
Upacara pernikahan akan segera dimulai.
Para tamu undangan sudah ramai berdatangan. Bahkan Desi, Layla, dan Hana sudah hadir. Mereka tiba di New York tadi malam atas undangan Dyana.
Di suatu ruangan Dyana tengah duduk memandangi bayangan dirinya sendiri di cermin. Semua sudah selesai. Riasannyapun sudah sempurna, sehingga ia terlihat semakin cantik. Dia tinggal menunggu seseorang menjemputnya saja.
Jujur, ia gelisah dan cemas. Dia bahkan belum menyelesaikan masalahnya dengan Mr. Peter, yang walau bagaimanapun adalah Ayahnya. Sebenarnya ia juga sangat ingin jika Peterlah yang akan mengantarnya menuju altar, tapi apa mungkin, sementara ia bahkan tidak pernah bertemu dan bicara lagi dengan orang itu.
"Dy! Dyana!" seseorang mengetuk pintu.
Dyana bangkit ia berjalan dan membuka pintu. Terlihat Layla berdiri disana, memandangi Dyana dengan ekspresi penuh tanya.
"Ada apa, Dy?" tanya Layla. Gadis itu meraih bahu Dyana lembut. "Ada yang kau pikirkan?" tanya Layla ketika melihat wajah Dyana tak seceria biasanya.
"Bagaimana? Apa sudah waktunya?" tanya Dyana sengaja menghindari pertanyaan Layla. Ini adalah hari pernikahannya, ia tentu tidak boleh merusak suasana bahagia ini.
Walau tahu Dyana mencoba menghindar dari pertanyaan Layla, tapi Layla tetap menjawab, "Ya, sudah waktunya. Itu sebabnya aku menjemputmu disini. Upacara pernikahan Keyna dan Alex baru saja selesai, semua berjalan dengan lancar."
Dyana tersenyum, ia turut bahagia mendengar upacara pernikahan Keyna dan Alex berjalan dengan lancar.
"Sekarang giliranmu. Kau tahu, Andreas sudah menunggumu. Dia sangat tampan dan kelihatannya sudah tidak sabar." ucap Layla lagi. Sengaja menggoda Dyana.
Dyana berjalan didampingi Layla menuju tempat dimana upacara pernikahan dilaksanakan. Gaun pernikahan Dyana yang lumayan berat, sedikit menyulitkannya berjalan. Apalagi dengan high heels setinggi 10cm, cukup menyulitkan Dyana. Sehingga, Layla harus memegang tangannya selama perjalanan agar dia tidak terjatuh.
Dyana memasuki ruangan. Semua mata tertuju padanya. Ia melihat Andreas sudah berdiri di atas altar bersama seorang pendeta. Benar yang dikatakan Layla, Andreas semakin tampan dengan balutan jas putih melekat sempurna di badannya yang kekar.
Sebuah tangan terulur di depan Dyana, meminta disambut. Dyana terkejut setelah melihat siapa pemilik tangan itu. Peter. Ayahnya. Berdiri di sampingnya, siap mengantar Dyana menuju altar. Dia tidak mengundang Peter diacaranya ini. Tapi, tentu saja, Peter beserta keluarga besarnya pasti akan datang. Karena, ini juga merupakan acara pernikahan Alex yang merupakan keponakan Peter.
Suasana mendadak tegang. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara di ruangan ini. Semua orang sudah tahu mengenai hubungan Dyana dan Peter.
Dyana memandang Andreas yang berdiri tak jauh di depannya. Pria itu hanya tersenyum. Menyiratkan sebuah kata menenangkan, yang berarti semua akan baik-baik saja.
Dyana memandang Peter dengan ragu. Walau jujur inilah yang ia harapkan. Bahwa Ayahnya sendiri yang mengantarnya menuju altar. Dyana menarik napas. Mencoba menghilangkan semua kebencian yang ada di hatinya. Setelah itu, Dyana tersenyum di balik kerudung yang menutupi wajahnya. Ia menyambut tangan Peter. Bagaimanapun semua itu adalah masa lalu. Jika, ingin bahagia, tentunya ia harus berdamai dengan masa lalu itu. Walau sebenarnya berat dan tak mudah. Dyana harus mencoba. Sedikit demi sedikit.
Wajah Peter yang awalnya cemas berubah menjadi senyum kelegaan. Semua orang yang hadirpun mengembuskan napas lega. Awalnya mereka kira Dyana tidak akan mau diantar menuju altar oleh Peter.
Dyana berjalan dengan anggun menuju altar. Di atas altar Andreas juga tersenyum. Ia bahagia. Akhirnya, Dyana mau berdamai dengan masa lalunya.
Sampai di atas altar. Peter menyerahkan Dyana kepada Andreas dan upacara pernikahanpun dimulai.
Semua berjalan dengan lancar. Hingga, mereka berdua saling menyematkan cincin di jari mereka bergantian.
