
Kediaman Daryl Silas -
Kai dan Danzel bermain bola di halaman depan rumah Daryl Silas.
"Papa...curang, tendangan papa terlalu jauh aku capek mengambil bola terus.." gerutu Danzel ke arah papanya yaitu Kai.
"Iya...iya...papa yang mengambil bola deh...Danzel yang menendang ya" ucap Kai.
"Danzel...main sama kakek saja...kita lawan papa mu" Tetiba Daryl datang menghampiri mereka.
"Kakek!!!...aku senang di sini...keluarga ku banyak..." Danzel polos memeluk Daryl yang baru pulang dari kantor.
Mereka bertiga pun bermain dengan senangnya walaupun masih menggunakan jas Kantor.
Lana melihat mereka bermain dari jendela.
Aku beruntung Danzel sudah aman, tapi bagaimana kabar mama?, batin Lana.
Tiba-tiba Kai masuk menghampiri Lana dan menciumnya.
"Danzel...anak yang pintar seperti mu" Kai memeluk Lana dari belakang.
"Dan tampan seperti mu" puji Lana pada Kai.
"Lana...aku ingin kita menikah..." ucap Kai kepada Lana.
"Tapi...ada yang ingin ku ceritakan padamu" ucap Lana.
"Nona Lana...Kai...Bibi dan tante senang kalian sudah bersama..." Bibi dan tante Lidya menghampiri mereka.
"Tante, Bibi...apa kabar?" tanya Lana tersenyum ramah ke arah mereka.
"Kami baik...aku mendengar Kai sudah menemukan Lana, kami langsung bergegas kemari" ucap tante Lidya.
"Apakah anak kecil yang bermain dengan tuan Daryl itu, putra Kai?" tanya bibi.
"Benar bibi..." jawab Kai tersenyum.
"Dia tampan.." puji bibi.
Semua menoleh ke arah Lana dan ingin mendengar cerita darinya.
Lana menceritakan semuanya yang terjadi terhadap nya dan putranya dan meminta tolong untuk keselamatan mamanya.
Semua orang berkumpul di ruang keluarga milik Daryl Silas, mendengarkan apa yang terjadi pada Lana, sedangkan Danzel putranya bermain di halaman depan milik Daryl Silas.
"3 tahun yang lalu...saat papa menembak Kai, kondisiku lemah, mama memanggil dokter dan ternyata aku hamil Danzel, lalu saat papaku di penjara, anak buah Ken menyerang kediaman Rowen, aku dan mama di bawa oleh Ken ke sebuah mansion, Ken dan papa memiliki kesepakatan, jadilah kami jaminannya...setelah itu 3 tahun berlalu kami terkurung di mansion, tanpa bisa keluar dari mansion terpencil di atas sebuah bukit, aku, mama dan Danzel, Ken datang hanya sebentar setiap 6 bulan sekali, aku tidak tahu tujuannya mengurung kami...hingga Ken membawaku dan Danzel ke penthouse nya, Ken memberikan persyaratan dengan ancaman mama dan Danzel ada di tangannya, saat bertemu Kai...aku tidak sanggup menutupi semuanya...tapi...mamaku dalam bahaya...tolonglah tuan Daryl, selamat kan Mama..." ucap Lana memohon.
Kai memegang tangan kekasihnya.
"Ezra dan Charlotte sedang menyelidiki keberadaan mansion itu, aku juga tidak bisa menghubungi mantan istriku nyonya Leon, Lana...kau tidak perlu khawatir, kita akan berusaha semampu kami, aku sangat bahagia akhirnya putraku Kai sudah bertemu denganmu, kau semangat hidupnya, apalagi dengan hadirnya Danzel bersama kalian, keluarga adalah nomor satu" ucap Daryl.
"Terimakasih tuan Daryl" ucap Lana tulus.
"Aku akan membantumu...takkan ku biarkan kau bersedih.." sambung Kai.
Kriiing! Kriiing!
"Hallo...baik" Seorang pelayan datang menghampiri Daryl yang sedang berbincang dengan keluarganya.
"Tuan...ada telepon dari nyonya Leon untuk anda" ucap pelayan itu.
"Ah syukurlah...semoga kabar baik" Daryl pun beranjak.
Kai dan Lana saling bertatapan dan melempar senyuman.
Semoga nyonya Leon memberitahukan lokasi mansion tersebut dan kelompok Baron segera menyelamatkan mama ku, batin Lana.
"Mama...mama..." teriak Danzel di halaman.
"Danzel...ada apa?" Kai menghampiri putranya.
"Ada papa Ken datang..."
Kai langsung berjalan dengan cepat, dia khawatir soal Danzel.
Kai dan Lana melihat Ken yang sudah menggendong Danzel dan memasuki kediaman Daryl dengan beberapa anak buahnya.
"Hallo...Kai dan kau Lana...senang melihat keluarga kecil ini bersatu..." Ken sinis.