I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 36



Happy reading....


----------


"Jadi... ayo kita menikah." ucap Andreas tiba-tiba.


Mulut Dyana menganganga. Matanya mengerjab. Apa pria ini baru saja melamarnya?


Hening beberapa saat. Dyana mematung. Ucapan Andreas sangat tiba-tiba. Dyana belum siap mental.


Dyana berdeham untuk memecah keheningan yang terjadi. Dyana buru-buru melepaskan tangan Andreas dari tangannya.


"Maaf.." ucap Dyana. Dia sedikit menunduk. "Aku belum bisa."


"Mengapa? Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Andreas yang terlihat kecewa. Dia menatap sayu ke arah Dyana yang sedikit menunduk.


"Bukankah kau bilang kau mencintaiku?"


Dyana diam. Dia sendiri masih bingung kenapa ia menjawab 'ya' saat Andreas bertanya apakah dia mencintai pria itu.


"Jadi... kau menolakku?" Andreas semakin kecewa melihat Dyana yang hanya tertunduk diam.


"Walau ini demi anak kita? Apa kau tidak ingin anak kita lahir dengan orang tua kandung yang lengkap?"


Kali ini Dyana mengangkat wajahnya. Dia menatap lurus ke wajah Andreas.


"Bukan seperti itu." ucap Dyana pelan.


"Lalu apa masalahnya? Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan membahagiakanmu dan anak kita." Andreas berkata lembut namun tegas.


Entah mengapa Dyana ingin menangis saat ini. Mungkin karena hamil, emosinya jadi tidak stabil.


"Apa kau pikir semuanya mudah, huh?!"


"Apa kau pikir semua kesalahan dan perlakuan burukmu waktu itu bisa terlupakan semudah itu!?"


"Ok! Aku akui aku memang mencintaimu! Ya, aku jatuh cinta padamu! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu! Kepada pria brengsek sepertimu!?" Dyana menghela napas. Ucapannya terjeda sesaat.


"Bukannya aku menolak. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa." lanjut Dyana. Suaranya memelan. "Semuanya masih terasa berat untukku. Aku butuh waktu."


Andreas diam. Memikirkan semua ucapan Dyana barusan. Dyana benar. Dia butuh waktu. Sungguh egois jika Andreas memaksakan kehendaknya untuk saat ini.


"Baiklah. Aku beri kau waktu untuk berpikir. Tapi, aku berharap di waktu kau menjawab pertanyaanku kau menerima dan tidak akan menolak." ucap Andreas lembut setelah berpikir.


Andreas berdiri. Pria itu menghampiri Dyana yang masih terduduk. Dia meraih tangan Dyana lembut. Membantu wanita itu berdiri.


"Aku akan mengantarmu pulang. Udara malam tidak bagus untukmu." ucap Andreas. Pria itu berjalan di sisi Dyana. Mereka berjalan beriringan meninggalkan rooftop restoran.


Andreas membukakan pintu mobil untuk Dyana. Dyana masuk tanpa banyak bersuara.


Selama di perjalanan hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Baik Dyana atau Andreas tidak ada yang membuka suara.


*****


Dyana memasuki pelataran cafenya. Malam hari begini pengunjung memang lebih ramai dibandingkan siang hari.


Ucapan Andreas sebelum ia turun tadi cukup mengguncang hati Dyana. Pria itu mengatakan, jika ia akan kembali ke New York besok karena ada pekerjaan yang sangat penting yang tidak bisa lagi untuk ia tinggalkan. Tapi, Andreas berjanji akan kembali secepatnya. Dia akan menjemput Dyana dan menagih jawaban wanita itu.


Entah mengapa Dyana merasa berat saat Andreas mengatakan akan pergi. Padahal mereka belum lama bertemu lagi.


Suara dehaman seseorang mengagetkan Dyana saat wanita itu memasuki ruang tamu. Di sana Calvin duduk di sofa. Kemudian pria itu berdiri dan menghampiri Dyana.


"Darimana?" tanya Calvin tanpa basa-basi. Dari nada suaranya saja Dyana tahu jika pria itu sedang menahan amarah.


Haruskah ia jujur? Apa Calvin tidak akan marah jika Dyana mengatakan ia habis makan malam bersama Andreas.


