I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 13



Dyana baru sampai di rumah. Dia menurunkan tas besar yang diberikan Janet tadi dan membawanya ke dalam rumah.


Bibi Ben membuka pintu saat Dyana mengetuknya tiga kali.


"Apa mereka belum datang, bibi Ben?" tanya Dyana sambil meletakkan tas itu di dekat pintu. Ia akan membawa tas itu bersama pesanan, agar nanti dia tidak perlu repot-repot lagi untuk kembali ke rumah. Tadinya dia ingin mengantar tas itu terlebih dahulu ke laundry. Tapi, Dyana takut orang yang akan menjemput pesanan akan datang, dan Dyana tidak ingin mereka menunggu.


"Belum, Dy. Sepertinya mereka akan sedikit terlambat."


"Oh. Apa Ayah sudah minum obat, bi?" tanya Dyana.


"Sudah, Dy. Kau tidak perlu khawatir."


"Terima kasih, bi. Bibi sudah menjaga Ayah dengan baik" ucap Dyana sembari tersenyum.


"Itu sudah tugasku." ucap Bibi Ben.


"Aku ke kamar sebentar. Ada sesuatu yang ingin ku ambil. Nanti kalau mereka sudah datang panggil aku, bi."


Bibi Ben mengangguk.


Dyana pun berjalan ke arah kamarnya. Dia tengah mencari topinya, sedari tadi siang dia belum menemukannya.


Dyana mencarinya di lemari, di kasur bahkan di kolong tempat tidur, tetapi tidak ada.


Dyana mencoba mencari di laci nakas. Tiba-tiba tangan Dyana menyentuh sesuatu. Seperti... kalung?


Dyana mengangkatnya dari laci. Benar itu kalung. Tepatnya kalung yang tempo hari diberikan Julian padanya. Kenapa dia sampai lupa akan kalung ini?


Dyana mendadak bingung melihat kalung ini. Harus dia apakan kalung ini? Sungguh kalung ini mengingatkannya akan kenangannya bersama Julian.


Ditengah kebingungannya, tiba-tiba Bibi Ben memanggilnya. Dyana terkejut, dia refleks memasukkan kalung itu ke dalam tasnya.


"Mereka sudah tiba, Dy!" ucap Bibi Ben sedikit berteriak.


"Iya, bi. Aku segera keluar."


Dyana keluar. Dilihatnya sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan rumah, dua orang pria turun dari sana.


"Apa kalian orang suruhan nyonya Natasha?" tanya Dyana saat kedua orang itu sudah tiba di depan pintu rumahnya.


"Benar. Ini benar rumah Nona Dyana Alexa?"


Dyana menggangguk.


"Benar. Bisa kalian tolong aku mengangkut dus-dus ini?" Dyana menunjuk sepuluh plastik besar yang berada di ruang tengah rumahnya.


"Tentu." jawab kedua orang itu.


Mereka memasukkan semuanya ke dalam mobil dengan cepat. Setelah selesai Dyana mengambil tas besar yang ia taruh di dekat pintu.


Kedua orang itu mempersilahkan Dyana masuk.


"Jaga Ayah baik-baik, Bibi Ben. Setelah ini aku akan langsung kembali bekerja." ucap Dyana sembari melambaikan tangan ke arah Bibi Ben.


"Tentu, Dyana. Kau tidak perlu khawatir." ucap Bibi Ben.


Setelah mobil yang membawa Dyana sudah pergi, Bibi Ben pun masuk dan menutup pintu.


*****


Mobil yang membawa Dyana memasuki sebuah rumah yang sangat besar. Halamannya juga sangat luas. Ini bukan rumah lebih tepatnya sebuah mansion.


Dyana turun dari mobil saat mobil itu berhenti tepat di depan teras pintu utama.


Dyana menatap ke sekeliling. Dia sungguh terpesona melihat rumah ini. Sangat megah padahal ini baru bagian luarnya saja, dan Dyana yakin di dalam akan lebih mewah lagi.


"Ehem!" Seseorang membuyarkan lamunan Dyana akan kemegahan rumah ini. "Boss kami sudah menunggu anda di dalam."


Dyana mengangguk. Dia pun melangkah memasuki rumah. Lagi-lagi dia harus tercengang menatap keindahan rumah ini. Semua perabotan dan interiornya sungguh mewah dan modern. Ini pertama kalinya Dyana memasuki rumah sebesar dan semegah ini selama hidupnya.


Seorang wanita paruh baya menghampiri Dyana.


"Apa anda Nyonya Natasha?" tanya Dyana sopan pada wanita di depannya.


"Benar. Tapi bukan saya boss di sini. Saya hanya kepala pelayan di sini." ucap wanita itu.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti?" tanya Dyana bingung.


"Aku disuruh Tuan untuk memesan cake padamu."


Dyana semakin bingung kalau bukan wanita ini pemilik rumah megah ini. Jadi, siapa?


"Lalu kenapa aku disuruh ikut ke sini?" tanya Dyana semakin bingung.


"Aku juga kurang tahu, yang pasti tuan ingin bertemu denganmu. Kau tidak keberatan, kan Dyana?" ucap wanita itu lembut.


Dyana menatap lekat wanita itu.


