I Love You No Matter What

I Love You No Matter What
Chapter 7 - Memaafkan



2 bulan sudah berlalu sejak kejadian penculikan itu.


Kai dan kawan-kawannya menjalani hari seperti biasa di bengkel.


Setiap pagi dan siang Rose mengantarkan makanan kepada mereka dan Rose menjadi semakin agresif kepada Kai dan membuat Kai merasa sangat risih, apalagi kalau tidak ada Mario.


"Big, kakakmu Rose sungguh membuat ku semakin tidak nyaman, aku khawatir Mario akan mulai curiga" Kai mulai membicarakan soal Rose pada adiknya Big.


"Dia bukan kakak kandungku, dulu ibuku dan ayahnya menikah saat aku berusia 3 tahun dan dia berusia 6 tahun, ayahnya meninggal saat usianya remaja, ibuku menyuruhku menjaganya karena kami berhutang budi pada ayahnya kak Rose yang sudah menjaga kami, kenapa tak kau bicarakan dengan kak Mario?, dia sahabat mu, mungkin kak Mario bisa menasehati istrinya" jawab Big melihat ke arah Kai.


"Mungkin itu bisa jadi solusi terbaik, tapi aku tidak enak dengannya, Mario sudah membantuku sejauh ini, aku takut merusak rumah tangga nya" jawab Kai lesu.


"Tapi kau patut mencobanya Kai, agar tidak ada salah paham" Big menepuk pundak Kai.


"Hm..iya kau benar Big, kenapa Mario lama sekali perginya?" tanya Kai.


"Tadi ka Mario bilang mau ke rumah bibi dulu, bibi minta tolong sesuatu" jawab Big.


"Apa yang terjadi pada bibi?, apa ada masalah?" Kai panik perihal ibunya Mario.


"Aku tidak tahu, tadi ka Mario hanya bilang mau ke tempat bibi, habisnya Kau terlalu sibuk memperbaiki motor pelanggan jadi ka Mario tidak berani mengganggumu" ucap Big.


"Setelah bengkel tutup aku akan ke tempat bibi, sekalian mencoba motor antique ini" senyum riang Kai.


Sore pun menjelang Big menutup rolling door bengkel, sedangkan Kai bersiap menaiki motor nya ke rumah bibi.


"Big aku pergi dulu ya, aku tidak lama " Kai berpamitan.


"Ketuk saja jika kau sudah pulang, aku akan membukakan nya " jawab Big.


Kai pun melaju ke rumah ibunya Mario, karena dia khawatir.


Sampailah Kai di rumah ibunya Mario, dia melihat ada motor Mario terparkir di depan.


Saat Kai memarkirkan motornya, Mario keluar dari rumah ibunya.


"Kai, kau datang?" Mario terkejut dengan kehadiran Kai.


"Ada masalah dengan bibi?, apa dia sakit?" tanya Kai yang langsung menghampiri Mario.


"Bukan ibuku yang sakit, tapi tantemu Lidya" Mario menjelaskan.


"Kenapa kau tidak memberitahukan aku?" Kai keheranan.


"Tadi saat ibuku menyuruhku datang, aku pikir pun ibuku sakit, tapi saat aku datang ternyata tantemu, ibuku menyuruhku untuk memberitahukan mu, tapi tantemu melarang nya, kamu masuk saja, biar ibuku yang menjelaskan " ucap Mario pada temannya.


Tanpa pikir panjang Kai langsung masuk ke dalam rumah.


"Kai..." Ibu Mario terkejut melihat Kai.


"Apa tante Lidya baik-baik saja bi?" tanya Kai.


"Dia sedang tertidur di kamar bibi, tadi siang ada orang menemukan tantemu pingsan di jalan, badannya panas dan kurus sekali, bibi menyuruh orang-orang membawa tantemu ke rumah bibi, karena saat bibi masuk ke rumah nya sangat berantakan dan kotor, makanya bibi langsung menelepon Mario untuk kemari membeli obat demam, Mario ingin memberitahukan mu tapi tantemu bilang jangan, dan dia tidak mau ke dokter, mungkin kau bisa melihat nya besok saat bangun karena dia sudah agak tenang, dan kau bisa membujuknya ke dokter, bagaimana pun hanya dia keluarga mu satu-satunya" saran ibu Mario.


"Baik bi, aku akan berbicara dengannya saat sudah bangun" jawab Kai.


"Kau istirahat saja dulu, besok pagi sekali ke sini lagi, kita bawa sama-sama ke dokter" ucap ibu Mario.


Kai dan Mario pun berpamitan pulang.


Keesokan paginya.


Kai langsung pergi ke rumah ibu Mario.


