
"Eh, kenapa malah menangis?"
Tangan Andreas terulur, dan dengan lembut ia menyeka air mata yang jatuh dan mengalir di pipi Dyana.
"Maaf?"
Bukannya menjawab, Dyana malah meminta maaf membuat Andreas bingung.
Dengan dahi mengerut, Andreas berkata, "Untuk?"
"Gara-gara aku kamu jadi terluka seperti ini." ucap Dyana sedikit terisak. Merasa bersalah pada Andreas.
"Eh... jangan bicara seperti itu. Ini bukan salahmu. Harusnya aku yang minta maaf karena lebih mementingkan pekerjaan dan tidak melindungimu." Sesal Andreas menatap Dyana dalam.
Dyana balas menatap Andreas dalam.
"Kalau begitu, mulai sekarang maukah kau melindungiku?" ucap Dyana dengan mata berbinar penuh harap.
Andreas terkejut, "Maksudnya melindungimu?" Andreas masih kurang mengerti. Atau tepatnya pura-pura tidak mengerti.
Ekspresi Dyana yang awalnya berbinar, berganti kesal. Andreas memang tidak peka. Harusnya Andreas bisa langsung menagkap apa yang Dyana maksud.
Dyana mengerucutkan bibirnya, melipat tangan di dada dan memandang malas ke arah Andreas.
"Sudahlah! Lupakan saja!" Dyana merajuk.
"Eh... kau marah? Memangnya apa salahku?" Andreas tertawa kecil. Lagi-lagi ia merasa gemas melihat tingkah Dyana.
"Sudah ku bilang lupakan saja!" ucap Dyana sinis. Ia benar-benar kesal.
Andreas memang tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti? cibir Dyana dalam hati.
Dyana berdiri, "Sebaiknya aku pulang!"
Dyana berbalik hendak pergi. Namun, belum sempat ia melangkah Andreas meraih pergelangan tangannya, menahannya agar tidak pergi.
Mau tidak mau Dyana tetap diam, tidak bisa melanjutkan langkah.
"Tunggu! Kau cepat sekali marah. Aku hanya bercanda. Aku mengerti maksudmu." Andreas mengarahkan Dyana agar kembali duduk di sisinya.
Dyana kembali duduk. Untuk sesaat mereka saling diam. Namun, pandangan mereka tidak terputus. Mata mereka terkunci satu-sama lain.
Hingga, Andreas memperbaiki posisi duduknya. Ia meraih tangan Dyana dan meremasnya lembut.
"Aku tau. Ini tidak romantis. Tapi, aku tidak bisa menunda lagi. Karena jika aku masih menunda, aku bisa mendapatkan resiko paling buruk. Resiko kehilanganmu."
Pipi Dyana memanas. Untuk sesaat ia berhenti bernapas. Mencoba menetralisir degup jantung yang ia ciptakan. Ia bisa menebak kemana arah pembicaraan Andreas.
Dan, inilah yang ia tunggu selama ini.
Andreas menghela napas pelan. "Maukah kau menikah denganku?" ucap Andreas. Dan Dyana, jantungnya semakin menggila.
Walau tidak ada cincin, bunga, atau hal romantis lainnya. Tak urung Dyana tetap mengangguk. "Iya." Tiga huruf, hanya tiga huruf, namun mampu membuat senyum seorang Andreas Alfaro terbit.
"Benarkah?" Andreas memastikan dengan perasaan bahagia yang memuncah.
"Apa masih kurang jelas tuan Alfaro?" ucap Dyana dengan suara sedingin mungkin.
Kemudian, ia tersenyum. "Inilah yang aku tunggu sejak tadi." ucap Dyana begitu bahagia.
Andreas tidak mampu menggambarkan kebahagiannya saat ini. Ia benar-benar bahagia. Selangkah lagi, ia akan menjadikan Dyana miliknya.
Tak menunggu lama. Andreas menarik Dyana ke dalam pelukannya. Tak hentinya ia mengecup lembut puncak kepala Dyana.
Masih memeluk Dyana, Andreas berkata. "Aku berjanji! Setelah Aku menjadikanmu milikku, aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia. Aku tidak akan membiarkanmu terluka, sedikitpun." Janji Andreas.
"Yah, aku memegang janjimu itu, Andreas."
Dyana menarik dirinya dari pelukan Andreas.
"Kapan aku akan bertemu calon ibu mertuaku?" tanya Dyana.
Bukankah mereka butuh restu dari Madam Laura.
"Maksudmu ibu?"
"Ya, siapa lagi."
Andreas nampak berpikir. "Boleh aku meminjam ponselmu?" tanya Andreas.
Dyana mengerutkan dahi bingung. "Untuk apa? Bukankah kau mempunyai ponsel? Atau kau sudah bangkrut sehingga ponselpun tak punya?" Dyana sedikit menggoda Andreas.
"Enak saja. Aku tidak bangkrut dan aku pastikan tidak akan pernah. Hanya saja aku lupa dimana aku meletakkan ponselku." jelas Andreas sedikit merengut karena Dyana mengatainya bangkrut.
"Dasar pelit! Setelah ini aku akan membelikanmu pulsa sebanyak yang kau mau!" ucap Andreas kemudian mulai mengutak-atik sebuah nomor.
Tersambung dan diterima. Andreas menyalakan sound panggilan agar Dyana juga dapat mendengarnya.
"Halo! Siapa ini?" Suara seorang wanita terdengar dari seberang sana.
"Ini aku ibu. Andreas." ucap Andreas.
"Ohh... ada apa?" Tanya Madam Laura.
