I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 28



Dyana terdiam dengan tampang cengo. Jujur dia sangat syok mendengar ucapan Calvin barusan. Calvin mengajaknya menikah? Apa pria itu serius?


Dyana melepaskan genggaman Calvin dengan pelan. Dia bingung harus menjawab apa.


"Bagaimana, Dy? Kamu mau kan menikah dengan ku?"


Dyana menatap manik mata Calvin lekat. Mencari tahu apa pria itu sedang serius atau bercanda. Namun, sejauh yang Dyana lihat, Calvin serius.


"Dy!" panggil Calvin karena Dyana belum juga menjawab pertanyaannya.


"Hah?"


Terdengar helaan napas dari Calvin.


"Aku tahu kamu terkejut dengan ucapanku tadi. Tapi, perlu kamu tahu, Dy, kalau aku serius."


"Bu-bukan begitu. Hanya saja ini sangat tiba-tiba," Dyana mencoba menetralisir rasa syoknya. "Maksudku begini. Aku tahu kamu sangat baik dan peduli pada ku. Tapi, jika kau ingin menikahi ku karena kau kasihan pada ku atau khawatir pada ku. Sungguh kau tidak perlu melakukan itu. Aku masih bisa mengurus semua ini."


Dyana menatap ke berbagai arah, asal tidak ke arah Calvin. Jujur dia sangat tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang.


"Tidak, Dy. Aku ingin menikahi mu bukan karena kasihan atau khawatir pada mu. Aku memang khawatir pada mu, tapi bukan itu alasannya."


Dyana mengernyit dahi. Tidak mungkin kan, Calvin ingin menikahinya karena pria itu jatuh cinta padanya? Itu sungguh tidak mungkin. Seorang Calvin jatuh cinta padanya itu mustahil. Mereka sudah berteman sejak lama, walau tidak bisa Dyana pungkiri jika selama ini Calvin memberikan perhatian lebih padanya. Tapi, itu hanya perhatian seorang teman, tidak lebih. Dyana yakin itu.


"Lalu apa alasannya?" tanya Dyana memastikan.


"Karena aku mencintai mu Dyana!"


Lagi-lagi Dyana terkejut.


Dyana menempelkan punggung tangannya ke dahi Calvin. Siapa tahu pria itu sedang sakit dan tidak sadar dengan apa yang sedang dia ucapkan.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Calvin heran melihat Dyana tiba-tiba memegang dahinya.


"Kau tidak panas?" ucap Dyana sembari melepaskan tangannya dari dahi Calvin.


"Aku tidak sakit Dyana." Calvin menatap Dyana dengan sorot mata menilai. "Apa kau menganggap ucapanku tadi sebagai lelucon? Kau menganggapku bercanda?"


"Apa kau serius?"


Calvin berdecak. Ternyata sedari tadi dia memasang mode serius tidak disadari oleh Dyana. Wanita itu bahkan menganggapnya hanya bercanda. Padahal dia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Dasar Dyana tidak peka!


"Aku serius Dyana. Apa aku terlihat bercanda?" ucap Calvin sedikit kesal.


Dyana menggeleng. Memang dari tadi dia tidak melihat ada raut bercanda di wajah Calvin. Hanya raut serius yang dia lihat dari wajah pria itu. Tapi, apa semua itu mungkin? Calvin mencintainya? Hal itu tidak pernah terpikir sedikit pun dalam benak Dyana.


"Sejak kapan?" Sekarang Dyana sadar bahwa Calvin sedang tidak bercanda.


"Sejak kita masih SMA." aku Calvin.


Lagi-lagi fakta baru yang baru Dyana tahu.


"Bagaimana Dyana? Apa kau mau menikah dengan ku?" Calvin menatap Dyana penuh harap.


"Maaf, Calvin. Tapi, aku belum bisa. Semua ini terlalu cepat bagi ku. Aku belum siap untuk memulai kehidupan baru. Lagi pula aku tidak ingin menikah di saat Ayahku sendiri belum sadar."


