
I'm come back!
Kalo ada typo kasih tau yah!
Happy reading!
---------
Di sebuah ruangan yang minim pencahayaan. Seorang wanita duduk di sebuah kursi kayu. Matanya yang tadi terpejam perlahan terbuka. Tangan wanita itu terikat ke belakang. Mulut tersumpal dengan kain, mengakibatkan ia tidak bisa mengeluarkan suara.
Dyana, wanita itu adalah Dyana. Dia mengedarkan pandangan ke berbagai arah guna mencari setitik cahaya.
Dyana bingung. Dia tidak tahu sedang berada di mana, dan kenapa dia ada di tempat ini. Seingatnya, ia berada di taman, sendirian. Lalu, saat ia ingin pulang, ada seseorang yang menutup mulutnya, ia pening, dan dia tidak tahu apalagi yang terjadi hingga sekarang ia berada di sini.
Dyana yakin, dia pasti sedang berperan menjadi korban penculikan. Tapi, siapa yang menculiknya dan untuk apa? Apa untuk meminta tebusan?
Di tengah kebingungan dan banyaknya pertanyaan yang bersarang di otak, Dyana memilih berusaha membuka ikatan di tangannya dan mencari jalan keluar.
Sedikit lagi ikatan di tangannya akan terlepas, tiba-tiba pintu terbuka, mengeluarkan cahaya yang amat silau. Cahaya itu tepat mengenai wajah Dyana. Mengakibatkan ia kesulitan melihat. Seorang pria berjalan memasuki ruangan. Wajah pria itu samar karena membelakangi cahaya. Ruangan kembali gelap tatkala pria itu kembali menutup pintu. Mata Dyana memicing, mencoba melihat siapa pria yang tengah berjalan ke arahnya. Namun, seberapa pun Dyana berusaha, ia belum mampu mengenali sosok pria itu.
"Apa kau masih mengingatku, Eliza?" ucap pria yang sudah berdiri tepat di depan Dyana.
Dyana mengerjap, ia pernah mendengar suara ini. Tapi, di mana? Dan ... orang ini memanggilnya Eliza? Orang yang memungkinkan mengenalnya sebagai Eliza adalah...
"Hmphmphmp..." Dyana ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak bisa karena mulutnya masih tersumpal.
Melihat itu, pria itu terkekeh. Kemudian ia melepas sumpalan mulut Dyana dengan kasar.
Setelah sumpal mulutnya terlepas, Dyana bersuara, "KAU!" sentak Dyana yang masih tidak percaya dengan pria di depannya ini. "Kenapa kau menculikku?!"
Walau suasana gelap, Dyana masih bisa menangkap ekspresi pria di depannya ini. Dia tengah menyeringai ke arahnya.
"Kenapa kau terkejut seperti itu Eliza..." Pria itu berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "...oh.. bukan Eliza tepatnya Dyana. Dyana Alexa."
Dyana tertegun mendengar pria ini mengetahui nama aslinya.
"Kau kaget?" Pria itu mendekat ke arah Dyana. Badannya ia condongkan ke depan hingga wajahnya sejajar dengan Dyana.
Tangannya dengan kurang ajar mengelus wajah Dyana. Mulai dari kening, turun ke hidung, dan kemudian berhenti di bibir. Melihat itu, dengan cepat Dyana memalingkan wajahnya.
"Apa mau mu sebenarnya, Rafael!? Kenapa kau menculikku!?"
Rafael mundur, ia berjalan mondar-mandir di depan Dyana. Berpura-pura berpikir.
"Karena urusan kita belum selesai." jawab Rafael. "Dan mauku?" Tunjuknya pada dirinya sendiri. "Tentu saja menuntaskan urusan yang tertunda dulu."
"Urusan apa maksudmu? Aku merasa tidak memiliki urusan denganmu."
Rafael tertawa hambar.
"Bukankah kita belum menuntaskan malam itu?" ujar Rafael.
Dyana ingat, ia memang pernah menerima tawaran Rafael untuk tidur bersama. Tapi, itu tidak sungguh-sungguh itu hanya bagian dari rencana.
"Maaf, tapi aku tidak bersungguh-sungguh waktu itu. Aku terpaksa melakukannya." Semoga Rafael dapat mengerti.
"Terpaksa?"
Dyana mengangguk, "Ya, terpaksa. Aku mohon lepaskan aku. Kita lupakan saja masalah itu. Waktu itu aku terdesak keadaan." Dyana mencoba menjelaskan.
"Melepaskanmu? Setelah aku bersusah payah mencari dan mendapatkanmu? Kau menyuruhku melepaskanmu? Tidak semudah itu Nona."
Dyana meneguk salivanya susah payah. Pria ini tidak mau mendengarnya. Apa yang harus ia lakukan?
"Aku mohon Rafael. Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi jika kau melepaskanku. Aku akan melupakan semuanya." mohon Dyana.
"Aku tidak takut pada polisi, dan kau tau apa kesalahanmu?"
"Karena aku membantu Andreas untuk menangkapmu?" ucap Dyana.
Rafael menggeleng, dan itu membuat Dyana bingung.
