I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 25



Sayup-sayup Andreas mendengar suara tangisan Bayi yang berasal dari dalam kamarnya. Dia baru saja pulang dari kantor dan merasa heran kenapa ada suara tangisan bayi dari dalam sana.


Andreas memanggil Jack untuk menanyakan kenapa ada suara bayi di kamarnya. Namun, sudah beberapa kali Andreas memanggil, Jack tak kunjung datang. Bahkan untuk sekadar menyahut saja, tidak ada.


Andreas beralih memanggil anak buahnya yang lain, pelayan atau siapa pun yang bisa dia tanya mengenai hal ini. Namun, nihil. Tidak ada satu orang pun yang datang. Rumah ini sunyi. Seperti tidak ada orang lain selain dirinya sendiri.


Apa mereka semua sudah tidur? pikir Andreas. Mengingat ini sudah hampir tengah malam.


Di tengah kebingungannya, Andreas memutuskan memasuki kamarnya untuk memastikannya sendiri.


Pria itu membuka pintu perlahan. Suara tangisan bayi itu terdengar semakin jelas saat pintu terbuka. Andreas melangkah pelan memasuki kamar. Dia sangat terkejut mendapati seorang wanita duduk di pinggir kasur, membelakanginya. Wanita itu terlihat sedang menggendong sesuatu, tepatnya sedang menyusui seorang bayi.


Andreas terkesiap. Tidak ada lagi suara tangisan bayi, mungkin karena wanita itu sudah menyusuinya.


"Hei, siapa kau? Kenapa kau ada di kamarku?" tanya Andreas masih belum bisa melihat wajah wanita itu.


Seketika wanita itu menoleh saat mendengar suara Andreas. Wanita itu tersenyum manis ke arah Andreas. Kemudian berdiri dan berjalan mendekati Andreas.


Andreas terbelalak melihat siapa wanita itu. Apa dia salah lihat? Wanita itu berjalan mendekati Andreas sambil menggendong bayi di tangannya.


"Hei. Kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya wanita itu, melihat ekspresi Andreas yang terlihat terkejut dan bingung melihatnya.


"Dyana, apa benar ini kau?" tanya Andreas masih tidak percaya. Dia menyentuh wajah Dyana lembut.


"Tentu saja ini aku. Sebenarnya kau kenapa, kau sangat aneh?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Dyana dengan wajah heran.


"Ini benar-benar kau? Ya, tuhan ini benar kau, Dyana?" ucap Andreas senang. Dia ingin memeluk wanita ini untuk melepas rasa rindunya. Namun, belum sempat dia mencapai tubuh Dyana, wanita itu sudah terlebih dahulu menjauh, menghindari pelukan Andreas.


"Kau kenapa, Dy? Apa kau masih marah pada ku?" Andreas kecewa melihat Dyana menghindari dirinya.


"Bukan. Apa kau tidak lihat aku sedang menggendong bayi kita? Apa kau ingin menyakitinya dengan memelukku begitu saja?" jawab Dyana sembari menunjuk bayi mungil yang ada di tangannya.


Andreas baru menyadari hal itu, dia sempat lupa karena sangat bahagia melihat Dyana kembali.


"Tapi, itu bayi siapa?" tanya Andreas bingung. Dia mendekati Dyana melihat wajah mungil bayi itu. "Kenapa wajahnya mirip denganku? Tapi, bibirnya mirip denganmu." Andreas masih bingung. Tapi, tidak bisa dipungkiri. Hatinya menghangat melihat bayi kecil menggemaskan yang berada dalam pelukan Dyana. Dia merasa memiliki ikatan dengan bayi ini.


Dyana menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau lupa atau pura-pura lupa? Ini anak kita, Andreas. Apa kau semakin tua dan membuatmu menjadi pelupa? Bahkan kau melupakan anakmu sendiri." ucap Dyana dengan nada sedikit kesal.


Andreas lagi-lagi terkejut. Dia melihat Dyana dan bayi itu secara bergantian.


"Anak kita?" Ulang Andreas untuk memastika kalau dia tidak salah dengar.


"Iya, Andreas dia adalah anak kita. Lihat Dia tertawa melihatmu. Sepertinya dia ingin digendong oleh Ayahnya." ucap Dyana sembari menyerahkan bayi itu kepada Andreas untuk menggendongnya.


