I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 10



Andreas menatap tajam ke arah Rafael, tatapannya begitu mengintimidasi.


"Ku kira kau sudah lupa padaku!?"


"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Andreas!?" Rafael terlihat tidak sabar. Tentu saja dia tidak akan melupakan pria ini. Andreas, pria yang pernah merebut kekasihnya.


"Kau tentu tau. Aku menginginkan milikku kembali!" ucap Andreas dengan nada sarkastik.


"Apa maksudmu!? milikmu!? Aku tidak pernah ingat pernah mengambil milikmu." Rafael menghentikan ucapannya sebentar. "Yang ku ingat kau yang pernah mengambil milikku!"


Andreas merasa geram emosinya sudah berada di ubun-ubun.


"BERHENTI MENYEBUT LIONA MILIKMU, JIKA KAU MASIH MENYAYANGI NYAWAMU!"


Bukannya takut Rafael malah memandang remeh ke arah Andreas.


"Nyatanya memang begitukan!?"


Rafael tersenyum miring.


"Sudahlah, aku benci berlama-lama. Sekarang katakan di mana Liona!?" Andreas mencoba menahan amarahnya.


"Aku tidak tau! Kalau pun tau, aku tidak akan memberi tahumu!"


Andreas berdiri, dengan wajah yang memerah karena marah.


Bukh...


Satu pukulan berhasil melayang di wajah tampan Rafael membuat ujung bibirnya berdarah.


Rafael malah tertawa keras.


"Kau tau Andreas semua yang kau lakukan itu adalah sia-sia!" Rafael memalingkan mukanya dari Andreas, kemudian meludah.


Kali ini bukan Andreas yang memukul Rafael. Ia menyuruh beberapa anak buahnya memukuli Rafael.


Setelah merasa cukup Andreas menyuruh anak buahnya berhenti.


"Sekali lagi ku tanya, dimana kau menyembunyikan Liona!?" Andreas menarik kerah baju Rafael.


Rafael tersenyum miris, walau dengan wajah yang sudah babak belur Rafael masih merasa tidak takut sama sekali pada Andreas.


"Sudah ku bilang usahamu ini sia-sia!" Rafael menatap sinis ke arah Andreas. "Kau terlalu buta akan obsesimu pada Liona, sama seperti aku dulu." Andreas diam. Dia ingin tau apa yang ingin dikatakan Rafael.


Rafael terdiam sesaat.


"Kau tau sebenarnya aku kasihan padamu!" Rafael memasang wajah iba, seolah-olah kasihan pada Andreas dan Andreas tidak suka hal itu.


"Apa sebenarnya maksudmu!? Aku sama sekali tidak mengerti!"


Andreas membentak Rafael dengan ekspresi tidak sabar.


Rafael menghela napas.


"Kau sudah ditipu, sama sepertiku!" Rafael menatap lurus ke arah Andreas, sorot mata keduanya sama-sama tajam. "Liona tidak mencintaimu, dia tidak mencintai siapa pun! Termasuk aku! Dia hanya mencintai dirinya sendiri!"


"Kau tau Andreas aku bersyukur tidak menjadi sepertimu yang terlalu buta akan cinta palsu Liona!"


"Dia tak ubahnya hanya seorang ****** yang tidak—"


Tiba-tiba satu pukulan kembali melayang di wajah tampan Rafael. Andreas tidak terima Rafael mengatakan Liona seorang ******. Walau sebenarnya itu memang benar. Andreas seolah-olah menutup mata akan kenyataan itu. Obsesinya terhadap Liona benar-benar membuat mata hatinya tertutup akan keburukan wanita itu.


Andreas menghela napas panjang, dia mencoba meredam emosinya.


"Jika kau tau sedikit saja tentang keberadaan Liona. Aku akan melapaskanmu!" ucap Andreas dengan nada lebih tenang.


"Baiklah jika itu membuat urusan kita selesai."


Andreas mengangguk.


"Bulan lalu kami memang bersama, dia mengatakan kalau dia tidak tahan bersama mu karena kau terlalu mengerang nya."


Itu memang benar Andreas memang sangat posessif pada apa yang dia anggap miliknya.


