


"Aku tau Dyana dan sekarang aku menyesalinya." ucap Andreas lirih. "Aku menginginkan anak itu. Dia akan menjadi pewarisku."


Dyana tersenyum sinis. "Seberapa menyesal pun dirimu tidak akan mampu mengubah semua kekacauan yang terjadi. Ayahku yang sudah berangsur sembuh kembali koma karena ulahmu. Andai saja kau tidak mengurungku waktu itu Ayahku tidak akan kembali sakit." Air mata Dyana kembali turun semakin deras.


"Satu lagi. Aku tidak menyesali ataupun membenci kehadiran anak ini, dan aku bisa mengurusnya sendiri. Kau tidak perlu repot-repot ingin mengurusnya. Karena anakku tidak membutuhkan Ayah sepertimu!" sentak Dyana kemudian berlari meninggalkan mereka.


Calvin langsung mengejar Dyana. Sementara Andreas hanya bisa diam di tempat.


Hingga seseorang menepuk bahunya. "Berusahalah lebih keras. Buktikan bahwa kau bisa menjadi yang terbaik untuknya. Buktikan kalau kau dibutuhkan. Karena setiap usaha yang dijalankan dengan sungguh-sungguh tidak akan merugikan hasilnya." ucap seseorang memberi nasehat pada Andreas.


Orang itu berjalan meninggalkan Andreas yang masih menunduk. Namun orang itu kembali bersuara. Membuat Andreas mendongak.


"Satu lagi. Aku berada di pihak Dyana. Aku akan mendukung apapun keputusannya. Walau kau anakku. Tapi, kaulah yang bersalah di sini. Jadi, berusahalah lebih keras lagi." ucap orang itu lalu melengos pergi.


Andreas menatap punggung ibunya yang berjalan dengan angkuh menjauh darinya setelah mengucapkan kata-kata terakhir.


Andreas berdecak.


"Ibu macam apa..."


******


Dyana masih terisak di dalam mobil. Calvin berada di sampingnya, sedang menyetir. Sudah berulang kali Calvin mencoba menenangkan Dyana dan menyuruh wanita itu berhenti menangis. Namun Dyana tetap menangis walau tidak sekeras tadi.


Dia terus teringat ucapan Andreas. Pria itu berkata seolah hanya menginginkan anaknya. Tidak menginginkan Dyana sama sekali. Tentu saja. Pria itu hanya butuh seorang pewaris. Apa yang bisa Dyana harapkan dari pria seperti Andreas?


Dyana menyeka air matanya. Apa yang ia pikirkan? Apa ia berharap pria itu menginginkannya? Astaga sungguh bodah dirinya yang berpikir seperti itu.


Dddrrtttt.... Ponsel Dyana berdering. Nama Keyna tertera di sana. Dyana langsung mengangkatnya.


"Iya, halo?" ucap Dyana dengan suara bergetar.


"........"


"Benarkah? Kenapa mendadak?" Dyana tersenyum. Terlihat bahagia.


"........"


"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan berangkat secepatnya."


".........."


Dyana memutuskan sambungan teleponnya.


Calvin yang sedari tadi mendengar pembicaraan Dyana menatap Dyana bingung.


"Siapa?" tanya Calvin penasaran.


"Keyna. Dia akan menikah bulan depan." ucap Dyana menghapus rasa penasaran Calvin.


"Benarkah?" Calvin setengah tak percaya. "Kenapa mendadak?"


Dyana hanya mengedikkan bahu. Tidak ingin memberi penjelasan selanjutnya. Calvin mengerti dan memilih diam.


Suasana kembali hening. Mereka sama-sama diam. Hanyut dalam pikiran masing-masing.


Dyana menatap bahu jalan dengan tatapan kosong. Pikirannya jauh berkelana.


Kenapa aku terus memikirkan Andreas?


*****