
Andreas bersusah payah keluar dari mobilnya.
Dengan sedikit tertatih-tatih, Andreas menjauh dari mobil yang hampir merenggut nyawanya itu. Seumur hidup Andreas baru mengalami kecelakaan sebanyak dua kali. Pertama, saat ia remaja. Itu pun karena ia ikut balapan liar. Dan yang kedua, baru saja terjadi, karena rem mobilnya tidak berfungsi. Andreas yakin jika ini ada unsur kesengajaan untuk mencelakainya.
Sedikit darah yang mengalir di pelipisnya tidak ia pedulikan. Karena terlalu cemas pada Dyana membuat ia tidak mempedulikan sebanyak apapun luka yang ia dapat.
Andreas kembali menghubungi Dyana. Tetap saja ponsel Dyana mati, dan itu membuat Andreas semakin cemas.
Akhirnya Andreas memutuskan menghubungi Jack, menyuruh tangan kanannya itu mengirim mobil lagi padanya dan mengurus mobilnya yang menabrak pembatas jalan.
Lima belas menit menunggu. Akhirnya Jack datang dengan beberapa pengawal.
Andreas memutuskan mengajak Jack ikut bersamanya untuk menemui Dyana. Tentu saja dengan pengawal yang mengikuti mereka dari jarak yang lumayan jauh.
Selama perjalanan menuju apartement Keyna. Andreas menceritakan secara singkat tragedi kecelakaannya. Sama seperti Andreas, Jack juga menduga jika itu disengaja oleh orang yang ingin mencelakai Andreas.
Tapi siapa? Jack akan menyelidikinya.
Sesampainya di apartement Keyna. Andreas langsung mengetuk pintu, saat ini hari sudah gelap.
Keyna keluar dengan ekspresi terkejut mendapati Andreas lah yang berada di depan pintunya. Dia pikir yang datang itu adalah Dyana.
"Kenapa kau kemari?" tanya Keyna tanpa mau beramah tamah pada Andreas.
"Aku ingin menemui Dyana." jawab Andreas tegas namun tetap mencoba sopan di depan Keyna.
Untuk sekian detik Keyna diam. Dyana belum pulang dari tadi sore. Apa yang harus ia katakan pada Andreas.
Melihat gelagat Keyna, Andreas yakin jika Dyana tidak ada di dalam.
"Jangan bilang Dyana tidak ada!"
Andreas berharap jika dugaannya salah. Tapi, melihat Keyna mengangguk mengiyakan membuat kekhawatiran Andreas kembali muncul.
"Kenapa kau membiarkannya keluar sendirian!" sentak Andreas ke arah Keyna.
Keyna terkejut mendengar Andreas membentaknya. Bahkan Alex tidak pernah membentaknya seperti itu.
"Kenapa kau semarah itu?! Dyana hanya belum pulang dan sebentar lagi dia pasti pulang!" jawab Keyna ikut membentak.
"Kau tidak mengerti." gumam Andreas. "Lagi pula dia itu tengah hamil. Apa kau tidak pernah berpikir jika bisa saja ada hal buruk yang menimpanya?"
Kali ini Keyna diam mendengar ucapan Andreas. Keyna menjadi khawatir, apa ia salah telah membiarkan Dyana keluar sendirian?
Andreas menghela napas. Tidak ada gunanya dia memarahi Keyna. Lebih baik ia mencari Dyana sekarang.
"Baiklah, sekarang beritahu aku. Ke mana Dyana pergi terakhir kali?"
"Dia mengatakan hanya ingin jalan-jalan sebentar di taman dekat sini."
Taman? Andreas akan mencari Dyana di taman. Semoga Dyana ada di sana dan tidak ada hal buruk yang menimpanya.
Baru saja Andreas hendak beranjak, ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo! Siapa ini?" tanya Andreas yang masih berdiri di depan apartemen Keyna.
"Halo Andreas. Kau tidak mengenal suaraku, sayang?"
Andreas mengernyit. Kali ini dia mengenal suara ini.
"Liona! Kenapa kau menghubungiku?! Bukankah sudah ku katakan bahwa jangan pernah menghubungiku lagi. Atau kau terima akibatnya!" sentak Andreas. Dia menyesal mengangkat panggilan dari wanita tidak tahu diri itu. Buang-buang waktu saja.
Terdengar kekehan di seberang sana.
"Oh, baby. Jangan buru-buru marah seperti itu. Aku tahu kau sedang mencari wanita jalangmu itu kan? Siapa namanya? Oh Dyana?" ucap Liona kemudian kembali terkekeh.
