I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 15



Dyana menggeliat saat sinar mentari terasa hangat. Dia mengerjabkan mata, meneliti tempat asing ini. Jelas ini bukan kamarnya.


Tangan Dyana terasa kelu, ada bekas memerah di pergelangan tangannya. Dia mencoba bangkit,  seluruh badannya terasa sangat sakit.


Dyana duduk di atas ranjang. Dia sendirian di sini. Tubuh Dyana tertutup selimut, gadis malang itu mencoba mengintip tubuhnya dari balik selimut.


Dia ingat kejadian semalam. Pria itu merenggut kehormatannya dengan kasar.


Seandainya itu hanya mimpi...


Namun, ini nyata. Dia tidak terima dengan kenyataan ini. Sebenarnya apa kesalahannya?


Dyana terisak menatap tubuhnya yang telanjang. Dia mengeratkan selimut agar tubuhnya semakin tertutup.


"Apa salahku? Kenapa aku berakhir seperti ini?" gumam Dyana di sela-sela tangisnya.


Perlahan-lahan Dyana turun dari kasur. Dia ingin mandi, membersihkan dirinya yang kotor.


Baru saja Dyana menapaki lantai, dia sudah merasakan perih yang amat sangat di daerah intinya, seperti ada yang hilang.


"Akhh!" pekik Dyana, setiap dia melangkahkan kakinya rasa perih itu semakin terasa.


Ya tuhan... apa salahku? Kenapa aku jadi begini?


Dengan langkah tertatih-tatih Dyana memasuki kamar mandi. Dia menyalakan shower, dan membiarkan air dingin mengaliri tubuhnya. Gadis itu menggosok-gosok tubuhnya kasar. Berharap sentuhan pria itu hilang tak berbekas.


Dyana semakin terisak saat dia mengingat kejadian semalam. Air matanya sudah bercampur dengan air shower. Pria brengsek itu menyentuhnya dengan kasar, dan tidak memberi jeda padanya padahal dia sudah sangat kelelahan. Pria itu—Andreas menyentuhnya tiga kali malam tadi sampai-sampai dirinya pingsan karena kelelahan.


Kaki Dyana melemas saat dia mengingat semuanya. Dia terduduk lemas di bawah guyuran air shower.


Dia tidak bisa terus-menerus seperti ini, dia harus bisa keluar dari tempat ini. Ayahnya pasti khawatir karena dia tidak pulang semalaman dan dia juga tidak kembali ke cafe tadi malam. Apa Calvin akan khawatir juga?


Dyana berdiri, menyudahi mandinya. Dia melilitkan handuk ke tubuh.


Gadis itu keluar kamar mandi. Dia sangat terkejut melihat pria yang merenggut kehormatannya tadi malam sudah duduk di sofa dengan menaikkan satu kakinya.


"KAU!" bentak Dyana "Pergi kau dari sini! Apakah kau sudah puas sudah merenggut kehormatanku!? Dasar pria brengsek! ********!"


Andreas berdiri, dia berjalan ke arah Dyana.


"Apa kau bilang? Kau berani mengataiku gadis kotor!?" Andreas menarik rambut Dyana ke belakang.


"Kau memang pria brengsek! Tidak punya hati," Dyana menahan rasa sakit di kepalanya.


"Lepaskan rambutku!" bentak Dyana.


Andreas melepaskan tangannya dari rambut Dyana. Pria itu tersenyum sinis.


"Kau tahu aku memang brengsek dan semua ini masih belum seberapa." Andreas memegang dagu Dyana dan menghempaskannya kasar.


"Sebenarnya apa maumu?!" teriak Dyana marah.


"Mauku?" Andreas menatap Dyana penuh kebencian. "Penderitaanmu!"


"Tapi, kenapa?" Dyana mencoba meminta penjelasan.


"Karena kau gadis kotor!" hina Andreas.


Andreas menggeram marah. Kenapa wanita ini seolah-olah tidak mengetahui kesalahannya? Padahal semua bukti sudah ada, bahkan kalung Liona ada pada wanita ini.


