I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 19



Mobil mewah berwarna hitam metalik berhenti dengan tergesa tepat di depan sebuah mantion.


Seorang pria berjas abu-abu turun dan langsung berjalan cepat memasuki mantion miliknya. Wajah arogan yang biasa dia tampakkan sama sekali tidak terlihat. Raut cemas dan khawatir yang nampak jelas di wajah tampannya.


Pria itu adalah Andreas. Diikuti beberapa anak buahnya dia menuju lift dan langsung menuju lantai tiga, di mana dia mengurung Dyana.


Jack, beberapa pelayan dan bodyguard sedang berdiri di depan kamar Dyana dengan wajah cemas saat Andreas keluar dari lift.


Wajah mereka berubah takut saat melihat Andreas keluar dari lift dan menuju ke arah mereka.


"BAGAIMANA DIA BISA KABUR!? DIA BERADA DI LANTAI TIGA, APA KALIAN TIDAK MENGUNCI PINTUNYA SEHINGGA DIA BISA KELUAR?!" bentak Andreas yang seketika membuat semua orang yang berada di sana ketakutan dan langsung menundukkan kepala.


Jack dengan ragu menatap Andreas, pria itu memang harus menjelaskan semua yang telah terjadi di sini.


"Begini, sebenarnya, se-sebena-" Tiba-tiba Jack mendadak gugup berbicara kepada Andreas. Dia takut melihat Andreas yang terlihat sangat marah.


"Begini, lebih baik kau lihat sendiri." Jack yang tidak dapat menjelaskan lebih memilih menunjukkan secara langsung kepada Andreas hal yang sebenarnya terjadi.


Andreas setuju, walau masih diselimuti amarah pria itu mengikuti Jack yang menuntun dirinya memasuki kamar.


Andreas menatap nanar kamar ini, terlihat sangat berantakan dan tidak ada Dyana di sini.


Entah mengapa mengetahui Dyana tidak lagi ada dalam jangkauannya membuat Andreas gelisah. Ada rasa aneh yang dia rasakan, berbeda dengan perasaannya pada Liona yang hanya sekadar obsesi. Ini lebih seperti rasa takut kehilangan. Takut kehilangan akan gadis bernama Dyana.


Jack menuntunnya menuju balkon.


Andreas sungguh kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Sebuah tali yang diikat di tiang pembatas balkon. Tali panjang yang terbuat dari tirai-tirai panjang yang saling diikat sehingga membentuk tali panjang yang panjangnya hampir menyentuh tanah.


Andreas menghempaskan tali itu. Pantas saja Dyana bisa kabur, gadis itu turun dari lantai tiga menggunakan tali ini. Balkon kamar ini memang terletak di bagian belakang mansion, jadi tidak terlalu banyak penjaga di sini. Tapi, bagaimana Dyana bisa keluar dari pekarangan rumah ini, sedangkan rumah ini memiliki pagar tembok yang cukup tinggi.


Andreas tidak habis pikir, kenapa Dyana senekad itu. Bagaimana jika salah satu ikatan kain ini terputus saat dia masih berada di ketinggian?


Andreas merasa bersalah. Pasti karena perlakuan buruknya kepada gadis itu sehingga mampu membuat dia melakukan hal nekad dan ekstrim seperti ini agar bisa lari darinya.


"JACK! Siapkan semuanya! Bagaimana pun kita harus menemukan Dyana. Bagaimana pun caranya, wanita itu harus kembali kepadaku!"


*****


Dyana mencoba bangun dari tempat tidur. Dia sama sekali tidak mengenali kamar ini. Ini bukan kamar di rumahnya atau pun di rumah pria iblis itu.


Dyana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sembari mengingat-ingat hal apa yang telah terjadi padanya. Kepalanya sedikit pening, dia mengusapnya perlahan.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tampak dua orang memasuki kamar. Satu lelaki dan satu wanita.


"Kau sudah sadar?" tanya wanita itu lembut pada Dyana. Suara itu terdengar tidak asing di telinga Dyana.


Dyana mengucek kedua matanya mencoba memperjelas penglihatan.