"Kau tidak perlu menjawab sekarang jika kau belum siap. Tapi, aku harap kau memikirkan ini dengan baik. Bagaimana pun anakmu membutuhkan sosok seorang Ayah nantinya."


"Baiklah. Akan aku pikirkan."


Calvin benar, bagaimana pun anaknya membutuhkan sosok seorang Ayah nantinya. Akan sulit mencari pria yang mau menerima keadaan Dyana seperti ini. Dan Dyana yakin jika Calvin benar-benar tulus padanya.


*****


Dyana baru saja keluar dari gerbang kampus barunya. Sebenarnya Dyana tidak terlalu sering lagi memasuki kelas karena dia sudah akan memasuki semester akhir. Tetapi, tadi dosen meyuruhnya ke kampus meminta dia menyerahkan beberapa berkas penting dari kampusnya yang dulu.


Dyana memilih menuju ke super market dulu sebelum dia pulang untuk membeli beberapa camilan. Lagi pula toko dan cafe sudah diurus oleh ketiga rekannya. Jadi, Dyana tidak terlalu khawatir jika pergi terlalu lama.


Saat Dyana hendak menyeberang jalan, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak. Dyana menoleh, ternyata ada seorang ibu-ibu yang baru saja terserempet mobil. Beberapa orang mulai mengerubuninya.


Dyana cepat-cepat menuju tempat kejadian itu untuk melihat keadaan.


"Madam Laura?" gumam Dyana tak percaya saat melihat jika ibu yang baru saja tertabrak itu adalah Madam Laura, pelanggan pertamanya.


Madam Laura mengaduh kesakitan, sesekali dia memegang kakinya yang terasa sakit.


Dyana berinisiatip untuk membawa Madam Laura ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Madam Laura langsung ditangani oleh Dokter. Dyana masih setia menunggu Madam Laura hingga selesai ditangani dokter.


Tak lama seorang dokter perempuan keluar dan menghampiri Dyana. Di jas putihnya terdapat nametag dengan nama Dr. Oliv.


"Apa Anda keluarganya?" tanya dokter tersebut kepada Dyana.


"Bukan. Hanya saja aku mengenalnya."


"Bagaimana keadaan Madam Laura?" tanya Dyana sedikit khawatir.


"Kau tidak perlu khawatir. Nyonya Laura hanya mengalami luka kecil saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." papar dokter tersebut dengan ramah.


"Apa aku boleh masuk menemuinya?" tanya Dyana sedikit ragu.


"Tentu saja. Lagi pula nyonya Laura berkata ingin menemui orang yang membawanya kemari." ucap Dr. Oliv ramah. "Kau kan yang membawanya kemari?"


Dyana mengangguk. Lalu berjalan menuju kamar rawat Madam Laura. Dyana berhenti sebentar di depan pintu yang terbuka, Madam Laura duduk bersandar sembari menelepon seseorang.


Dyana masuk perlahan saat melihat Madam Laura mematikan sambungan telepon. Menyadari kedatangan Dyana, Madam Laura tersenyum ramah menyambutnya.


"Bagaiman keadaan Madam? Apa masih ada yang sakit?" tanya Dyana yang kemudian duduk di sisi ranjang Madam Laura.


"Tidak, aku sudah merasa lebih baik," Madam Laura memperbaiki posisi duduknya agar sejajar dengan Dyana. "terima kasih telah menolong ku, Dyana. Aku tahu kau memang gadis yang baik."


Dyana tersenyum.


"Tidak masalah nyonya, sudah kewajibanku menolong sesama." ucap Dyana tulus.


Madam Laura terkekeh, dia kelihatan sangat senang padahal dia baru saja mengalami kecelakaan.


"Kelihatannya Madam sangat bahagia?"


Wajah Madam Laura semakin berbinar mendengar pertanyaan Dyana.


"Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena aku mengalami kecelakaan ini."


