I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 27



Menghela napas lega saat Dyana beserta ketiga rekannya sudah menyelesaikan pekerjaan.


Hari ini adalah hari di mana toko dan cafe baru mereka resmi dibuka. Mereka hanya perlu menunggu pelanggan pertama datang.


Mereka berempat berbagi tugas. Dyana dan Hana bertugas di toko bunga sedangkan Layla dan Desi bertugas di cafe. Walau nanti bisa saja mereka bertukar-tukar posisi.


Suara seseorang menghentikan pekerjaan Dyana yang sedang sibuk merangkai bunga mawar. Seorang ibu paruh baya menghampirinya dengan senyuman.


"Wah! Bunga di sini sangat bagus dan terawat." ucap ibu itu seraya melihat-lihat sekumpulan bunga lili yang tersusun rapi di rak.


Dyana tersenyum ramah.


Ini adalah pelanggan pertamnya di toko bunga. Sementara di cafe juga baru saja dimasuki sepasang muda-mudi.


"Apa ada yang bisa kami bantu, nyonya?"


Wanita itu berbalik menghadap Dyana.


Dyana meneliti penampilan sang ibu. Walau sudah terlihat tidak muda lagi, tetapi wajahnya masih terlihat cantik dan penampilannya masih seperti anak remaja.


"Tentu, apa kalian menyediakan bunga mawar putih?"


Dyana mengangguk. "Tentu, nyonya. Ada di sebelah sana, mari saya tunjukkan." ucap Dyana ramah dan menuntun pelanggan itu ke rak yang terdapat bunga mawar berbagai macam warna.


Wanita itu memandang bunga-bunga itu dengan mata berbinar. Dia memang sangat menyukai tanaman, terutama bunga mawar.


"Wah.. bisakah kau membuat sebuket untukku?" pintanya tanpa mengalihkan pandangan dari berbagai macam bunga mawar itu.


"Tentu. Nyonya bisa menunggu di sana" Dyana menunjuk sebuah kursi panjang yang memang disediakan untuk tamu.


Dyana mulai merangkai setangkai demi setangkai mawar putih.


Sementara wanita tadi lebih memilih menuju cafe dan memesan segelas coklat dingin dan sepotong cake coklat sambil menunggu buket bunganya selesai. Selain menyukai bunga ternyata dia juga sangat menyukai coklat.


Hari ini cuaca memang lumayan panas.


Dyana sudah menyelesaikan pesanan ibu tadi dan hendak mengahampirinya. Namun, Dyana tidak menemukan wanita tadi di kursi panjang yang ia tunjukkan.


Dyana mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tersenyum melihat ibu tadi sedang duduk di salah satu meja di cafenya dengan segelas coklat di depan.


"Ini nyonya. Bunga anda sudah selesai." Dyana menyodorkan bunga tersebut kepada wanita itu.


"Wah.. sangat indah. Apa kau sendiri yang merangkai nya?" Dia menerima buket bunga itu dengan wajah berbinar.


"Tentu. Apa nyonya menyukainya?"


Wanita itu mengangguk. "Kau sangat berbakat. Dan ini, apa cake ini kau juga yang membuatnya?" tanya wanita itu sembari menunjuk sepotong cake coklat yang tinggal tersisa setengah.


"Iya. Tapi, aku juga dibantu oleh rekan-rekanku, Nyonya."


"Madam Laura!" Dyana mengernyit.


"Kau bisa memanggilku madam Laura dan kau.. siapa nama mu?"


"Dyana, nyonya eh Madam Laura."


Wanita bernama madam Laura itu menggangguk.


"Dyana? Nama yang bagus sesuai dengan orangnya yang cantik."


Dyana tersipu mendengar pujian wanita itu.


"Sepertinya aku akan sering mampir ke tempatmu ini selama aku di Bali."


"Benarkah?" Dyana tersenyum.


"Iya. Di sini sangat menyenangkan dan menyediakan banyak hal yang aku sukai."


"Wah.. senang mendengar madam menyukai tempatku ini."


"Kalau boleh tahu, Madam berasal dari negara mana?" Dyana bertanya dengan nada sedikit ragu. Dia penasaran karena madam Laura jelas bukan orang Indonesia, karena rambutnya pirang, matanya berwarna biru dan kulitnya yang putih terawat.


"Amerika. Tapi, aku lebih suka traveling keliling dunia." Dari ucapannya tersirat sesuatu yang tidak mengenakkan.


"Kenapa? Bukankah Amerika itu tempat yang menyenangkan." Sebenarnya Dyana tidak ingin bertanya lagi. Tapi, entah mengapa dia merasa sangat ingin tahu mengenai madam Laura. Seperti ada magnet yang menarik Dyana untuk terus bertanya.


"Memang. Tapi, aku merasa tidak ada hal yang menarik lagi di sana. Lagi pula di sana aku kesepian. Suamiku sudah meninggal dan Putraku satu-satunya malah sibuk bekerja dan mengacuhkan ku." Suaranya terdengar lirih. Dyana menjadi merasa bersalah karena bertanya.


"Maaf, karena pertanyaanku membuat madam Laura mengingat sesuatu yang tidak mengenakkan."


Madam Laura tersenyum seakan-akan dia tidak memiliki masalah apa pun. "Tidak masalah. Aku sudah terbiasa." Dia tertawa kecil.


Madam Laura berdiri. "Sepertinya aku harus pergi sekarang. Masih ada tempat yang harus aku kunjungi."


