
Telentang di atas kasur, Dyana menatap horor ke arah Andreas yang berjalan mendekatinya. Dia tahu pria ini sedang mabuk.
Dyana mencoba bangun dari tempat tidur, sebelum Andreas mencapainya. Beruntung Dyana cukup cekatan sehingga dia bisa bangun dan berlari menuju pintu.
Andreas tersenyum miring melihat usaha Dyana untuk membuka pintu akan berakhir sia-sia. Tentu saja, pintu itu sudah dikunci oleh Andreas sebelumnya.
"SIAL!" umpat Dyana. Dia semakin gemetaran melihat Andreas yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Kau tidak akan bisa lari semudah itu dariku gadis kotor!" Seringai iblis menghiasi wajah tampan Andreas.
"Apa mau mu sebenarnya, hah!? Aku tidak merasa punya kesalahan padamu!" Dyana membentak.
"Kau masih bertanya!? Karena mu Liona koma sekarang! Kau berencana membunuhnya dan kau bahkan menganiayanya!"
Dyana sungguh tidak mengerti semua ucapan Andreas, dia sama sekali tidak mengenal wanita bernama Liona.
"Aku tidak tahu apa-apa!" Dyana masih bersikukuh membela dirinya. "Berhenti di situ pria brengsek!" Dyana melepas tas selempang yang sedari tadi masih tersangkut di bahunya. Dia melempar tas tersebut ke arah Andreas yang semakin dekat padanya.
Dengan sigap Andreas menangkap tas itu, dan menghempaskannya begitu saja dengan keras ke lantai. Beberapa isinya menghambur ke luar, termasuk sebuah benda berkilau.
Dyana dan Andreas serempak melihat benda yang jatuh dari dalam tas itu.
Andreas berjalan dan memungut benda berkilau itu. Sebuah kalung dengan bandul bebentuk oval berkilau memancarkan warna biru terang. Dia ... seperti mengenali benda ini.
Andreas menggenggam kalung itu dengan geram. Dia menatap Dyana penuh amarah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Dyana gemetar. Dia takut melihat tatapan Andreas yang begitu mengintimidasi ke arahnya. Seolah pria itu ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kau benar-benar gadis kotor! Kau bahkan merampoknya!" bentak Andreas murka.
Dengan langkah cepat penuh amarah Andreas berjalan ke arah Dyana. Pria itu mencekik Dyana, membuat gadis itu kesulitan bernapas.
"Apa sebenarnya mak..sud..mu? A..aku sungguh.. tidak menger..ti," Dyana mencoba melepas cengkeraman Andreas di lehernya. "Le..lepaskan!! A..ku tidak bi..sa bernapas."
Andreas melepaskan cengkeramannya dari leher Dyana. Dia tidak akan membunuh gadis itu dengan mudah.
Napas Dyana terengah saat Andreas melepaskan cengkeramannya dari leher Dyana. Belum lagi Dyana bernapas dengan stabil, pria itu menarik rambutnya, menyeretnya dan menghempaskannya kembali ke kasur.
Dyana sontak meringis histeris. Dia memegang kepalanya yang sakit. Dyana melihat Andreas menghempaskan jasnya ke lantai.
"Kau tahu gadis kotor. Aku akan membuat hidupmu menderita hingga kematian lebih baik dari hidupmu!" Andreas membuka satu demi satu kancing kemejanya dan saat semua sudah terlepas Andreas membuang kemejanya ke sembarang arah.
Dyana bergetar melihat Andreas yang bertelanjang dada. Tubuh kekar pria itu seolah tercetak sempurna, cukup menghipnotis Dyana. Namun, gadis itu cepat-cepat menggeleng. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Andreas padanya setelah ini.
Mata Andres terus tertuju ke arah Dyana yang mencoba bangkit dan terus menggeleng.
Andreas menerjang Dyana hingga gadis itu berada di bawahnya sekarang. Mengurung Dyana di antara kedua lengan kekarnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Dyana lirih. "Aku mohon lepaskan aku!"
Dyana mencoba memberontak. Dia menggeliat agar bisa terlepas dari himpitan tubuh Andreas. Namun, sia-sia, tubuh kokoh Andreas cukup berat untuk Dyana.
