I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 49



Malam itu, Peter barusaja melamar Melody di sebuah restoran mewah yang disewa khusus untuk mereka berdua.


Peter menyematkan cincin di jari manis Melody sebagai bukti pengikat hubungan mereka.


Melody tak henti-hentinya tersenyum, ia sangat bahagia malam ini.


Tapi, kebahagiaannya berubah cemas saat Peter mengatakan akan meminta restu kedua orang tuanya malam itu juga untuk menikahi Melody.


Bukan tanpa sebab Melody merasa cemas. Ia sendiri tahu, jika kedua orang tua Peter, terutama Kazanova, ibunya, tidak menyukai Melody. Bukan sekali dua kali Melody mendapat ancaman dari ibunya Peter agar Melody meninggalkan Putranya, tapi sangat sering.


Peter sendiri tahu apa yang menyebabkan Melody cemas. Itu sebabnya, selama perjalanan menuju rumahnya Peter selalu mengehibur Melody dengan kata-kata, "Semua akan baik-baik saja."


Tapi, nyatanya tidak ada yang baik-baik saja.


Setelah mereka sampai di rumah Peter dan menyatakan maksud mereka. Ayah Peter, Jeremy, tak terima, sampai-sampai ia terkena serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit.


Semua panik. Peter yang sangat khawatir sampai-sampai melupankan keberadaan Melody diantara mereka.


Setelah sampai di rumah sakit. Peter baru menyadari ketidakberadaan Melody diantara mereka.


Dengan perasaan bersalah dan cemas Peter menghubungi Melody. Tetapi, tidak diangkat. Tentu saja, ponsel Melody tertinggal di apartementnya.


Tak lama, dokter keluar dan menyatakan kalau Jeremy telah siuman, dan ingin bertemu Peter, putra satu-satunya. Dokter juga mengatakan kalau kondisi jantung Ayah Peter sangat lemah, ia tidak boleh mengatakan hal-hal yang mengejutkan dan membuat beliau stres.


Peter memasuki ruangan Ayahnya. Sementara, Melody yang baru sampai di rumah sakit, sedang menanyakan keberadaan ruangan Ayah Peter.


Kazanova yang kebetulan lewat melihat Melody. Lantas ia menarik Melody menjauhi receptionis menuju ke tempat yang lebih sepi.


"Dasar wanita tidak tahu diri! Masih berani menampakkan wajahmu disini! Suamiku hampir meninggal gara-garamu!" ucap Kazanova sarkas.


"Lebih baik kau pergi dari sini! Kehadiranmu tidak diharapkan!" ucap Kazanova lagi.


"Tapi, aku ingin menemui Peter. Dalam situasi seperti ini aku harus ada di dekatnya. Untuk menguatkannya." ucap Melody masih menggunakan nada sopan. Ia menatap Kazanova penuh harap, agar membiarkannya berada di sini.


"Memangnya kau siapa? Jangan bermimpi bisa menjadi istri Peter. Karena aku tidak akan membiarkannya."


"Tapi, kami berdua saling mencintai." kilah Melody


Kazanova berdecih, "Cinta!? Cinta apa!? Kau pikir Peter benar-benar mencintaimu!?" Kazanova bersedekap. "Peter tidak benar-benar mencintaimu, dia hanya mempermainkanmu. Dan kau harus tau, sebentar lagi Peter akan menikah. Tapi bukan bersamamu, tetapi bersama Celine."


Tentu saja Melody tidak percaya dengan kata-kata ibu Peter. Tanpa menunggu Kazanova berbicara lagi. Melody pergi begitu saja menuju ruangan yang disebutkan receptionis tadi untuk menumui Peter.


"Hei! Aku belum selesai bicara! Dasar anak tidak tahu sopan santun!" teriak Kazanova garang melihat Melody pergi begitu saja.


Sesampainya di depan ruangan Ayah Peter, Melody memperlambat langkahnya. Pintunya terbuka sedikit, Melody mengintip sebentar, memastikan siapa saja yang berada di dalam.


Hanya ada Peter dan Ayahnya yang sedang bicara, sepertinya mereka sangat serius.


Melody mengurungkan niatnya untuk masuk dan menemui Peter. Ia memutuskan menunggunya di luar saja.


Namun, saat ia hendak melangkah pergi. Melody dengan jelas mendengar percakapan antara Peter dan Ayahnya.


"Ayah mohon. Menikahlah dengan Celine. Ayahnya baru saja meninggal, tidak ada lagi yang menjaganya. Kulihat dia mencintaimu, kau tau sendirikan kalau Ayahnya sangat berjasa dalam bisnis kita." ucap Jeremy kepada Peter.


"Tapi, Ayah. Bagaimana dengan Melody. Aku sudah melamarnya." ucap Peter hati-hati.


"Melody itu wanita yang cantik, di luar sana masih banyak pria yang bisa membahagiakannya."


"Tapi, Ayah..." Peter ingin membantah. Tapi, Jeremy memotong ucapannya.


"Atau kau ingin Ayah mati?" tanya Jeremy pelan namun penuh tekanan.


Tidak adalagi yang bisa Peter katakan selain mengangguk, menyetujui.


"Baiklah, Ayah. Jika itu mau Ayah."


Seperti ada petir yang menyambar hati Melody. Semudah itukah Peter menyetujuinya. Itu artinya, dirinya tidak benar-benar berarti dalam hidup Peter.


Dengan perasaan terluka, Melody pergi meninggalkan rumah sakit. Ia berlari dengan air mata yang mengucur deras.


Setelah menaiki sebuah taxi, Melody baru ingat. Selama mereka berhubungan, Peter memang tidak pernah mengatakan kata cinta padanya. Sudah jelas sekarang, benar yang dikatakan Kazanova, jika Peter hanya mempermainkannya saja.