"Waktu itu aku sangat percaya pada setiap ucapan Liona. Kau tau pesona Liona memang sulit ditolak. Aku pun menerimanya kembali, hingga—" Rafael menatap manik mata Andreas. "Dua kabur bedsama pria bernama Julian Harison! Ya, dia kabur setelah mengambil beberapa hartaku."


Tak butuh lama, Andreas langsung mencatat nama pria itu di otaknya. Dia tidak akan membiarkan orang yang mencoba memisahkan dirinya dengan Liona.


"Lepaskan dia!" Andreas keluar dari ruangan itu dengan angkuh.


Wajahnya merah padam membayangkan Liona bersama pria lain.


"Julian Harison. Aku akan menemukanmu walau kau bersembunyi di lubang semut sekali pun." janji Andreas pada dirinya sendiri.


*****


Dyana yang tertidur di sebelah ranjang ayahnya, membuka mata perhalan. Sesuatu tengah menepuk-nepuk kepalanya lembut.


Dyana tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Ayahnya sudah membuka mata, menatap Dyana sendu.


Seketika itu juga Dyana menekan bell, memanggil dokter.


Saat Dokter Zacro datang, dia segera memeriksa keadaan ayah Dyana.


Setelah selesai memeriksanya, Dokter Zacro memutar badannya, menghadap Dyana.


Senyum merekah di bibir Dokter tersebut.


"Terima kasih, Dokter." Dyana menangis, air mata bahagia.


*****


Sudah seminggu sejak ayah Dyana pulang dari rumah sakit. Keadaan Ayahnya berangsur-angsur membaik.


Tapi, ayahnya masih harus rutin chek up dan meminum obat yang sudah diresep oleh Dokter.


Sebenarnya Dyana masih ingin di rumah menjaga ayahnya. Tapi, dia harus secepatnya kembali kuliah dan bekerja. Mengingat tabungannya pasti akan habis sedikit demi sedikit, apalagi obat untuk ayahnya bukanlah obat yang murah.


Dyana memutuskan untuk menyewa seorang perawat untuk menjaga ayahnya. Setidaknya untuk sebulan ini. Hingga keadaan ayahnya benar-benar membaik. Uang hasil bekerjanya dengan Jack masih memiliki sisa yang cukup untuk menyewa seorang perawat untuk sebulan.


"Bibi Ben, jaga Ayah baik-baik yah. Jika ada sesuatu jangan sungkan-sungkan menghubungiku. Aku berangkat ke kampus dulu." ucap Dyana sopan seraya memakai sepatunya.


Wanita paruh baya berumur sekitar empat puluh tahunan itu mengangguk mengerti.


"Tentu saja, Nak." Bibi Ben memandang Dyana yang hendak membuka pintu. "Hati-hati di jalan." ucapnya lagi penuh perhatian.


"Iya, bibi." jawab Dyana seraya membuka pintu dan keluar rumah.


Dyana mendekati sepedanya yang sudah terparkir di halaman. Diletakkannya tas selempangnya di keranjang sepeda bagian depan. Dyana hendak menaiki sepedanya. Tiba-tiba suara yang familiar di telinganya memanggil namanya.


"Dyana!" Suara pria itu sontak membuat Dyana kaget. Pandangannya mengarah pada pria yang berjalan mendekatinya dengan tergesa.


"Kenapa kau ada di sini, Julian!?" tanya Dyana dengan ketus, saat Julian sudah tepat di hadapannya.


"Aku ingin menemuimu." ucap Julian dengan suara lembut, suara yang dulu sempat membuat Dyana nyaman.


"Untuk!?" tanya Dyana acuh.


"Minta maaf." Julian menunduk, enggan menatap mata Dyana.


"Bukannya aku sudah memaafkanmu!?" Sontak Julian menggeleng, dia memberanikan diri menatap mata Dyana.


"Tapi, bukan hanya itu yang aku inginkan, " Julian terdiam sesaat. "a—aku ingin kita kembali seperti dulu."


Dyana cukup kaget atas pernyataan Julian.


"Kembali!? Apa aku tidak salah dengar!?" Dyana berdecih. Lama-lama dia muak juga mendengar suara Julian.


