I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 18



Malam ini keberuntungan belum berpihak kepada Julian. Pria beralis tebal itu tidak menyangka harus berada di situasi seperti sekarang ini. Dia sungguh menyesal pernah mengenal wanita licik bernama Liona.


Bagaimana tidak? Wanita dengan sejuta pesona itu sudah menghancurkan ketenangan hidupnya.


Pertama, karena wanita itu Dyana meninggalkannya.


Kedua, karena wanita itu perusahaannya terancam bangkrut, karena Liona mencuri berkas-berkas penting perusahaanya sehari setelah Julian mengatakan ingin mengakhiri hubungannya dengan Liona dan ingin kembali kepada Dyana.


Dan sekarang... dia tengah berusaha bersembunyi dari kejaran anak buah Andreas Alfaro. Pria yang dia ketahui adalah mantan kekasih Liona.


Julian berhasil masuk ke dalam apartementnya setelah berhasil lari dari kejaran mobil anak buah Andreas. Untung tadi dia memilih jalan memotong yang banyak persimpangan hingga anak buah Andreas kehilangan jejaknya.


Sebenarnya Julian sudah tahu sejak beberapa waktu lalu bahwa dirinya sedang dimata-matai. Dan setelah dia selidiki dia sedang menjadi buronan Andreas Alfaro. Pengusaha muda yang memiliki banyak anak perusahaan. Bahkan, Andreas memiliki sebagian saham di perusahaan miliknya.


Dia tahu pria itu. Pria yang arogant dan tidak akan segan-segan menghancurkan musuhnya.


Julian melangkah menuju kamarnya. Hingga....


Prang...!!!


Pintu apartementnya terbuka secara paksa.


Julian terkejut. Ternyata mereka berhasil menemukannya.


Lima orang pria berbadan besar yang memakai baju serba hitam memasuki apartementnya.


"Mau apa kalian? Pergi! Atau aku lapor polisi!" ancam Julian saat dua orang pria mencekal kedua lengannya. "Lepaskan! Aku tidak ada urusan dengan kalian!"


Seorang pria bersetelan jas abu-abu memasuki apartement Julian dengan gaya arogannya.


"Ternyata sulit juga menangkap mu." ucap pria itu, Andreas.


Andreas duduk dengan tenang di sofa, pria itu mengayunkan tangannya, memberi isyarat agar pintu apartement Julian ditutup.


"Brengsek! Aku tidak ada urusan denganmu!" bentak Julian. "Pergi kalian dari sini, ini apartementku!" usir Julian lantang.


Andreas tersenyum smirk.


"Tenanglah! Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada mu. Aku tahu kau membawa kabur Liona sebulan yang lalu dari rumah Rafael, kan?"


"Bodoh!" umpat Julian. "Aku tidak membawanya kabur!"


Salah seorang anak buah Andreas langsung memukul keras perut Julian berkali-kali karena mendengar Julian mengatakan bossnya bodoh.


Andreas memutar bola matanya. Pria itu tersenyum meremehkan, melihat Julian yang dipukuli anak buahnya.


Andreas mengangkat tangannya, memberi kode agar anak buahnya berhenti memukuli.


Julian meringis menahan sakit. Dia ingin melawan. Tapi, dirinya masih dipegang oleh anak buah pria itu.


"Tidak usah berbohong, kau menculiknya, kan!?" Kali ini nada suara Andreas sedikit ditinggikan.


"Aku tidak pernah menculiknya. Dia yang menyuruhku membawanya bersamaku," jawab Julian membela diri.


"Bohong! Rafael sendiri yang mengatakan bahwa kau yang membawanya kabur!" sentak Andreas. Sebenarnya dia sudah sangat ingin mematahkan leher Julian karena pria ini membawa kabur Liona. Apa lagi gara-gara itu, Dyana—kekasihnya pria ini, jadi ingin melenyapkan Liona dan akhirnya kecelakaan.


"Aku bisa membuktikannya! Liona yang menyuruhku menjemputnya di rumah Rafael karena dia mengatakan bahwa dia ingin meninggalkan pria itu. Tetapi pria itu tidak ingin melepaskannya, dia malah disiksa di sana!" Julian terus membela dirinya. Dia menceritakan apa yang pernah Liona katakan padanya agar dia mau membawa wanita itu pergi.


"Apa yang bisa kau buktikan!?" tantang Andreas.


"Aku akan menunjukkan buktinya. Tetapi, sebelumnya suruh anak buahmu ini melepaskanku!" ucap Julian sembari berontak.


"Lepaskan dia!" ucap Andreas datar. Spontan mereka melepaskan Julian. Julian memegang lengannya yang sakit akibat cengkeraman yang kuat di lengannya tadi.


"Cepat buktikan sebelum aku berubah pikiran!" sentak Andreas.


Julian lalu merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya dari sana. Mengotak-atiknya sebentar lalu menyerahkannya kepada Andreas.


"Lihat ini! Apa kau pikir orang yang diculik dan dipaksa akan berekspresi seperti ini?"


"Apa kau pikir orang yang diculik lalu dipaksa berhubungan denganku akan tersenyum dan bergelayut manja di atas ku, huh?!"


Andreas geram dan menekan ponsel Julian dengan keras. Bagaimana tidak? Liona duduk di pangkuan Julian, wanita itu tersenyum manja dan mencium dada Julian. Jadi, Liona telah mengarang cerita dan menipunya seperti ini?


"Brengsek!" umpat Andreas. "DASAR WANITA ******!" teriak Andreas seraya membanting ponsel Julian.


