
Pria itu, Andreas, terus mengikuti Calvin. Namun, saat memasuki rumah, dia sama sekali tidak melihat sosok Calvin lagi.
Samar-samar ia mendengar suara orang yang sedang berbicara, dan ia yakin jika suara itu berasal dari dapur.
Andreas berjalan perlahan, tak berniat membuat suara sekecil apapun.
Pelan-pelan pria itu berdiri di sisi bingkai penghubung dapur. Memperhatikan Calvin yang ternyata sedang berbicara dengan seorang perempuan.
Sepertinya mereka serius.
Andreas terus memperhatikan mereka, dia belum tahu siapa wanita yang sedang berbicara dengan Calvin saat ini. Wanita itu berdiri membelakangi Andreas.
"Kita keluar lewat pintu itu! Kita pergi ke mana saja nanti. Asal Andreas tidak melihatmu." ucap Calvin kepada wanita itu. Mereka belum menyadari keberadaan Andreas sama sekali.
Wanita itu terlihat panik dan mengiyakan ajakan Calvin, agar Andreas tidak melihatnya.
Andreas mendelik, merasa heran. Kenapa namanya dibawa-bawa dan kalau diperhatikan sepertinya dia mengenal sosok wanita itu.
"Tunggu!" panggil Andreas kepada Calvin dan wanita itu.
Mereka yang baru berjalan beberapa langkah seketika berhenti mendengar suara Andreas. Mereka berbalik dengan ragu, mereka kaget melihat Andreas berdiri di belakang mereka.
Andreas tercekat. Napasnya serasa berhenti. Jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat. Apa ini nyata? Apa dia sedang bermimpi? Wanita itu, wanita yang bersama Calvin itu...Dyana? Apa ini nyata?
"Dyana!?" ucap Andreas memastikan apa yang dilihatnya.
Tubuh Dyana seketika menegang saat Andreas memanggil namanya. Perasaan takut tiba-tiba menyerangnya.
Dyana melepaskan genggaman Calvin dan langsung berlari keluar saat melihat Andreas berjalan mendekatinya.
"Dyana. Tunggu!" teriak Andreas yang melihat Dyana berlari dengan wajah yang ketakutan. "Ya.. tuhan. Jadi, itu benar Dyana."
Calvin yang melihat Andreas hendak mengejar Dyana langsung mencekal tangan Andreas. Tidak membiarkan Andreas mengejar Dyana.
Mungkin karena perasaan yang memuncah dan emosi yang tidak stabil membuat tenaga Andreas berkali-kali lipat lebih kuat. Dia menghempas tangan Calvin sangat kuat hingga membuat pria itu terhempas jatuh ke lantai.
Andreas menghiraukan panggilan Calvin yang menyuruhnya berhenti untuk mengejar Dyana, ia menatap Dyana yang tengah berlari di garis pantai menjauh dari jangkauannya. Tanpa membuang waktu pria itu langsung mengejar Dyana. Dia berlari sangat cepat, seolah-olah tenaganya hanya dipergunakan untuk berlari.
Calvin yang melihat Andreas mencoba mengejar Dyana, lantas berdiri dan hendak menyusul. Namun, tiba-tiba tangannya ditahan seseorang.
Calvin menoleh dan mendapati bahwa Madam Lauralah yang menahan tangannya.
"Kau harus menjelaskan apa yang terjadi, Calvin!" ucap Madam Laura dengan tatapan garang. Dia yang menunggu mereka terlalu lama memutuskan untuk menyusul. Dia takut jika terjadi sesuatu pada mereka dan betapa terkejutnya ia melihat Andreas berlari mengejar seseorang setelah menghempas tangan Calvin yang membuat pria itu tersungkur. Yang membuatnya lebih terkejut adalah saat mengetahui jika orang yang dikejar Andreas itu adalah Dyana. Ini sungguh mengherankan dan ia yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini.
"Aku harus mengejar mereka, Madam." ucap Calvin untuk menolak menjelaskan.
"Jelaskan atau aku tidak akan membiarkanmu hidup!" ancam Madam Laura dengan tatapan mengintimidasi.
Calvin menghela napas. "Baiklah!" pasrah Calvin.
Madam Laura tersenyum. "Anak pintar!"
Sementara Dyana sedang berusaha berlari sekuat yang ia bisa. Dia harus pergi sejauh-jauhnya. Jauh dari jangkauan Andreas. Dia melupakan fakta bahwa ia sedang hamil. Yang ia tahu hanyalah bagaimana caranya harus lari dan menghindari pria yang membuat kehidupannya hancur.
Dyana takut. Sangat takut. Dia takut Andreas menangkap dan mengurungnya lagi, apalagi mengingat semua perlakuan kasar Andreas padanya membuat ia bergidik. Tidak, ia tidak ingin mengalaminya lagi.
"Dyana! Tunggu!" Suara berat Andreas bergema di telinga Dyana. Dia semakin takut. Dia yakin pria itu semakin dekat dengannya.
Dyana tidak berniat menoleh, ia hanya berlari dan berlari. Dia bahkan menghiraukan tatapan orang-orang yang berada di pantai, mereka pasti menganggap Dyana orang aneh.
Karena terus berlari dan tidak terlalu memperhatikan sekitar, membuat Dyana beberapa kali menabrak pengunjung lain.
Tiba-tiba ada yang memegang pergelangan tangannya. Hal itu sontak membuat Dyana berhenti berlari. Tubuhnya menegang, napasnya memburu. Perlahan Dyana memutar tubuhnya. Seketika tubuhnya lemas saat melihat Andreaslah yang memegang tangannya. Pria itu berhasil mengejarnya.
