
Merasakan sentuhan lembut di wajahnya, Dyana perlahan membuka mata.
Pandangannya masih sedikit kabur, kepalanya juga masih sedikit pusing, membuat Dyana membutuhkan sedikit waktu untuk memperjelas penglihatan.
Samar-samar Dyana melihat pria berbadan tegap sedang duduk di sisinya.
"Sudah bangun?" Suara pria itu tak asing di telinga Dyana.
Dyana tersentak, kaget melihat kalau Andreas lah yang duduk di sisinya sedang menatapnya intens.
Dyana refleks duduk bersandar di kepala ranjang mencoba menambah jarak di antara mereka.
Andreas yang melihat pergerakan Dyana langsung menahan wanita itu dan menuntunnya untuk kembali berbaring.
"Lepaskan aku!" sentak Dyana mencoba melepaskan tangan Andreas di bahunya.
"Kau harus istirahat. Kondisimu belum benar-benar pulih." ucap Andreas lembut sebisa mungkin membuat Dyana merasa nyaman bersamanya.
Alih-alih merasa nyaman, Dyana justru semakin ketakutan. Dia mengeratkan selimut ke badannya dengan tangan gemetar. Dia sangat takut melihat Andreas, perlakuan Andreas padanya dulu membuat Dyana trauma.
"Pergi! Jangan dekati aku!" usir Dyana semakin takut.
"Tenanglah aku tidak akan menyakitimu." Andreas mencoba meyakinkan Dyana.
Dyana menggeleng. Dia tidak akan mudah mempercayai pria di hadapannya ini. Bagaimana pun pria ini adalah orang yang sangat berbahaya. Bisa saja pria ini hanya bersandiwara lalu saat Dyana lengah pria ini akan membawanya kabur, mengurungnya, menyiksanya lagi, atau hal yang paling buruk melenyapkannya. Dyana menggeleng cepat. Dia tidak ingin mati dia masih ingin hidup.
"Aku tidak akan menyakitimu. Aku berjanji. Aku mohon percayalah." ucap Andreas memelas.
"Aku mau pulang! Aku tidak ingin di sini!" ucap Dyana.
Dyana mencoba bangkit, tetapi Andreas menahan kedua pergelangan tangannya. Wanita itu memberontak, mencoba melepaskan genggaman tangan Andreas di pergelangan tangannya.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku! Aku mau pergi!" teriak Dyana. Entah sejak kapan teriakannya berubah menjadi isak tangis. Bulir-bulir air mata mengalir semakin deras di pipinya.
Melihat air mata Dyana, membuat hati Andreas perih. Dia tidak suka melihat air mata itu. Apalagi yang membuat air mata itu jatuh adalah dirinya karena Dyana takut kepadanya.
Perlahan Andreas melonggarkan genggamannya di tangan Dyana. Tapi, tidak melepasnya. Dia malah menarik Dyana ke dalam dekapannya. Mencoba menenangkan hati Dyana yang terluka.
"Aku tidak akan menyakitimu. Sungguh." ucap Andreas dengan nada lemah dan lirih.
"Lepaskan aku. Aku mau pulang. Lepaskan!" ucap Dyana dengan suara yang semakin lemah. Dia lelah, sangat lelah. Di satu sisi dia ingin pergi dan menjauh dari pria yang kini sedang memeluknya. Namun, di sisi lain, dia merasa nyaman berada di pelukan pria ini. Pelukan yang sangat lembut dan membuatnya nyaman.
Andreas tidak mendengar suara apapun lagi dari Dyana. Tidak ada lagi isakan ataupun kata-kata lainnya. Tiba-tiba hening.
Dengan lembut Andreas memeriksa keadaan Dyana. Melihat wajah wanita itu yang sedang tenggelam di dada bidangnya. Dahi Andreas mengernyit, namun senyumnya mengembang setelah itu. Ternyata Dyana tertidur. Tertidur di pelukan Andreas. Entah karena lelah atau karena merasa nyaman membuat Dyana tertidur di sana.
Andreas membaringkan tubuh Dyana di atas ranjang dengan lembut. Menaikkan selimut hingga menutupi dada wanita itu. Andreas tersenyum. Bahagia mendapati Dyana berada di hadapannya. Sedang tertidur. Wajahnya damai, napasnya teratur, membuat Dyana berkali lipat lebih cantik di mata Andreas.