Setelah membayar, Madam Laura berjalan pergi. Tapi, dia menoleh lagi.


"Oh iya, Dyana. Besok pasti aku berkunjung lagi." ucapnya sebelum kembali melangkah pergi.


Dyana mengangguk dan tersenyum. Pelanggan pertama yang menyenangkan.


Dyana melihat uang yang diberikan madam Laura, ternyata dia memberi uang lebih yang lumayan banyak.


Dan Dyana merasa ada yang mengganjal di hatinya, setiap melihat madam Laura tersenyum entah mengapa hal itu mengingatkan Dyana pada seseorang yang tidak ingin dia temui lagi seumur hidupnya... Andreas!


*****


Tiba-tiba suara bel berbunyi. Dyana berdiri hendak membuka pintu tapi Layla menahannya.


"Biar aku saja, Dyana. Kau pasti sangat lelah." ucap Layla yang langsung berjalan menuju pintu.


Dyana kembali duduk. Layla memang gadis yang sangat rajin, padahal dia pasti juga lelah.


Layla membuka pintu dan tercengang sesaat melihat ada pria tampan berdiri di depan pintu.


"Anda siapa?" tanya Layla, heran. Kenapa tiba-tiba ada pria tampan malam-malam begini?


Pria itu tesenyum manis. Sangat manis. Membuat Layla ikut tersenyum melihat senyuman pria itu yang begitu mempesona.


"Apa benar ini rumah Dyana?" tanya pria itu.


Sontak Layla mengangguk. "Benar. Ada perlu apa?"


"Saya ingin bertemu Dyana. Dia adakan?"


"Ada." ucapnya singkat. "Dyana ada pria tampan yang ingin menemui mu!" teriak Layla ke dalam rumah tanpa sadar. Kata pria tampan yang dia lontarkan membuat pria itu terkekeh kecil.


"Siapa?" Dyana berdiri menghampiri Layla di pintu, melihat siapa orang yang dimaksud Layla.


"Eh. Calvin?" Dyana kaget melihat Calvin lah yang ada di sana.


"Hai Dyana." Wajah Calvin semakin sumbringah melihat Dyana.


"Kapan kau tiba?"


"Oh ya. Mari masuk dulu." ajak Dyana.


Dyana dan Calvin duduk di ruang tamu. Sementara Layla berinisiatip membuat minuman.


"Bagaimana kabarmu, Dyana?"


"Ya beginilah. Seperti yang kau lihat saat ini."


"Kau terlihat sangat lelah. Kau harus ingat Dyana kau itu sedang hamil dan usia kandunganmu masih muda kau jangan terlalu bekerja keras." nasehat Calvin.


Dyana menghela napas dan melihat perutnya yang masih nampak datar walau sudah ada perubahan sedikit.


"Mau bagaimana lagi. Aku harus bertahan hidup, kan? Apalagi sebentar lagi aku akan memiliki anak dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit."


Calvin berdecak tak suka. "Andreas memang ******** membuat mu menderita seperti ini." Tersirat kekesalan di mata Calvin.


"Sudahlah, Cal. Jangan sebut namanya lagi. Aku tidak suka."


Layla datang membawa dua cangkir teh. Mencuri pandang keyarah Calvin sebentar dan pamit kepada Dyana untuk tidur duluan.


"Terima kasih, Layla."


Setelah Layla pergi, Calvin baru kembali bersuara.


"Siapa dia?" tanya Calvin menunjuk arah perginya Layla dengan dagunya.


"Layla salah satu rekan kerjaku." Dyana memang lebih suka menyebut mereka rekan daripada pegawai.


Calvin mengangguk mengerti.


"Apa mereka tahu mengenai kehamilanmu?


"Belum." ucap Dyana singkat. Dia memang belum memberitahu siapa pun di sini. Bukannya Dyana tidak mempercayai mereka. Tapi, bagaimana pun mereka belum lama saling mengenal.


"Kau bilang kau datang untuk membicarakan hal penting?" ucap Dyana setelah mengingat alasan Calvin yang jauh-jauh datang ke sini. "Masalah penting apa?"


"Oh.. ya. Aku hampir lupa." Calvin berpura-pura padahal dia ingat. Sebenarnya tujuan utamanya adalah ingin menemui Dyana, tetapi memang ada hal penting yang ingin dia bicarakan juga.


"Begini. Ternyata Andreas mengira kalau kau sudah meninggal."


Dyana cengo mendengar ucapan Calvin.


"Bagaimana bisa?" tanya Dyana bingung.


"Kau ingat tragedi perampokanmu saat kita menuju bandara waktu itu?"


Dyana mengangguk. Dia ingat.


"Orang yang merampok mu itu mengalami kecelakaan dan sulit dikenali lagi. Kebetulan ciri-cirinya sangat mirip denganmu. Dan tasmu yang dirampok mendukung hal itu."


Dyana mengerti. Apa dia harus senang mendengar hal ini? Pria itu telah menganggapnya mati dan pasti tidak akan mencarinya lagi.


Dyana diam.


"Sebenarnya ada satu hal lagi Dyana." ucap Calvin dengan tatapan sendu ke arah Dyana.


"Apa?"


Calvin tiba-tiba meraih tangan Dyana, menggenggamnya lembut.


Dyana bingung dan tidak mau menduga-duga hal apa yang akan Calvin katakan selanjutnya.


"Menikahlah denganku, Dyana! Aku berjanji akan membahagiakan mu." ucap Calvin tiba-tiba dan lagi-lagi membuat Dyana terdiam karena kaget.


*****