
Hari sudah malam, di luar langit sangat gelap. Tidak ada satu pun bintang yang menghiasi.
Entah dorongan dari mana, Dyana berjalan di tiang pembatas balkon. Pikiranya kosong. Ketinggian ini tidak membuat dirinya takut walau dia berada di lantai tiga.
Dyana berjalan mondar-mandir dengan santai sambil merentangkan kedua tangannya. Dyana tidak masalah jika dia harus jatuh, dia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi.
Seseorang tiba-tiba menarik tangannya. Sontak Dyana terhuyung jatuh dari tiang pembatas balkon. Namun, dia tidak merasa sakit sedikit pun. Ternyata dia jatuh tepat di atas tubuh seorang pria. Kepala Dyana persis jatuh di dada bidang pria itu.
Dyana mendongangak melihat wajah pria itu. Mata mereka bertemu. Ternyata pria itu Andreas. Mata mereka terpaku satu sama lain untuk beberapa saat. Hingga Andreas mendorong tubuh Dyana dengan kasar. Membuat Dyana jatuh terjerembab dengan bokong yang jatuh terlebih dahulu ke lantai.
"Auw!" pekik Dyana. Kemudian, melotot ke arah Andreas.
Entah mengapa tiba-tiba Andreas merasa gugup. Sesaat dia terpesona melihat mata coklat Dyana. Tapi, cepat-cepat dia hilangkan perasaan itu, berganti menjadi amarah dan dendam kembali.
"Apa kau berniat bunuh diri, huh!?" bentak Andreas. Dia menarik tangan Dyana kasar, menjauhi balkon.
"Apa urusanmu? Bukankah kau menginginkanku mati!?" ucap Dyana dengan suara tinggi.
"Rendahkan nada suaramu! Apa kau tidak tau sedang berbicara dengan siapa sekarang!?" Andreas mencengkeram lengan Dyana keras, membuat gadis itu meringis. "Lagi pula aku tidak akan membiarkanmu mati semudah itu!"
Andreas menarik pergelangan tangan Dyana kasar. Pria itu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Andreas mengikat tangan Dyana di keran shower lalu mengguyurnya dengan air dingin. Dyana menggigil, apalagi Andreas sudah merobek semua pakaiannya.
Dyana mencoba melawan dengan menggigit tangan Andreas yang berusaha membuka pengait branya.
Andreas meringis, dia menampar keras pipi Dyana hingga pinggir bibir wanita itu robek.
Rasa perih di wajah Dyana sangat terasa.
Sebulir air mata Dyana berhasil jatuh, becampur dengan air shower. Hingga Andreas tidak menyadari bahwa Dyana sedang menangis. Dyana berusaha menahan isakannya. Dia tidak akan membiarkan Andreas melihat dirinya menangis. Dia yakin pria itu akan sangat senang melihatnya.
Andreas memang tempramen kepada seseorang yang dia benci, baik itu pria ataupun wanita.
"Kau juga melakukan itu pada Liona, kan, gadis kotor!?" bentak Andreas.
"Apa sebenarnya maksudmu?" tanya Dyana. Dia benar-benar bingung.
"Sudahlah! Tidak perlu berpura-pura bodoh di depanku! Wanita sepertimu memang licik!" Andreas berkata sarkas.
"Ku mohon! Lepaskan aku! Aku benar-benar tidak tahu apa masalahmu pada ku! Tapi, jika benar aku punya kesalahan aku minta maaf!" Dyana memohon. Tatapannya nanar, berharap pria ini memiliki hati nurani untuk melepaskannya.
Tapi, apa yang diharapkan Dyana tidak terjadi. Andreas malah bergeming, menatap Dyana dengan tatapan tidak terbaca.
"Kau tahu aku tidak akan melepaskanmu!"
Seketika harapan Dyana luruh. Andreas sudah berhasil membuka seluruh pakaiannya hingga tidak ada lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Andreas mematikan keran air.
*****
Dyana memandang nanar ke luar balkon, langit sore ini cukup cerah, awan putih dan langit biru yang indah. Apalagi jika dilihat dari lantai tiga ini, terlihat lebih luas dan dekat. Tapi, tidak sedikit pun dapat menghibur hati Dyana yang gelisah. Sudah lima hari dia tinggal di istana neraka ini. Dia merindukan rumahnya, walau sederhana tapi terasa seperti istana surga. Lima hari ini dia terus mendapat siksaan setiap harinya.
Dyana merindukan Ayahnya. Bagaimana keadaannya? Apakah sudah makan dan minum obat? Apa Bibi Ben masih menjaga Ayahnya?
Dyana merindukan teman-temannya di kampus. Suasana cafe Calvin. Dyana merindukan semuanya. Kehidupannya yang biasa.
Apa semua orang mencemaskan dan mencarinya? Sungguh hatinya terasa teritis memikirkan hal itu.
Apa dia akan terus menerus di sini? Seperti ini?
Dyana menggeleng. Dia tidak ingin seperti ini terus. Dia harus bisa keluar dari tempat terkutuk ini.
"Sedang memikirkan cara untuk kabur, huh?" Terdengar sebuah suara datar namun menusuk.
Dyana menoleh. Sejak kapan pria tampan berhati iblis itu berdiri di sana? Dyana sama sekali tidak menyadari kedatangan pria itu.
Dyana diam. Tidak ingin menjawab. Dia sudah lelah dengan semua ini.
"Apa kau tidak mendengarku!?" Andreas mulai kehilangan kesabaran.
Dyana masih diam. Mengabaikan Andreas, dia memilih berpaling dan menatap ke luar.
"Kau banar-benar!" seru Andreas, geram. Baru kali ini dia diacuhkan orang lain. Apalagi seorang wanita. Harga dirinya terasa diinjak-injak.
Dengan langkah panjang Andreas mendekati Dyana. Tidak perlu waktu lama, Andreas sudah berada di sisi Dyana.
Menarik lengan Dyana kasar, lalu menekannya sekeras mungkin.
Dyana memejamkan mata, meredam rasa sakit. Dia yakin cengkeraman Andreas akan membekas.
"Kau ingin bermain-main denganku!?"
Dyana yang sudah berhadapan dengan Andreas, sebisa mungkin tidak menatap mata indah pria itu, mata yang sedang menatap tajam ke arahnya.
Andreas maju selangkah, Dyana mundur selangkah. Begitu seterusnya hingga Dyana merasakan punggungnya bersentuhan dengan tiang pembatas balkon.
Andreas menyeringai.
"Kau tidak bisa ke mana-mana, kau berada di dalam genggamanku."
Dyana masih diam. Masih tidak ingin berkomentar. Toh, apapun yang akan dia katakan untuk membela diri atau sekadar meminta dilepaskan, pria itu tidak akan menghiraukannya.
"Kau masih diam!?" Andreas mengepal tangannya, menahan geram. Dia tidak suka melihat Dyana yang biasanya banyak bicara, memohon, bahkan melawan padanya tiba-tiba diam seperti ini. "Baiklah kalau kau masih diam. Akan ku tunjukkan bagaimana cara terbaik menikmati bibir seseorang yang diam." Andreas perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dyana. Sebentar lagi kedua bibir itu akan bertemu, namun harus terhenti karena ponsel Andreas berbunyi.