"Kai..kau sudah datang, pagi sekali" ibu Mario terkejut melihat Kai yang sudah datang terlalu pagi saat sedang membuang sampah.


"Iya bi, aku tidak bisa tidur semalam memikirkan tante Lidya " jawab Kai tertunduk.


"Kau anak yang baik Kai, pasti ibumu bangga" senyum ibunya Mario.


"Kau tunggu saja, tantemu belum bangun, apa kau sudah sarapan?, ada makanan sisa tadi malam di meja makan, bibi belum sempat masak, bibi ke dapur dulu ya" lanjut ibunya Mario.


"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Kai.


"Tidak udah kamu duduk saja, makan yang ada, bibi akan membuat bubur yang mudah untuk tantemu, agar hangat" ibunya Mario pergi meninggalkan Kai yang sedang duduk di meja makan dan memakan beberapa roti yang ada di atas meja makan.


30 menit kemudian terdengar rintihan dari dalam kamar, Kai tahu tantenya sepertinya sudah bangun.


ibunya Mario pun mendengar nya.


"Kai sepertinya tantemu sudah bangun, bibi siapkan bubur ya, kamu antarkan dan kamu bisa menyuapinya, kamu bisa sambil membujuknya ke dokter" suruh ibu Mario.


"Baik bi" jawab Kai.


Walaupun Kai ragu, tapi dia harus berusaha karena tante Lidya adalah keluarga Kai satu-satunya adik dari ibunya.


Saat Kai masuk, sungguh terkejut tante Lidya melihat Kai.


"Tunggu tante, aku hanya ingin merawat mu, aku tidak bermaksud buruk, kau keluarga ku, tolong jangan menghindari ku atau takut padaku" jelas Kai sambil meletakkan bubur di meja samping tempat tidur.


"Jelas aku takut padamu, kau seorang pembunuh, aku akan pulang!!" teriak tante Lidya sembari bangkit dari tempat tidur, tapi napasnya terengah-engah dan terbatuk-batuk, dari batuknya keluar darah.


Kai memapahnya dan menidurkannya kembali ke tempat tidur. Kai membersihkan darah yang ada di tangan tantenya dengan bajunya, melihat itu tantenya tertunduk.


"Tenang tante, Kai hanya ingin merawat tante, Kai tidak berniat buruk" Kai mulai menyuapi tantenya bubur, dan tantenya hanya terdiam melihat sikap Kai.


Tak lama ibu Mario ikut masuk ke dalam.


"Lidya, Kai dari tadi malam sudah mengkhawatirkan mu, dia memikirkan mu, bagaimana pun dia keponakanmu, keluarga mu satu-satunya, cepat pulih setelah ini Kai antar kamu ke dokter, kita tidak tahu kamu sakit apa" ibu Mario duduk di samping tantenya.


Tante Lidya pun akhirnya mengikuti saran mereka setelah makan bubur dan beristirahat satu jam, dia mau di antarkan ke Rumah Sakit.


Mario datang membawa mobil pinjam dari tetangga untuk membawa tante Lidya ke Rumah Sakit, ibu Mario juga ikut mengantar, Kai selalu duduk di samping tantenya untuk mendampingi nya.


Sesampainya di Rumah Sakit, mereka mendaftarkan dan saat nama tante Lidya di panggil hanya Kai yang bisa masuk.


"Apa anda keluarga nyonya Lidya?" tanya dokter kepada Kai sembari melihat tantenya terbaring di ruang pemeriksaan.


"Betul dok, saya keponakan nya, saya satu-satunya keluarga nya" jawab Kai.


"Baik..begini..Tante anda di diagnosa mempunyai kanker paru-paru, beliau perokok aktif, dan sudah memasuki stadium 4a, Pertumbuhan kanker lebih agresif, misalnya bisa metastasis ke organ lain, seperti otak, paru, dan tulang. Keluhan yang dialami pun akan bertambah, Pada tahap ini, kanker telah menyebar di dalam paru-paru atau ke satu area di luar paru-paru. Gejala yang terjadi di stadium ini, di antaranya kelelahan, perubahan emosi, nyeri, sulit bernapas, batuk hingga batuk berdarah, dan perubahan nafsu makan" penjelasan dokter.


Kai sangat terkejut dan khawatir dengan kondisi tantenya itu.


"Lalu bagaimana cara mengobatinya dok?" tanya Kai lagi.


"Pertama saya akan melakukan uji mutasi genetik. Hal ini penting untuk menentukan strategi pengobatan selanjutnya. Operasi dapat dilakukan jika keberadaan tumor menimbulkan rasa sakit kepada pasien, sepertinya tante anda mengalami sakit, selanjutnya ada Kemoterapi, terapi radiasi dan immunotherapy " jawab dokter menjelaskan terperinci.