Andreas menerima dan memeluk bayi itu. Ternyata bayi itu jauh lebih menggemaskan jika dia yang menggendong. Andreas tidak dapat menahan perasaannya untuk menciumi wajah bayi itu. Sesekali Andreas terlihat bercanda dan memegang hidung mungil bayi mereka.


Dyana terlihat tersenyum menyaksikan adengan itu. Apalagi melihat Andreas selalu tersenyum ke arah bayi mereka. Sungguh itu adalah moment yang sangat membahagiakan.


"Tentu saja. Aku seorang Ayah yang memiliki bayi yang sangat lucu sekarang." Padangannya mengarah kepada Dyana dengan mata berbinar.


"Baguslah. Aku kira kau tidak bahagia." gumam Dyana, menghela napas lega.


"eh-kenapa tiba-tiba pakaianku menjadi hangat?" tanya Andreas. Merasakan ada sesutu yang mengalir menembus pakaiannya.


"Astaga. Dia mengompol di bajumu." Dyana terkikik. Dia segera merebut bayi-nya dari tangan Andreas. Membuat Andreas manyun.


"Ternyata kau sangat usil pada Ayahmu, nak." ucap Andreas sembari tersenyum.


"Lebih baik kau ganti bajumu, aku akan mengganti popoknya."


Andreas menggangguk. Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaiaannya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum menutup pintu kamar mandi, Andreas menatap Dyana yang sedang sibuk mengganti popok. Dia tersenyum bahagia. Dia berharap ini bukanlah sebuah mimpi.


Andreas sudah selesai membersihkan dirinya. Pakaiannya sudah berganti menjadi kaus santai berwarna hitam dan celana pendek selutut. Pria itu keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Dyana atau pun bayinya di kamar itu.


Andreas menyusuri seluruh ruangan untuk lebih memastikan. Namun, Dyana memang tidak ada disana.


Ke mana dia? batin Andreas. Perasaannya mendadak tidak enak. Dia mengira, apa Dyana kembali pergi meninggalnya? Padahal baru saja dia merasa bahagia melihat Dyana ada bersamanya. Tapi, sekarang wanita itu menghilang lagi.


Andreas berteriak memanggil-manggil nama Dyana. Namun, tidak ada jawaban. Andreas berpikir. Bisa saja wanita itu sedang pergi ke dapur untuk mengambil minum.


Andreas memutuskan keluar kamar dan mencari Dyana ke semua tempat. Wanita itu tidak ada di dapur, ruang tamu dan tempat lainnya.


Andreas memutuskan kembali ke kamar. Bisa saja Dyana sudah kembali ke sana. Namun, Andreas kembali kecewa saat mendapati kamarnya masih kosong. Sunyi, tidak ada lagi suara tangisan bayi seperti awal dia memasuki kamar ini.


Andreas kembali memanggil-manggil nama Dyana. Dia sangat takut wanita itu kembali meninggalkannya.


"Dyana..Dyana...DYANA!" Tiba-tiba Andreas terduduk dari tidurnya. Dia merasa gerah. Keringat memenuhi wajah dan tubuhnya.


Andreas meneliti keadaan sekitar dan menyadiri jika dia tertidur di kantor, tepat di sofa yang ada di ruangannya. Dia tidak tahu sejak kapan dia tertidur.


"Jadi.. Dyana.. Bayi.. itu?" Mendadak wajah Andreas muram. Ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi semata, padahal dia berharap jika itu nyata dan itu memang terasa sangat nyata.


Andreas mengusap wajahnya.


"Tapi, kenapa aku bermimpi seperti itu? Dan rasanya seperti nyata?" tanya Andreas pada dirinya sendiri.


"Apa ini adalah bertanda akan sesuatu. Tapi, pertanda apa?" Andreas masih bingung memikirkan mimpinya barusan.


"Apa karena aku terlalu memikirkan Dyana?" Kembali Andreas berbicara kepada dirinya sendiri.


Dilihatnya jam di tanggannya yang sudah menunjukkan hampir jam dua belas malam. Dia berdiri, memilih tidak terlalu memikirkannya. Dia harus segera tiba di rumah.


****


Ada yang bisa menafsirkan mimpi?