"Masalah Andreas aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Karena kesalahan terbesarmu adalah karena telah menampakkan diri padaku. Kau telah masuk ke dalam hidupku, dan kau berani mempermainkanku waktu itu." ucap Rafael dingin dan penuh penekanan.
Dyana menjadi gemetar. Pria ini tidak akan melepaskannya begitu saja. Pria ini tidak takut pada polisi, lalu siapa yang harus ia harapkan untuk menolongnya saat ini?
Keyna? Sepupunya itu pasti tengah khawatir sekarang. Calvin? Pria itu tengah berada di London. Andreas? Bahkan pria itu tidak tahu ia telah kembali ke New York. Andreas bahkan tidak pernah menghubunginya. Haruskah Dyana berharap ada keajaiban dan Andreas datang untuk menolongnya.
"Aku rasa cukup untuk basa-basinya. Sekarang aku yang akan mengendalikan semua." ucap Rafael membuyarkan segala pikiran Dyana.
"Apa maksudmu?" Bukannya menjawab Rafael malah mendekat.
Pria itu melepas ikatan kaki Dyana. Dyana hendak menendang Rafael saat ikatan kakinya terbuka. Tapi, dengan cepat pria itu menghindar.
Rafael membuka ikatan tangan Dyana. Sebelum Dyana kembali memberontak dengan cepat Rafael mencengkeram tangan Dyana, agar tidak bisa melawannya.
Dyana memberontak dan mencoba melawan, tetapi tenaga Rafael sangat besar tidak sebanding dengan dirinya.
"Ingin menendangku lagi?" ucap Rafael yang berhasil mengelak dari Dyana yang hendak menendang selangkangnya. Rafael sudah mengetahui apa-apa saja yang akan Dyana lakukan, kejadian yang dulu sudah cukup membuatnya lebih berhati-hati.
Dyana kesal. Setiap perlawanan yang ia lakukan tidak ada efeknya bagi Rafael. Tenaganya memang tidak seperti dulu lagi, karena kini ia tengah hamil.
"Rafael lepaskan aku! Aku mohon! Aku ini tengah mengandung!" Dyana memelas.
"Aku tahu dan aku tidak peduli!"
Rafael lalu mendorong Dyana. Wanita itu jatuh tepat pada benda empuk. Ternyata ranjang. Berarti ruangan ini adalah sebuah kamar.
"Rafael, aku mo- hmphmp," ucapan Dyana terhenti karena Rafael dengan cepat merangkak di atasnya dan mencium bibirnya.
Rafael mencium bibir Dyana panas. ********** seperti tidak ada hari esok. Dyana memalingkan wajahnya agar Rafael tidak bisa lagi menciumnya. Bukannya berhenti, pria itu beralih mengecup leher Dyana.
Rafael hendak membuka kaos yang dikenakan Dyana. Namun, belum sempat. Tiba-tiba ponselnya bendering.
Rafael menghentikan aktivitasnya, membuat Dyana bersyukur.
Rafael mengumpat dalam hati, siapa yang berani mengganggu kesenangannya? Kalau bukan hal penting ia berjanji akan menghabisi orang itu.
Rafael menutup mulut Dyana dengan lakban yang ada di laci nakas, dan mengunci pergerakan Dyana dengan tubuhnya. Sebelah tangannya merogoh ponsel di sakunya.
"........."
"Sial! Bagaimana bisa?!"
"........."
"Baiklah! Cepat lari dan sembunyi! Jangan sampai mereka menemukanmu!"
"........."
"Mereka sudah tahu aku terlibat?" Rafael mengusap wajahnya kasar.
"........."
"Bodoh! Selamatkan saja dirimu sendiri. Aku akan pergi dari sini." Rafael mematikan ponselnya. Dia menggeram marah.
Rafael lalu menarik Dyana bangun. Dyana menjadi bingung. Sekarang apa lagi?
"Ikut aku! Jangan banyak membantah atau aku tidak akan segan-segan membunuh janin yang ada di kandunganmu!" ancam Rafael tidak main-main.
Dyana mengangguk pasrah. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada calon bayinya.
"Bagus." ucap Rafael puas.
"Sekarang ikut aku dan jangan banyak bertanya!"
Dyana menurut. Dia mengikuti apa maunya Rafael. Tapi, bukan berarti ia menyerah. Dia akan selalu mencari celah agar bisa lari dari Rafael.
Rafael membawa Dyana keluar dari rumah. Dyana melihat sekeliling. Rumah ini berada di pinggir kota. Tempat ini sangat sunyi.
Rafael memaksa Dyana masuk ke dalam mobil. Setelah Dyana masuk, dengan cepat Rafael masuk ke kursi kemudi.
Mobil Rafael melaju cepat, membelah jalanan.
Rafael nampak menghubungi seseorang. Tak lama, Rafael memutuskan sambungan teleponnya.
Dengan senyum yang merekah. Rafael berkata, "Setelah ini kau akan menjadi milikku."
"Kenapa kau menginginkan aku menjadi milikmu? Aku ini wanita hamil dan masih banyak di luar sana yang lebih cantik daripada aku?" ucap Dyana bingung.
