I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 38



Kalo ada typo kasih tahu ya.


Happy reading!


*******


Dengan langkah bergetar Dyana memasuki kamar Ayahnya. Samar-samar ia mendengar suara lirih Ayahnya yang sedang menyebut namanya.


Dengan air mata yang tidak mampu ia tahan, Dyana meraih lembut tangan Harry yang tidak terdapat selang infus.


"Ayah," panggil Dyana lembut.


Perlahan mata Harry terbuka, kemudian menatap Dyana lekat.


"Dyana? Putriku." ucapnya lirih dan bergetar.


Tangan Harry perlahan naik. Dengan lemah ia menyentuh wajah Dyana dan menyeka air mata putrinya lembut.


"Jangan menangis." pinta Harry menatap sayu putrinya. Dari kecil Harry memang tidak pernah tega melihat Dyana menangis.


Dyana menggeleng.


"Aku tidak menangis." ucapnya kemudian memaksakan senyum. "Lihat aku tersenyum."


Harry tersenyum tipis melihat Dyana. Kemudian menatap putrinya dengan sayang.


"Ayah merindukan mu, little star."  ucap Harry seraya tersenyum tipis.


"Aku juga merindukan ayah." ucap Dyana. Kini ia memeluk Ayahnya yang terbaring lemah.


Air mata Dyana tak dapat lagi ia tahan. Dia sangat bahagia dan sangat merindukan Ayahnya, hingga air matanya meluap saking bahagianya.


"Jangan menangis." ucap Harry lagi.


Dyana bangun, melepas pelukannya pada Harry. "Ini tangisan bahagia Ayah." ucapnya sembari menyeka air mata.


"Tapi, Ayah tidak suka. Senyummu jauh lebih indah."


"Baiklah, Aku akan selalu tersenyum untuk Ayah." ucap Dyana meyakinkan.


"Kau janji." pinta Harry. "Seperti apapun masalah yang kau hadapi sebisa mungkin jangan menangis. Tetap tersenyum dan hadapi dengan berani." Harry mengangkat jari kelingkingnya ke arah Dyana.


"Aku janji Ayah." Dyana menautkan jari kelingkingnya pada jari Harry. "Dan Ayah juga berjanji jangan sakit-sakit lagi." pinta Dyana.


"Ayah tidak akan sakit lagi." ucap Harry kemudian melepas tautan jari kelingking mereka.


Entah mengapa, Dyana merasa ada sesuatu yang mengganjal pada ucapan Ayahnya. Namun, sebisa mungkin ia mencoba menghilangkan semua prasangka buruk yang bersarang di otak.


"Ayah tahu, Aku sedang mengandung cucu, Ayah." Ada kekhawatiran dalam nada suara Dyana. "Ayah senangkan, Ayah tidak marahkan? Dia memang ada karena ketidaksengajaan dan kesalahan. Tapi, bagaimana pun ia tidak bersalah dan ia adalah cucu Ayah." jelas Dyana. Dia berharap Harry mau mengakui anaknya sebagai cucu dan ikut bahagia.


Harry tersenyum. Tangannya meraba perut Dyana yang sedikit membuncit dengan lembut.


"Ayah senang, Ayah tidak marah. Ini bukan kesalahanmu. Keyna sudah memberitahu Ayah semuanya."


Dyana lega.


"Maafkan Ayah karena tidak bisa menjaga dan melindungimu. Aku memang Ayah yang tidak berguna." sesal Harry.


Dyana lantas menggeleng. "Tidak! Ayah adalah Ayah terbaik di dunia ini." ucap Dyana cepat. Dia menggenggam tangan Ayahnya lembut.


"Dan kau adalah putri cantik Ayah. Putri terbaik di dunia. Apapun yang terjadi selalu lindungi Anakmu. Ok."


"Ayah juga harus ikut menjaganya." pinta Dyana.


Harry tersenyum sangat tulus.


"Ayah, juga akan menjaganya. Walau dari jauh." ucap Harry yang tidak dimengerti Dyana.


"Maksud Ayah?"


"Alexo Ferzio." gumam Harry, namun masih bisa didengar oleh Dyana.


"Siapa?" tanya Dyana bingung.


"Namanya." ucap Harry sembari menunjuk perut Dyana.


"Kan Kita belum tahu dia laki-laki atau perempuan?" Dyana merasa bingung. Dia merasa dari tadi Ayahnya mengatakan hal-hal yang membuat ia bingung.


Harry nampak bergeming. Matanya perlahan menutup. Tangannya jatuh melemas.


"Ayah bagaimana Ayah tahu jenis kelamin anakku?" tanya Dyana yang belum menyadiri perubahan yang terjadi pada Harry.


Tidak ada sahutan lagi dari Harry. Dyana mulai merasa ada hal yang aneh di sini.


"Ayah?" panggil Dyana. Tetap tidak ada sahutan.


Dyana menggoncang tubuh Ayahnya saat mendapati mata Harry yang tidak terbuka lagi.


"AYAH!!" Dyana mulai panik. "Tidak mungkin!" ucap Dyana, ia mulai berpikir hal buruk.


