I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 21



Andreas tercengang mendengar pengakuan Calvin. Apa pria itu serius? Tapi, dari ekspresi Calvin, Andreas yakin jika pria itu serius.


Melepaskan tangan Calvin dari kerah bajunya, Andreas menatap Calvin nyalang.


"Kau bercanda?" Andreas tergelak menganggap pengakuan Calvin sebagai lelucon. "Bukankah Dyana hanya pegawaimu?"


"Asal kau tahu, dia lebih dari itu!" ucap Calvin sarkas. Pria itu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan frustrasi. "Harusnya kau tidak melakukan hal seperti itu padanya!"


Andreas tahu bahwa dia salah dan sekarang dia menyesal.


" Aku tahu aku salah dan sekarang aku menyesal. Itu sebabnya aku kemari, ingin menanyakan apa kau tau keberadaannya? Setidaknya saudara yang mungkin dia kunjungi..." ucap Andreas. Ekspresinya terlihat merasa bersalah. "Aku ingin meminta maaf dan akan mencoba memperbaiki semuanya."


Andreas terlihat tulus, namun Calvin terlihat tidak peduli. Dia tahu Dyana mempunyai saudara--Keyna dan gadis itu memang sedang berada di kota ini. Namun, sama halnya dengannya, Keyna juga tidak tahu di mana keberadaan Dyana. Mereka memang sedang mencarinya. Calvin belum tahu apa Keyna sudah bertemu dengan Dyana atau tidak.


"Lebih baik kau pergi, Andreas! Karena apa yang kau cari tidak akan kau dapatkan di sini!" ucap Calvin dengan nada mengusir.


Andreas mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi. Bagaimana pun di sini memang dialah yang bersalah. Apalagi dia tahu bahwa Calvin mencintai Dyana, pria itu pasti tidak akan membiarkan Andreas bertemu dengan Dyana lagi.


Andreas berjalan meninggalkan kantor Calvin. Jack yang sedari tadi hanya diam menonton, mengikuti Andreas.


Calvin berdiri setelah Andreas pergi. Pria itu menghempaskan meja kecil yang berada di dekatnya lalu menjambak rambutnya frustrasi.


Dia harus menemukan Dyana sebelum Andreas. Bagaimana pun Calvin tidak akan membiarkan Andreas bertemu dan kembali menyakiti Dyana. Calvin tahu bagaimana watak Andreas, pria itu tidak memiliki perasaan.


Calvin harus melindungi Dyana, wanita yang dia cintai sejak SMA.


*****


Seorang gadis berbaju hitam berdiri memandang sebuah makam.


Wajahnya terlihat sedih walau tidak ada air mata yang jatuh. Tentu saja. Selama ini dia sudah terlalu lelah menangis.


Dyana menjatuhkan lututnya ke tanah. Tangannya mengelus nisan yang bertuliskan nama 'Clara Alexa' , itu makam ibu Dyana.


Dyana menaruh bunga di atas makam ibunya. Gadis itu menutup mata saraya mengangkat tangannya untuk berdo'a. Dia berdo'a dengan sangat khitmat, hingga tidak sadar jika Keyna sudah berada di sampingnya.


"Dyana?" panggil Keyna setelah melihat Dyana selesai berdo'a.


Dyana menoleh dan terkejut melihat Keyna sudah berada di sampingnya.


"Kau di sini?" tanya Dyana.


Keyna mengangguk.


"Aku khawatir padamu. Kau pergi tanpa memberi tahu siapa pun dan aku kira kau pasti di sini. Tidak mungkin kau tidak mengunjungi makam bibi, sedangkan kau akan berangkat besok."


Dyana merasa bersalah melihat wajah Keyna yang terlihat khawatir. Dia memang meninggalkan apartemen Keyna dan datang kemari tanpa berpamitan pada siapa pun.


"Maaf sudah membuatmu khawatir," ucap Dyana tulus. "aku sudah selesai. Jadi, kita bisa pulang sekarang."


"Tapi, aku ingin berdo'a untuk bibi sebentar." Keyna sudah berada di sini. Tidak mungkin dia tidak mendo'akan bibi terbaiknya itu. "Baiklah ayo kita pulang." ucap Keyna setelah selesai berdo'a.


Dyana mengangguk. Mereka pun berdiri lalu berjalan beriringan meninggalkan area pemakaman.


*****


"Apa semua persiapan untuk keberangkatan Dyana sudah selesai, Alex?" tanya Keyna kepada Alex--kekasihnya. Pria yang bersamanya saat menemukan Dyana.


"Sudah. Kau tidak perlu khawatir. Aku bahkan sudah menyiapkan tempat tinggal untuknya di sana. Dia juga sudah aku pindahkan ke salah satu Universitas terbaik di sana." ujar Alex yang membuat Keyna tersenyum.


"Kau memang slalu bisa diandalkan." puji Keyna. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Alex.


"Tentu saja. Apapun itu, asalkan membuatmu bahagia akan aku lakukan." ucap Alex kemudian menarik pinggang Keyna agar lebih merapat padanya. Lalu mencium bibir Keyna.