"APA DIA BERSAMAMU!?" tanya Andreas tak sabar.
Keyna yang melihat Andreas marah bertanya-tanya dalam hati. Siapa orang yang menghubungi Andreas? Apa ada hubungannya dengan Dyana? Namun, Keyna tidak berani bertanya.
Andreas yang emosinya sudah di ubun-ubun sudah kehabisan kesabaran.
"Jangan main-main dengan ku Liona! Atau kau terima akibatnya! Untuk yang terakhir kalinya aku bertanya di mana Dyana?!" sentak Andreas di akhir kalimatnya.
Mendengar nama Dyana disebut. Keyna yakin, kali ini Dyana pasti dalam bahaya. Dia mulai khawatir dan merutuki dirinya sendiri yang telah membiarkan Dyana keluar seorang diri.
Di seberang sana, Liona sedikit tersentak dan gemetar dengan bentakan Andreas yang penuh intimidasi. Namun, ia kembali menormalkan nada suaranya agar Andreas tidak tahu bahwa Liona sebenarnya takut padanya.
"Ayolah, jangan telalu galak. Apa kau sudah menyiapkan uang yang aku minta?"
"Jadi kau yang mengancamku?! Jangan main-main dengan ku Liona atau kau tidak akan bisa menatap dunia lagi setelah ini!" ancam Andreas.
"Wow.. aku takut. Tapi sebelum itu wanita jalangmu ini yang akan mengalaminya terlebih dahulu."
"Jangan sakiti dia. Atau aku tidak akan memaafkanmu!"
"Sekarang atau tidak sama sekali." ancam Liona. "Sepuluh juta, ingat. Transfer sekarang dan aku akan memberitahu keberadaan Dyana. Atau.."
"Baik. Tapi, jangan kau sentuh Dyana." ucap Andreas pada akhirnya. Bukannya ia menyerah tapi ia punya rencana untuk menangkap wanita licik ini, tanpa harus melibatkan Dyana.
"Bagus. Aku akan menjamin keselamatannya. Jangan mencoba membodohiku atau berpikir untuk menangkapku. Atau aku akan mati bersama wanita jalangmu itu." ancam Liona tidak main-main. Lalu, Liona memutuskan teleponnya.
Tak sampai lima detik. Sebuah pesan masuk ke ponsel Andreas.
"Jack. Transfer uang sepuluh juta ke rekening ini!" perintah Andreas kepada Jack yang berdiri tepat di belakangnya.
"Tapi, untuk apa?" tanya Jack yang belum mengerti.
"Lakukan saja. Nanti akan aku jelaskan!"
Jack menerima ponsel Andreas dan melaksanakan perintah Andreas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Keyna yang sangat khawatir.
"Dyana diculik!" jawab Andreas.
Keyna semakin gamang mendengar jawaban Andreas.
"Siapa yang menculiknya? Apa dia baik-baik saja?"
"Tenanglah. Dia pasti baik-baik saja. Aku akan memastikan itu." ucap Andreas kemudian pergi setelah Jack menyelesaikan tugasnya. Tak lama sebuah pesan kembali masuk. Sebuah alamat dan foto Dyana yang terlihat terikat di sebuah ruangan temaram.
Andreas menyuruh Jack mempercepat laju mobilnya. Mereka diikuti oleh anak buah Andreas yang lumayan banyak. Namun, dengan menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.
******
"Tak ku sangka Andreas sebodoh itu!" ucap Liona kepada seorang pria yang tengah duduk di sofa dengan santai. Liona baru saja mendapat notifikasi dari ponselnya bahwa Andreas telah mengirim uang yang ia minta.
"Aku rasa tidak sebodoh itu. Kita harus tetap berhati-hati." ucap pria itu.
"Kau benar. Sekarang aku akan pergi sejauh-jauhnya dari negara ini. Dan kau... terserah mau kau apakan wanita kotor itu." ucap Liona kemudian tersenyum iblis.
Pria itu nampak mengangguk-angguk.
"Sekarang buang ponselmu itu. Bukankah kau mengirim alamat palsu padanya?" titah pria itu kemudian beranjak.
"Kau mau ke mana?" tanya Liona sebelum pria itu menghilang di pintu.
"Aku ingin bermain-main dulu dengan Dyana. Kau tau selama ini aku hampir gila karena dia." ucap pria itu.
"Hey.. bukankah dia sedang hamil?" ucap Liona sok peduli.
"Aku tidak peduli..."
*******