I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 35



Mata Dyana mengerjap beberapa kali. Kagum akan keindahan yang ia lihat.


Ternyata Andreas membawanya ke rooftop sebuah restoran. Di mana, di sini sudah disiapkan satu set meja dengan dua kursi khusus.


Hari memang sudah senja saat mereka tiba di sini. Restoran ini berada tepat di dekat laut. Menjadikan sunset terlihat sangat jelas dan indah dari di sini.


"Kau suka?" tanya Andreas menatap Dyana yang antusias melihat matahari tenggelam. Dia memang sudah menyiapkan ini dan memperkirakan semuanya.


Dyana menoleh ke arah Andreas. Tanpa sadar ia tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja aku suka. Ini sangat indah."


Dyana menggenggam pagar rooftop dan menatap matahari tenggelam kembali. Dia memang sangat suka melihat hal-hal indah berbau alam.


Andreas juga menggenggam pagar rooftop, namun pandangannya tidak pada laut yang memerah. Dia terus-menerus menatap Dyana yang berdiri di sampingnya. Hati Andreas menghangat melihat wajah Dyana yang nampak ceria.


Andreas berdeham. Dia ingin berbicara, namun tak tega mengganggu Dyana yang nampak menikmati pemandangan.


Dyana menoleh ke arah Andreas.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Dyana tepat sasaran.


Andreas mendadak kikuk, namun tak lama wajahnya berubah serius.


"Dy, apa kau yakin akan menikah dengan Calvin?" tanya Andreas was-was.


Dyana kaget mendengar pertanyaan Andreas yang tidak terpikir olehnya.


Dyana mengedikkan bahunya.


"Entahlah." ucap Dyana. Dia sendiri tidak yakin dengan keputusan yang akan ia ambil.


"Kau benar-benar akan menikah dengan Calvin?" Andreas tidak puas dengan jawaban Dyana. Jadi ia kembali bertanya dengan pertanyaan yang kurang lebih sama.


"Mungkin." jawab Dyana singkat. Namun, ada keraguan di sana.


Dyana berpaling. Kembali manatap laut yang semakin lama semakin gelap.


Andreas tersenyum canggung. Kemudian menghela napas.


"Dyana..." panggil Andreas dengan nada lembut.


"Iya.." jawab Dyana tanpa menoleh ke arah Andreas. Andreas kembali menghela napas mencoba bersabar.


"Bisa kau menatapku!" titah Andreas. Dia tidak bisa berbicara tanpa bertatap muka dengan Dyana.


Dyana menoleh. Kini ia berdiri lurus tepat di depan Andreas.


"Sekarang apa?" tanya Dyana melihat Andreas yang kini diam.


"A..aku lapar. Bagaimana kalau kita makan malam dulu?" ucap Andreas yang membuat Dyana mengernyit bingung. Namun, setuju dengan ucapan Andreas.


"Baiklah." ucap Dyana. Kemudian berjalan lebih dulu ke meja makan yang sudah disediakan.


Andreas menghela napas. Lagi. Kepalanya menggeleng pelan. Bukan itu yang ingin ia ucapkan tadi. Tapi, hal lain. Namun, ia berubah pikiran karena merasa belum waktunya mengatakan apa yang ingin ia katakan.


Saat ini hari sudah benar-benar gelap. Senja yang tadi sempat menghiasi kini berganti dengan langit malam yang gelap. Sedikit demi sedikit bintang mulai hadir menghiasi langit.


Walau sudah malam. Namun, suasana di rooftop ini sangat terang karena ada lampu di setiap sudutnya.


Setelah pelayan datang mengantarkan makanan pada mereka. Tidak ada lagi yang bersura. Mereka nampak sibuk menikmati makanan masing-masing. Namun, tidak ada yang tahu jika otak mereka penuh dengan pikiran yang meminta segera diungkapkan.


Di otak Andreas penuh dengan sesuatu yang ingin ia ungkapkan pada Dyana. Sementara di otak Dyana penuh dengan pertanyaan yang membutuhkan jawaban.


Sesekali Dyana mencuri pandang ke arah Andreas. Sebenarnya ia sedikit canggung berada di tempat seromantis ini hanya berdua dengan Andreas. Dyana juga bingung kenapa jantungnya terus berdetak kencang tidak seperti biasanya saat ia bersama Andreas. Dyana juga bingung. Entah sejak kapan ia tidak merasa takut lagi pada Andreas. Malah, rasa aman yang ia rasakan kini saat bersama dengan Andreas.


"Apa kau kedinginan?" tanya Andreas melihat Dyana sedikit menggigil.


"Tidak." ucap Dyana berbohong. Nyatanya ia memang kedinginan. Malam ini angin memang berembus lebih kencang dari biasanya.


Andreas tidaklah bodoh. Dia cukup peka terhadap Dyana. Dia tahu wanita itu berbohong. Jelas-jelas Dyana kedinginan.


Pria itu berdecak. Dia kecewa melihat Dyana yang tidak jujur padanya. Dia kemudian melepas kemeja miliknya, menyisakan kaus berwarna hitam yang melekat di badannya. Membuat otot lengan dan badan sixpack Andreas telihat jelas.


Dyana tertegun melihat Andreas yang tiba-tiba berjalan mendekatinya dan menyampirkan kemeja milik pria itu ke badannya. Membuat Dyana menahan mati-matian gemuruh yang tiba-tiba menerpa hatinya.