Kamar ini begitu lengkap dengan alat-alat canggih khas rumah sakit. Dyana tidak menyangka kalau Alex adalah seorang dokter bedah dan merupakan pewaris tunggal pemilik rumah sakit terbesar di Amerika.


Dyana baru tahu ternyata selain memiliki penyakit kanker paru-paru, jantung Ayahnya juga lemah. Itu sebabnya setelah mengetahui Dyana menghilang tiba-tiba saja jantung Ayahnya nyeri dan dia kembali koma.


Untung saja saat itu. Keyna sudah sampai di rumahnya. Gadis itu sudah menyelesaikan tugas diklatnya di London sebagai dokter ahli penyakit dalam.


Bersama Alex, Keyna langsung menyiapkan kamar khusus ini untuk Ayahnya. Agar lebih mudah diawasi saat mereka pergi mencari Dyana. Mereka juga menyewa perawat dan dokter untuk merawat Ayahnya. Walau sebenarnya Keyna lah yang lebih sering memeriksa Ayahnya. Mengingat jika Keyna merupakan salah satu dokter spesialis penyakit dalam yang sangat hebat di usianya yang masih muda.


"Ayah besok aku akan pergi. Jadi aku mohon tolong bukalah mata Ayah, setidaknya aku ingin berpamitan sebelum aku pergi." ucap Dyana lirih. Dia menggenggam tangan Ayahnya lembut sambil menatap sendu wajah Ayahnya. Berharap lelaki itu membuka mata.


Namun, lagi-lagi Dyana harus menelan pil pahit karena sama sekali tidak ada respon dari Ayahnya.


"Ini adalah salah pria iblis itu. Jika saja dia tidak mengurungku, pasti Ayah tidak akan seperti ini." ucap Dyana penuh kebencian menyalahkan Andreas yang sudah menghancurkan hidupnya.


*****


"Dyana!" Panggil seseorang dari belakang saat Dyana hendak memasukkan koper ke dalam mobil.


"Calvin?" ucap Dyana. Pria itu berjalan ke arahnya dengan terburu-buru.


Tadi malam dia memang menghubungi Keyna untuk menanyakan perkembangan pencarian Dyana. Dan dia lega saat Keyna berkata Dyana sudah bersamanya. Tapi, tidak berlangsung lama. Setelah Keyna berkata Dyana akan pergi, membuat Calvin ingin menemui Dyana secepatnya. Dia merindukan wanita itu.


Dyana tertegun, terkejut mendapati Calvin yang tiba-tiba memeluknya.


"Kau baik-baik sajakan, Dy? Apa pria itu memperlakukanmu dengan sangat buruk?" tanya Calvin khawatir tanpa melepaskan pelukannya dari Dyana.


Dyana mengangguk.


"Aku baik-baik saja" ucap Dyana dengan nada rendah. Tapi, dia tidak menjawab seberapa buruk Andreas memperlakukannya.


"Sudahlah, Cal. Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah aman sekarang."


Dyana melepaskan pelukan Calvin.


Calvin melirik bagasi mobil yang dipenuhi koper. "Apa kau memang harus pergi?" tanya Calvin. Berharap Dyana membatalkan niatnya untuk pergi. Jika alasannya hanya untuk menghindari Andreas, Calvin rela melindunginya asal Dyana selalu di sisinya.


"Dyana memang harus pergi, Calvin. New York sudah tidak aman baginya. Pria bernama Andreas itu tidak bisa diremehkan. Bahkan aku yakin jika kita memperlambat keberangkatan Dyana. Tidak menutup kemungkinan pria itu akan menemukan Dyana sebentar lagi."


Keyna yang menjawab pertanyaan Calvin. Bersama Alex, mereka berjalan menghampiri Dyana. Mereka akan segera berangkat ke bandara.


"Tapi,.."


"Keyna benar Calvin. Bukankah kau teman kecil Andreas pasti kau tahu bagaimana sifat pria itu." Alex memotong ucapan Calvin.


Calvin berpikir. Keyna dan Alex benar. Andreas tidak bisa diremehkan. Bagaimana pun Andreas memang pria yang berbahaya, dia tidak akan segan-segan menghancurkan lawan yang menghalanginya dalam mendapatkan apa yang dia mau.


"Kalian benar." ucap Calvin lirih, dia harus merelakan kepergian Dyana demi keselamatan wanita itu. Walau pria itu sudah mengatakan menyesali perbuatannya tapi Calvin tidak akan mempercayainya semudah itu. Bagaimana jika Andreas kembali menyakiti Dyana?


"Tapi, aku boleh mengunjungimu kan, Dy?" Pandangan Calvin beralih pada Dyana.


"Tentu saja. Tapi, apa Indonesia tidak terlalu jauh untuk kau kunjungi hanya untuk menemuiku?"


Calvin tersenyum. "Tentu saja tidak. Jangankan Indonesia, jika kau keluar angkasa pun aku tetap akan mengunjungimu."


Dyana tergelak.


"Leluconmu tidak lucu, Calvin." ucap Dyana menganggap Calvin bercanda.


Dia belum menyadari perasaan Calvin untuknya.


******