I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 11



Dyana menatap lekat wanita yang berada di hadapannya. Cantik, bahkan lebih cantik darinya. Tidak heran Julian berpaling darinya dan lebih memilih wanita ini.


Dyana masih berada di atas sepedanya, tidak berniat turun.


Dia heran. Dalam satu hari ini orang yang telah menyakiti hatinya datang menemuinya.


"Kenapa kau menemuiku?" tanya Dyana malas.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!" Wanita itu memaikan jari lentiknya. "Tepatnya sebuah peringatan!"


Dyana tidak mengerti maksud wanita ini dan tidak berniat mengetahuinya.


"Aku tidak mengerti dan aku rasa aku tidak ada urusannya dengan apa pun itu." Dyana bersiap-siap mengayuh sepedanya. "Minggir! Aku tidak punya cukup waktu untuk meladenimu!" Dyana hendak mengayuh sepedanya, bersiap untuk pergi.


"Tidak semudah itu!" Matanya melotot tajam ke arah Dyana.


"Minggir! Atau kau ku tabrak?!" ancam Dyana.


"Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk menjauhi Julian, kau tau dia milikku!" ucap wanita itu menatap Dyana kejam.


Sebenarnya Liona tidak mencintai Julian. Seperti yang dikatakan Rafael, dia hanya mencintai dirinya sendiri.


Liona melakukan ini karena dia tidak terima Julian hendak meninggalkannya, dengan alasan lebih memilih Dyana. Biasanya Liona lah yang membuang pria, tapi kini Julian membuangnya seperti sampah dan dia tidak terima hal itu. Dia tidak terima wanita seperti Dyana mengalahkannya.


"Aku tidak ada hubungan lagi dengannya. Kalau kau mau ambil saja!" Dyana benar-benar jengah meladeni wanita ini.


"Benarkah!?" Wanita itu memandang Dyana dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Tapi, sepertinya Julian tidak begitu!" Wanita itu mengelus rambut Dyana pelan sebelum menariknya ke belakang cukup keras, sehingga membuat kepala Dyana terjungkal ke belakang.


"KAU!?" Dyana berdiri, turun dari sepedanya. Mendekati wanita di depannya. Menatapnya penuh amarah.


PLAK! Satu tamparan keras berhasil mendarat di wajah mulus wanita itu.


Wanita itu memegang pipinya, terasa perih. Sedikit darah keluar dari ujung bibirnya.


Sebenarnya Dyana tidak berniat melakukannya. Tapi, wanita itu sudah menguji kesabarannya. Dia menatap wanita itu, kali ini tidak dengan tatapan tajam. Ekspresi wajah Dyana datar. Dia sedikit menyesal menampar wanita itu, keras.


"BERANINYA KAU!" Wanita itu mengelus bibirnya dan menemukan darah di sana. "AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!" teriaknya.


Dia menepuk kedua tangannya dua kali. Tiba-tiba dua pria bertubuh kekar keluar dari mobil.


"Singkirkan wanita sialan ini!" perintahnya.


Dyana bergidik menatap dua pria di hadapannya. Dia berniat lari, tapi kedua pria itu berhasil menangkap lengannya.


"Kau akan menyesal pernah berurusan denganku, ******!"


Bukannya dari awal wanita ini yang memulai berurusan denganya. Dan ******, sepertinya sebutan itu lebih cocok untuknya.


"Seret dia ke dalam mobil!"


Dyana mencoba meronta, tapi sayang tenaganya tidak lebih kuat dari dua pria ini.


Kedua pria itu menyeret Dyana ke dalam mobil. Mereka membuka bagasi hendak memasukkannya ke sana. Dyana meronta, tanpa sadar pergerakannya menjatuhkan tanda pengenal mahasiswanya di dalam bagasi.


Tapi, Dyana bukanlah wanita lemah. Tidak kehabisan akal, Dyana menggit tangan pria yang memegangang tangan kanannya dengan keras.


Refleks pria itu melepaskan pegangannya dari Dyana.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Dyana segera menendang pria yang memegang tangan kirinya, tepat di ***********. Sepertinya itu cara terakhir dan terampuh yang bisa ia lakukan.


Sontak pria itu meringis memegang ***********.


Dyana langsung berlari, saat tidak ada lagi yang menahannya.


Wanita yang sejak tadi hanya diam menonton. Terkejut melihat perlawanan Dyana yang cepat. Ia meraih tangan Dyana yang mencoba kabur. Tapi, Dyana sudah lebih dulu mendorongnya, hingga jatuh tersungkur ke tanah.


Dengan cepat Dyana lari menuju sepedanya dan mengayuhnya dengan sangat cepat.


"Kejar wanita itu jangan sampai dia lolos!" bentak wanita itu. Sontak kedua pria yang masih merasa kesakitan itu tersadar kemudian mengejar Dyana.


Untung Dyana sangat mahir mengendarai sepada. Hingga jaraknya dengan kedua pria itu sudah lumayan jauh.


"Dasar bodoh! Mana mungkin mereka bisa mengejar wanita itu dengan berlari." decih Liona menatap kedua anak buahnya yang menjauh.