"Mungkin karena kau kaya!" ucap Rafael membuat Dyana semakin bingung.
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak lebih kaya dari pedangang kaki lima yang ada di kota ini!" Perkataan Rafael benar-benar membuatnya bingung.
"Jangan pikir aku tidak tahu. Kau adalah pewaris dari keluarga Markuen. Kau adalah putri tertua dari Peter Markuen."
Dyana membelalak tak percaya.
"Darimana kau tahu aku putri dari Peter Markuen?" tanya Dyana bingung.
Rafael tergelak. "Darimana aku tahu?" Rafael malah kembali bertanya. "Peter sudah lama mencarimu. Dan kau sama sekali tidak tahu?"
Bukan hanya tidak tahu, lebih tepatnya dia juga tidak peduli. batin Dyana.
"Walau aku tahu. Aku sama sekali tidak peduli!" Apa-apaan ini kenapa baru sekarang dia mencariku?
"Kau benar-benar bodoh. Apa kau tidak tertarik menjadi pemilik perusahaan terbesar di dunia ini? Bahkan perusahaan Andreas belum ada apa-apanya jika dibanding perusahaan Ayahmu."
"Aku sama sekali tidak peduli. Jika kau mau, kau saja yang menjadi pemiliknya. Aku tidak peduli!" ucap Dyana penuh penekanan.
"Itu sebabnya aku menculikmu. Setelah ini aku akan menikahimu dan kita menemui ayahmu itu. Otomatis perusahaan itu akan menjadi mikikku juga." ucap Rafael bangga.
Gila. Pria ini benar-benar gila. Dia melakukan hal ini semata-mata hanya untuk harta. Belum lagi bertemu, tapi Pria bernama Peter Markuen itu sudah membawa masalah padanya. Kenapa aku tidak terlahir menjadi anak kandung ibu Clara dan Ayah Harry saja?
"Jika aku tidak mau menikah denganmu bagaimana?" ucap Dyana berani dan sinis.
"Jangan macam-macam atau anakmu yang menjadi taruhannya." ancam Rafael membuat Dyana diam.
"Shit!" umpat Rafael karena ada pemeriksaan polisi di perempatan jalan.
Melihat itu Dyana tersenyum meremehkan. "Bukannya kau tidak takut polisi?"
"Diam! Dan jangan banyak bicara!" ucap Rafael.
Mobil mereka dihentikan. Sebelum Rafael membuka kaca mobil ia memperingatkan Dyana agar tidak macam-macam. "Walau kau mengadu pada polisi-polisi itu mereka tidak akan percaya. Karena aku memiliki ini," Rafael menunjukkan sebuah foto pernikahan berukuran 7 × 7 cm yang ada di dompet Rafael. Itu foto Dyana bersama Rafael. Mereka mengenakan pakaian pengantin. Walau itu hanyalah editan, tapi editan itu benar-benar nampak nyata. Di sana mereka terlihat seperti pasangan yang sedang menikah.
"Kau! Licik!"
Rafael hanya tersenyum puas. Dia memang sudah mempersiapkan semuanya. Kemungkinan seperti ini memang bisa saja terjadi. Itu sebabnya dia menyiapkan foto palsu itu untuk menipu siapapun yang mungkin mencurigainya.
Dyana diam. Rafael benar. Walau Dyana mengadu pada polisi itu mereka tidak akan percaya. Penampilannya saja tidak mirip seperti korban penculikan. Dyana nampak baik-baik saja, pakaiannya pun bagus dan bersih. Apalagi ia tengah mengandung. Sekali lihat saja orang-orang pasti berpikir kalau mereka adalah sepasang suami-istri yang tengah berbahagia. Dibanding korban penculikan, polisi itu akan lebih percaya jika Dyana adalah istri Rafael.
Ada total delapan polisi lengkap dengan senjata di sana. Dua di antaranya menghampiri mobil Rafael.
Polisi itu memberi hormat. "Selamat malam, Pak. Bisa saya periksa surat-surat anda!" titah polisi itu.
Sial! Rafael lupa membawa SIMnya.
Rafael memberikan surat-surat mobilnya, tetapi tidak dengan SIMnya.
Mata polisi itu menyipit menatap Rafael tajam. "SIM anda?" tanyanya.
"Maaf saya lupa membawanya." ucap Rafael memasang wajah polos tidak berdosa.
"Tidak bisa begitu, Anda telah melanggar aturan."
Melihat Rafael dengan polisi itu sedang berdebat. Dyana tersenyum, ini kesempatannya untuk lari.
Pelan-pelan Dyana membuka pintu mobil Rafael. Tanpa menutup pintu lagi. Dyana segera berlari dan memberhentikan taxi yang kebetulan lewat.
Rafael baru sadar Dyana sudah tidak ada di sampingnya setelah memberi jaminan pada polisi tersebut dan Dyana sudah masuk ke dalam sebuah taxi. Rafael mengumpat dalam hati dan kembali melaju mengejar taxi yang baru saja Dyana masuki.
"Wanita bodoh!"
******