Perlahan Andreas menghapus sisa air mata yang masih tersisa di wajah Dyana. Dalam benaknya ia berjanji akan menjaga Dyana dan membuatnya bahagia walau Dyana masih membencinya. Andreas akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Dyana. Membuat wanita itu berlahan nyaman bersamanya, memaafkannya lalu mencintainya.
Lagi-lagi Andreas tersenyum memikirkan hal-hal menyenangkan yang mungkin saja terjadi setelah ini.
Andreas mencium kening Dyana. Lama. Membiarkan rasa rindunya selama ini perlahan menghilang. Berganti dengan rasa lega yang menggebu. Lega. Mengetahui Dyana masih hidup.
"Aku mencintaimu, Dyana." ucap Andreas setelah melepas ciumannya.
Dyana menggeliat dalam tidurnya. Samar-samar ia mendengar ucapan Andreas.
*****
Dyana mengerjapkan mata. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Ditatapnya jam yang menempel di dinding. Pukul 11:28 malam.
Pantas saja sedari tadi perutnya keroncongan. Dia belum makan dari tadi siang.
Dyana mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya mebulat melihat Andreas yang tertidur di atas sofa yang tidak jauh dari ranjangnya.
Dyana bangun. Duduk dengan perlahan. Selang infus masih menggantung di tangannya. Dia merasa lemas. Mungkin karena efek lapar dan kondisinya yang belum membaik. Sebenarnya Dyana bingung mengapa dia ada di tempat ini, di rumah sakit. Seingatnya dia berada di rumahnya sedang memasak dan Calvin menemuinya lalu... ah... ia ingat. Dia berlari dengan sangat cepat untuk menghidari pria ini. Lalu ia merasa pusing dan merasa keram di perutnya saat Andreas berhasil menangkapnya.
Tiba-tiba Dyana mengingat sesuatu. Astaga diakan sedang hamil? Bagaimana dengan keadaan anaknya?
Dyana merasa panik. Apa terjadi sesuatu pada kandungannya? Dyana memegang perutnya. Syukurlah ia masih merasakan ada kehidupan di sana.
Tunggu. Berarti Andreas. Pria itu pasti sudah mengetahui kalau dia sedang hamil. Bagaimana ini? Bagaimana jika pria itu mengetahui jika ini adalah anaknya dan ia tidak menyukainya. Apa dia akan melenyapkan anak ini? Dyana menggeleng. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kau sudah bangun?" Suara berat pria khas bangun tidur melenyapkan semua pikiran Dyana. Dia menatap Andreas yang baru saja duduk di atas sofa. Rambutnya sedikit berantakan, kemeja putihnya juga sedikit kusut. Tetapi, tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun.
Tunggu. Apa tadi Dyana baru berpikir jika Andreas tampan?
Dyana menggeleng lemah. Ada apa dengan dirinya?
Dyana menatap Andreas horor saat pria itu berjalan perlahan ke arahnya dan duduk di sisinya.
Andreas menatap Dyana penuh arti. Tatapannya lembut, menyimpan rasa sayang yang amat dalam.
Dyana bingung. Apa dia harus mengaku jika ia tengah lapar dan meminta pria ini membawakan makanan padanya? Itu adalah ide yang sangat buruk. Tapi, dia benar-benar lapar sekarang apalagi dia juga harus memberi makan anak yang sedang berkembang di perutnya.
Dengan berat Dyana mengangguk.
"Aku akan meminta suster membawa makanan kemari." Andreas hendak bangun tetapi Dyana menahannya.
"Kenapa?" tanya Andreas.
"A-aku tidak suka makanan rumah sakit." ucap Dyana pelan, tanpa melihat wajah Andreas.
Mendengar Dyana berbicara kepadanya membuat Andreas tersenyum.
"Aku akan meminta seseorang membelikan makanan dari luar untukmu." ucap Andreas lembut.
Dyana hanya mengangguk.
Andreas keluar dari kamar rawat Dyana untuk meminta seseorang membelikan makanan.
Dyana hanya terdiam melihat punggung Andreas yang menghilang di pintu. Entah mengapa rasa takutnya pada Andreas sedikit berkurang. Dia merasa pria itu tidak berbahaya lagi.
Tiba-tiba Dyana mengingat ucapan Andreas saat ia tertidur tadi. Pria itu berkata mencintainya. Apa itu nyata atau hanya halusinasinya? Dyana mengedikkan bahu mencoba tidak memikirkan.