"Ibu sekarang dimana?"
"Aku sedang di Jepang. Menikamati pemandangan gunung fuji."
Andreas memutar bola mata malas. Sudah ia duga. Awalnya ia mengira ibunya ada di Paris, seperti dua hari lalu. Tapi, sekarang sudah ada di Jepang.
"Setelah ini. Ibu mau kemana?" Andreas berniat menguji. Entah kemana lagi tujuan ibunya setelah ini.
"Ummm. Kemana yah? " Madam Laura berpikir sebentar. "Mungkin ke Italia atau Moscow. Terakhir ibu ke sana sekitar dua bulan lalu. Memangnya kenapa?"
Madam Laura heran, tidak biasanya Andreas bertanya seperti itu.
Andreas berdecak. "Tidak bisakah ibu kembali ke New York dan beristirahat saja. Ibu seharusnya ingat umur."
"Elleh... tidak biasanya kau seperhatian itu. Memangnya kenapa? Bukannya ibu sudah bilang. Kalau ibu akan kembali ke New York, jika kau sudah berhasil melamar Dyana. Dan setelah cucuku lahir. Aku akan menghabiskan waktu bermain dengannya."
Andreas ingin sekali tertawa saat ini. Ibunya belum tahu saja, jika ia sudah berhasil melamar Dyana.
"Madam, sebaiknya Madam kembali jika ingin menghadiri acara pernikahanku bersama Andreas." Kali ini Dyana yang bicara.
Madam Laura terdengar heboh di seberang sana. "Kaukah itu Dyana?" Madam Laura sedikit tak percaya.
"Iya, Madam. Ini aku. Dyana calon menantumu."
Madam Laura nyaris melompat disana. Namun, urung karena takut pinggangnya keseleo.
"Oh God! Akhirnya!" Madam Laura sangat bersyukur. "Tapi, kenapa kau mau menerimanya secepat itu. Harusnya kau menolaknya mentah-mentah dulu. Biarkan dia memohon-mohon dahulu. Biar dia tau rasa. Dan tak berlagak menjadi ******** lagi."
Dyana terkikik mendengar saran Madam Laura.
Sementara Andreas memutar bola mata malas. Ia berdecak. Kenapa ibunya malah memberi saran seperti itu. Harusnya ia mendukung Andreas sepenuhnya.
"Maaf, ibu. Harusnya aku tadi melakukannya." ucap Dyana masih tertawa kecil.
Dyana tidak menyadari jika ia memanggil Madam Laura ibu.
Untuk seperkian detik mereka diam. Hening. Tidak ada yang bersuara.
Dyana baru menyadari ucapannya. "Ma-maaf. Maksudku? Umm..." Dyana nampak ragu. "Tidak masalahkan jika aku memanggil Madam, ibu?" tanya Dyana ragu.
Andreas tersenyum tipis. Sedangkan Madam Laura tertawa disana.
"Tentu saja. Boleh. Kau tau. Sedari dulu aku sangat menginginkan anak perempuan. Agar aku bisa mendandaninya, belanja bersama, ke salon bersama, memasak dan hal lainnya. Bukan seorang anak yang berlagak sok playboy, suka ke club malam dan bersifat otoriter."
Madam Laura berniat menyindir Andreas.
"Aku masih disini dan mendengarnya, mom." ucap Andreas tak suka karena disindir seperti itu.
"Tenang saja ibu. Aku pastikan. Ia tidak akan seperti itu lagi. Aku akan mengubahnya menjadi laki-laki yang lebih lembut." ujar Dyana percaya diri.
Madam Laura tersenyum bahagia disana. "Aku percaya padamu. Sudah yah. Ibu harus bersiap-siap pulang sekarang. Tak sabar rasanya menyiapkan semua persiapan pernikahan kalian. Dan melihat kalian berdiri berdampingan di altar. Oh.. itu pasti sangat indah dan membahagiakan." Madam Laura mulai berimajinasi tentang pernikahan antara Dyana dan Andreas.
"Aku akan membuatnya seindah mungkin." ujar Madam Laura percaya diri.
"Baiklah, ibu. Aku tutup teleponnya. Kami tunggu kedatanganmu. Dah.." Dan tanpa menunggu Madam Laura bicara lagi, Andreas langsung mematikan sambungan teleponnya. Membuat Madam Laura berdecak di seberang sana.
Sementara Madam Laura buru-buru kembali ke hotel dan menyiapkan kepulangannya. Andreas kembali merengkuh Dyana ke dalam pelukannya.
"Kau dengar. Ibu akan membuat pesta pernikahan kita seindah mungkin. Aku menjadi tidak sabar." ucap Andreas. Kegembiraannya semakin bertambah.
"Kalau aku terserah saja. Bagaimanapun pestanya nanti, yang terpenting kita bersama. Kita saling memiliki." ucap Dyana lembut.
Andreas melepaskan rengkuhannya dari Dyana. Kemudian, ia mengusap perut Dyana yang mulai membuncit dengan lembut.
"Sebentar lagi. Mommy dan Daddy akan menikah. Dan kau harus datang secepatnya." ucap Andreas ke arah perut Dyana kemudian menempelkan telinganya di sana.
"Kurasa dia berkata, tentu Ayah dan katakan pada ibu jika ibu tidak boleh cerewet pada Ayah." ucap Andreas yang seolah-olah mendengar suara anak mereka dari perut Dyana.
Dyana hanya tersenyum tipis mendengarnya, ia bahagia sangat bahagia. Ia merasa kebahagiannya memang ada pada Andreas, ia yakin itu, sangat yakin.