Dia tidak yakin anak buahnya akan mampu mengejar Dyana. Jadi dia memutuskan ikut mengejar menggunakan mobil.


Tiba-tiba ponselnya berdering saat dia menginjak pedal gas dan mulai menyetir.


"Halo, Siapa ini!?" bentaknya sedikit panik karena dia sudah tidak melihat sosok Dyana lagi.


"Kau kenapa?" Suara pria yang familiar di telinga Liona berbicara dengan lembut namun memaksa terdengar dari sana.


"Andreas!? Dari mana kau tau nomor teleponku?" tanyanya terkejut. Seingatnya dia sudah mengganti nomornya saat dia kabur dari rumah Rafael sebulan lalu.


"Itu mudah saja sayang. Aku hanya perlu-" Ucapan Andreas terhenti saat tiba-tiba Liona menangis.


"Andreas tolong aku! Sebenarnya ada sebuah mobil yang mengejar ku." Liona berpura-pura, dia hanya ingin mendapat simpati dari Andreas. Jika dia tidak lagi bisa mendapatkan Julian, dia ingin kembali bersama Andreas. Dan Andreas pasti bisa ia manfaatkan untuk membalas Dyana.


"Sebenarnya kau kenapa!?" Andreas panik.


"Tadi saat aku pulang dari mall tiba-tiba seorang wanita mencegatku. Dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak menjauhi kekasihnya. Dia menuduhku menggoda kekasihnya. Padahal, kekasihnya yang menculikku karena aku terus-menerus menolaknya. Tapi, saat aku berhasil kabur dari kekasihnya. Aku malah- aku..". Dia tidak melanjutkan, isakannya semakin keras, sambil terus mengemudikan mobilnya mengejar Dyana.


"Kau tau siapa namanya!?" tanya Andreas geram.


"Dyana. Namanya Dyana, dia juga hendak merampokku!" ucapnya tepat saat matanya melihat Dyana dalam radius seratus meter, tapi dia tidak melihat anak buahnya mengejar Dyana, darahnya seketika mendidih.


"Sial!" umpatnya. Liona menekan gas mobilnya lebih cepat, bahkan sangat cepat. Dia semakin kesal melihat Dyana yang lolos dari kejaran anak buahnya. Mengabaikan Andreas yang mencoba memanggilnya dari seberang telepon.


Liona tidak sadar ada sebuah truk yang melaju hendak berbelok ke arahnya dari persimpangan. Hingga....


Bruuu...akkkk...!!!


Mobil Liona menabrak truk itu dengan sangat keras. Dia tidak lagi sadarkan diri, dari kepalanya mengucur darah segar.


Ponsel Liona masih tersambung dengan Andreas. Andreas mendadak cemas saat tidak ada lagi jawaban dari Liona. Hingga suara benturan yang sangat keras menyadarkan Andreas dengan situasi yang terjadi.


Andreas memanggil anak buahnya.


"CEPAT SIAPKAN MOBIL! KITA CARI LIONA! ADA SESUATU YANG MENIMPANYA!" Suaranya menggelegar ke seluruh penjuru ruang kerjanya yang luas.


*****


Dyana mengayuh sepedanya secepat mungkin. Saat sudah berada di keramaian dia menoleh ke segala arah memastikan tidak ada lagi yang mengikutinya.


Sepertinya mereka tidak mengikutiku lagi.


Menarik nafas. Dyana terus mengayuh sepedanya, kali ini tidak terlalu cepat. Mengingat dia sudah berada di tempat yang lebih aman. Terkadang dia masih melihat-lihat sekeliling, memastikan jika ia sudah benar-benar aman.


Dyana mendengus lega, saat ia sudah menginjakkan kakinya di halaman cafe Calvin. Belum terlalu banyak pelanggan yang datang.


"Dyana?!" panggil seseorang. Dyana menoleh. Itu Calvin.


"Kau terlambat lima belas menit!" ucapnya dengan nada sedikit membentak, pandangannya tajam ke arah Dyana. Sepertinya ia marah.


Tiba-tiba air mata Dyana keluar. Ia menangis. Calvin seketika tersentak melihat Dyana menangis. Seketika ia panik.


"Hei! Kau kenapa? Aku hanya bercanda." Dia mendekati Dyana. Calvin mengelus wajah Dyana lembut, berniat menghapus air matanya.


Tapi, Dyana malah semakin terisak.


"Maafkan aku Dyana. Aku tidak bermaksud membentakmu." sesalnya, dia berpikir kalau Dyana menangis karena bentakannya.


Sebenarnya Calvin hanya ingin menggagu Dyana, karena tidak biasanya wanita ini terlambat.


Dyana menggeleng. Dia menarik napasnya dalam, mencoba menenangkan diri.


"Tidak Calvin. Aku menangis bukan karena itu." ucapnya lirih.


Calvin melepaskan tangannya dari wajah Dyana.


"Lalu?" tanya Calvin heran.


Dyana menghentikan isakannya, kemudian menghapus air matanya sendiri.


"Aku hanya lega. Tadi, ku kira, aku tidak akan bisa sampai di sini lagi."