"Baik dok" Kai lesu.


"Maaf, biasanya penyakit seperti ini membutuhkan banyak biaya, apakah anda sudah mempersiapkan nya?" tanya dokter lagi.


"Saat ini saya belum ada biayanya dok, apa bisa di beri waktu sebentar?" tanya Kai lagi.


Bagaimana ini?, aku tak memiliki banyak biaya, tapi tante Lidya adalah keluarga ku, aku harus mencari biayanya, aku akan berunding dengan Mario, pikir Kai.


"Baiklah, untuk saat ini saya berikan obat pereda sakit, dan untuk tante anda mungkin akan rawat inap sementara beberapa hari untuk pengecekan dan pemulihan kondisi" ucap dokter sambil memberikan catatan pemeriksaan untuk segera di bawa ke ruang administrasi. Dan Kai pun segera pergi meninggalkan ruang dokter.


Di luar ruangan ibu Mario dan Mario sudah menunggu Kai soal keterangan dokter.


"Kai..bagaimana?" tanya ibu Mario penasaran.


"Tanteku memiliki kanker paru-paru stadium 4a, karena tumor sudah mulai menyebar dan mengakibatkan sakit, mungkin dokter ingin mengoperasi tumornya, dan membutuhkan banyak biaya, untuk saat ini, aku belum bisa membiayainya, aku akan berusaha mencari dananya bi" Kai tertunduk lesu.


"Mah, aku mau bicara dengan Kai empat mata sebentar" Mario menarik lengan Kai, dan ibunya mengangguk.


Di suatu koridor Rumah Sakit.


"Kai, sudah hampir 7 bulan kau bekerja denganku, kau tak pernah meminta sepeserpun gaji padaku, kau selalu beralasan ingin membantuku saja, saat ini saat yang tepat aku memberikan semua yang kamu hasilkan, walaupun tidak banyak, tapi dengan adanya kamu dan kejeniusanmu di bengkelku banyak pelanggan datang, dan hasilnya lumayan, mungkin tidak seberapa untuk membantu tantemu tapi ini cukup untuk perawatan sementara di Rumah Sakit, kau untuk sementara bisa membayar pemeriksaan dan perawatan tantemu" ucap Mario sambil menyodorkan amplop yang sepertinya sudah di siapkan Mario.


Kai pun memeluk Mario sambil terisak sedih.


"Sungguh beruntung aku memiliki teman sepertimu" lirih Kai.


Kai pun segera pergi ke ruang administrasi untuk pembayaran rawat inap beberapa hari dan obat-obatan tante Lidya, Kai sangat bersyukur dana yang Mario berikan cukup.


"Terimakasih pak, ini kuitansinya silahkan ke apotek untuk mengambil obatnya dan nyonya Lidya akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap, anda bisa langsung menemuinya" suster yang sedari tadi menatap ketampanan wajah Kai berseri-seri.


Kai pun langsung menghampiri ibu Mario dan Mario untuk menengok tantenya yang sudah di ruang rawat inap, sesuai deskripsi suster tentang nomor ruangannya.


Mereka memasuki ruangan itu.


"Lidya..apa kau sudah lebih baik?" tanya ibu Mario kepada tantenya Kai.


Tantenya mengangguk dan tersenyum, sambil melihat ke arah Kai yang tampak khawatir padanya.


"Kai, sudah melunasi semuanya, kau beristirahat dengan tenang ya, dan cepat pulih" ibu Mario menenangkan tantenya.


"Aku ingin bicara dengan Kai" tantenya meminta ibu Mario dan Mario untuk menunggu di luar.


Saat Kai dan tantenya berdua, dan Kai pun menghampiri nya duduk di kursi samping pasien.


"Kai..maafkan tante selama ini, tante selalu berkata kasar padamu, lihat aku sekarang sakit tak berdaya dan kau yang merawat ku, aku sungguh malu" ucap lirih tantenya.


"Iya tante, Sekarang tante pikirkan untuk kesembuhan tante saja, sisanya biar Kai yang memikirkannya" jawab Kai.


"Kai, sekali lagi tante minta maaf ya, dulu tante bersikap kasar pada ibumu dan kamu padahal ibumu kakakku sendiri, dan tante menyalahkan mu tentang kejadian 20 tahun lalu, walaupun tante tahu itu kesalahan suami bejat tante" tante Lidya menangis tersedu.


"Iya tante, tante istirahat ya, Kai akan sering datang menjenguk tante setiap hari, selama tante di sini" ucap Kai tersenyum manis pada tantenya.


Kai dan tante Lidya akhirnya saling memahami dan semakin dekat satu sama lain.