"Aku tau aku salah. Gadis itu menjebakku. Dia hanya teman yang ku jadikan pelarian. Mengingat kau tak pernah mau kusentuh."


Dyana membelalak mata mendengar ucapan Julian yang terakhir. Mendadak rasa muak Dyana akan Julian berubah menjadi rasa jijik.


"Oh.. benarkah!? Sungguh itu sangat menjijikan Julian. Bukankah sebelum kita berpacaran aku sudah mengatakan padamu tidak ingin disentuh hingga kita menikah! Dan kau menyetujuinya! Jadi, itu bukanlah alasan yang membenarkan tindakanmu itu!"


Tiba-tiba emosi Dyana naik hingga ubun-ubun. Dyana hendak pergi, dia mencoba mengayuh sepedanya. Tapi, tangan Julian mencekalnya.


"Tuan Harison yang terhormat tolong biarkan aku pergi sebelum aku berteriak!" ancam Dyana tidak main-main.


Dengan berat Julian melepaskan genggamannya dari Dyana. Dyana mulai mengayuh sepedanya, meninggalkan Julian. Dyana berhenti sejenak dan menoleh ke arah Julian.


"Dan satu lagi. Jangan pernah menemuiku lagi!" ucap Dyana dengan tegas sebelum benar-benar meninggalkan Julian.


"AAKHH!" teriak Julian saat Dyana sudah tidak terlihat. Ini semua gara-gara wanita bernama Liona. Jika saja Julian tidak termakan mulut manis wanita itu semuanya tidak akan seperti ini, pasti saat ini Dyana masih bersama dengannya.


Julian menendang batu yang berada di dekatnya. Dia berjanji akan menghancurkan hidup Liona, seperti wanita itu menghancurkan hidupnya.


*****


Calvin menelpon Dyana tepat saat gadis itu selesai mata kuliah terakhir.


Dyana menganggat telepon dari Calvin, mengapit ponselnya di antara bahu dan telinga. Sementara tangannya sibuk memasukkan buku ke dalam tas.


"Iya, Calvin. Ada apa?"


"Kamu jadi masuk kerja hari ini?" Calvin memastikan.


"Jadi kok. Setelah ini aku akan langsung menuju cafe." Hari ini mata kuliah Dyana sampai jam tiga sore karena dia dan beberapa temannya mengulang mata kuliah bahasa.


"Baiklah. Aku menunggu mu! Hati-hati saat bawa sepeda, jangan terlalu mengebut, oke!" Dyana terkekeh mendengar ucapan Calvin yang seperti kakak baginya.


"Tentu, Mr. Calvin. Saya akan sangat berhati-hati." Calvin ikut terkekeh di seberang sana sebelum mematikan sambungan telepon. Calvin memang terlalu baik.


Dyana berjalan menuju halaman kampus, menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya.


Dia mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Moodnya sedikit membaik saat mendengar suara Calvin tadi. Dia tidak sabar sampai ke cafe Calvin dan mulai bekerja.


Dyana memutuskan memotong jalan, agar lebih cepat sampai. Dyana ingin bekerja lebih keras di cafe Calvin, hitung-hitung untuk berterima kasih atas kebaikan sahabatnya itu selama ini.


Saat Dyana melewati jalan yang lumayan sepi. Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Seorang wanita keluar dari sana, wanita itu berjalan dengan angguh ke arah Dyana.


Sekilas wanita itu terlihat sangat cantik, walau hanya memakai riasan seadanya. Tapi, baju yang dikenakan wanita itu sepertinya kurang bahan. Wanita itu sangat seksi.


Lamunan Dyana mengenai wanita itu seketika buyar, saat wanita itu berhenti di hadapan Dyana.


"Apa kau masih mengingat ku, Dyana!?" ucapannya terdengar merdu di telinga Dyana.


Seketika wajah Dyana mendongak, matanya menatap lekat wanita itu. Heran mengapa wanita itu tahu namanya.


"Tentu!" ucap Dyana saat mengenali siapa wanita yang berada di depannya.


Itu wanita yang bersama Julian di hotel tempo hari.