I MADE YOU MINE

I MADE YOU MINE
Part 6



Dyana keluar dari ruangan


Dr. Zecro dengan perasaan temaram.


Dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat? Tabungannya saja tidak sampai sepuluh persen dari jumlah yang disebutkan dokter tadi.


Tapi, Dyana bertekad akan mendapatkannya bagaimana pun caranya. Ayahnya harus dioperasi agar bisa sembuh.


Dyana membuka pintu ruang rawat ayahnya. Menatap tubuh sang ayah yang terdapat selang infus di tangannya, sedangkan mulut dan hidung Ayahnya tertutup alat bantu pernafasan.


Dengan langkah perlahan Dyana mendekati ayahnya dan duduk di samping ranjang. Dipandangnya wajah ayahnya yang tak berdaya. Sebutir air mata berhasil keluar dari matanya saat ia menggenggam tangan ayahnya yang rapuh.


Kepada siapa dia akan meminta bantuan? Kepada Calvin? Tidak! Dyana sudah banyak merepotkannya.


Julian? Cih! Memikirkannya saja sudah membuat Dyana ingin muntah.


Sebenarnya ada satu orang lagi yang bisa saja membantu Dyana. Keyna—sepupunya yang sejak kecil telah tinggal bersama mereka karena kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Tapi, dia sedang berada di London menjalani suatu urusan yang sangat penting yang tidak mungkin Dyana ganggu.


Dyana hampir putus asa. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Kartu nama yang diberikan orang yang hampir menabraknya waktu itu. Bukankah dia anak buah dari seorang pengusaha besar. Mungkin dia bisa membantu. Pasti dia memiliki banyak kenalan dari kalangan atas yang mungkin bisa memberi Dyana pekerjaan dengan gaji besar. Pekerjaan apapun, ingat apapun asalkan gajinya cukup untuk biaya pengobatan ayahnya.


Dyana beranjak dari tempatnya. Dengan cepat dia berjalan keluar rumah sakit.


Dyana menghentikan sebuah taksi yang sedang melaju dan memasukinya. Dia menuju rumahnya untuk mencari kartu nama orang yang kalau tidak salah bernama Jack.


Saat sampai di rumah, Dyana langsung menuju kamarnya. Mencari kartu itu di dalam laci, lemari dan dia menemukannya di dalam tasnya.


Dyana duduk di pinggir kasur. Ditatapnya kartu nama itu. Bertuliskan nama Jack Xander, asisten CEO Alfaro's Compeny Developer dan ada sebuah nomor telepon di sana.


Dyana mengetik nomor tersebut ke dalam ponselnya. Sesaat ia ragu untuk menelpon. Apa dia bisa membantu? Bahkan mereka baru bertemu sekali. Dalam kebimbangan Dyana tak sengaja menekan tombol hijau yang otomatis akan menyambungkan telepon dan tak berselang lama telepon sudah tersambung.


Dyana menempelkan ponselnya pada telinganya. Dyana menjadi gugup, saat suara pria di seberang sana berbicara.


"Halo. Siapa ini?" Ada keinginan Dyana untuk mematikan sambungan telepon, tetapi dia ingat akan Ayahnya. Tidak ada salahnya mencoba.


"Maaf telah mengganggu anda. Saya Dyana orang yang hampir anda tabrak beberapa waktu lalu." ucap Dyana. Suaranya sedikit bergetar. "Apa anda ingat?"


Hening sesaat. Dyana yakin orang yang berada di seberang sana tengah berusaha mengingatnya.


"Tentu saja. Kau gadis bersepeda itukan?" Terdengar kekehan pria itu.


Dyana mengangguk walau tak mungkin dapat dilihat oleh lawan bicaranya.


"Kenapa kau menelponku? Apa ada masalah?" Dyana kembali gugup. Mungkinkah dia akan meminta bantuan pada orang ini yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.


"Halo? Kau masih di sana?"


"Eh.. iya. Sebenarnya aku butuh bantuan." ucap Dyana ragu.


*****


Dyana tak percaya ini. Pria itu mau menemuinya dan berjanji akan membantunya. Apakah dia bermimpi? Tapi, ini nyata. Bahkan pria bernama Jack itu tengah duduk tepat di depannya.