"Baiklah. Di mana aku bisa menemuinya?" tanya Dyana.


Dyana mencoba berpikir positif.


"Baiklah. Mari ikut saya!"


Dyana pun mengikuti nyonya Natasha. Dyana kembali dibuat takjub saat mereka sampai di depan lift.


Bahkan rumah ini di lengkapi lift.


"Mari masuk, Dyana," ajak nyonya Natasha.


"Terima kasih, Nyonya Natasha," ucap Dyana sopan.


"Panggil aku bibi saja." suruhnya.


"Baik nyonya eh.., Bibi. " Bibi Natsha tersenyum melihat Dyana.


Mereka menuju lantai tiga rumah ini, bahkan rumah ini memiliki empat lantai. Dyana merasa seperti berada di istana.


Mereka sampai di lantai tiga. Bibi Natasha memimpin Dyana berjalan di depan. Dyana hanya mengikuti Bibi Natasha dari belakang.


"Apa kau tidak merasa berat membawa tas besar itu sedari tadi, Dyana?"


Dyana menatap tas besar yang ada di tangannya. Karena terlalu terpesona akan rumah ini, Dyana sampai lupa kalau dia membawa tas itu ke mana pun.


"Tidak, bi. Ini tidak terlalu berat."


Bibi Dyana berhenti di depan sebuah pintu.


"Kau masuk saja, Dy. Aku masih ada urusan. Tuan sebentar lagi akan datang."


Bibi Natasha meninggalkan Dyana sendirian.


Dyana ingin memanggilnya. Tetapi, Bibi Natasha sudah pergi.


Mau tidak mau Dyana mengetuk pintu sendiri. Dia sudah berkali-kali mengetuknya. Tetapi tidak ada jawaban.


"Permisi!" ucap Dyana. Tangannya menekan kenop pintu.


Klek... pintu terbuka.


"Ternyata tidak dikunci," gumam Dyana. "Oh.., ya. Bukankah tadi Bibi Natasha mengatakan aku masuk saja dan menunggu di dalam?" tanya Dyana pada dirinya sendiri.


Dyana memasuki ruangan itu perlahan. Lampunya mati. Dyana masuk dan mencari sakelar. Dia melihat sakelar berada agak jauh dari pintu.


Dyana berjalan perlahan mendekati sakelar itu.


Ting..! Lampu seketika menyala terang saat Dyana menekan sakelar lampu.


Dyana terkejut saat melihat seluruh isi ruangan ini yang ternyata adalah sebuah kamar. Dyana menatap sekeliling, kamar ini sangat luas, bahkan kamar ini lebih luas dari rumah Dyana. Interiornya juga sangat mewah. Fasilitas di dalam kamar ini sangat lengkap. Tv, sofa, kulkas, semuanya lengkap bahkan ada sebuah lemari besar yang penuh dengan buku.


Tapi, kenapa Bibi Natasha menyuruhnya masuk ke sini? Apa dia salah ruangan?


Semua pertanyaan dan kekaguman Dyana akan kamar ini seketika berhenti saat dia mendengar suara pintu ditutup.


Dyana berbalik. Seorang pria tengah mengunci pintu di sana.


Kemudian pria itu berbalik, berjalan ke arah Dyana.


Pria itu memakai jas yang sudah terlihat kusut dan berantakan.


Entah mengapa Dyana merasa ada yang tidak beres di sini.


Pria itu berhenti tepat di depan Dyana. Pandangannya menatap lekat wajah Dyana. Pria itu nampak tengah mengingat sesuatu.


"Ternyata kau. Pelayan kotor yang bekerja di cafe Calvin yang menumpahkan makanan di pakaianku waktu itu."


Dyana mencium bau alkohol dari mulut pria itu. Tunggu! pria ini mengenalnya. Bukankah pria ini... Bossnya Jack—Andreas Alfaro yang angkuh itu?


"Sekarang katakan! Kenapa kau ingin melenyapkan Liona!" Pria itu, Andreas. Dia menatap Dyana dengan tatapan mengintimidasi.


Dyana bergidik melihat tatapan Andreas.


"Liona? Aku tidak ingin melenyapkannya. Bahkan aku tidak mengenalnya." Dyana menyanggah ucapan Andreas "Lagi pula kenapa kau menuduhku seperti itu?"


Andreas berdecih, dia mencekal tangan Dyana kuat. Membuat tas besar di tangan Dyana terjatuh.


"Kau masih ingin menyangkalnya!?"


"Aku memang tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak mengenal Lionamu itu." Dyana benar-benar bingung kenapa dirinya disangkut pautkan lagi dengan Liona. Bukankah pekerjaannya dilakukan dengan baik waktu itu? Dan Jack bilang, urusan mereka sudah selesai dan tidak ada masalah lagi pada Dyana.


Tapi, kenapa sekarang bossnya seolah-olah menganggap Dyana seperti penjahat? Padahal dirinya sudah membantu mereka menangkap Rafael. "Lepaskan tanganku atau aku..."


"Atau apa, huh!? " Andreas menatap Dyana penuh tantangan.


"Atau aku akan menendang mu!" Dyana hendak menendang Andreas. Tapi, Andreas sudah mendorong Dyana terlebih dahulu, sehingga dia jatuh terlentang di atas kasur.


*****