
Malam ini begitu indah. Bintang berhamburan indah di langit, sinar bulan pun begitu terang. Seperti menggambarkan perasaan Dyana saat ini.
Mobil Jack baru saja meninggalkan pekarangan rumah Peter.
Andreas menyuruh Jack untuk mengantar Dyana pulang. Karena Julian sudah pergi setengah jam setelah ia mengantar Dyana ke rumah sakit, katanya dia ada urusan penting.
Sementara Andreas baru diperbolehkan pulang esok hari.
Dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dijelaskan. Dyana melangkahkan kaki ke lantai dua kediaman Peter.
Kalian pasti bertanya, kenapa Dyana pulang ke sini bukan ke rumahnya sendiri atau apartement Keyna. Jawabannya adalah karena Keyna menyuruhnya tinggal di sini bersamanya, paling tidak hingga hari pernikahan Keyna dan Alex dilangsungkan.
Keyna tidak mungkin menyuruh Dyana tinggal sendiri. Sementara dia harus tinggal di kediaman Peter, Paman Alex, agar mempersiapkan pernikahannya lebih mudah dan cepat.
Tentu saja, itu hanya alasan Keyna saja. Alasan sebenarnya, yang tidak Dyana ketahui adalah Peterlah yang meminta agar Dyana tinggal di sini. Agar dia bisa memantau dan menjaga Dyana, agar ia tidak terluka lagi. Karena ia sendiri belum punya cukup keberanian memberitahu fakta yang sebenarnya pada Dyana.
Dyana melewati sebuah kamar, kamar kedua setelah ia melewati tangga.
Pintu kamar tersebut terbuka sedikit, sehingga Dyana bisa mendengar suara dari dalam. Walau tidak terlalu kuat, tetapi cukup jelas.
Entah dorongan darimana, mungkin Dyana terlalu penasaran siapa sebenarnya orang yang berada di dalam dan menimbulkan suara-suara aneh tersebut. Dyana melangkah dan mendekati kamar tersebut.
Dyana semakin dekat, dan suaranya semakin jelas.
Dyana mengintip dari sela pintu yang terbuka. Alangkah terkejutnya Dyana saat melihat apa yang dikerjakan orang yang berada di dalam sana.
Julian bersama wanita muda itu, kalau tidak salah namanya Marry, sedang bercumbu mesra di dalam.
Julian menjelajah leher jenjang Marry. Sementara tangannya menelusup ke balik blus yang Marry gunakan.
Mungkin karena terlalu kaget, Dyana tak sengaja menyentak pintu, mengakibatkan suara gedebum terdengar dan pintu yang terbuka lebar.
Julian dan Marry menatap horor ke arah Dyana. Wajah mereka memerah karena malu. Buru-buru mereka memperbaiki pakaian mereka yang telah kusut.
Dyana hendak berpaling dan pergi. Ia sendiri merasa malu karena telah menonton mereka secara diam-diam.
Namun, ia tidak sanggup melangkah. Seperti ada lem yang merekat di sepatu yang ia pakai. Membuat ia tidak bisa melangkah barang sesentipun.
Marry dan Julian sudah berada tepat di depan Dyana.
Terlihat Marry yang ingin menjelaskan, namun urung ia lakukan.
"Be-gini. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Julian gugup menahan malu.
"Memangnya apa yang aku pikirkan? A-aku tidak memikirkan apa-apa." elak Dyana. Sebenarnya di dalam pikirannya sudah terisi berbagai prasangka.
"Begini sebenarnya kami..." Marry ingin menjelaskan namun tidak jadi karena Julian lebih dulu bicara.
"Kami sudah menikah!"
Pernyataan Julian yang sontak membuat Dyana menganga karena kaget.
"Ma-maksudmu... kalian, me-nikah." ucap Dyana gugup karena terkejut. Ia menunjuk Julian dan Marry tak percaya.
"Iya. Kami sudah menikah sebulan yang lalu. Memang bukan pernikahan yang besar, hanya dihadiri keluarga terdekat saja." ungkap Julian.
Dyana mengerjab tak percaya.
"Bagaimana bisa? Mak-maksudku bagaimana kalian bertemu dan sepakat untuk menikah?" Bukannya Dyana penasaran, tapi ia tidak menyangka saja, kalau Julian sudah menikah dengan wanita ini. Secepat itu.
Pantas saja Julian memanggil tuan Peter Ayah. Marry adalah keponakan yang sudah dianggap Putri sendiri oleh tuan Peter dan istrinya.
