
"Ayo pergi!" seru orang tersebut.
Dyana masih mematung. Menatap kosong ke arah Rafael yang sudah tergeletak di tanah, mungkin ia pingsan.
"Tunggu apa lagi? Jangan sampai pria psikopat itu bangun!" ujar pria itu lagi.
Tanpa mau menunggu lebih lama lagi pria itu menarik tangan Dyana. Hendak membawanya pergi.
Tapi, pekikan Dyana mengurungkan niatnya.
"Ternyata psikopat ini sudah melukaimu. Untung aku datang lebih cepat. Kalau tidak, aku tidak tahu. Apakah kau masih bernyawa atau tidak?"
Pria tersebut memeriksa lengan Dyana yang terkena sayatan dan goresan.
"Tidak terlalu parah. Tapi, harus segera diobati."
Kali ini dengan lebih lembut, pria itu merangkul bahu Dyana dan membawanya pergi menjauhi tempat itu.
"Bagaimana dengannya?" tanya Dyana.
"Polisi akan segera datang." ujar pria itu.
Dyana mengangagguk, mengerti. Selama perjalanan menuju mobil, baik Dyana dan pria itu lebih banyak diam. Hingga mobil melaju pun mereka masih diam.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sana?" tanya Dyana sedikit terisak. Tubuhnya nampak bergetar, kejadian tadi benar-benar membuatnya syok.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, pria itu tersenyum.
"Simpan dulu semua pertanyaanmu! Kita ke rumah sakit dulu untuk mengobati lukamu."
Dyana diam, menurut. Lagipula apalagi yang bisa ia katakan, jika pertanyaan yang akan ia lontarkan tidak akan dijawab oleh orang itu.
Sekitar empat puluh lima menit, mobil mereka berhenti. Tapi, yang membuat Dyana heran adalah mereka tidak berhenti di rumah sakit melainkan di sebuah rumah besar nan mewah.
Pria itu membuka pintu untuk Dyana. Dyana turun masih dengan kebingungan di wajahnya.
Apa ini adalah jebakan? Apa pria ini juga ingin mencelakainya seperti Rafael? Tapi, apa dia akan setega itu? Mencelakai orang yang jelas-jelas pernah ia cintai dan mencintainya? Walau sampai kini Dyana belum tahu, apa cinta pria ini benar-benar tulus padanya dulu.
Melihat Dyana yang masih berdiri diam, membuat pria itu menyunggingkan senyum.
"Aku tidak berniat jahat padamu. Tapi, simpan dulu semua pertanyaanmu untuk nanti. Sekarang kita masuk dulu, agar lukamu dapat diobati." ujar pria itu.
Dyana masih nampak bergeming. Tentu saja ia tidak percaya begitu saja, setelah kejadian yang menimpanya tadi. Ia harus memasang kewaspadaan ekstra.
"Tidak! Sebelum kau mengatakan rumah siapa ini dan untuk apa kita kemari."
Pria itu nampak bingung, menjelaskan sekarang bukanlah keputusan yang tepat.
"Ayolah Dyana! Aku tidak akan menyakitimu. Begitu juga dengan semua orang yang ada di sini." Pria itu mencoba meyakinkan Dyana.
"Katakan sekarang! Atau aku pergi dari sini." Pria itu nampak bergeming, memikirkan apa yang harus ia katakan.
"Katakan, Julian!" titah Dyana tak sabar.
Baru saja Julian hendak mengeluarkan suara. Tiba-tiba seseorang memanggil nama Dyana. Seseorang yang sangat ia kenal berlari ke arahnya.
"Keyna?" Dahi Dyana mengernyit. Tadi, Julian dan sekarang ada Keyna. Sebenarnya ada apa ini.
Keyna menghambur ke pelukan Dyana. Ia memeluk sepupunya itu erat. Takut, jika Dyana pergi lagi dan bertemu orang jahat.
"Kau tidak apa-apa? Aku sangat takut terjadi apa-apa padamu. Maafkan aku karena tidak menjagamu dengan baik seperti pesan Paman." Keyna terdengar terisak di dalam pelukan Dyana.
"Aku tidak apa-apa Keyna. Tapi, jika kau terus-terusan memelukku seperti itu. Aku akan kenapa-napa karena kau memperparah luka di lenganku." ucap Dyana lirih. Menahan sakit di lengannya yang tidak sengaja tersentuh Keyna.
Dengan cepat Keyna melepaskan pelukannya. Ia memeriksa lengan Dyana.
"Oh.. God. Pasti sakit. Harus segera diobati."
Keyna mengajak Dyana untuk masuk ke dalam. Agar Keyna bisa mengobatinya. Dyana menurut saja, kalau ada Keyna di sini berarti tempat ini aman.
Yang masih menjadi pertanyaan dalam benak Dyana adalah rumah siapa ini? Dan kenapa ada Julian juga di sini?
Julian mengikuti mereka ke dalam. Namun, ia tidak ikut bersama Keyna dan Dyana menuju ke sebuah kamar. Julian nampak memasuki ruangan lain. Sebuah ruangan dengan pintu kayu besar.
******
"Auw ... hati-hati Keyna itu sakit." lirih Dyana. Saat ini Keyna tengah mengobati lengannya.