Kini, Dyana dan Andreas resmi menjadi sepasang suami istri. Semua bertepuk tangan tatkala Andreas mencium kening Dyana sangat lama. Kebahagian, menyebar di seluruh ruangan. Kazanova yang merupakan nenek Dyana juga turut bahagia. Dia merasa sangat menyesal pernah memisahkan Ayah dan Ibu Dyana.
________
"Siap-siap! Satu, dua, tiga!"
Dyana dan Andreas melempar bunga ke belakang yang sudah dinanti-nanti oleh semua teman-teman dan tamu undangan mereka yang belum mempunyai pasangan. Berharap merekalah yang mendapatkan bunga itu.
Siapa sangka, ternyata bunga itu mendarat di tangan Layla dan Calvin yang sama-sama ingin menangkap bunga itu. Awalnya, mereka dua terkejut dan saling pandang. Hingga tak lama suara tamu lainnya mengejutkan mereka. Karena, kini merekalah yang menjadi pusat perhatian sekarang.
Dengan wajah tersipu malu, Layla menerima bunga tersebut. Setelah itu, terdengar suara sorak-sorai para tamu. Banyak yang menyuarakan bahwa mereka mungkin jodoh. Banyak juga yang mengatakan mereka cocok. Bahkan ada yang mengatakan, "Kenapa kalian tidak menikah saja setelah ini?"
Dan mereka berdua hanya menanggapinya dengan ekspresi tersipu.
_________
Peter, Celine dan Kazanova menghampiri Dyana dan Andreas yang tengah berbincang dengan salah satu rekan kerja Andreas.
Melihat kedatangan mereka, Andreas mengerti dan segera menyudahi pembicaraannya dengan rekan kerjanya tersebut.
"Apa ada yang perlu Ayah katakan?" tanya Dyana. Semua orang yang berdiri disitu terkejut. Termasuk Andreas. Ini pertama kalinya Dyana memanggil Peter Ayah.
Semua yang ada disitu, tersenyum. Terutama Peter. Dia merasa sangat bahagia. Ada perasaan haru yang menyeruak di dalam hatinya saat mendengar Dyana menyebutnya Ayah.
"Kami datang untuk meminta maaf padamu, Dy." ucap Kazanova mendahului Peter.
"Nenek. Tidak ada lagi yang perlu dimaafkan. Aku sudah memaafkan semuanya. Aku ingin berdamai dengan masa lalu. Lebih baik kita lupakan saja."
Mendengar Dyana memanggilnya Nenek, Kazanova tidak bisa menahan untuk tidak memeluk Dyana. Wanita itu memeluk Dyana sangat erat. Meluapkan semua kerinduan yang sebenarnya sudah lama ia pendam. Bagaimanapun Dyana adalah cucunya satu-satunya. Mengingat Peter dan Celine memang tidak memiliki anak.
Kazanova mencium kening dan pipi Dyana. Dia seperti tidak mau melepaskan Dyana.
Setelah melepaskan pelukannya, Kazanova berkata dengan lirih, "Aku menyesal menjadi penyebab kau terpisah dengan Ayahmu selama ini."
"Dan ibu juga." Peter menambahi.
"Sudahlah. Aku mohon kita tidak usah membahas masalah ini lagi. Aku ingin semua berjalan tanpa adanya bayang-bayang dari masa lalu." ucap Dyana bijak.
Kazanova tersenyum. Kemudian ia kembali memeluk Dyana.
_________
Semua orang bertepuk tangan dan bersorak riang tatkala mobil yang membawa dua pasang pengantin baru itu meninggalkan halaman gedung pernikahan. Di depan mobil Keyna dan Alex, mereka akan menuju apartment mereka dan mulai mempersiapkan rencana bulan madu mereka ke Lake McKenzie, di Australia. Disusul oleh mobil Dyana dan Andreas yang akan langsung menuju ke mansion Andreas.
Sesampainya di Mansion. Mereka berdua langsung disambut oleh puluhan pelayan dan teriakan Madam Laura yang menggelegar.
"Oh... Anak dan Menantuku akhirnya sampai. Apa rencana kalian setelah ini?" tanya Madam Laura begitu Dyana dan Andreas melewati pintu utama.
"Ibu bukannya aku ingin merusak suasana hati ibu yang tengah bahagia. Tapi, aku dan Dyana sedang lelah. Kami akan langsung istirahat." ucap Andreas.
Kemudian ia menarik Dyana menuju kamar mereka. Menghiraukan Madam Laura yang memanggil-manggil mereka.
"Ternyata putraku itu tidak punya kesabaran." ucap Madam Laura yang melihat kepergian Dyana dan Andreas sembari geleng-geleng kepala. "Semoga saja cucuku tidak seperti dia."
Madam Laura menatap semua pelayan dengan ekspresi tidak terbaca.
"Sekarang kalian bawakan camilan ke kamarku. Lebih baik aku nonton drama korea saja." ucap Madam Laura lalu melenggang pergi.
"Semoga saja cucuku nantinya setampan Suho EXO."