"Apa kita perlu pergi dan pindah ke dalam saja?" tanya Andreas tak tega melihat Dyana kedinginan. Bisa-bisa Dyana masuk angin atau sakit akibat terlalu lama diterpa angin malam. Apalagi ia sedang hamil.


Dyana menggeleng. "Tidak perlu. Lebih baik katakan saja apa yang perlu kau katakan. Lalu kita bisa pulang."


Andreas kembali duduk di kursinya. Dia menatap mata Dyana dalam.


"Apa kau mencintai Calvin?" tanya Andreas kepada Dyana pelan namun sangat menuntut jawaban.


Mendengar ucapan Dyana membuat Andreas terkekeh.


"Apa yang lucu?"


Dyana merasa tersinggung melihat Andreas yang malah menertawakannya. Apa ada yang salah dengan ucapannya?


"Tidak ada. Aku hanya merasa senang. Kalau begitu kau tidak perlu menikah dengan Calvin."


Dyana menatap Andreas sinis.


"Kenapa? Dia bilang dia mencintaiku. Apa salahnya?"


"Tentu saja salah. Kau tidak perlu menikah dengan pria yang tidak kau cintai." ucap Andreas yang merasa senang mendengar ucapan Dyana. Bahwa wanita itu tidak mencintai Calvin.


"Apa urusanmu?" cibir Dyana.


"Tentu saja urusanku. Orang yang menikahimu nanti akan menjadi ayah dari anakku. Aku harus memastikan ibu dari anakku bahagia nantinya. Jika ibunya saja tidak bahagia bagaimana nanti dengan anakku." ucap Andreas menjawab pertanyaan Dyana.


Seketika Dyana diam. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Langsung saja ke intinya jangan berbelit seperti ini." ucap Dyana tak sabar.


Wajah Andreas seketika berubah. Dia menatap lekat manik mata Dyana. Membuat wanita yang berada di depannya mendadak salah tingkah.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Andreas tiba-tiba.


Dyana terbelalak kaget mendengar ucapan Andreas yang tiba-tiba. Dyana mendadak kikuk. Tidak tahu harus menjawab apa. Otaknya menyuruh segera bekata 'tidak' dengan cepat. Namun, hatinya tidak mengizinkan. Dia diam beberapa saat.


"Ke..napa kau bertanya seperti itu?" tanya Dyana yang bingung harus menjawab apa.


"Iya atau tidak. Hanya itu jawaban yang aku butuhkan." ucap Andreas penuh penekanan.


Pria itu terus menatap manik mata Dyana.


Dyana sudah tidak tahan dengan tatapan Adreas yang penuh intimidasi ke arah nya, seolah ia bisa tertarik masuk ke dalam mata Andreas. Dyana cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Andreas.


"Iya atau tidak?" desak Andreas. Melihat Dyana yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Sebenarnya dari sorot dan tingkah Dyana ia sudah mendapatkan jawaban. Namun, ia ingin mendengar langsung dari bibir Dyana.


"A..aku tidak bisa menjawabnya sekarang." ucap Dyana yang bingung harus menjawab apa. Dia sadar ada yang salah pada dirinya. Mungkinkah ia mencintai Andreas?


"Iya atau tidak?" ulang Andreas, lagi. Dia benar-benar butuh jawabannya sekarang. Pria itu terus mendesak Dyana.


"A..ku bingung. Jangan paksa aku menjawabnya sekarang."


Andreas meraih dagu Dyana. Mengangkatnya agar menatap lurus ke arahnya. Wanita itu sedang menunduk sekarang.


Andreas sendiri tahu bahwa Dyana sedang bingung dengan perasaannya sendiri.


"Tatap mataku. Hilangkan keraguan di otakmu. Ikuti apa kata hatimu." ucap Andreas. Entah mengapa Dyana mengangguk mengikuti instruksi dari Andreas.


"Sekarang jawab. Apa kau mencintaiku?" tanya Andreas sekali lagi.


Entah mendapat dorongan dari mana. Dyana mengangguk.


"Iya," kata itu meluncur mulus dari bibir Dyana.


Mendengar itu membuat senyum Andreas merekah.


"Finally!" ucap Andreas bersemangat. Membuat Dyana terkejut.


"Apa?" tanya Dyana. Sepertinya ia tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan barusan.


"Seperti dugaanku kau memang mencintai ku." ucap Andreas. Pria itu benar-benar senang saat ini.


"Siapa bilang?" tanya Dyana bingung. Namun tak lama ia sadar. "Astaga!" pekiknya setelah mengingat apa yang ia ucapkan beberapa waktu lalu.


"Kau pasti mengipnotisku!" tuduh Dyana kepada Andreas.


Pria itu malah tertawa. Mendengar ucapan Dyana yang tidak logis. Dyana sendiri cemberut karena ditertawakan.


Dyana merutuki dirinya sendiri yang menjawab 'Iya' pada pertanyaan Andreas.


"Sudahlah, Dy. Itu memang bukan kau yang mengatakannya. Tapi, suara hatimu."


"Sama saja." Dyana benar-benar malu saat ini. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


Tiba-tiba Andreas menggenggam tangan Dyana. Membuat wanita itu menegang.


"Jadi... ayo kita menikah." ucap Andreas tiba-tiba.


Mulut Dyana menganganga. Matanya mengerjab. Apa pria ini baru saja melamarnya?