"Dari..." Dyana ragu untuk menjawab, tapi ia tidak bisa berbohong pada Calvin yang notabenenya sahabat yang selalu membantunya. "...makan malam bersama Andreas." ucap Dyana jujur pada akhirnya.


Calvin nampak mengepal kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Pertanda ia sedang menahan amarah. Sebenarnya Calvin sudah sangat panas saat ini. Mengetahui Dyana pergi dengan Andreas sudah cukup membuat emosi Calvin memuncak. Namun, sebisa mungkin ia tidak akan menunjukkan kemarahannya di depan Dyana.


Dengan kemarahan yang ia tekan sebisa mungkin. Calvin mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kembali. Seolah ia tidak terpengaruh. Dengan senyum yang dipaksakan Calvin memegang tangan Dyana lembut.


"Apa kau tidak apa-apa? Dia tidak menyakitimu, kan?" tanya Calvin khawatir.


Dyana menggeleng. Dia lega Calvin tidak marah. Atau sebenarnya dia marah tapi dia mencoba menahannya. Dyana tahu bahwa Calvin adalah seseorang yang sangat pandai menekan emosi.


"Tidak. Dia tidak menyakitiku. Dia hanya ingin memastikan anaknya baik-baik saja."


Calvin lega mendengar Dyana baik-baik saja. Namun, ada ketidakrelaan yang tiba-tiba menyusup ke dalam hati Calvin melihat Dyana tidak takut dan mulai terbuka pada Andreas. Dia merasa terancam.


"Bagus kalau begitu." gumam Calvin pelan.


"Oh ya Cal, kau ingin minum apa? Atau kau lapar aku akan menyiapkan sesuatu untukmu."


Dyana hendak berjalan menuju dapur. Namun, Calvin meraih tangannya. Mencegah Dyana pergi.


"Tidak perlu." tolak Calvin. "Sebenarnya aku buru-buru. Aku datang hanya untuk pamit. Besok aku akan kembali ke New York. Ada pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggalkan." ucap Calvin.


Sebenarnya Dyana ingin tertawa. Kenapa Calvin sama seperti Andreas? Kembali ke New York besok karena ada pekerjaan penting.


"Tapi, aku berjanji akan menemui mu secepatnya." ucap Calvin lagi.


Tukan sama. Dyana benar-benar ingin tertawa sekarang.


Calvin mengernyit melihat Dyana. Wanita itu senyum-senyum tak jelas seperti menahan tawa.


"Apa ada yang lucu?" tanya Calvin tidak menyembunyikan keheranannya.


Dyana berdeham untuk menghilangkan senyumnya. Dia mengubah ekspresinya kembali biasa. "Tidak ada."


Calvin tidak bertanya lagi.


"Kau tidak perlu mengantarku besok. Karena pesawatnya berangkat pagi-pagi sekali."


Dyana mengangguk, tidak keberatan.


"Kau tidak masalah jika aku tidak ada?" tanya Calvin sedikit khawatir.


Dyana tertawa hambar.


"Aku bukan anak kecil lagi, Calvin. Lagipula dua minggu lagi aku akan ke New York menghadiri pernikahan Keyna dan Alex."


"Baiklah aku pamit. Kau istirahatlah. Jangan terlalu lelah dan jaga kesehatan." ucap Calvin menasehati Dyana.


"Kau tidak perlu menghawatirkanku." ucap Dyana.


Kemudian ia mengantar Calvin ke luar. Setelah mobil pria itu pergi barulah Dyana berpamitan kepada rekan-rekannya untuk istirahat lebih dulu. Karena saat ini ia benar-benar lelah.


*****


Dyana membuka mata saat alarm ponsel berbunyi. Tepat pukul enam. Dyana bangun dan memeriksa notifikasi di ponsel.


Ada enam pesan dan dua belas panggilan tak terjawab.


Dyana membukanya. Ternya dua panggilan dari Calvin dan sepuluh panggilan dari Andreas.


Tunggu! dari Andreas? Darimana pria itu mengetahui nomor Dyana? Dan kenapa ada nomor Andreas di hpnya?


Dyana benar-benar bingung. Dyana yakin ini ulah Andreas sendiri.


Dyana beralih membuka pesan. Enam pesan dari dua orang yang berbeda.