Calvin diam, tidak mengerti maksud Dyana.


"Tadi, aku hendak diculik."


"Apa!?" Calvin syok mendengarnya. "Apa itu benar?"


Dyana mengangguk. Ditatapnya mata Dyana lekat. Dia tidak menemukan kebohongan disana. Dyana jujur. Lagi pula untuk apa Dyana berbohong padanya. Sebagai alasan karena dia terlambat? Itu sangat tidak mungkin.


Dyana mulai menceritakan semuanya.


Tiba-tiba Calvin memeluknya. Erat. "Kau tidak terluka, kan?"


Dyana melepaskan pelukan Calvin. Dia melihat sekitar, mereka menjadi pusat perhatian.


"Aku tidak apa-apa, Calvin." ucap Dyana pelan, dia sedikit malu dengan tatapan orang-orang ke arah mereka. Sedangkan Calvin, dia terlihat tidak peduli.


"Kau yakin? Kalau kau mau, kau bisa tidak bekerja dulu."


Dyana langsung menggeleng. Dia sudah berjanji akan bekerja lebih keras di sini, bukan untuk libur lagi.


"Tidak, Calvin. Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir, aku akan tetap bekerja." Dyana tersenyum mencoba meyakinkan Calvin.


"Baiklah. Tapi, aku akan memperketat penjagaan di sini untuk berjaga-jaga."


Dyana tersenyum. Calvin memang terlalu baik.


*****


Seperti janjinya tadi. Malam ini Dyana sangat bersemangat bekerja. Dia seperti tidak pernah lelah walau saat ini pelanggan di cafe Calvin sangat ramai.


Dyana memasuki dapur, untuk memberi tahu pesanan. Dyana membantu Georgio—koki di sini—sedikit, seperti memotong sayuran sambil menunggu pesanan pelanggan siap.


"Sepertinya tuan Calvin menyukaimu, Dy."


Sontak Dyana menoleh ke arah Georgio, dia menghentikan kegiatannya memotong wortel.


"Tidak Georgio. Seperti yang kita semua tahu, aku dan Calvin hanya sebatas sahabat tidak lebih." bantah Dyana tegas


"Kau hanya tidak sadar saja" ucap Georgio sambil mengaduk bumbu.


Dyana menggeleng. Mencoba tidak peduli dengan ucapan Georgio. Dia kembali memotong wortel.


******


Selang infus terlihat menggantung di tangan seorang wanita. Matanya tertutup. Wanita itu tengah terkulai lemas. Di kepalanya terlilit kain putih dengan noda merah di pelipisnya. Dia koma.


Pria yang duduk di sebelahnya menatapnya dengan ekspresi tidak terbaca. Penampilannya sedikit berantakan.


"Kenapa kau jadi seperti ini, Liona?" Suaranya lirih. Pria itu, Andreas. "Bukalah matamu Liona! Kau tahu aku sangat merindukanmu." Digenggamnya tangan Liona, sebelah tangannya mengelus wajah wanita itu. Andreas menatap mata Liona lekat. Berharap Liona membuka matanya.


"Akhh!" ucapnya gusar saat Liona tidak kunjung membuka mata.


"Gerald!" panggilnya lantang. Tak lama seorang pria bersetelan jas rapi segera datang menghampirinya. Pria itu menunduk sopan, tak berani menatap mata Andreas.


"Ada apa tuan?" tanya Gerald-orang kepercayaan Andreas setelah Jack, dengan sopan.


"Cari tahu semua tentang wanita bernama Dyana!" perintahnya pada Gerald.


Biasanya Andreas akan memberikan pekerjaan penting pada Jack, tapi karena Jack sedang pergi ke Washington mewakilinya mengurus bisnis yang ada di sana untuk beberapa waktu. Jadi, dia melimpahkan semua pekerjaan ini pada Gerald.


"Baik tuan!" ucap Gerald sopan. "Ada lagi, tuan?"


"Periksa juga mobil Liona. Mungkin ada jejak di sana!"


Tentu saja mereka harus mencari jejak tentang Dyana dulu. Orang yang bernama Dyana di kota ini tidak hanya satu orang.


"Baik tuan. Akan saya kerjakan dengan baik." Gerald permisi pergi.


Andreas kembali mengelus pipi Liona. Bekas merah di pipinya sudah sedikit memudar. Itu, bekas tamparan Dyana.


Andreas mengepalkan tanganya. Emosinya seketika memuncak mengingat perkataan dokter tentang keadaan Liona.


Sepertinya dia dipukul sesaat sebelum kecelakaan. Kata-kata dokter menggema di telinganya.


"Dyana. Aku akan membuatmu menderita. Hingga kau merasa kematian lebih baik daripada hidupmu." Ekspresi wajah Andreas berubah seram.


*******


Ho... ho...ho...


Akhirnya UP lagi.


Gimana yah nasib Dyana nanti saat dia bertemu Andreas?


Penasaran?


Author juga penasaran.


Seperti biasa. Silahkan vote&coment bagi yang tidak suka. Apalagi yang suka.😄


Author juga menerima kritik dan saran.