Dia menepuk pipi Ayahnya. Mengguncang tubuhnya. Semua ia lakukan guna untuk membangunkan Harry. Tapi, tetap tidak ada pergerakan.


"Keyna! Alex!" panggil Dyana. Keyna dan Alex yang memang menunggu di luar segera masuk.


Mereka mendapati Dyana terus memanggil dan menyuruh Ayahnya bangun.


Dengan cepat Keyna menarik Dyana. Mencoba menenangkan sepupunya itu. Sementara Alex memeriksa keadaan Harry.


Dyana menunggu dan memperhatikan setiap gerakan Alex memeriksa Ayahnya. Di dalam hati tak henti ia berucap 'semua pasti baik-baik saja'. Namun, harapannya musnah saat Alex menggeleng ke arah mereka.


Dyana tahu apa maksud Alex. Kemudian Dyana berteriak. Dia melepaskan pelukan Keyna darinya.


"Ayah! Tidak mungkin! Bukankah Ayah sudah berjanji tidak akan sakit lagi." ucap Dyana. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Karena ia tahu Ayahnya tidak suka melihat ia menangis.


Sedetik kemudian ia menyadari ucapannya yang terakhir. Ayahnya menepati janjinya. Tidak akan sakit lagi, itu artinya...


Dyana meraih tangan Ayahnya. Dia berkata lirih, "Kenapa Ayah pergi secepat ini? Kita baru saja bertemu dan berbicara lagi, itu pun sangat sebentar." ucap Dyana menahan isakannya.


Sementara Keyna sudah tidak bisa lagi menahan air matanya melihat semua ini. Sementara Alex. Dokter pria itu memutuskan keluar dan memanggil para perawat yang disewanya untuk mengurus jenazah Ayah Dyana. Selain itu, ia tidak ingin memperlihatkan air matanya di depan Dyana, terutama Keyna-wanita yang ia cintai.


Dengan langkah lemah. Keyna menghampiri Dyana. Dia kembali memeluk sepupu satu-satunya itu. Keyna mengelus lembut rambut Dyana.


"Sabar, Dy. Biarkan Paman pergi dengan tenang. Ikhlaskan, ingat jangan menangis kau tahu kan paman tidak pernah suka melihat kamu menangis. Ini sudah takdir tuhan. Kita hanya bisa menerima, tidak bisa mengubah dan menentukan." nasehat Keyna, guna menenangkan Dyana.


Dyana mengangguk. Sekarang ia lebih tenang. Sekali lagi, ia menghampiri Ayahnya. Dyana mencium kening Ayahnya lembut.


"Maaf karena selama Ayah sakit, Dyana tidak berada di samping Ayah." ucap Dyana merasa menyesal.


Kemudian ia melangkah keluar dengan gontai. Keyna dengan lembut memeluk dan menuntun Dyana keluar. Bertepatan setelah Dyana keluar dari kamar Ayahnya, beberapa perawat pria memasuki kamar Ayahnya bersama Alex. Dyana dapat melihat Keyna yang mengangguk lemah pada Alex.


******


"Ini surat yang dititipkan paman padaku sebelum ia meninggal. Dia menyuruhku memberikannya padamu setelah pemakamannya selesai." Keyna menyodorkan sebuah amplop pada Dyana.


Mereka baru saja pulang dari pemakaman Ayah Dyana. Sekarang Dyana berada di kamarnya bersama Keyna.


"Maksudmu Ayah tahu bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi?" ucap Dyana tidak percaya.


Keyna mengangguk kemudian ia duduk di bibir ranjang, tepat di samping Dyana.


"Sebenarnya penyakit Paman itu sudah sangat parah. Waktu itu hampir mustahil bisa bertahan lebih lama lagi." ucap Keyna memulai ceritanya.


"Tapi, tuhan berkehendak lain. Dia masih memberi waktu pada paman untuk bertemu dan berbicara dengan mu." Mata Keyna nampak meredup, ia menatap nyalang langit-langit kamar.


"Paman orang yang sangat kuat. Kau tahu, Dy. Sebenarnya paman sudah sangat kesakitan saat ia bicara padamu waktu itu. Tapi, ia tahan. Agar bisa mengatakan kata-kata terakhir padamu."


Dyana diam mendengarkan ucapan Keyna. Sebenarnya ucapan Keyna sangat menyesakkan dadanya. Namun, Dyana sebisa mungkin bertahan untuk tidak menangis. Dia harus menepati janji pada Ayahnya.


Keyna berdiri. Dia nampak menghela napas. Sebelum beranjak pergi. Keyna kembali bicara, "Pernikahanku dan Alex akan ditunda seratus hari ke depan." ucap Keyna kemudian berlalu meninggalkan Dyana seorang diri.


Setelah kepergian Keyna. Dyana membuka surat dari Ayahnya. Membacanya perlahan dan mencerna setiap kata-kata yang tertulis di sana, sebisa mungkin tidak ada yang terlewat untuk ia pahami.


Dyana tercengang. Isi surat Ayahnya tidak pernah ia duga sama sekali.


*****