"Keyna? Kau disini?" tanya Dyana tidak percaya saat dia melihat Keyna sepupunya adalah wanita itu.


Keyna tersenyum singkat seraya menganguk meyakinkan Dyana.


Dia berjalan mendekati Dyana, Keyna memberinya minum kemudian duduk di sampingnya.


"Tadi malam kami hampir saja menabrak seseorang, kami keluar untuk memeriksanya. Dan aku sangat kaget melihat kalau itu adalah kau. Aku ingin bertanya padamu apa yang terjadi, tapi kau keburu pingsan." Keyna mengelus lembut rambut Dyana.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau menghilang selama seminggu, kami sangat khawatir dan terus mencarimu?" ucap Keyna lagi.


Dyana kaget mendengarnya.


"Jadi kau sudah seminggu di sini?" tanya Dyana. Keyna mengangguk.


"Berarti kau sudah bertemu dengan Ayah. Bagaimana keadaannya?" tanya Dyana tak sabar.


Keyna menatap pria tampan yang sedari tadi diam melihat mereka berdua, lalu kembali menatap Dyana yang sedang menunggu jawabannya dengan tak sabar.


"Jawab Key! Bagaimana keadaan Ayah. Apa dia baik-baik saja?" tanya Dyana seraya mengguncang-guncang tangan Keyna agar gadis itu segera menjawab pertanyannya.


"Pertama, kenapa kau tidak memberi tahu ku kalau Paman sedang sakit, huh?! Bukankah dia Ayahku juga!?" Keyna malah balik bertanya pada Dyana.


"Harusnya kau jawab dulu pertanyaanku?" Perasaan Dyana mendadak tidak enak saat melihat sorot mata Keyna yang terlihat sedih.


"Aku akan mengatakannya nanti, setelah kau menceritakan apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menghilang dan kenapa keadaanmu menjadi seperti ini?" Paksa Keyna.


Dyana menghela napas, memilih menyerah. Dia tahu bagaimana sifat Keyna, gadis itu tidak akan mengatakan apapun sebelum Dyana menjelaskannya.


"Kau janji?" ucap Dyana.


Keyna mengangguk.


"Janji."


Keyna melirik pria itu. Pria itu mengerti dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sekarang ceritakan!" suruh Keyna.


Dyana pun menceritakan semuanya. Mulai dari kejadian putusnya dia dengan Julian, tentang Liona, dan semua perbuatan Andreas padanya.


"Andreas Alfaro?" tanya Keyna memastikan.


"Iya! Apa kau mengenalnya?" tanya Dyana.


"Tidak! Tapi, sepertinya namanya tidak asing." ucap Keyna. "Lalu bagaimana kau bisa keluar dari sana?"


Dyana pun mulai menceritakan bagaimana dia bisa kabur dari mansion Andreas.


Flash Back On


Dyana berlari ke dalam kamarnya setelah menemukan sebuah ide brilian Dia mencari tas besar yang dia bawa dari cafe Calvin tempo hari. Bukankah itu berisi tirai-tirai panjang? Dyana berpikir akan menyambungkan semua kain itu dan menjadi alat agar dia bisa keluar dari tempat ini.


Setelah mencari di segala sisi kamar, akhirnya Dyana menemukannya di bawah tempat tidur.


Dyana menarik dan meletakkannya di atas pangkuannya. Dibukanya tas tersebut, lalu mengeluarkan isinya satu demi satu.


Untung tirainya panjang dan tidak terlalu tebal, sehingga Dyana mudah mengikatnya satu sama lain.


Dyana menatap tirai yang sudah dia sambung, sudah panjang. Pasti akan mencapai tanah. Dyana mengikat tirai tersebut ke tiang pembatas balkon, membiarkannya jatuh ke bawah.


Dyana mendongakkan pandangannya ke bawah, melihat seberapa jauh kain itu jatuh. Ternyata, tirai yang dia sambung tidak sampai mengenai tanah, sekitar dua meter lagi. Tapi, Dyana tidak peduli, nanti tubuhnya bisa menutupi kekurangan itu.