"Ceritanya panjang. Tidak bisa aku jelaskan. Intinya kami sudah menikah dan perbuatan kami tadi adalah perbuatan yang wajar dilakukan oleh pasangan suami istri. Jadi, kuharap kau tidak berpikiran macam-macam lagi." ujar Julian ke arah Dyana.
"Benar, Dyana. Ku harap kamu tidak syok mendengarnya karena dari yang ku tau kau adalah mantan kekasih Julian." ucap Marry. Bukannya Marry marah atau tidak suka pada Dyana. Ia hanya sekadar memberitahu.
"Ohh... tidak masalah. Itu hak kalian untuk menikah dan melakukan apapun. Bukan urusanku juga. Sekarang aku pamit dulu. Aku ingin menemui Keyna." ucap Dyana menutupi rasa malu dan terkejut yang datang bersamaan.
Ia memilih pergi menemui Keyna. Sementara Julian dan Marry kembali masuk ke dalam kamar. Kali ini mereka mengunci pintu.
"Jadi, itu maksudnya urusan penting!" cibir Dyana dalam hati.
Yang membuat Dyana belum mengerti. Kapan dan bagaimana mereka bertemu. Tapi, bisa saja Julian dan Marry sudah mengenal lama. Lagi pula, bukan urusannya lagi bukan.
Kemudian, ia memasuki kamar Keyna. Memberitahu rencana pernikahannya bersama Andreas.
******
Di ruangan yang cukup besar. Seorang pria tengah duduk termenung di kursi kerjanya. Ia sedang memikirkan sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya selama dua puluh lima tahun terakhir.
Dia adalah Peter Markuen. Seorang pembisnis besar yang memiliki puluhan anak perusahaan di seluruh dunia.
Ia memang hebat di mata dunia. Tapi, sebenarnya ia adalah seorang pengecut yang bahkan tidak berani mengungkapkan fakta kepada Putrinya sendiri.
Ia takut, jika ia mengatakannya luka itu akan kembali timbul. Bukan hanya padanya, juga pada orang-orang di sekitarnya. Luka itu memang sudah lama ada, tapi sampai sekarang belum dapat terobati.
Ia menatap kalender yang terletak di atas meja kerja. Dua minggu lagi pernikahan Dyana-- putrinya dan Andreas akan digelar bersamaan dengan pernikahan Keyna dan Alex.
Tapi, sedikitpun fakta belum ia beritahu pada Dyana. Ia bimbang dan takut. Ia sangat ingin menjadi wali dan mengantar Dyana menuju altar, tapi bagaimana itu bisa terjadi sedangkan ia belum mengatakan apapun pada Dyana.
Peter menghempas kasar semua barang-barang yang ada di atas meja. Sehingga semua benda yang ada jatuh ke bawah.
Ia menjambak rambutnya frustasi.
Seandainya dulu ia bisa lebih tegas. Semua ini tidak akan terjadi. Kekacauan ini tidak akan terjadi.
Jika saja, ia mengambil tindakan yang tepat. Mungkin saat ini ia sudah sangat bahagia bersama Melody dan anak-anaknya, Dyana.
Lagi-lagi ia hanya bisa menyesal dan menyalahkan keadaan.
Baiklah, sekarang ia harus bergerak cepat. Ia tidak boleh menunda waktu lagi. Dyana harus mendengar fakta dari dirinya, sebelum orang lain.
******
"Bagaimana jika ini?"
Sudah sejak sejam yang lalu Dyana dan Andreas berada di butik untuk menentukan gaun pernikahan. Namun, selama itu belum ada yang cocok.
Kemudian, Andreas mengambil salah satu gaun yang ada di tangan pegawai butik.
"Ini lebih bagus. Elegan dan tidak terlalu terbuka." ucap Andreas seraya memberikan gaun itu pada Dyana.
"Baiklah, akan aku coba."
Dyana kembali ke ruang ganti untuk mencoba gaun tersebut.
Tak lama ia keluar. Mata Andreas tak mampu berkedip selama beberapa detik saat melihat penampilan Dyana.
"Kenapa? Apa yang ini juga tidak bagus?" tanya Dyana. Ia berniat mencoba gaun yang lain lagi.
Namun, dengan cepat Andreas mencegahnya.
"Tidak, tidak. Yang ini sangat cocok padamu." ujar Andreas. "Kau sangat cantik." puji Andreas kepada Dyana.
Dyana tersenyum manis mendengar ucapan Andreas.
"Kau bisa saja." ucapnya malu-malu. "Jadi kita ambil yang ini?" tanya Dyana. Andreas mengangguk setuju.
******
Dyana berniat ke rumah lama mereka sebelum kembali ke kediaman Peter. Ia ingin mengambil beberapa barang peninggalan Ayahnya di sana.