Dyana tidak bisa berkata apa-apa, begitu juga Andreas. Mereka hanya diam saling memandang dengan napas yang sama-sama memburu. Yang satu menatap dengan takut dan yang satu menatap dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Sudut bibir Andreas melengkung ke atas, tanpa menunggu ia langsung memeluk Dyana. Untuk merasakan bahwa ini benar-benar nyata.
"Aku tidak menyangka kau masih hidup." ucap Andreas dengan napas yang mulai normal.
Dyana hanya bisa diam saat Andreas memeluknya. Dia merasakan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat, tapi ia yakin jika itu bukan detak jantung miliknya. Jika bukan detak jantungnya, berarti detak jantung pria ini.
"Aku tidak akan melepasmu, Dyana. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tiba-tiba Dyana merasa pusing, perutnya juga terasa keram, sangat sakit. Dia mengira jika ini terjadi karena ia berlari.
Andreas yang tidak mendengar suara apapun dari Dyana melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua bahu wanita itu. Andreas tercengang, matanya membulat. Dyana berdiri dengan mata terpejam, wanita itu lemah seperti tidak mempunyai tenaga. Dyana pingsan.
Andreas yang merasa khawatir, langsung menggendong manita itu. Dia harus membawanya ke rumah sakit.
*****
Andreas memaksa masuk ke dalam ruang ICU saat Dyana dibawa masuk. Namun, dokter dan suster melarangnya dengan keras.
Jadilah Andreas hanya bisa mondar-mandir di depan pintu dengan wajah cemas. Dia sangat khawatir melihat Dyana yang tiba-tiba pingsan, apalagi melihat wajah Dyana yang pucat, perasaan takut kehilangan kembali memenuhi hati Andreas.
Suara pintu yang terbuka, membuat Andreas segera berjalan menghampiri dokter yang baru keluar.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Andreas dengan raut kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Hmmm.. apa anda suaminya?" tanya dokter pria dengan nametag bertulis Dr. Davi di jas putihnya.
Andreas berpikir sejenak. "Bukan, dok. Eh, maksud saya belum." ucap Andreas sarat akan makna. Belum. Yang artinya akan. Pikir Andreas.
Dr. Davi meneliti wajah Andreas, sebelum mengangguk.
"Jadi, bagaimana keadaannya?" Andreas mengulang pertanyaannya.
"Bisa ikut saya ke ruangan?" tanya Dr. Davi yang hanya diangguki Andreas.
"Dia baik-baik saja," ucap Dr. Davi saat mereka sudah sampai di ruangannya.
Andreas menghembuskan napas lega mendengar ucapan Dr. Davi.
"Tapi, tidak dengan bayinya."
Andreas yang awalnya sudah bernapas lega menjadi kaget bukan main.
"Bayi?" tanya Andreas heran. "Apa maksud dokter Dyana hamil?"
Dr. Davi menatap Andreas heran. "Apa kau tidak mengetahuinya?"
Andreas langsung mengubah ekspresi wajahnya. Pura-pura tahu sajalah.
Andreas menggangguk.
"Tentu saja saya tahu!" ucap Andreas berbohong. "Lalu bagimana keadaan sebenarnya, Dok?"
"Kandungan Nona Dyana baru berusia dua bulan dan masih sangat rentan. Aku menduga jika Nona Dyana mengalami syok berat yang mengakibatkan dirinya pingsan."
Andreas diam mendengarkan. Dia tahu Dyana pasti syok bertemu dengannya. Tapi, kalau boleh jujur Andreas lebih syok bertemu Dyana di sini. Yang ia tahu wanita itu sudah meninggal, tapi tiba-tiba ada di sini. Banyak pertanyaan yang terlintas di otak Andreas.
"Kandungan Nona Dyana mengalami goncangan besar dan itu mengakibatkan kandungannya melemah. Jadi, saya sarankan kalau Nona Dyana tidak boleh stres dan kelelahan. Dia harus banyak istirahat dan masih harus dirawat intens di sini. Jika tidak, bisa berpotensi Nona Dyana mengalami keguguran."
Semua penjelasan Dr. Davi Andreas simpan di dalam otaknya baik-baik. Tentu saja, karena ini menyangkut keselamatan Dyana.
Beberapa pertanyaan kembali terlintas di otak Andreas.
Siapa Ayah dari bayi yang Dyana kandung?
Apa itu anaknya? Andreas berpikir bisa jadi karena ia tidak pernah memakai pengaman saat bersama Dyana.
"Apa ini arti dari mimpi-mimpinya akhir-akhir ini?" Mimpi yang menunjukkan Dyana bersama seorang bayi yang diakui Dyana sebagai bayi mereka.
Atau Dyana justru sudah menikah? Andreas segera menggeleng. Andreas yakin Dyana belum menikah.
Andreas berdiri menyudahi segala pertanyaan yang ada di otaknya, juga menyudahi obrolannya dengan Dr. Davi.
"Terima kasih, dokter." ucap Andreas. "Apa saya bisa menemuinya?"
Dr. Davi mengangguk. "Tentu saja. Tapi, dia belum sadar."
Andreas berlalu meninggalkan ruangan Dr. Davi. Dia lebih memilih menuju ruang rawat Dyana. Melihat setiap inci dari wajah wanita itu. Untuk melepas rindunya.
*****