
Hari minggu yang cerah, Dyana baru saja selesai mengantarkan beberapa pesanan cake kepada pelanggannya.
Hari ini suasana hatinya sedang baik, karena hari-harinya sudah berjalan seperti biasa. Dyana berharap semoga ke depannya lebih baik lagi dan semoga wanita yang kemarin mengganggunya tidak datang lagi.
Dyana duduk di sofa ruang tamu, ditemani segelas coklat hangat, sambil menonton berita di televisi.
Ada sebuah berita tentang kecelakaan. Sebuah mobil sedan yang menabrak truk. Dyana memperhatikannya dengan saksama.
Sebuah mobil mewah, menabrak sebuah truk gandeng bermuatan batu. Diketahui pengemudi truk tengah mengantuk. Kecelakaan ini mengakibatkan supir dan penumpang truk yang berjumlah dua orang tewas. Sedangkan mengemudi mobil mewah tersebut tengah koma di rumah sakit. Pengemudi mobil yang diketahui bernama Liona Stevy.....
"Dyana!" Suara Harry-ayah Dyana memanggil. Sontak Dyana berdiri meninggalkan kegiatannya menonton berita di televisi.
Dengan langkah cepat Dyana menghampiri ayahnya yang berada di kamar.
"Ada apa Ayah? Apa Ayah butuh sesuatu?" Dyana sedikit cemas.
Harry mencoba duduk dari tempat tidur. Dyana langsung membantu Ayahnya untuk duduk.
"Ayah haus. Air minum di sini sudah habis. Bisa tolong kau ambil kan."
Dyana menoleh ke arah nakas, air minum di dalam teko itu memang habis.
Dyana mengangguk.
"Tentu, Ayah. Aku akan segera mengambilnya." Dyana berdiri, hendak pergi.
"Oh, ya, Dy. Apa bibi Ben tidak datang?"
Dyana menggeleng.
"Tidak Ayah. Karena ini hari minggu aku tidak ada jadwal ke kampus. Jadi, aku rasa lebih baik aku yang menjaga Ayah setidaknya sampai nanti sore. Bibi Ben akan datang saat aku pergi bekerja nanti." Dyana menjelaskan tentang bibi Ben yang tidak datang pagi ini.
Harry mengangguk mengerti.
*****
Gerald baru saja selesai memeriksa mobil Liona. Tadinya dia tidak menemukan jejak apapun di sana. Hingga saat mereka hendak pergi meninggalkan mobil itu salah seorang anak buahnya menemukan sebuah kartu identitas di dalam jok mobil. Gerald langsung memeriksanya. Nama Dyana Alexa tertulis di sana.
Gerald langsung menemui Andreas di kantornya. Pria tampan itu tengah berdiri menatap pemandangan kota New York dari dinding ruangannya yang terbuat dari kaca saat Gerald memasuki ruangan.
"Tuan, kami menemukan sebuah kartu identitas atas nama Dyana Alexa di dalam mobil Nona Liona."
Andreas berbalik saat nama Dyana disebut. Entah mengapa dia sangat tertarik dengan nama itu.
Andreas duduk di kursinya yang diikuti Gerald yang duduk di hadapannya.
Gerald langsung mengambil kartu tersebut dari dalam tasnya. Menyerahkannya pada Andreas.
"Dyana Alexa," gumam Andreas tersenyum iblis.
Andreas meneliti kartu identitas tersebut. Ternyata itu adalah kartu identitas mahasiswa dari salah satu universitas negeri New York. Ada foto Dyana di sana.
"Sepertinya wajah ini familiar, aku seperti pernah melihatnya, tapi aku lupa di mana." ucap Andreas mencoba mengingat-ingat di mana kemungkinan dia pernah bertemu gadis ini.
"Apa tuan mengenalnya?"
"Tidak. Mungkin hanya perasaanku saja."
Andreas masih menatap foto Dyana. Di sini gambarnya memang sedikit kurang jelas.
"Cari informasi tentangnya secepat mungkin! Aku akan memikirkan siasat agar wanita itu datang sendiri padaku!"
Gerald mengerti. Dia tau bagaimana sifat Andreas, sekali dia berambisi, dia akan melakukan cara apapun untuk mewujudkannya.