Satu pesan dari Calvin dan lima pesan dari Andreas.


Kenapa pesan dan panggilan Andreas selalu lebih banyak?


Dyana memutuskan untuk membuka pesan dari Calvin terlebih dahulu.


*From. CalCrazy


Kau sudah tidur yah? Aku hanya mau bilang kalau pesawatnya akan segera berangkat.


Jaga dirimu. Aku akan merindukanmu. 04.25am*


Owh..oowhh. Dyana lupa mengubah nama Calvin. Ah, tidak masalah. Lagi pula Calvin tidak akan marah hanya karena itu.


Dyana yakin Calvin belum sampai dan masih di dalam pesawat. Tapi, Dyana tetap membalas. Nanti kalau sudah sampai Calvin pasti membacanya.


*To. CalCrazy


Aku harap kau sampai dengan selamat.


Kalau sudah sampai jangan lupa beritahu aku. 06.05am*


Dyana menekan send. Kemudian ia beralih membuka pesan-pesan dari Andreas. Dyana sendiri penasaran apa pesan dari pria itu.


Kenapa Dyana jadi salting sendiri hanya karena ingin membuka pesan dari Andreas. Jantungnya berdebar begitu saja.


*From. Andreas


Kenapa tidak menjawab teleponku? 04.20am


Aku lupa kau pasti masih tidur. 04.20am


Pesawat akan segera berangkat. Kau tidak perlu khawatir aku akan selamat sampai tujuan. 04.22am


Jaga dirimu dan anak kita. Aku akan merindukan kalian. 04.22am.


Jangan dekat-dekat pria lain. Dan jangan lupa untuk merindukanku juga. 04.24am*.


Dyana mengembuskan napas agak keras setelah membaca pesan dari Andreas. Dia melihat jam pesan terkirim. Hampir bersamaan dengan pesan yang dikirim Calvin.


Apa mereka satu pesawat?


*To. Andreas


Oh, oke. 06.08am*


Hanya itu balasan dari Dyana. Lagi pula apa yang harus ia ketik untuk menjawab semua pesan pria itu?


Dyana merasa haus. Persediaan air minum di kamarnya telah habis. Dia memutuskan turun dan mengambil air di dapur setelah ia meletakkan ponselnya di atas nakas.


Dyana memperlambat langkahnya saat ia sudah mendekati dapur. Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang sedang berbincang-bincang di dalam dapur.


Dyana menghentikan langkahnya saat ia sampai di bingkai pintu dapur. Bukannya ia kepo atau bagaimana. Tapi, ia penasaran apa yang sedang diperbincangkan Hana dan Layla di dalam sana.


"Kau menyukai Calvin. Layla apa kau sadar?" tanya Hana yang terkejut setelah mendengar pengakuan Layla.


Layla nampak lesu tak bersemangat.


"Iya. Aku sendiri bingung kapan dan bagaimana perasaan itu datang. Tiba-tiba ia hadir begitu saja."


Dyana hanya diam mendengarkan mereka. Ia cukup terkejut mendengar pengakuan Layla. Tapi, Dyana tidak merasa cemburu atau apapun. Dia malah senang mendengar pengakuan Layla yang terkesan tulus.


Tiba-tiba Hana melihat keberadaan Dyana. Dia buru-buru berdeham untuk menyadarkan Layla akan keberadaan Dyana.


Layla melihat Dyana. Sama seperti Hana, Layla terlihat cemas. Dia takut Dyana marah. Dari yang mereka tahu Calvin menyukai Dyana dan ingin menikahinya.


Namun, reaksi Dyana jauh dari perkiraan mereka. Dyana terlihat tidak marah dan cenderung santai.


Dyana memasuki dapur dengan ekspresi biasa saja. Seolah ia tidak mendengar apapun.


Dengan tenang Dyana menuangkan air minum ke dalam gelas. Lalu meminumnya dengan santai. Setelah itu ia berjalan ke arah Layla. Dia tersenyum.


"Tidak salah kau mencintai seseorang. Itu hakmu."


"Berusahalah. Jika berjodoh kalian pasti bisa bersama." ucap Dyana kemudian tersenyum. Kemudian ia pergi setelah menepuk pundak Layla pelan sebanyak dua kali. Memberi tanda jika ia mendukung gadis itu.


*****