*****
Andreas sudah duduk di sisi Dyana dengan semangguk bubur ayam di tangannya. Tadi, Andreas menyuruh salah satu satpam rumah sakit untuk membelikan makanan apa saja yang enak dan bergizi dan cocok untuk di makan orang yang sedang sakit, dan satpam itu membelikan bubur ayam ini. Awalnya sang satpam bingung untuk membeli apa, melihat uang yang Andreas berikan lumanyan banyak. Lima lembar uang seratus ribu. Namun, karena mengingat Andreas mengatakan apasaja yang penting enak dan bergizi, sang satpam memutuskan membeli bubur ayam saja.
"Aku bisa makan sendiri." ucap Dyana agar Andreas tidak menyuapinya.
"Tapi, kondisimu masih lemah. Kau tidak boleh lelah." ucap Andreas lembut kembali menyodorkan sesendok bubur ke mulut Dyana.
"Tapi ini tidak beracun, kan?" tanya Dyana dengan mata memicing curiga. Bisa sajakan pria ini menaruh racun di sana agar dia mati?
Bukannya merasa tersindir, Andreas malah tertawa renyah.
"Apa yang lucu?" ucap Dyana sambil bersedekap. Sebal. Melihat Andreas menganggap ucapannya sebagai lelucon.
"Kau lucu. Aku tidak akan meracunimu." ucap Andreas kembali mendekatkan sesendok bubur ke mulut Dyana. Dyana masih diam memandang ragu makanan itu.
"Percayalah padaku. Ini tidak beracun. Lihat ini." Andreas memakan sesendok bubur itu untuk meyakinkan Dyana.
"Lihat aku tidak apa-apa, kan?" Andreas kembali menyendokkan bubur dan hendak menyuapkannya kembali pada Dyana. "Ayo sekarang makan." ucap Andreas dengan penuh kesabaran.
Dyana menerima suapan Andreas dengan ragu. Membuat Andreas menggulum senyum. Senang melihat Dyana mau menerima makanan dari tangannya.
"Aku sudah kenyang." ucap Dyana setelah memakan bubur cukup banyak.
Andreas menghentikan kegiatannya menyuapi Dyana. Beralih mengambil segelas air putih di atas nakas dan memantu Dyana untuk meminumnya.
Setelah Dyana makan dan meminum obat. Mereka hanya diam.
Dyana lebih memilih duduk diam tanpa melihat ke arah Andreas. Sedangkan Andreas duduk diam dengan kepala sedikit menunduk.
Hingga suara Andreas memecah keheningan di antara mereka.
"Sejak kapan?" Pertanyaan Andreas yang membuat Dyana menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.
"Sejak kapan apa?" tanya Dyana tak mengerti arah pembicaraan Andreas.
"Kandunganmu." Walau sebenarnya sudah tahu. Tetapi, Andreas ingin mendengarnya langsung dari Dyana.
Dyana diam. Matanya membulat, kaget mendengar ucapan Andreas. Seperti yang ia duga pria ini pasti sudah mengetahui kehamilannya.
"Dyana? Katakan! Apa itu anakku?" Lagi-lagi pertanyaan Andreas membuat Dyana kaget dan takut.
"Dyana. Jawab." Suara Andreas tidak terlalu tinggi, tetapi sangat menuntut untuk dijawab.
Andreas hanya bisa menghela napas saat pertanyaannya lagi-lagi tidak dijawab oleh Dyana.
"Kenapa kau diam Dyana? Dengan melihatmu diam seperti ini membuatku semakin yakin jika itu adalah anakku."
"Tidak. Ini bukan anakmu!" sanggah Dyana cepat.
"Kalau bukan anakku lalu anak siapa?" ucap Andreas tidak yakin dengan perkataan Dyana.
"Bukan urusanmu. Aku ingin tidur. Aku lelah." ucap Dyana sembari kembali berbaring dan menarik selimut hingga ke dada. Dia tidur menyamping membelakangi Andreas.
Andreas menghela napas kasar karena Dyana tidak mau berkata jujur padanya. Apa Dyana takut kalau Andreas akan melukai anak itu? Tentu saja tidak. Itu anaknya darah dagingnya orang tua mana yang tega menyakiti anaknya sendiri.
Apalagi melihat tingkah Dyana sekarang Andreas semakin yakin jika anak yang dikandung Dyana itu adalah anaknya.
*****