Julian hanya melongo melihat ponselnya yang telah hancur berkeping-keping. Dia rasa dia bisa membeli yang baru nanti, yang tepenting sekarang urusannya bersama Andreas harus diselesaikan.


"Bagaimana?" tanya Julian, tesenyum penuh kemenangan.


Andreas terdiam. Jijik membayangkan Liona bersama pria lain, melihatnya langsung, walau itu hanya sekedar foto tapi sukses membuat Andreas merasa jijik pada wanita itu. Selama ini dia hanya mendengar cerita dari orang-orang bahwa Liona bukanlah wanita yang baik dan sering berganti-ganti pasangan tidurnya. Namun, baru kali ini Andreas melihat bagaimana wanita itu bersama pria lain di atas ranjang. Benar-benar membuat Andreas seketika jijik membayangkan wajah wanita itu. Tidak ada lagi rada cinta atau hanya sekadar obsesi. Semuanya hilang seketika berganti dengan rasa jijik dan benci kepada wanita itu.


"Tapi, tetap saja kau salah. Karena hal itu kekasihmu ingin melenyapkan Liona. Sehingga Liona kecelakaan dan koma sekarang!" Andreas berpura-pura masih peduli pada Liona.


Julian tersentak kaget.


"Kekasih? Kekasih yang mana maksudmu?" tanya Julian heran, dia belum memiliki kekasih setelah putus dari Dyana.


"Dyana. Wanita itu telah mencoba membunuh Liona, menganiayanya bahkan merampoknya!" Andreas semakin kesal menyebut nama Dyana. Bagaimana pun Andreas pernah mencintai Liona dan wanita itu berniat membunuhnya.


Julian semakin kaget, dia tersentak saat nama Dyana disebut.


"Tidak mungkin! Dyana tidak mungkin melakukan itu! Dia wanita yang sangat baik. Lagi pula dia yang memutuskanku setelah aku ketahuan berselingkuh dengan Liona. Aku bahkan sudah meminta maaf padanya dan memintanya kembali padaku, tapi dia tidak mau. Jadi untuk apa dia ingin mencelakakan Liona!?"


Andreas semakin bingung.


"Lalu kenapa kalung Liona ada bersamanya bahkan kami menemukan bukti kartu identitasnya berada di mobil Liona setelah Liona kecelakaan?"


Julian mencoba berpikir.


"Astaga! Kalung berbandul biru itu?" Andreas mengangguk. "Aku yang memberikannya pada Dyana karena aku takut ketahuan kalau aku dan Liona baru saja bercinta, karena Dyana tiba-tiba datang tepat saat Liona baru meninggalkan apartementku. Dyana curiga melihat kamarku yang berantakan padahal hari sudah siang. Jadi aku beralasan sedang mencari sesuatu hingga kasurku berantakan. Di saat itulah Dyana menemukan kalung Liona yang terjatuh. Aku pun membuat alasan bahwa kalung itulah yang sedang aku cari dan memberikannya pada Dyana." Julian menjelaskan.


Andreas mendadak pucat. Apa selama ini dia salah menilai Dyana?


"Apa itu benar?" tanya Andreas tidak percaya. "Lalu bagaimana dengan kartu identitasnya yang ditemukan di mobil Liona?"


Kenapa pria ini jadi sangat tertarik membicarakan Dyana? batin Julian.


"Aku juga kurang tahu. Tapi, bisa saja Liona yang ingin mencelakakannya dan menculiknya, karena waktu itu Liona sempat mengancamku akan mencelakakan Dyana. Jika aku kembali bersama Dyana dan meninggalkan Liona." tebak Julian tepat sasaran.


Tiba-tiba wajah Andreas memerah. Dia marah pada dirinya sendiri yang terlalu mempercayai perkataan Liona dan menjadikan Dyana sasaran kemarahannya karena melihat Liona terluka.


"Bodoh! Aku sudah bersalah pada Dyana!" teriak Andreas yang marah pada dirinya sendiri. Dia menyesal telah menghancurkan wanita itu, padahal Dyana sudah sering mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.


"Apa maksudmu kau bersalah pada Dyana!?" tanya Julian. Dia merasa ada yang tidak beres di sini. "Jangan bilang kau telah menyakitinya atau bahkan kau telah..." Julian menghentikan ucapannya mencoba menghilangkan pikiran buruk yang kemungkinan terjadi kepada Dyana.


"Aku bersalah. Aku sudah menghancurkannya bahkan aku merenggut kehormatannya ak-" Ucapan Andreas terhenti saat Julian sudah melayangkan pukulan pada wajah tampannya.


"Dasar bodoh! Baj*ngan! Dyana selalu menjaga kehormatannya. Aku bahkan tidak diperbolehkan menyentuhnya sampai kami menikah. Tapi, kau merenggutnya secara paksa!?"


Julian masih terus memukuli Andreas hingga ada darah yang mengalir dari hidungnya. Dia membiarkannya, dia bahkan tidak membalas sama sekali, anak buahnya pun tidak dia izinkan untuk membantunya. Dia memang pantas mendapatkannya.


Hingga Julian menghentikan pukulannya di wajah Andreas, dia terduduk di sofa dengan frustrasi. Dia tidak bisa membayangkan wanita yang dia cintai disakiti oleh pria lain.


Andreas mengelap hidungnya yang berdarah menggunakan punggung tangannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering.


Dia merogoh sakunya, mengambil ponsel. Nama Jack tertera di layar.


"Ada apa Jack?" tanya Andreas masih mengelap sisa-sisa darah di hidungnya.


"........"


" Apa!? Dyana tidak ada di kamarnya!?" Di saat itulah Andreas merasa dunianya runtuh.


*****