Setelah memastikan tidak akan ada orang yang melihatnya, Dyana turun perlahan-lahan. Dua meter lagi kaki Dyana akan menyentuh tanah. Tapi, tiba-tiba tangannya terlepas. Mungkin karena tangannya mulai panas bergesekan dengan tirai.


Dyana jatuh terpental ke tanah dengan posisi bokong terlebih dahulu mengenai tanah.


Dyana memekik menahan sakit. Pinggangnya serasa remuk. Tapi, dia tetap mencoba bangkit.


Dyana memandang ke seluruh halaman belakang mansion. Mencari celah untuk keluar dari pagar beton yang menjulang tinggi. Mata Dyana terhenti di sebuah pohon mangga yang tidak terlalu tinggi, tumbuh tepat di salah satu sisi pagar beton.


Dia menaiki pohon mangga tersebut dan meraih puncak pagar. Dyana berjongkok sebentar di atas tembok, menimbang-nimbang ketinggian.


Untung Dyana tidak tergolong wanita manja, dia sudah terbiasa mandiri. Jadi, dia tidak merasa kesulitan menaiki pohon dan melompat tembok. Lagi pula, waktu SMA dia pernah melakukannya beberapa kali.


Dyana melompat dan mendarat dengan sempurna. Mengabaikan pinggangnya yang sakit, Dyana berlari sekencang mungkin tanpa menoleh lagi.


Dyana bernapas lega saat dia merasa sudah berlari cukup jauh dari jangkauan mansion pria iblis itu, dan beruntung tidak ada satu pun pengawal yang melihatnya.


Dyana mendengus marah, saat sadar kalau dia kabur tanpa membawa apapun. Ponsel dan tasnya disembunyikan pria iblis tersebut.


Dyana mencoba berpikir bagaimana caranya untuk pulang. Jarak dari sini ke rumahnya terlampau jauh, dia tidak memiliki uang se-sen pun untuk sekadar menaiki kendaraan umum. Lagi pula wilayah ini lumayan sepi, tidak ada satupun orang yang lewat untuk dia mintai tolong.


Dengan pikiran yang berkecamuk Dyana menyeberang jalan. Tanpa sadar sebuah mobil melaju ke arahnya.


"KYAAAA!" teriak Dyana saat mobil itu mulai mendekat.


Citttt.... seketika mobil itu mengerem, tepat pada waktunya. Hampir saja mobil itu mengenai Dyana.


Terlihat dua orang turun dari mobil dan memeriksa apa yang terjadi.


Dyana masih mematung saat kedua orang itu menghampirinya. Dia syok.


"Hei kau baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang memegang kedua lengannnya. "Dyana!" ucap wanita itu saat menyadari siapa orang yang hampir saja dia tabrak.


Namun, Dyana tidak menjawab. Tiba-tiba dia ambruk, mungkin karena terlalu syok dan kelelehan. Untung saja pria yang bersama wanita yang mengenal Dyana itu dengan sigap menangkap tubuhnya. Hingga dia tidak jatuh ke tanah.


"Kita bawa dia ke rumah!" ucap wanita itu yang diangguki sang pria.


Flash Back off


Keyna tercengang mendengar cerita Dyana.


Sebegitu nekat, kah Dyana? Tapi, dia bersyukur kalau Dyana selamat dan bisa bertemu dengannya lagi. Dia tidak menyangka setelah seminggu mencari Dyana ternyata Dyana sendiri yang menghampirinya.


Keyna merasa miris mendengar cerita Dyana. Bagaimana pria bernama Andreas itu memperlakukan saudaranya. Bagaimana pun Keyna harus melindungi Dyana dan akan membalas pria bernama Andreas itu.


"Sekarang katakan bagaimana keadaan Ayah? Dia baik-baik sajakan? Apa Ayah khawatir aku menghilang?" tanya Dyana beruntun menuntut penjelasan dari Keyna.


Keyna terdiam beberapa saat, memantapkan diri sebelum bercerita pada Dyana.


"Pa-Paman, Keadaan paman..."


Seketika air mata Dyana luruh saat Keyna selesai bercerita.


*****