I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 32



Matahari sudah terbit sejak tadi, namun sinar matahari yang masuk melalui celah dinding rumah sakit tidak mampu membangunkan dua manusia yang berada di salah satu ruang perawatan.


Hingga sang wanita, menggeliat saat merasakan tangan kekar menggenggam tangannya.


Dyana, wanita itu membulatkan mata saat melihat seorang pria tertidur di sisi ranjangnya.


Andreas, pria itu tidur dengan posisi duduk dengan kepala terletak di sisi ranjang Dyana sambil menggenggam tangan wanita itu.


Dyana menelisik wajah damai Andreas. Wajahnya terlihat polos. Tidak terlihat berbahaya sedikit pun. Jauh berbeda dengan yang Dyana lihat selama ini. Andreas yang arogan, kejam dan tak punya hati. Sedikit pun tidak tergambar di sana.


Dyana sadar, pria itu terlihat sangat tampan saat tidur. Dyana merutuki dirinya sendiri. Lagi-lagi dia mengatakan pria ini tampan. Walau sebenarnya memang benar sih, hehe.


Napas pria itu teratur. Hangat menyentuh kulit tangan Dyana, membuat darah wanita itu seketika berdesir.


Ingin rasanya Dyana melepas genggaman tangan itu. Tapi, urung dia lakukan. Dia merasa ada kehangatan di sana.


Apa benar pria ini telah berubah dan tidak akan menyakitinya lagi? Dyana masih sedikit ragu akan hal itu.


Tak lama Dyana melihat Andreas mulai membuka mata. Dyana yang tidak ingin ketahuan memperhatikan pria itu secara diam-diam memilih kembali tidur. Atau tepatnya berpura-pura tidur.


Andreas bangun dan mendapati mata Dyana yang masih terpejam. Melihat wajah Dyana yang terlihat tenang, membuat Andreas tersenyum, ada rasa hangat menghinggapi hatinya.


Pria itu menatap tangannya yang masih menggenggam tangan Dyana. Setelah itu menganggatnya sedikit dan mengecup lembut punggung tangan Dyana sebelum berkata, "Aku mencintaimu Dyana."


Deg.


Jantung Dyana mendadak berdetak lebih kencang dari biasanya. Pipinya terasa panas. Saat mendengar pengakuan Andreas. Apalagi saat merasakan tangannya dikecup pria itu, membuat tubub Dyana sedikit bergetar.


Apa Dyana tidak salah dengar? Andreas mengatakan cinta padanya. Dan kali ini Dyana yakin jika ia sedang tidak bermimpi. Dia sadar. Sesadar-sadarnya.


Tak lama Dyana merasakan Andreas melepaskan tangannya. Lalu derap langkah yang menjauh dapat Dyana dengar, yang dilanjutkan dengan suara pintu yang terbuka dan kembali tertutup.


Dyana baru bisa bernapas lega dan membuka matanya setelah yakin Andreas tidak berada di ruangan ini lagi.


"Apa pria itu serius?" Dyana bingung. Haruskah ia percaya?


Dyana mendengus kemudian memegang dadanya yang masih berdetak dengan begitu cepat.


******


Sudah hari ketiga, semenjak Dyana menjadi pasien di rumah sakit ini.


Dia sudah menghubungi Layla sejak pertama kali dia di sini dan mengatakan agar tidak khawatir dan tetap bekerja seperti biasa.


Calvin sendiri. Sudah datang sejak hari kedua. Setelah menghubungi pria itu semalam, Calvin terus di sini dan tidak ada niatan untuk pergi. Sehingga membuat Andreas jengah dan sedikit panas. Apalagi melihat keakraban Dyana-Calvin. Andreas merasa hatinya terbakar.


Andreas sendiri berpikir, apa Calvin tidak mengurus bisnisnya di New York sehingga pria ini bisa berlama-lama di sini?


"Lebih baik kau pulang ke tempat asalmu! Urus pekerjaanmu! Aku bisa mengurus Dyana sendiri!" ucap Andreas sarkas berniat mengusir Calvin.


Lagi-lagi Andreas dan Calvin bertengkar.