"Baik Tuan, akan saya kerjakan dengan baik!"
*****
Untung hari ini Dyana tidak ada jadwal ke kampus, jadi dia punya banyak waktu untuk membuatnya.
Sebenarnya tadi Dyana sempat ragu menerima pesanan ini. Dia takut dia tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu. Tapi, pelanggannya tadi mengatakan akan membayarnya tiga kali lipat. Karena Dyana benar-benar butuh uang, dia pun menerima.
Dengan bantuan tiga orang tetangga dan bibi Ben, Dyana menyelesaikannya tepat waktu. Untung pelanggannya tadi langsung membayar dengan mentransfer langsung ke rekening Dyana. Jadi, dia tidak kekurangan uang untuk membeli bahan dengan cepat.
Pukul dua siang semuanya sudah beres. Dyana kembali menelepon pelanggannya tadi.
"Halo!" Suara wanita terdengar dari seberang sana.
"Halo. Ini saya Dyana. Saya ingin memberitahu kalau pesanan nyonya sudah siap. Saya ingin bertanya alamat nyonya, agar nanti saya tahu harus mengantarnya ke mana." Tadi pelanggannya ini memang belum memberitahu alamatnya.
"Kau tidak perlu khawatir, nanti pukul delapan malam akan ada yang menjemput."
Dyana menghela napas lega. Jadi, dia tidak perlu repot-repot mengantarnya.
"Tapi, kau harus tetap ikut mengantarnya. Saya khawatir jika nanti ada kesalahan atau kekurangan dalam pesanan itu. Jadi, saya bisa langsung komplain pada anda."
"Tapi, nyonya saya masih harus bekerja pada jam tersebut. Bagaimana jika saya mengantarnya sekarang?" tolak Dyana halus.
"Tapi, saya sedang tidak berada di rumah. Acaranya juga akan dimulai pukul sepuluh malam. Lagi pula aku sudah membayar mahal untuk ini."
Dyana menghela napas. Sebenarnya ini ada bagusnya. Dia juga bingung harus mengantar pesanan ini pakai apa. Tidak mungkin dengan sepedanya, itu tidak akan muat dan jika harus menyewa mobil tentu itu tidak mudah dan merepotkan.
"Baiklah nyonya, saya tunggu kabar dari nyonya selanjutnya."
Pelanggan itu pun memutuskan sambungan telepon.
Dyana bersiap-siap berangkat bekerja. Dia akan meminta izin sebentar pada Calvin nanti.
*****
Dyana baru selesai membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Dilihatnya jam di dinding sudah pukul 7:27 pm.
Tadi, Dyana sudah minta izin kepada Calvin untuk keluar sebentar untuk mengantar pesanan dan dia akan kembali lagi setelah selesai mengantar nya. Untung Calvin mengizinkan.
Dyana berjalan menuju ruang ganti untuk mengambil tasnya. Tiba-tiba Janet—teman Dyana yang juga bekerja di cafe Calvin, menghampirinya.
"Dyana? Aku dengar kau akan keluar sebentar?"
Janet membawa sebuah tas besar di tangannya.
"Iya, nanti aku akan kembali lagi. Memangnya ada apa?"
"Bisa aku minta tolong bawakan ini ke laundry, Dy?" Janet menyodorkan tas besar itu ke pada Dyana. "Aku mohon. Sebenarnya tadi aku ingin mengantarnya sendiri, tapi pelanggan semakin ramai. Jadi, aku tidak mungkin pergi. Ku dengar kau ingin pergi sebentar, jadi ku pikir tidak ada salahnya meminta bantuanmu." Janet memasang wajah memelas pada Dyana.
"Baiklah, Janet. Kau tidak perlu membuat wajahmu memelas seperti itu."
Janet tertawa.
"Yeh. Makasih, Dy. Kau memang baik."
Janet hendak memeluk Dyana.
"Sudah-sudah. Ngomong-ngomong, apa isinya?" Tas besar tersebut sudah berada di tangan Dyana sekarang.
"Hanya tirai-tirai panjang" ucap Janet.
"Ohh, lumayan berat juga." Dyana pun membawa tas itu ke luar. Mengikatnya di belakang sepeda, lalu melaju pergi.
*****