I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 17



Bibir mereka hampir bertemu, namun harus terhenti karena ponsel Andreas berbunyi.


Andreas refleks menjauhkan wajahnya dengan frustasi, lain hal dengan Dyana yang bernapas lega.


Andreas merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dengan kasar, nama anak buahnya--Gerald tertera di layar.


"Halo!" bentaknya. Merasa geram karena kesenangannya terganggu. Dia berjanji jika Gerald tidak memberi tahu hal yang penting dia tidak akan segan-segan mematahkan leher anak buahnya itu.


"Apa!?" Andreas menatap Dyana dengan pandangan tak terbaca. "Baiklah. Aku akan segera ke sana. Terus awasi dan segera bertindak, jangan sampai dia lolos!"


Menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku, Andreas menyeringai ke arah Dyana.


"Sayang sekali, aku tidak bisa bermain denganmu kali ini. Aku punya urusan penting sekarang." ucap Andreas seakan-akan dia merasa merugi.


Dyana tetap diam. Tidak peduli, malah itu sangat bagus baginya. Dia tidak perlu merasa tersiksa untuk beberapa saat.


"Jangan berpikir untuk kabur, karena kau tidak akan bisa!" bisik Andreas ke telinga Dyana, membuat wanita itu sedikit meremang merasakan napas pria itu di lehernya.


Andreas melangkah meninggalkan Dyana menuju pintu. Sebelum pria itu keluar dia kembali menatap Dyana.


"Aku akan mengurus kekasihmu dulu, baru setelah itu aku akan mengurusmu!" ucap Andreas sebelum dia benar-benar pergi.


Dyana menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Dia tidak mengerti ucapan pria gila itu.


*****


Dyana mencoba menarik perhatian siapa saja yang berada di rumah ini. Dia tahu pria iblis itu sedang keluar. Tadi, dia melihat pria itu pergi meninggalkan rumah ini dengan beberapa orang pengawal. Dan hingga saat ini belum kembali.


Dyana berteriak-teriak. Membanting apapun yang ada di hadapannya. Melepaskan semua rasa kesalnya selama ini. Wanita itu begitu frustrasi berada di tempat ini.


Dyana menendang guci besar yang berada di dekat pintu hingga pecah. Melempar vas bunga yang diletakkan di atas meja. Menjatuhkan semua benda yang berada di atas nakas. Dyana tahu semua barang-barang itu mahal, namun dia tidak peduli. Dia hanya ingin menyalurkan seluruh kekesalannya. Dia berharap pria itu akan merasa dirugikan dan membuangnya ke jalanan, itu pasti lebih baik.


Dyana hendak membalikkan sebuah meja kaca saat pintu kamar terbuka. Pandangan Dyana beralih ke sana.


"Jack!?" ucap Dyana terkejut melihat pria yang berdiri di pintu. Pria itu datang bersama dengan beberapa orang pengawal yang tengah menatap sekeliling kamar yang su porak-poranda.


Jack menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa berantakannya kamar ini. Pandangan Jack beralih kepada Dyana yang terkejut melihatnya.


"Jadi wanita itu benar-benar kau?" tanya Jack, tidak menyangka kalau Dyana yang dimaksud Andreas benar-benar Dyana yang dikenalnya.


Refleks Dyana langsung menghampiri Jack, menarik-narik jas pria itu sembari menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Kenapa aku ditahan di sini!?" Pertanyaan pertama Dyana. "Kenapa kau diam!?" ucap Dyana saat Jack tidak menjawab pertanyaannya. "Bukankah urusan kita sudah selesai!? Aku mengerjakan tugasku dengan baik dan tidak melakukan kesalahan, benar kan!?" Masih tidak ada jawaban dari Jack.


Bukannya Jack tidak ingin menjawab, tapi Dyana terus-menerus menarik-narik jasnya secara frontal membuat Jack kesulitan untuk menjawabnya. "Jawab aku Jack! Jangan diam saja! Dan kenapa aku disalahkan atas sesuatu yang menimpa Liona? Sedangkan aku sama sekali tidak mengenal wanita itu!?"


Jack menahan tangan Dyana agar berhenti menarik-narik jasnya. "Jadi kau tidak mengenal Liona?" Jack kaget mendengar ucapan Dyana.


Dyana mengangguk. "Memangnya siapa dia? Aku bahkan tidak mengenal wajahnya?"


Jack bingung.


