
Happy reading!
Kalo ada typo kasih tau yah.
******
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah dua minggu sejak Calvin dan Andreas kembali ke New York.
Calvin, pria itu seperti tidak pernah bosan menghubungi Dyana. Baik via telepon atau pun pesan. Walau yang Calvin katakan hampir sama setiap harinya.
Seperti menanyakan kabar Dyana, apa sudah makan atau belum, sedang apa, dan masih banyak yang lainnya.
Sementara Andreas, pria itu memang sering menghubungi Dyana. Tapi, itu hanya terjadi pada minggu pertama setelah kepulangannya ke New York. Memasuki minggu kedua, pria itu tidak menghubungi Dyana lagi. Entah sedang sibuk atau ia memang sudah lelah dan bosan karena respon Dyana yang terkesan cuek saat Andreas menghubungi dirinya.
Awalnya Dyana mencoba tidak peduli. Namun, lambat laun ia mulai merindukan sosok Andreas. Dia ingin pria itu menghubunginya, walau hanya sekadar pesan singkat. Entah mengapa, tapi Dyana merindukan suara Andreas.
Dyana mendesah pelan. Melihat ponselnya. Berharap ada satu pesan saja datang dari Andreas. Namun, sudah lima menit ia menunggu, ponselnya tetap diam tak bersuara.
Dyana menyerah. Dia melempar ponselnya ke atas kasur dan berniat pergi. Dia merasa konyol karena sudah menunggu pria yang bahkan mungkin tidak memikirkannya sama sekali.
Baru beberapa langkah, ponsel Dyana berdering. Andreaskah yang menghubunginya?
Dengan cepat Dyana menyambar ponselnya. Dan sedikit kecewa karena ternyata bukan Andreas yang menelpon. Melainkan Keyna. Sepupunya yang akan menikah sepuluh hari lagi.
"Iya Key, ada apa?" ucap Dyana setelah menjawab panggilan Keyna.
"Dyana Paman sadar dan terus memanggil namamu." ucapnya haru.
Sontak Dyana terkejut dan sangat bahagia. Tak hentinya ia mengucapkan rasa syukur pada tuhan. Tak terasa air matanya menetes.
"Aku akan berangkat sekarang." ucap Dyana. Setelah memesan tiket online, Dyana dengan cepat mengemasi barang-barangnya.
Setelah semua selesai, Dyana turun ke lantai bawah untuk berpamitan pada orang-orang.
Layla, Hana dan Desi sontak kaget mendengar Dyana akan pergi ke New York sekarang juga. Yang mereka tahu Dyana akan pergi dua hari lagi. Itu pun untuk menghadiri pernikahan sepupunya.
Dyana menceritakan semua dengan singkat. Dan untuk rumah, cafe dan toko bunganya ia percayakan sepenuhnya pada ketiga rekannya.
Setelah ketiga rekannya mengerti dan setuju. Dyana kemudian berangkat ke bandara tanpa diantar siapa pun.
Di dalam taxi Dyana terus mengucap syukur. Setelah sekian lama koma, akhirnya Ayahnya sadar. Dia sangat merindukan wajah dan suara Ayahnya.
Dia menatap dan mengelus perutnya yang sudah sedikit membesar. Kemudian Dyana berucap, "Sebentar lagi kau akan bertemu kakekmu." ucap Dyana dan mengukir senyum tipis di bibirnya.
Tak terasa, taxi Dyana sudah sampai di bandara. Dia menunggu sebentar sebelum akhirnya pesawat berangkat.
*****
Entah mengapa, tapi Dyana merasa seperti ada yang memperhatikannya sedari tadi. Tepatnya setelah ia turun dari pesawat hingga kini ia tengah berdiri di depan bandara menunggu Alex dan Keyna menjemputnya.
Sekarang ia sudah sampai di New York, kota asalnya.
Dyana kembali menoleh ke kiri, kanan, belakang untuk sekian kalinya. Namun, lagi-lagi ia tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan.
Dyana mengedikkan bahu. Mungkin itu hanya perasaannya saja kalau ada seseorang yang mengawasinya.
Karena merasa haus. Dyana memutuskan pergi menuju cafe yang ada di dalam bandara untuk sekadar membeli kopi dan duduk sebentar sembari menunggu Keyna.
Dyana memanggil pelayan cafe setelah menemukan kursi yang kosong. Suasana cafe tidak terlalu ramai, sehingga memudahkan Dyana melihat siapa saja yang masuk dan keluar dari cafe.
Setelah minumannya datang, Dyana segera meminumnya sedikit. Matanya memicing melihat sesosok manusia yang sangat ia kenali baru memasuki cafe.
"Julian?" gumam Dyana. Dia melihat Julian memasuki cafe. Dyana langsung menutup wajahnya dengan buku menu saat melihat Julian berjalan ke arahnya.
Untung saja Julian tidak melihatnya. Pria itu melewati Dyana begitu saja.
Dyana memilih segera meninggalkan cafe. Namun, urung ia lakukan saat mendengar suara Julian sedang berbicara dengan seseorang yang duduk tepat di belakang Dyana.
"Apa kau sudah menjalankan rencana?" ucap Julian pada seorang wanita yang duduk tepat di belakangnya. Walau suara mereka tergolong pelan. Namun, Dyana dapat mendengarnya dengan jelas.
"Sudah, bos. Sepertinya ia sudah masuk ke dalam jebakan kita." jawab wanita itu.
Julian tersenyum licik. "Bagus. Aku mau semua berjalan dengan lancar." ucapnya dan segera pergi meninggalkan wanita itu, setelah memberi sebuah amplop berisi uang.
Dyana kembali menutup wajahnya saat Julian hendak melewatinya.
Setelah sosok Julian menghilang di pintu. Dyana baru membuka wajahnya.
Apa yang mereka rencanakan? Dan siapa yang masuk ke dalam perangkap? batin Dyana.
Tak lama ponsel Dyana berdering. Ternyata Keyna sudah sampai dan menunggunya di luar. Dyana meninggalkan cafe dengan pikiran campur aduk.
Dia berharap, Julian tidak akan melakukan suatu hal yang gila.
*****