
Bagaimana ini?
Mobil Rafael semakin dekat dengan taksi yang Dyana tumpangi. Tubuh Dyana bergetar, takut. Pokoknya dia tidak boleh tertangkap, tidak boleh.
"Pak, lebih cepat lagi! Jangan sampai mobil silver itu mengejar kita." titah Dyana takut entah sudah berapa kali.
Supir taksi tersebut melirik mobil silver yang berada tidak jauh di belakangnya, kemudian ia mengangguk mengerti.
"Sial!" umpat Rafael tatkala melihat taksi itu melaju semakin cepat. Ternyata supir taxi itu sangat berpengalaman dan lihai dalam mengendarai mobil.
"Jadi, kalian ingin bermain-main denganku?" ucap Rafael sembari tersenyum miring.
Rafael menaikkan gas, mobilnya melaju semakin cepat.
Sementara Dyana terus berdo'a dalam hati. Semoga tuhan menyelamatkannya dari pria gila seperti Rafael. Ya, gila. Dia sangat gila harta dan kekuasaan.
Sebenarnya Dyana ingin menghubungi seseorang. Tapi, ponselnya entah berada di mana. Pasti Rafael yang mengambil dan menyembunyikan ponselnya.
Sementara ponsel Rafael berdering. Meski tidak bernama, tetapi Rafael tahu siapa orang yang menghubungi dirinya itu.
"Ada apa lagi Liona?" tanya Rafael tak suka. Dia menelepon sembari menyetir.
"Tolong aku Rafael! Mereka mengejarku. Aku tidak ingin tertangkap."
"Terserah. Aku juga tidak ingin tertangkap, Liona. Jadi, urus saja urusanmu."
Rafael mematikan ponselnya sepihak. Dasar Liona tidak tahu untung. Masih bagus Rafael tidak meminta se-peser pun uang yang ia minta pada Andreas. Karena yang ia inginkan hanyalah Dyana.
Dyana akan membuatnya menjadi kaya raya. Berkali-kali lipat dari Andreas. Dan Liona tidak tahu akan hal itu.
"Sudah cukup main-mainnya. Aku akan menangkapmu dan kau harus menerima akibatnya." ucap Rafael. Dia semakin mempercepat laju mobilnya.
Kedua mobil tersebut sudah masuk ke jalanan kota yang padat lalu lintas. Dan ada kemacetan di sana.
Oh tuhan.. bagaimana ini? Rafael pasti akan menangkapnya.
"Pak, stop. Aku turun di sini saja." ucap Dyana memutuskan. Lebih baik ia lari dan mencari tempat persembunyian yang aman. Jika ia tetap berada di dalam taksi, tentu saja Rafael akan menangkapnya.
Sebenarnya sang supir kaget mendengar keputusan Dyana. Seorang wanita hamil berkeliaran di kota tengah malam seperti ini? Itu sangat tidak baik. Tapi, tidak mungkin ia mengatur dan mengurusi urusan pelanggan, kan? Jadi, ia membiarkan Dyana pergi. Dia berharap tidak ada hal buruk yang akan menimpa wanita itu nanti.
Mobil Rafael juga terjebak macet. Letak mobilnya kira-kira berjarak lima mobil dari taksi yang Dyana tumpangi.
Dari sana, Rafael melihat Dyana yang turun dari taksi dan bergegas pergi. Hal itu membuat senyum licik terbit di bibir Rafael.
"Baiklah. Permainan dimulai."
Rafael turun dari mobilnya, meninggalkan mobil tersebut begitu saja. Dia menyusul Dyana yang berlari kecil ke arah sebuah pusat perbelanjaan.
Toko-toko di dalam pusat perbelanjaan itu nampak tutup. Tidak ada satu pun yang masih buka.
Dyana berjalan cepat. Menyusuri lorong-lorong pusat perbelanjaan tersebut.
Kemana ia harus lari? Di sini tidak ada tempat aman sama sekali.
Dyana memutuskan keluar dari pusat perbelanjaan. Dia memasuki gang-gang sempit. Di sana sangat gelap, minim cahaya lampu.
Baiklah. Sekarang ke mana? tanya Dyana pada dirinya sendiri. Kini ia sudah berada di ujung gang, di sana jalan buntu.
Berbalik ke belakang. Dyana berniat kembali menyusuri lorong yang tadi ia lewati untuk mencari jalan yang lain.
Namun, langkah kaki seseorang yang berjalan cepat terdengar di telinga Dyana. Seketika perasaannya bimbang, haruskah ia kembali ke jalan yang tadi atau bersembunyi.
Belum sempat Dyana menuju persembunyiannya. Sesosok bayangan muncul dari salah satu gang. Beberapa detik kemudian nampak sosok Rafael yang berjalan ke arahnya.
Senyum licik Rafael terbit tatkala ia melihat Dyana yang hendak bersembunyi di balik pohon.
"Jadi, masih mau lari?" tanya Rafael begitu mengerikan di telinga Dyana.
Napas Dyana tercekat. Dadanya naik turun tak beraturan. Dia sangat takut sekarang. Keadaan di sini sangat sepi. Tidak ada seorang pun yang lewat. Hanya ada dirinya dan pria gila ini, Rafael.