Namun, baru saja ia ingin membuka pintu. Seseorang memanggil namanya dari belakang. Membuat Dyana spontan berbalik.
"Calvin?" ucap Dyana memastikan.
Orang yang memanggil Dyana itu adalah Calvin. Pria itu memakai pakaian kasual, membuatnya nampak lebih keren dan tampan.
"Iya, ini aku." ucap Calvin. Ia sudah berdiri tepat di hadapan Dyana. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Calvin.
Dyana mengangguk canggung. Ia benar-benar lupa soal Calvin. Maksudnya bukan lupa pada orangnya. Lebih tepatnya pada perasaan Calvin padanya dan soal jawaban lamarannya waktu itu.
"Ayo. Mari masuk." ajak Dyana mempersilahkan Calvin masuk ke dalam rumah setelah pintunya terbuka.
"Maaf. Rumahnya mungkin tidak terlalu bersih karena sudah lumayan lama tidak ditempati." ucap Dyana masih dengan nada canggung.
Calvin hanya mengangguk memaklumi. Kemudian, ia duduk di sofa ruang tamu.
"Tunggu sebentar. Biar aku buatkan minum untukmu." Entah mengapa, tapi suasana disini benar-benar canggung.
Dyana hendak pergi menuju dapur. Namun, tidak jadi karena Calvin mencegahnya.
"Tidak perlu. Aku hanya mampir sebentar. Ada yang ingin aku katakan padamu." ucap Calvin. Nada suaranya tidak seperti biasanya.
Dyana menarik napas sebentar. Kemudian ia duduk tepat di depan Calvin.
"Baiklah. Apa yang ingin kamu katakan?"
Dyana benar-benar merasa bersalah. Entah hanya perasaannya saja, tapi sorot mata Calvin menyiratkan luka.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena aku tidak bisa menghadiri pemakaman Paman Harry waktu itu. Aku sangat sibuk. Restoranku yang berada di London benar-benar sedang bermasalah." ungkap Calvin.
Dyana mengangguk, "Tidak masalah Calvin. Mau bagaimana lagi?" Dyana memaklumi.
Untuk sesaat hanya dentingan jam yang terdengar.
Calvin sedikit menunduk. Entah apa yang berusaha ia tutupi dari Dyana.
"Apa benar kau akan menikah dengan Andreas?" tanya Calvin setelah memantapkan hatinya.
Dyana diam beberapa saat. Apa yang harus ia katakan agar Calvin tidak terluka.
"Maaf, Calvin. Itu benar." ungkap Dyana jujur.
Nampak Calvin menghela napas dalam.
"Lagi-lagi aku terlambat." gumamnya pelan sehingga Dyana tak mampu mendengar.
"Untuk pertanyaanmu waktu itu. Ka-kamu sudah tau jawabannya?" tanya Dyana sebisa mungkin membuat Calvin tidak merasa tersinggung dan lebih terluka lagi.
Raut wajah Dyana diliputi rasa bersalah.
"Aku tahu dan aku tidak merasa keberatan. Itu hakmu. Kau berhak memilih dan bahagia." Calvin tersenyum. Namun, tidak setulus biasanya.
"Maaf Calvin." Hanya itu yang mampu Dyana ucapakan.
Dengan senyum yang dipaksa dan wajah yang dibuat setegar mungkin, Calvin berkata, "Jangan merasa bersalah seperti itu. Kau tidak salah. Kau berhak bahagia. Bukankah kau bahagia?"
Mendengar itu Dyana mengangguk dan tersenyum tipis.
"Itu sudah cukup bagiku." ucap Calvin.
Dyana lega. Walau ia masih sedikit merasa bersalah, namun apa lagi yang bisa ia lakukan. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah mendoakan Calvin agar ia mendapat yang lebih baik.
"Kuharap kau mendapat yang lebih baik, Cal. Dan itu pasti." ucap Dyana tulus.
Calvin tersenyum. Ia benar-benar harus mengikhlaskan Dyana bahagia bersama orang lain.
"Tentu saja." ucap Calvin.
"Kau akan datang ke acara pernikahankukan?" tanya Dyana.
"Pasti."
Mereka sama-sama tersenyum dan tertawa kecil.
"Baiklah. Nyonya Alfaro. Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik." Calvin berdiri kemudian ia mengacak rambut Dyana pelan.
"Tentu. Kau juga jaga dirimu baik-baik, Cal." ucap Dyana.
Untuk sesaat Calvin menatap Dyana lebih lama. Kemudian ia mengangguk dan melangkah pergi.