
Pagi hari. Mentari nampak bersinar cerah. Namun, Dyana masih enggan meninggalkan alam mimpinya.
Kalau saja Keyna tidak datang membangunkan, pasti Dyana tidak akan bangun sampai siang menjelang.
"Hei! Pemalas bangun!" ucap Keyna sembari menyibakkan gorden yang ada di kamar itu. Membuat sinar mentari bebas masuk ke dalam kamar dan tepat mengenai wajah Dyana.
Mata Dyana nampak mengerjab.
Perlahan matanya terbuka. Ia duduk, kemudian menguap. Ia masih belum sadar sepenuhnya.
"Ayo bangun!" ucap Keyna lagi melihat Dyana yang hendak menutup matanya lagi.
"Dyana!" Kali ini Keyna bicara dengan nada keras. Membuat Dyana terkejut dan membuka sempurna matanya.
"Iya.. iya." Dyana bangkit. Ia mengangkat kedua tanyannya ke atas guna meregangkan otot-ototnya. Namun, tak jadi. Karena belum sempat tangannya lurus ke atas, rasa sakit menyerang terlebih dahulu. Membuat wanita hamil itu meringis.
Keyna memeriksa tangan Dyana.
"Apa masih sakit?" tanyanya khawatir.
Dyana menggeleng. "Tidak terlalu. Sudah lebih baik."
Keyna mengangguk mengerti. "Sebentar lagi juga sembuh." ucapnya.
"Sekarang mandi dan bersiap-siap. Semua orang sudah menunggumu untuk sarapan bersama." ucapnya lagi.
Mata Dyana terbelalak, bingung.
"Semua orang?" tanyanya.
"Seberapa banyak orang yang tinggal di sini dan siapa saja mereka?" tanya Dyana lagi.
Keyna hanya tersenyum tipis. "Nanti juga kau tau. Sekarang mandi dan siap-siap."
Dyana mendengus. Selalu begitu jawaban Keyna. "Baiklah. Baiklah."
Keyna memberikan sebuah handuk pada Dyana.
"Hati-hati saat mandi. Sebisa mungkin, hindari lukamu dari air."
Dyana mengangguk mengerti. Walau tahu pasti ia akan sangat kesulitan nantinya.
Tapi, apa di sini ada pakaian untuknya?
"Semua pakaian dan perlengkapan wanita lainnya sudah ada di dalam lemari. Beserta bedak dan alat make up lainnya juga ada di meja rias." jelas Keyna seolah tahu apa yang ada di pikiran Dyana. Walau untuk Make Up, Keyna sendiri tidak yakin Dyana mau memakainya. Dyana memang sedikit tomboy dan kurang feminim. Memakai heels saja tidak bisa.
"Baiklah aku mengerti. Kau pergi saja sekarang." usir Dyana.
Merasa diusir. Keyna memandang Dyana kesal. Namun, tak urung ia tetap pergi membiarkan Dyana sendiri dan masuk ke dalam kamar mandi.
*******
Dyana turun perlahan. Ia gugup. Tentu saja. Keyna mengatakan mereka akan sarapan. Sarapan bersama orang-orang yang sama sekali belum Dyana kenal.
Apakah mereka semua baik?
Dyana takut, bagaimana jika nanti mereka tidak menyukainya? Dan lagi, apakah mereka akan berselera makan jika ada dirinya?
"Hey... nona! Bisa tidak kau mempercepat langkahmu. Semua orang sudah kelaparan menunggumu!" ucap Keyna dari bawah.
"Iya.. iya.. tapi kenapa harus menungguku? Kaliankan bisa langsung makan."
Keyna berdecak, "Kau terlalu banyak bertanya akhir-akhir ini." ucap Keyna. Dyana sudah berdiri tepat di hadapannya.
Kemudian, tanpa menunggu Dyana bicara lagi, Keyna langsung membawa Dyana menuju ke sebuah ruang makan.
Dyana menganga takjub, meja makannya sangat besar berwarna coklat keemasan. Kursi-kursi berjajar rapi, mungkin meja makan ini bisa memuat tiga puluh orang.
Dyana menatap orang-orang yang duduk di sana. Selain Keyna ada enam orang lagi di sana. Satu pria paruh baya yang duduk di kursi paling ujung. Satu wanita tua —wanita itu sedang menatap Dyana tajam sekarang, ada Alexa, Julian dan ada dua orang wanita cantik.
Kenapa Julian masih ada di sini?