"Rafael! Aku mohon. Lepaskan aku. Aku tidak seperti yang kau kira. Aku bahkan tidak mengenal pria bernama Peter yang katanya adalah Ayah kandungku. Jadi, walaupun ia menyerahkan hartanya padaku, aku tidak akan menerimanya. Jadi, kau tidak akan mendapatkan apapun. Ini semua akan sia-sia saja." Dyana berharap dengan ini Rafael akan mengurungkan niatnya.
"Ternyata kau tidak benar-benar menyayangi anakmu!" ujar Rafael dingin.
Sekarang Dyana sudah terpojok di dinding gang, jalan buntu. Jantung Dyana semakin berdetak tak karuan. Apalagi mendengar ucapan dingin Rafael tadi. Membuat Dyana semakin takut.
Melihat itu, Rafael tersenyum tipis. Dia kemudian merogoh sakunya. Pandangannya tak lepas dari Dyana yang berdiri tepat di depannya.
"Kau tau apa ini?" tanya Rafael sembari memperlihatkan sebuah botol plastik kecil berwarna putih ke arah Dyana.
Dyana lantas menggeleng pertanda ia tidak tahu.
Rafael membuka tutup botol itu, mengambil sebutir pil yang berada di dalamnya, kemudian memperlihatkan pil tersebut tepat di depan wajah Dyana.
"Benda ini dapat menghilangkan anakmu, hanya dalam waktu tiga puluh menit."
Lantas Rafael semakin menyeringai melihat Dyana yang semakin takut melihatnya. Sepertinya ancamannya berhasil.
Dyana semakin takut. Tak henti ia menggeleng. Air matanya kini jatuh.
"Aku mohon! Jangan sakiti anakku." ujar Dyana dengan wajah memelas.
Sebenarnya ia ingin lari. Tapi, ia sudah terpojok dan Rafael berdiri tepat di depannya dengan awas. Tenaga Dyanapun seperti terkuras habis oleh permainan emosi yang Rafael lontarkan.
Menurut pada Rafael atau anaknya mati? Sungguh pilihan yang sangat sulit.
"Tapi, kau yang memaksaku untuk melakukannya." Rafael mencengkeram tangan Dyana kuat. Mengunci pergerakan wanita itu. "Bukannya aku sudah memperingatkanmu."
Satu tangan Rafael mengarahkan pil tersebut ke mulut Dyana. Namun, sebelum pil tersebut mengenai bibirnya, Dyana dengan cepat memalingkan wajahnya ke samping.
Melihat itu, Rafael menggertak gigi. Dia mengepal tangannya. Cengkeraman di tangan Dyana pun semakin kuat.
"Baiklah." Rafael membuang pil yang ada di tangannya. Membuat Dyana menghela napas lega.
"Aku tidak akan membunuh anakmu dengan itu karena aku akan membunuh anakmu dengan ini,," Rafael mengeluarkan sebilah pisau yang ia sembunyikan dari balik bajunya. "Dan mungkin kau juga." Rafael terkekeh pelan. Merasa senang dan puas melihat wajah Dyana yang kian memucat.
Tubuh Dyana bergetar. Angin malam semakin dingin menusuk kulitnya. Apalagi saat ini pisau Rafael tengah menari-nari di antara wajah dan ceruk lehernya.
"Masih ingin melawan?"
Sontak Dyana menggeleng. Wajahnya yang sudah diselimuti keringat dingin menjadi kepuasan sendiri di mata Rafael.
"Tapi, aku berubah pikiran." Dia menatap Dyana dengan tatapan sayu, namun detik berikutnya wajahnya kembali semringah dengan senyum mengerikan.
"Sepertinya aku sudah tidak menginginkan harta Ayahmu." wajah Rafael seolah kecewa. Namun, tak lama seringaian kembali menghiasi wajahnya. "Sekarang aku lebih menginginkan... nyawamu." ucapnya membuat Dyana terbelalak kaget.
Rafael menggesek-gesekkan pisaunya di tembok tepat di samping kepala Dyana. Menimbulkan bunyi gesekan yang sangat tidak enak didengar.
Dyana memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian ia merasakan perih di lengan kanannya.
Dyana membuka matanya, melirik apa yang dilakukan Rafael pada lengannya.
Rafael menyayatnya! Hingga tetesan darah keluar dari lengan Dyana.
Dyana meringis. "Apa yang kau lakukan? Ku mohon hentikan! Itu sangat sakit!" ucap Dyana dengan pekikan tertahan.
Bukannya menghentikan pekerjaannya. Rafael malah menggores lengan Dyana lagi. Membuat Dyana meringis.
"Ini akibatnya karena telah membantah semua perintahku. Dan kau juga mencoba kabur dariku."
"Ku mohon hentikan." Dyana semakin terisak. Apakah nyawanya akan berakhir di sini, di tempat ini dan di tangan Rafael?
Sial! Kenapa tak ada seorang un yang melewati tempat ini. Dyana menyesal. Harusnya ia berlari ke tempat ramai dan meminta bantuan pada orang lain. Bukannya malah lari dan bersembunyi di tempat sepi nan gelap ini.
Dia benar-benar bodoh. Sangat bodoh.
Tiba-tiba pekikan terdengar dari mulut Rafael. Entah siapa. Tapi, ada seseorang yang memukul Rafael dari belakang.
*****