Apa gadis ini benar-benar tidak mengenal Liona? Tapi, kenapa Andreas bilang bahwa Liona sendiri yang mengatakan bahwa Dyana berusaha mencelakainya? Semua bukti juga mengarah pada Dyana. Bahkan kalung ibu Andreas yang diberikan Andreas kepada Liona dulu ada pada Dyana.


"Tapi, kenapa kalungnya ada padamu?" tanya Jack dengan nada tak sabar.


"Aku tidak tahu kalung apa yang kau maksudkan!? Kalung yang pria iblis itu ambil dari dalam tasku waktu itu adalah kalung pemberian mantan kekasihku beberapa waktu lalu sebelum kami mengakhiri hubungan kami. Itu bukan kalung Liona atau siapapun!" ucap Dyana penuh penekanan.


Jack diam beberapa saat, mencoba mencerna kata-kata Dyana.


"Kau benar-benar tidak mengenal wanita ini?"


Jack mengeluarkan ponselnya. menunjukkan sebuah foto kepada Dyana.


Foto pria iblis itu bersama wanita. Dyana membelalak kaget saat dia menyadari sesuatu. Dia mengenal wanita itu.


--------


Seorang wanita sedang mondar-mandir dengan perasaan gelisah di balkon yang berada di lantai tiga sebuah rumah mewah.


Wanita berusia dua puluh satu tahun itu sedang cemas.


Dia Dyana. Dia kemudian duduk di dekat tiang pembatas balkon. Telapak tangannya berada di atas pagar beton itu. Pandangannya kosong menatap langit malam.


Dyana mengingat jelas wajah wanita yang Jack tunjukkan padanya. Jadi wanita itu Liona. Wanita selingkuhan Julian itu Liona. Oh tuhan, benarkah gadis itu Liona? teriak batin Dyana.


Sungguh dia tidak pernah menyangka akan fakta itu, dia sungguh terkejut dan syok hingga tidak bisa berkata-kata lagi di hadapan Jack tadi. Dyana langsung menyuruh Jack pergi meninggalkannya saat itu juga dan anehnya Jack menurut saja. Walau masih terlihat raut bingung di wajah pria itu tetap menuruti perintah Dyana dan kembali mengunci gadis itu dari luar.


Dyana benar-benar tidak habis pikir. Bukankah wanita itu yang berniat mencelakainya? Tapi, kenapa dia yang dituduh sebaliknya? Permainan macam apa ini? Dan kalung itu... Dyana mengingat kejadian hari di mana Julian memberikan kalung itu padanya, dan Dyana baru menyadari sesuatu. Bukankah dia sempat berpapasan dengan wanita itu di lift apartement Julian? Jadi kalung itu... kasur Julian yang berantakan...?


Dyana benar-benar frustrasi. Kenapa dia tidak menyadarinya dari awal?


Kalau wanita itu adalah orang yang sama, yang membuatnya harus berpisah dengan Julian dan sekarang karena wanita itu juga dia harus kehilangan kehormatan dan kebahagiaannya. Dia bahkan terkurung di sini sekarang. Di istana neraka milik pria iblis yang menggilai wanita bernama Liona itu.


Dyana tahu, Andreas melakukan segala cara agar wanita itu selalu bersama dengan dirinya. Dia bahkan tidak segan-segan menghancurkan siapa pun yang ingin memisahkannya dengan gadis bernama Liona itu.


Pria itu sudah dibutakan oleh cintanya kepada Liona.


Tiba-tiba kata-kata terakhir Andreas sebelum pergi terngiang di telinga Dyana.


Aku akan mengurus kekasihmu dulu, baru setelah itu aku akan mengurusmu...


Apa maksud dari kata-katanya itu?


Apapun itu, pasti bukanlah hal yang baik. Bagaimana pun Dyana harus keluar dari tempat ini.


Dyana berdiri, mendongakkan wajahnya ke bawah. Dia berada di tempat yang tinggi. Apa dia harus melopat? Itu sungguh tidak mungkin. Dia bisa mati jika harus melakukan itu.


Dyana mendengus, hampir putus asa.


Seandainya dia mempunyai rambut panjang seperti Rafunzel yang bisa turun dari menara yang tinggi menggunakan rambutnya.


Rambut Rafunzel? Seketika Dyana menemukan sebuah ide.


Memang beresiko, tapi tidak ada salahnya dicoba.


Dyana berlari menuju kamar, mencari sesuatu. Dia harap ide ini bisa berhasil.


*****