"Kau sendiri? Bukankah bisnismu jauh lebih besar? Lagipula jika aku pergi, tidak menutup kemungkinan kau akan menyakiti Dyana lagi!" balas Calvin tak kalah sarkas.


Dyana sendiri hanya bisa menutup telinga mendengar keributan yang sudah tercipta sejak semalam.


"Kalian tidak perlu bertengkar. Aku bisa makan sendiri!" ucap Dyana jengah. Dyana tahu alasan keributan saat ini adalah karena kedua pria ini berebut ingin menyuapinya.


"Tidak Dyana biar aku saja!" ucap Andreas cepat saat Dyana ingin mengambil makanan yang ada di atas troli. Andreas mengambil alih makanan yang sudah sempat ada di tangan Dyana.


"Tidak aku saja!" imbuh Calvin mencoba merebut makanan itu dari tangan Andreas.


"Aku saja!"


"Tidak aku!"


"Stop!!!!"


Suara teriakan Dyana berbarengan dengan jatuhnya semangkok bubur yang sejak tadi mereka perebutkan.


Dyana menatap mereka berdua dengan wajah memerah. Menahan amarah.


"Dia yang salah!" ucap Andreas menyalahkan Calvin.


"Apa kau bilang? Sudah jelas bahwa kau yang menjatuhkannya!" timpal Calvin, tidak mau disalahkan.


"Jika kau tidak ingin merebutnya dari tanganku bubur ini tidak akan jatuh!"


"Tapi..." Calvin yang ingin kembali bersuara terpotong oleh suara Dyana.


"Bisakah kalian berhenti bicara! Kalian seperti anak kecil!" teriak Dyana dengan nada jengkel. Dia benar-benar marah sekarang.


"Tapi, memang benar dia yang sa-" ucapan Andreas terpotong.


"Stoooppppp!" Dyana kembali berteriak sebelum keributan kembali terjadi. Membuat seseorang yang baru saja memasuki pintu terlonjak kaget.


"Kenapa kalian ribut di sini?" tanya orang itu, heran.


Otomatis seluruh pandangan yang ada di ruangan ini mengarah padanya.


"Madam Laura?" ucap Dyana dan Calvin secara bersamaan.


"Ibu? Kenapa ibu ada di sini?" Andreas heran melihat ibunya yang tiba-tiba datang.


"Tentu saja ingin menjenguk Dyana." Madam Laura langsung melengos melewati Andreas dan Calvin. Matanya membulat ketika melihat pecahan mangkok.


Madam Laura menatap tajam ke arah Calvin dan Andreas. Calvin menunduk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan, Andreas memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak tahu.


Setelah melihat pecahan mangkuk dan bubur yang berhamburan di lantai, Madam Laura menatap tajam ke arah Calvin dan Andreas.


"Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Madam Laura.


"Aku tidak melakukan apapun." elak Andreas.


"Aku juga." ujar Calvin.


Mereka berdua masih tidak ingin disalahkan.


"Berhenti bersikap kekanak-kanakan. Sekarang pesan kembali makanannya! Apa kalian ingin melihat Dyana mati kelaparan!" bentak Madam Laura.


Mereka berdua langsung salah tingkah. Madam Laura benar. Pasti Dyana sudah sangat lapar.


"Aku akan memesannya!" ucap Calvin hendak melangkah keluar. Tapi, Andreas menahannya.


"Biar aku saja!" ujar Andreas.


"Aku tidak bisa menjamin makanan yang kau bawa akan aman untuk Dyana. Siapa tahu kau akan meracuninya." ucap Calvin tanpa ragu.


Andreas menggeram. Dia merasa tersinggung.


"Kau!" Andreas menarik kerah baju Calvin hendak melayangkan satu pukulan.


Tapi, tiba-tiba....


BUKH!!!!


Sebuah bantal besar, berhasil melayang ke kepala mereka berdua.


"KELUAR!!" geram Madam Laura.


Dyana hanya menonton dengan pasrah. Padahal cacing-cacing di perutnya sudah berdemo minta diisi.


*****