Dengan persaan hancur. Melody kembali ke apartementnya, bukan, tepatnya apartement yang dibelikan Peter untuknya.


Dengan cepat Melody membereskan semua barang-barangnya. Sebelum ia mendengar dan melihat sendiri pernikahan Peter dan Celine nantinya, lebih baik ia mengakhirinya sekarang.


Sebelum pergi. Melody menatap seisi ruangan. Di tempat ini, ia sering menghabiskan malam bersama Peter. Dan sekarang, ia harus meninggalkan ini semua.


Dengan langkah pasti, Melody keluar dari apartement. Sebelumnya ia telah meletakkan cincin yang diberikan Peter padanya di atas nakas. Tanpa, surat atau pesan apapun. Melody bahkan telah mematikan ponselnya. Ia tidak siap menerima panggilan dari Peter, yang kalian tahu kata-katanya sekarang sudah tidak dapat dipercaya.


Sekali lagi Melody menatap bangunan apartement yang ia huni enam bulan belakangan ini. Mungkin, ia tidak akan pernah kembali ke sini lagi.


Dengan langkah berat, namun penuh keyakinan, Melody memasuki taxi yang kemudian membawanya jauh dari tempat itu.


Kalung itu adalah kalung yang pernah ia berikan pada Melody. Di dalam bandul terdapat fotonya dan Melody.


Tok..tok...tok


Semua lamunan Peter tentang masalalu buyar sudah. Dengan suara berat ia menyuruh orang yang mengetuk tersebut untuk masuk.


"Masuk!"


Muncullah Keyna dengan raut wajah muram.


"Bagaimana? Apa Dyana masih marah padamu?" tanya Peter ketika Keyna sudah berada di hadapannya.


"Iya. Dia masih tidak mau bicara padaku." ucap Keyna.


Peter nampak menghela napas.


"Aku jadi merasa bersalah padanya, Paman. Aku sudah mengetahuinya dari awal, tapi aku menutupinya darinya." sesal Keyna.


"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku yang menyuruhmu menutupinya darinya. Aku memang pengecut seperti biasanya."


Peter menunduk sebentar kemudian ia menatap Keyna lagi.


"Dyana amankan?"


Keyna mengangguk.


"Dia berada di rumah Andreas."


"Itu artinya ia aman." Peter merasa sedikit lega, setidaknya ia tahu bahwa Dyana berada di tempat yang aman.


"Bagaimana dengan pernikahannya?" tanya Peter.


"Aku sudah menanyakannya pada Andreas. Ia mengatakan semua seperti rencana awal."


Peter mengangguk mengerti.


"Itu artinya minggu depan. Pernikahan kau dan Alex, Dyana dan Andreas digelar bersamaan. Seperti rencana awal."


"Begitulah." Keyna membenarkan.


Peter termenung sebentar. Apa dia masih sempat mendapat maaf dari Dyana dan menjadi wali putrinya itu di hari pernikahannya? Atau itu hanya akan menjadi mimpinya untuk selamanya?


*****


Hari-hari berlalu tanpa terasa. Besok, besok adalah hari pernikahan Dyana-Andreas, dan Keyna-Alex yang akan diadakan di sebuah hotel berbintang.


"Dy?" panggil Andreas kepada Dyana yang termenung di depan cermin meja rias.


"Iya." ucap Dyana tanpa menoleh, ia hanya melihat bayangan Andreas di cermin.


Andreas memeluk Dyana dan mengelus rambutnya dari belakang.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Andreas lembut.


"Tidak ada. Aku hanya gugup untuk besok." jawab Dyana. Suaranya berbeda dari biasanya.


"Apa kau sakit?" tanya Andreas yang kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Dyana. "Suaramu berbeda dari biasanya."


Kali ini Dyana berbalik, ia menatap Andreas lembut. "Aku baik-baik saja, Andreas. Kau tak perlu khawatir."


Dyana tersenyum, tidak semanis biasanya. Senyumnya seperti dipaksakan.


Andreas memandang Dyana dengan dahi mengernyit. Ia tidak bodoh, pasti ada yang sedang dipikirkan Dyana. Namun, ia tidak mau terus terang.


"Dyana. Besok adalah hari pernikahan kita. Sebentar lagi, aku akan resmi menjadi suamimu. Kau harusnya membagi masalahmu padaku."


Mendengar itu, tiba-tiba Dyana memeluk Andreas, sangat erat. Ia menangis di pelukan pria itu.


Awalnya Andreas terkejut dengan Dyana yang tiba-tiba memeluknya. Tapi, ia dengan cepat menormalkan ekspresinya, kemudian ia membalas pelukan Dyana. Andreas mengelus-elus rambut Dyana, mencoba menenangkannya.


"Sebenarnya ada apa Dyana? Apa yang bisa ku lakukan untukmu, sayang?" ucap Andreas lembut.


Dyana melepaskan pelukannya, ia memandang Andreas dalam.


"Sebenarnya aku merindukannya. Aku ingin memeluknya. Memanggil dirinya Ayah. Tapi, apa dia pantas mendapatkan itu?" tanya Dyana pada Andreas dengan napas menggebu-gebu.


Andreas mengerti, ia tau siapa dan apa maksud dari ucapan Dyana.


Andreas tersenyum lembut. Ia meraih tangan Dyana, mengarahkannya pada dada wanita itu.


"Jawabannya ada disini." ucap Andreas yang telah meletakkan telapak tangan Dyana tepat di dadanya. "Ada pada hati dan dirimu sendiri. Seperti yang pernah aku katakan, dengarkan dan ikuti kata hatimu. Karena sedalam apapun otak menyangkal hati tidak pernah berbohong." ucap Andreas kemudian mengusap air mata Dyana yang kembali jatuh.