Dyana terus meronta saat Andreas hendak membuka kemeja putih yang saat ini dikenakan Dyana. Gadis itu memukul-mukul dada Andreas. Namun, tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Dyana teringat akan kejadian beberapa waktu lalu. Saat dia berada di rumah pria bernama Rafael. Dyana bisa lari bahkan memberi pelajaran pada pria itu. Tapi, kenapa dia tidak bisa berkutik sedikit pun di bawah pria bernama Andreas ini?
"LEPASKAN AKU BRENGSEK!" teriak Dyana tepat di depan wajah Andreas.
Andreas sungguh geram melihat Dyana yang tidak bisa diam dan terus melawan.
Andreas mencoba meraih dasinya yang berada di atas nakas. Pria itu mengikat tangan Dyana ke tiang kasur agar Dyana berhenti memberontak.
Andreas juga mengambil sapu tangan dan menutup mata Dyana.
"LEPASKAN AK-" Suara Dyana tertahan, karena Andreas membungkamnya dengan bibirnya.
"Hmmphmmp!" Hanya terdengar suara gumaman yang tidak jelas.
Andreas mencium Dyana dengan membabi buta. Dia bahkan tidak membiarkan Dyana untuk bernapas sedetik pun.
Dyana terengah-engah. Bibirnya terasa bengkak akibat ciuman Andreas yang terkesan kasar.
"Sial! Pria ini mengambil ciuman pertamaku!" batin Dyana.
"Akh!" pekik Dyana. Andreas dengan sengaja menggigit bibir Dyana, hingga ada sedikit darah yang keluar dari sana.
"Itu belum seberapa dengan rasa sakit yang dirasakan Liona saat ini!" Andreas menjeda ciumannya.
Dyana terengah-engah. Dia benar-benar tidak tahu maksud Andreas. Dia benar-benar tidak tahu kalau wanita yang bersama Julian waktu itu adalah Liona.
Dia ingin bertanya dan membela diri. Namun, Dyana benar-benar sudah tidak sanggup.
Tangannya yang terikat membuatnya tidak leluasa bergerak, matanya juga tertutup. Bahkan dia tidak tahu bahwa Andreas kini sudah tidak memakai apapun yang menutupi tubuhnya.
Bahkan Dyana tidak tahu kapan Andreas sudah melepas baju dan celananya, hingga yang tersisa hanya bra dan CD yang menutupi tubuh Dyana.
Dyana merasakan gelenyar aneh menelusup di seluruh tubuhnya saat merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya di bawah sana.
Sebenarnya apa yang sedang pria itu lakukan?
"Kau basah?" Andreas tersenyum smirk. "Ternyata kau menikmatinya!" ucap Andreas sinis.
Namun, itu semua tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Dyana merasakan rasa sakit yang amat sangat. Dia tidak bisa melihat apa yang sedang Andreas lakukan pada tubuhnya sehingga dia merasa sakit seperti itu.
"Akh! Sakit!" rintih Dyana.
"Kau masih virgin, heh!?" tanya Andreas tidak percaya.
Dyana tidak menjawab. Dia memilih bungkam. Gadis itu sudah kehilangan kata-kata.
"Berarti kau akan sangat hancur setelah ini!" Andreas mencoba memasukkan sesuatu di bawah sana. Tapi, sangat sulit. " Kau sangat sempit gadis kotor!" pekik Andreas.
Dengan seluruh tenaga yang dia miliki, Andreas menghentakkan sesuatu itu dengan keras. Dalam satu kali hentakan dirinya dan Dyana telah menyatu.
"Akhh!" Dyana menjerit. Merintih menahan perih, air matanya menetes. Dia tidak menyangka sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya sudah direnggut pria bernama Andreas yang sama sekali tidak dia cintai. Jangankan yang dicintainya, bahkan dia tidak mengenal pria ini sepenuhnya.
Dyana baru sadar ternyata semua ini adalah siasat Andreas hingga dia sampai di sini. Pemesanan cake itu hanyalah siasat Andreas agar dia berada di sini. Pria ini ... menjebaknya!
Namun, semua sudah terjadi. Dyana tidak menyangka hal ini akan terjadi padanya, dia sama sekali tidak mengetahui kesalahan apa yang telah dia lakukan kepada pria ini. Hingga dia harus berakhir di sini, di atas ranjang pria asing ini.
Apa ini benar-benar akhir dari semuanya?
****
Serius saya malu nulis bagian ini. Tapi, kalau enggak ditulis, konfliknya enggak bisa maju. Jadi, maafkan ya...