"Jangan manja begitu. Ini agar lukamu cepat kering dan sembuh." ucap Keyna.
Terakhir, Keyna membalut lengan Dyana yang terluka dengan perban.
Dyana duduk dengan posisi bahu menyender di kepala ranjang.
Ini saatnya menanyakan apa saja yang ingin aku tanyakan. Mungkin Keyna punya jawabannya.
"Keyna! Sebenarnya ini rumah siapa? Dan kenapa ada Julian juga di sini?"
Pertanyaan Dyana menghentikan pekerjaan Keyna. Ia berbalik menghadap Dyana.
"Sebentar lagi kau akan tahu." ucapnya kemudian meletakkan kotak obat di atas nakas.
Dyana mendengus, merasa kesal. Sedari tadi ia bertanya jawabannya selalu, "sebentar lagi kau akan tahu, sebentar lagi kau akan tahu. Tapi, sebentar lagi itu kapan Keyna?" ucap Dyana dengan raut wajah kesal.
Keyna kembali memandang Dyana, garang. "Jangan begitu, kau tengah hamil. Jaga emosimu jika tidak ingin ada sesuatu yang menimpa kandunganmu nanti." Keyna mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dyana mencebik. Ia tahu Keyna tengah mengalihkan pembicaraan.
Sebelum Dyana kembali bertanya, buru-buru Keyna mencari pembahasan baru.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Keyna. Kini ia sudah duduk di sisi Dyana.
"Dengannya siapa maksudmu?"
"Ayah anakmu."
"Maksudmu, Andreas?"
Keyna mengangguk.
"Diakan tidak tahu aku sudah kembali ke New York, dan lagi pula dia tidak pernah lagi menghubungi ku. Apa dia tau aku diculik? Sementara dia tidak peduli sama sekali kepadaku."
Kali ini Dyana tidak mau berharap terlalu banyak kepada Andreas.
"He.. siapa bilang dia tidak peduli padamu? Kau tau di malam kau diculik. Andreas datang ke apartemen mencarimu, dia terlihat sangat khawatir. Dia bilang ada seseorang yang ingin menyakitimu. Dan benar saja, saat ia hendak pergi menyusulmu ke taman seseorang menelponnya. Ternyata, itu Liona dan ia sudah menculikmu lebih dulu. Wanita licik itu meminta uang tebusan, kalo tidak nyawamu menjadi taruhannya."
Dyana tercengang mendengar penjelasan Keyna.
"Benarkah? Seberapa khawatirnya ia padaku?"
Setelah mendengar ini. Bolehkah ia kembali berharap.
"Sulit dijelaskan. Tapi, aku dapat melihat dengan jelas. Kalau dia sangat khawatir, bahkan tanpa pikir panjang Andreas langsung mengirim uang sepuluh juta kepada Liona, agar kau selamat."
Keyna memberi jeda sebentar.
"Dan memang dasar wanita licik. Liona malah memberi alamat palsu pada Andreas, dan kau ternyata sudah dibawa oleh pria psikopat Rafael."
"Untung, Paman Peter datang malam itu. Ia mencarimu. Tetapi, kau tak ada. Setelah tau kau diculik. Paman Peter langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencarimu. Dan dari salah satu-" ucapan Keyna terhenti karena Dyana memotongnya.
"Huh... Pa-paman Peter? Paman Peter yang mana maksudmu?" Dyana menjadi curiga. Jangan-jangan...
Menyadari ia kelepasan bicara, Keyna menjadi gugup. Bodoh. Harusnya ia harus lebih berhati-hati lagi. Dia memang selalu begitu jika berbicara terlalu banyak.
"Keyna?" ucap Dyana memandang Keyna curiga.
"I-itu... Di-dia... Bukan siapa-siapa, dia itu Pamannya Alex."
Mata Dyana memicing mencari setitik kebohongan di wajah Keyna.
"Sudahlah. Lebih baik kau istirahat. Ini sudah malam dan kau pasti lelah. Kalau kau butuh sesuatu panggil saja aku. Kamarku ada di sebelah kamarmu." ucap Keyna kemudian mematikan lampu dan pergi keluar dari kamar.
Dyana hanya memandangnya heran.
Kenapa Keyna terlihat buru-buru dan nampak sangat gugup? Ah, susahlah. Tidak mungkin Paman Peter yang ia maksud adalah orang itu. Bukankah orang yang bernama Peter itu banyak?
Tunggu dulu. Tapi, Keyna belum selesai bercerita.
Bagaimana mereka pada akhirnya tau, jika ia bersama dengan Rafael.
Dan bagaimana dengan Andreas. Bukankah ia mencarinya juga. Sekarang di mana dia? Dan apa dia sudah tahu jika ia sudah selamat.
Masih banyak pertanyaan yang menghampiri otak Dyana. Ia butuh jawaban.
Namun, ia sangat mengantuk saat ini. Dyana kemudian berbaring. Tak lama ia terpejam. Memasuki alam mimpinya.
Satuhal yang membuat hati Dyana lega. Ternyata Andreas masih peduli padanya.
Tapi, di mana pria itu sekarang?
*****