
Semua makanan sudah tertata rapi di meja. Sebagian besar makanan ini adalah buatan Dyana. Gadis itu sudah menyelesaikan tugas pertamanya, menyiapkan sarapan untuk pria mesum bernama Rafael Arlando.
Tidak lama pria itu sudah muncul dengan pakaian rapi. Dia berjalan dengan santai menuju meja makan dan duduk dengan tatapan mesum melihat Dyana yang berdiri tepat di samping tempat duduknya.
Dia menatap Dyana dari bawah hingga atas dan tatapannya berhenti tepat pada dada Dyana.
Sial! Apa dia tidak bisa menjaga matanya. Rasanya aku ingin mencongkel keluar kedua bola matanya. Kalau saja aku tidak ingat akan rencanaku aku akan melakukannya saat ini juga.
Sebenarnya Dyana sedikit salah di sini. Harusnya dia tidak memakai pakaian yang diberikan bibi Anna. Jelas-jelas ini berbeda dengan pakaian pelayan lainnya. Pada bagian dada pakaian ini sedikit lebih rendah sehingga belahan dadanya sedikit terekspos dan panjangnya pun hanya menutupi setengah pahanya. Dyana benar-benar tidak nyaman memakainya, kerena lebih terbiasa memakai celana jeans atau semacamnya.
Pasti pria ini sengaja menyuruh bibi Anna memberiku pakaian ini.
"Apa masih ada yang anda butuhkan tuan?" Dyana mencoba sesopan mungkin, dia tersenyum manis kepada Rafael walau sebenarnya dia sudah ingin melayangkan beribu sumpah serampah kepada pria ini. "Kalau tidak ada. Saya permisi tuan. Sepertinya bibi Anna masih membutuhkanku untuk pekerjaan lain." Karena tidak ada jawaban Dyana memutuskan melangkah pergi.
"Siapa yang menyuruhmu pergi!?" Dyana refleks kembali menghadap Rafael. "Temani aku sarapan, Baby!" ucapnya dengan suara seksi yang terkesan dibuat-buat.
Dyana memutar bola matanya, tetapi dia tetap tersenyum dan mengangguk.
"Tentu saja, tuan." Dyana pun berjalan dan duduk di dekat Rafael.
Rafael menyuruh Dyana mengambilkan makanan untuknya dan untuk Dyana sendiri.
Tiba-tiba Rafael memegang tangan Dyana.
"Tawaranku waktu itu masih berlaku." Senyum mesum terlukis di bibir Rafael yang membuat Dyana ingin memukulnya sekeras mungkin. "Aku harap kau tidak lagi menolak, karena aku tidak bisa lagi membiarkannya!" ucap Rafael dengan nada mengancam.
"Tentu saja, tuan. Ak—" Ucapan Dyana terpotong oleh Rafael.
"Rafael! Panggil aku Rafael! Itu terdengar lebih seksi!" Kali ini Rafael mengelus pipi Dyana.
Refleks Dyana menjauh.
"Tentu, Rafael. Malam ini akan menjadi milik kita berdua." ucap Dyana sembari tersenyum licik.
*****
"Kau sudah mendapatkan barang yang kau butuhkan?" Suara berat pria terdengar dari seberang sana.
"Sudah. Terima kasih, Jack. Aku akan segera melaksanakan rencanaku malam ini!"
Dyana menatap lekat sebuah botol di tangannya sembari mempermainkannya.
"Kau tau, itu ide yang bagus, Dyana. Pria seperti Rafael memang lebih mudah di taklukkan dengan cara itu. Itu sebabnya aku membutuhkan bantuan seorang wanita seperti." Dyana sedikit kurang suka dengan kalimat 'wanita sepertimu' itu. Terdengar seolah-olah Dyana seperti wanita yang— ah sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Lagi pula idenya memang mengarah ke arah itu.
"Segeralah lakukan dengan cepat aku akan mempersiapkan anak buahku. Kau hanya perlu mengabariku saat kau sudah melakukannya. Tapi, ingat tetap waspada. Anak buah Rafael tidak bisa diremehkan." Jack memperingatkan.
"Baiklah! Aku akan melakukannya dengan hati-hati." Dyana pun mematikan sambungan telepon dan melemparkannya ke arah tempat tidur. Sekali lagi, dia menatap botol yang ada di tangannya.
Ku harap semua ini segera selesai.
*****
"Liza, tuan Rafael memintaku menyerahkan ini padamu." Bibi Anna menyodorkan sebuah kotak yang lumayan besar kepada Dyana.