"Kau pura-pura bodoh atau memang bodoh, huh? Lebih baik kau pikirkan sendiri apa kesalahanmu! Tidak usah berpura-pura lugu di depanku karena itu tidak akan ada gunanya!"


"Satu lagi cepat pakai pakaianmu atau aku akan mengulangi kegiatan kita tadi malam tanpa ampun!" ancam Andreas tanpa rasa bersalah.


Andreas meninggalkan Dyana yang terpaku menatap kepergiannya. Andreas mengunci kamar setelah menutupnya dengan keras.


*****


Dyana duduk termenung memandangi makanan yang berada di hadapannya. Sungguh dia tidak berselera makan walau sebenarnya dia sangat lapar. Tadi, seorang pelayan membawakannya makanan dan pergi begitu saja setelah itu.


Dyana lebih memilih menuju meja rias di kamar itu. Dia memandangi pantulan dirinya di cermin. Dyana memakai kaus berompi berwarna hijau dan celana jeans selutut. Tadi, Dyana sempat tercengang melihat lemari pakaian penuh dengan pakaian dan perlengakapan wanita. Dyana yakin pria brengsek itu sudah merencanakan semua ini.


Tapi, apa kesalahan Dyana sebenarnya? Dyana sendiri belum tahu.


*****


"Jack! Bagaimana bisnisku di Washington apa semuanya berjalan lancar?" Andreas menyambut Jack yang baru saja turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kerja Andreas.


"Semua berjalan lancar. Kau tidak perlu khawatir." jawab Jack.


Andreas sudah duduk di kursinya, Jack ikut duduk di hadapan pria itu.


"Ngomong-ngomong apa ada perkembangan tentang Liona? Apa kau sudah berhasil menemuinya?" tanya Jack. Pria ini memang belum mengetahui semua yang terjadi di sini.


"Kau tidak akan percaya apa yang telah terjadi selama kau pergi Jack." Nada suara Andreas terdengar lirih.


"Maksudmu? Memangnya apa yang telah terjadi?" Jack penasaran.


"Liona kecelakaan sebelum aku sempat menemuinya dan dia tengah koma sekarang."


"Apa? Kenapa bisa?" Jack tersentak.


"Ini semua gara-gara wanita bernama Dyana. Perempuan kotor itu yang sudah menyebabkan Liona seperti ini." Andreas berubah geram saat dia menyebut nama Dyana. Apalagi mengingat wajah wanita itu, sungguh menyebalkan!


"Dyana?" Jack menaikkan satu alisnya.


"Iya, dan wanita itu sudah berada di dalam genggamanku sekarang!" Andreas menyeringai.


"Apa aku bisa menemui perempuan bernama Dyana itu?" Entah mengapa Jack penasaran. Apa Dyana yang dimaksud Andreas adalah wanita yang membantunya menangkap Rafael waktu itu?


"Tentu saja. Tapi, tidak sekarang. Aku masih harus memberi pelajaran lebih keras padanya." Andreas tersenyum, bangga. Membayangkan bagaimana dia akan menyiksa wanita itu nanti membuat dirinya terasa terhibur. "Dan kau tidak akan menyangka melihat wanita itu. Wajahnya memang terlihat polos tapi sebenarnya dia sangat licik."


Jack mengangguk mengerti. Dia tidak memaksa, karena jika Andreas sudah berkata dia masih belum bisa menemuinya berarti memang belum bisa.


"Lalu bagaimana dengan pria bernama Julian?" tanya Jack lagi.


"Gerald dan anak buahnya masih mencari jejak pria itu. Sepertinya wanita bernama Dyana itu adalah kekasihnya, jelas semua ini berawal karena dia. Jadi, aku tidak akan melepaskannya begitu saja!" Andreas memang mengatakannya dengan tenang, namun tenangnya Andreas bukanlah gambaran dirinya yang sebenarnya. Hati dan emosi pria itu sebenarnya sudah sangat panas.


Dia tidak sabar untuk membalas semua orang-orang yang telah menyakiti Liona!


*****