Setelah Dyana mengatakan sedikit maksudnya dari telepon. Jack memintanya bertemu keesokan harinya untuk membicarakan pekerjaan yang bisa Dyana lakukan.


"Jadi pekerjaan apa yang anda tawarkan pada saya, Mr.Jack?" Dyana mengetuk-etuk meja pelan, menunggu jawaban dari Jack.


"Kamu yakin, kamu akan menerima pekerjaan apapun  yang akan saya berikan, Nona?" tanya Jack sedikit ragu.


Dyana mengangguk.


"Apapun, asalkan gajinya cukup besar, karena saya membutuhkan dua ratus ribu US Dollar dalam waktu dekat."


Jack menyunggingkan sedikit senyumnya.


"Tapi, kenapa kamu membutuhkan uang sebanyak itu?"


Dyana menarik napasnya pelan, mencoba menetralkan nada suaranya.


"Sebelumnya saya minta maaf. Tapi, saya rasa anda tidak perlu tau Mr. Jack." ucap Dyana mencoba sesopan mungkin. Bagaimana pun Jack akan memberikannya pekerjaan dengan gaji yang besar.


"Saya rasa juga begitu." Jack mengambil tas yang ada di samping kursinya dan mengeluarkan beberapa map dari sana. "Kau bahkan bisa mendapatkan uang lebih banyak dari itu." ucap Jack santai.


Dyana membelalak mata, tapi segera ia kembali tenang. "Sebenarnya pekerjaan apa yang hendak anda berikan kepada saya?" tanya Dyana penasaran.


"Kau hanya perlu memata-matai pria bernama Rafael Arlando." Jack membuka salah satu map dan mengeluarkan sebuah foto dari sana. "Ini adalah fotonya. Dia adalah seseorang yang dicurigai telah membantu menyembunyikan kekasih bos saya." Dyana mengangguk mengerti.


"Tapi, bagaimana caranya saya mendekatinya?"


"Kau tenang saja Nona. Anak buahku sudah mengurusnya. Kau akan berpura-pura menjadi maid di rumahnya. Lalu, pelan-pelan dekati dia, buat dia percaya padamu. Lalu, pada satu kesempatan buat dia lengah dan anak buahku akan menyerang rumahnya dan membawanya kepada boss kami." Dyana menelan ludahnya. Sebegitu cintanyakah, Boss pria ini pada kekasihnya? Bukankah boss pria ini adalah seorang pria arogan yang bahkan tidak menghargai jerih payah orang lain. Dan bagaimana jika dia melakukan kesalahan dan berakhir ketahuan, nyawanya bisa terancam. Tiba-tiba dia merasa takut.


"Tenang saja. Anak buahku akan mengawasimu dari jarak yang memungkinkan dan jika kau berhasil kau akan di berikan tiga ratus ribu." ucap Jack enteng seolah jumlah uang itu bukanlah hal yang besar baginya.


"Ti..tiga ratus ribu?" tanya Dyana memastikan. Dia belum pernah melihat uang sebanyak itu secara langsung.


Jack mengangguk.


"Baiklah. Aku akan melakukannya sebaik mungkin." Demi ayahnya Dyana rela, karena dengan uang itu ayahnya akan bisa terselamatkan. Dyana harus bergerak cepat.


"Baiklah. Senang bekerja sama dengan anda Nona." ucap Jack kemudian bangkit. Dyana dan Jack berjabat tangan.


*****


Di suatu ruangan yang cukup megah. Jack melangkah mendekati seorang pria yang tengah berdiri menatap jalanan kota New York dari dinding kaca.


"Apa kau sudah menemukan orang yang cocok untuk melakukan misi kita ini?" tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangannya.


Jack yang sudah berdiri tak jauh di belakang pria itu mengangguk mantap.


"Sudah, dia seorang gadis. Dia siap melakukan pekerjaan ini dengan syarat bayaran yang tinggi dan dia akan memulainya besok." ucap Jack mantap.


Andreas mengangguk puas. "Bagus. Tetap awasi pekerjaannya, jangan sampai ada kesalahan."


"Baik, tuan." Jack berjalan meninggalkan bossnya.


"Kau tidak akan bisa sembunyi lagi dariku Liona sayang." ucap pria itu sambil menyeringai.