Mendengar suara Keyna. Spontan seluruh mata di meja makan itu tertuju pada mereka.
"Baiklah."
Dengan langkah pelan nan ragu, Dyana berjalan menuju meja makan. Selama ia berjalan semua mata masih tertuju padanya. Dan itu benar-benar membuatnya gugup.
"Ayo duduk!" ucap Keyna yang sudah menarik kursi untuk Dyana.
Dyana duduk dengan canggung. Dia melempar senyuman tipis ke arah wanita muda yang duduk di sebelahnya. Wanita itu hanya diam, tidak membalas senyuman Dyana.
Kemudian, Keyna berjalan ke arah Alex. Dia duduk di samping pria itu. Persis di depan Dyana.
Setelah semua duduk. Suasana mendadak hening dan canggung. Benar-benar suasana yang paling tidak mengenakkan hati Dyana.
"Semua sudah lengkap, sekarang mari kita makan." ucap Pria paruh baya itu, memecah keheningan.
Para pelayan yang sudah bersiap-siap di posisi masing-masing sejak tadi mulai bekerja. Mereka menyendokkan hidangan mewah tersebut ke masing-masing anggota keluarga.
Dyana hanya tersenyum canggung kepada pelayan yang baru saja menyiapkan makanan untuknya.
"Dyana! Ayo makan! Kenapa diam saja! Tidak sopan membiarkan makanan seperti itu, sementara yang lainnya sudah makan." Keyna berbisik ke arah Dyana.
Dyana menyendokkan makanan ke mulutnya perlahan. Pelan-pelan, tak berniat mengeluarkan suara sedikit pun.
Mereka semua makan dengan hening. Namun, entah hanya perasaan Dyana saja. Aura di sini sangat berbeda. Begitu mencekam.
Selesai makan. Beberapa anggota keluarga hendak beranjak pergi. Mereka, antara lain, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu dan wanita tua yang wajahnya terlihat tegas itu.
Namun, dehaman pria paruh baya itu menghentikan niat mereka. Pria paruh baya itu memberi kode agar mereka kembali duduk.
Para pelayan sudah membereskan meja makan dengan cepat. Mereka mampu melakukannya tanpa mengenai kotoran sedikit pun kepada orang-orang yang masih duduk di sana.
"Dyana?" panggil Peter lembut. Pria itu menatap Dyana sayu. Tatapan yang begitu meneduhkan.
Dyana menoleh ke asal suara itu, pria itu memanggilnya.
"Ada apa, P-pak?" tanya Dyana canggung namun mencoba sesopan mungkin.
Fix, sekarang semua perhatian tertuju pada Dyana. Apa yang akan dikatakan pria ini?
"Saya ingin mengatakan kalau..." pria itu nampak berpikir. Antara melanjutkan untuk mengatakan kebenaran ini, atau menunggu waktu yang tepat.
"Kalau?" ulang Dyana menunggu ucapan Peter selanjutnya.
"Kalau.. ada seseorang yang menunggu dan ingin bertemu denganmu." ucap Peter pada akhirnya. Semua orang kecuali Dyana terkejut.
Peter menghela napas, tidak, ini bukan saat yang tepat mengatakan segalanya pada Dyana. Bagaimana jika nanti Dyana malah membencinya? Ini masih terlalu cepat dan mereka baru bertemu sekali ini. Dia harus melakukan pendekatan terlebih dahulu. Sedikit demi sedikit sampai semuanya membaik.
Padahal Peter sudah sangat merindukan putri satu-satunya itu. Putri yang sebelumnya belum pernah ia lihat sejak lahir. Putrinya, dari wanita yang amat ia cintai, Melody.
"Maksud bapak? Siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Dyana belum mengerti.
"Seseorang. Ia sudah menunggumu, sejak lama." ucap Pria itu penuh teka-teki.
"Iya, tapi siapa pak." tanya Dyana tak sabar, namun masih berusaha sesopan mungkin.
Peter mengulas senyum tipis. Tanpa menjawab pertanyaan Dyana, ia malah berkata, "Julian! Tolong antarkan Dyana ke tempat orang itu."
Julian mengangguk, "Tentu saja, Ayah." ucapnya.
Ayah? Apa pria ini Ayah Julian?
Tidak, pria ini tidak mungkin Ayah Julian. Julian pernah mengenalkan orang tuanya pada Dyana. Namun, bukan orang ini.
Kenapa semakin banyak teka-teki?
*****