Dyana membulatkan mata. Heran. Baru kali ini dia mendengar ada orang yang bersyukur karena mengalami kecelakaan.


"Bagaimana bisa?"


Melihat kebingungan di mata Dyana Madam Laura langsung menjeleskan.


"Dengan begini aku mempunyai alasan untuk memaksa putraku untuk lebih memperhatikan ibunya ini,"


Dyana mengangguk, mengerti. Walau pun hanya sedikit. Apa sebegitu sibuknya kah putra Madam Laura sehingga tidak mempunyai waktu untuk ibunya sendiri?


"Besok dia akan sampai di sini. Aku sangat bahagia saat tahu dia akan meninggalkan pekerjaan yang dia anggap berharga itu untukku. Walau aku harus berbohong dengan memperparah sedikit keadaanku."


Dyana hanya bisa geleng-geleng kepala. Melihat tinggah Madam Laura yang sedikit kekanakan.


"Aku senang mendengar nyonya akan bertemu putra nyonya."


Madam Laura tak henti-hentinya tersenyum, dan lagi-lagi senyum itu mengingat Dyana pada seseorang yang dia benci.


"Kau harus bertemu dengannya. Dia sangat tampan walau sedikit arogan, tapi sebenarnya dia sangat baik." ucap Madam Laura dengan nada sedikit memaksa.


"Aku rasa itu tidak perlu, Madam." tolak Dyana.


"Harus. Kau sudah menolong ku, tadi dia berkata ingin bertemu dan berterima kasih secara langsung kepada orang yang telah menolong ibunya ini." ucap Madam Laura sembari menunjuk dirinya sendiri.


Dyana tersenyum. "Baiklah. Tapi, di mana kita bisa bertemu? Jujur aku sangat sibuk akhir-akhir ini." ucap Dyana dengan nada sopan.


Madam Laura berpikir sejenak. "Bagaimana jika di cafemu saja? Aku sangat suka suasana di tempatmu?"


Dyana tersenyum, menyetujui. "Baiklah."


Melirik jam di tangan, kemudian berdiri. "Sepertinya aku harus pergi sekarang nyonya. Masih banyak yang harus aku lakukan," ucap Dyana ragu. "tidak apa-apakan, jika Madam ku tinggalkan sendiri?"


Madam Laura tersenyum." Tidak apa-apa, ada suster dan dokter di sini. Lagipula aku sudah merasa jauh lebih baik."


"Baiklah. Aku permisi dulu Madam." ucap Dyana sebelum berjalan pergi.


"Sekali lagi terima kasih sudah menolong Madam dan sampai jumpa besok, Dyana." ucap Madam Laura sebelum Dyana melewati pintu.


Dyana menoleh dan melempar senyum terbaiknya.


*****


"Jack! Siapkan semua keperluanku, aku akan berangkat ke Indonesia sekarang juga." Pria itu, Andreas, berdiri setelah memasukkan ponsel ke dalam saku. Wajahnya terlihat khawatir.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Jack bingung melihat Andreas bertingkah tidak seperti biasanya.


"Ibuku. Dia mengalami kecelakaan di isana. Kau tahu kan hobby travelingnya sudah sangat akut, sehingga sangat sulit menemukan keberadaannya."


Jack mengangguk mengerti. Dia begitu mengenal ibu Andreas. Wanita paruh baya itu memang sangat hobby keliling dunia. Hari ini dia berada di paris, besok bisa saja dia sudah ada di negeri tempat piramida berada.


"Baiklah, akan ku kerjakan." ucap Jack.


"Oh.. ya, satu lagi," Jack yang sudah ingin pergi mau tidak mau berbalik lagi. "selama aku pergi tolong urus semua pekerjaanku di sini! Aku memiliki feeling, kalau aku akan agak lama di sana. Lagipula aku memang harus meluangkan waktu untuk ibuku."


Jack hanya mengangguk patuh.


*****


Tbc.