Dyana menatapnya sekilas dan menerimanya.
"Ada lagi, Bibi Anna?" Bibi Anna menggeleng.
"Tidak ada. Tuan hanya berpesan agar kau memakainya nanti malam." Bibi Anna menghentikan ucapannya. "Dia menyuruhmu datang ke kamarnya. Apa kau akan melakukan sesuatu bersamanya, Liza?" tanya bibi Anna sedikit ragu.
"Sebenarnya aku tidak begitu heran. Tuan memang sering mengajak wanita bermalam bersamanya, baik itu wanita malam atau pun temannya, bahkan para pelayan, asalkan wanita itu menarik perhatiannya." Dyana hanya diam mendengar penuturan bibi Anna.
"Aku hanya khawatir padamu. Kau sepertinya adalah wanita baik-baik, aku hanya tidak ingin kau bernasib sama dengan wanita lainnya yang akan langsung dibuang saat dia bosan." Dyana masih diam mendengarkan kata demi kata yang diucapkan bibi Anna. Dyana sedikit terkekeh mendengar ucapan bibi Anna yang terakhir.
"Tenang saja, bi. Aku tidak akan berakhir seperti mereka yang bibi sebutkan tadi." Bibi Anna terlihat bingung dengan jawaban Dyana.
'Kenapa Liza bisa setenang itu?'
"Terserah kau saja, aku pergi dulu, Liza." Bibi Anna berjalan meninggalkan Dyana sendiri.
Pria bernama Rafael itu benar-benar brengsek. Sepertinya aku akan melakukan rencanaku dengan senang hati. Pria itu benar-benar harus diberi pelajaran.
*****
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Tapi, Rafael belum juga pulang. Dyana sudah tidak sabar menyelesaikan ini semua.
Tiba-tiba Dyana mendengar suara mobil dari luar. Dyana menatap keluar jendela kamarnya, terlihat Rafael turun dari mobil. Di belakangnya ada dua mobil lagi, mobil para pengawal yang selalu mengawalnya kemana pun.
Kenapa pengawalnya bertambah banyak?
Tiba-tiba Dyana bergidik ngeri, jika rencananya gagal dan dia ketahuan, apa yang akan terjadi padanya? Tapi, dia yakin Jack sudah mengatur semuanya. Dia hanya perlu memainkan perannya saja. Sisanya? Akan diurus oleh Jack.
Klek!
Seseorang membuka pintu kamarnya. Dyana sedikit terkejut, dia menoleh ke arah pintu. Salah seorang pelayan berada di sana.
"Eliza, tuan Rafael menunggumu di kamarnya, sekarang." Wanita itu nampak tidak suka melihat Dyana.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Ah, sudahlah tidak terlalu penting juga.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Dyana mengabaikan tatapan tidak suka wanita itu.
Wanita itu melenggang pergi tanpa berkata apapun lagi. Dyana segera menutup pintu kamarnya. Dia menatap kotak pemberian bibi Anna tadi siang.
"Baiklah, mari kita bermain peran." gumam Dyana pada dirinya sendiri.
*****
Dyana melangkah perlahan menuju kamar Rafael, di tangannya terdapat sebuah nampan kecil. Sebotol wine dan dua gelas kristal.
"Pemisi, Rafael!" ucap Dyana saat dia telah sampai tepat di depan pintu sambil mengetuknya perlahan.
"Masuklah. Pintunya tidak dikunci, sayang!" Dyana ingin muntah mendengar suara pria itu, terdengar menjijikkan di telinganya.
Dia pun membuka pintunya perlahan, lalu masuk.
Dilihatnya Rafael tengah duduk di pinggir kasur king sizenya. Pria itu tidak serapi saat dia keluar rumah tadi pagi. Dia hanya memakai kemeja hitam dengan tangan digulung hingga siku. Kedua kancing baju teratasnya juga terbuka.
Dyana meletakkan minuman yang di awanya ke atas meja kecil yang berada di kamar Rafael, dia berusaa tidak menghiraukan tatapan mesum Rafael ke arahnya.
Rafael bejalan mendekatinya, merengkuh pinggang Dyana. Pria itu mendorong Dyana hingga jatuh terduduk di sofa.
"Apa kita akan memulainya sekarang, Baby?"
Tiba-tiba sekujur tubuh Dyana bergetar. Apa yang harus dia lakukan? Pria ini mengunci pergerakannya.