
Sampailah Kai dan Lana di rumah Lidya tantenya Kai.
Kai melihat ada motor Mario yang sudah terparkir di depan halaman rumah tante Lidya. Karena Kai sudah menelepon Mario bahwa dia akan datang hari sebelumnya.
Kai pun memarkirkan motornya dan mengajak Lana untuk turun bersama nya sembari melepaskan helmnya.
"Kai, aku gugup" bisik Lana.
"Tenang..ada aku" Kai menenangkan kekasihnya dan mengusap pipi lembut Lana.
"Kai!!" sapa Mario yang mendengar motor Kai datang dan bergegas menyambut mereka.
Mario terkesiap melihat Lana bersama Kai.
"Nona Lanaris...wah...suatu kehormatan nona Lanaris ingin datang ke kampung kami, apa kabar nona?" Mario menyapa Lana, semua yang di dalam rumah Lidya pun keluar mendengar sapaan Mario yang begitu lantang.
"Aku baik" senyum Lana tersipu.
"Wah..Om Kai sudah datang" sapa Claire putri Mario yang langsung berlari menghampiri Kai.
"Hallo Claire..kau sudah besar" Kai mengelus kepala gadis kecil itu.
"Om Kai, siapa tante cantik itu?"
"Hmmm...namanya tante Lana...dia..."
"Hi....kau sangat cantik" Lana melambaikan tangannya ke arah Claire dan menyela Kai.
Tante Lidya dan bibi menyaksikan mereka sembari tersenyum tipis.
"Ayo masuk" Ajak Lidya.
Semua nya pun masuk ke dalam rumah mungil itu.
"Kai...bagaimana keadaan mu?, dan Nona Lanaris apa kabar?" sapa bibi, ibunya Mario.
"Saya baik bi" jawab Lana singkat.
"Kai baik juga" lanjut Kai.
"Kai...kenalkan nona Lanaris pada tantemu" ujar bibi.
"Tante...perkenalkan ini nona Lanaris Rowen, dia yang mempekerjakan aku sebagai bodyguard nya" Kai menunjuk Lana.
"Panggil Lana saja" singkat Lana.
"Salam kenal, saya tantenya Kai, maaf saya boleh bertanya?" ucap Lidya.
"Silahkan tante" senyum Lana.
"Nona...hmmm...ada hubungan apa dengan perusahaan Rowen?" tanya tante Lidya lagi.
"iya tante, itu perusahaan milik papa, Lana putri satu-satunya, ada apa ya tante?" jawab Lana.
"Oh tidak apa-apa " tante Lidya tersenyum tipis.
"Hai...kalian berdua menjalin kasih ya?" ledek Mario kepada Kai dan Lana membuat wajah mereka memerah.
Rowen...Leon...dua perusahaan ini yang dulu mengusir kami. Batin Lidya.
"Nona...nona...apa benar nona kekasih om Kai?, kenapa kalian duduknya dekat sekali?, om Kai itu pacar Claire!"
Semua orang tertawa mendengar celoteh Claire.
"Tante..hari ini Kai ingin mengajak tante ke Rumah Sakit untuk check up, kemarin Kai sudah meminta tolong kepada Mario untuk siapkan mobil"
"Tapi Kai, tante baik-baik saja"
"Lidya..dengarkan Kai, hari ini dia cuti khusus untuk mengantar mu check up" bibi ikut membantu Kai membujuk tantenya.
"Hmmm...baiklah, tante akan bersiap"
Mereka pun bersiap untuk pergi bersama.
"Aku dan Claire di rumah saja, biar Mario yang mengantar kalian dan sudah ada nona Lana yang menemani" ucap bibi.
"Baik bi"
Mereka berangkat menggunakan mobil yang sudah di siapkan Mario.
Lana duduk bersama Lidya tantenya Kai. Terlihat Kai dan Mario berbincang di kursi depan soal Rose istrinya Mario yang pergi meninggalkannya dan putrinya, sedangkan Lana hanya terdiam.
"Nona Lana..sudah lama bersama Kai?, sepertinya kalian ada hubungan yang spesial, tidak mungkin gadis kaya seperti nona bersedia datang ke kampung kumuh ini, pasti Nona sangat menyayangi Kai" Lidya memulai pembicaraan.
"Aku dan Kai...kami...memang memiliki hubungan spesial"
"Saya senang akhirnya Kai memiliki seseorang yang menganggap nya spesial, sedari kecil hidupnya sangat penuh perjuangan, saya adalah salah seorang yang membuat nya menderita, saya dulu buruk memperlakukan dia dan ibunya, tapi lihatlah sekarang dia merawatku dengan tulus, saya sungguh malu.." Lidya terisak dan mengusap air mata di pipinya.
"Tante..Kai memang orang yang baik, saya pun bersyukur bertemu dengannya" Lana mendekati Lidya dan memegang tangannya.
"Saya tahu nona, anda dari keluarga ternama, pasti suatu saat Kai akan menghadapi masalah untuk selalu bersama dengan anda, tapi saya mohon, jangan sakiti hatinya, jika anda mencintai nya, berjuanglah bersama nya, saya tidak mau melihatnya menderita lagi"
"Baik tante, saya mengerti"
Mobil pun berhenti di depan Rumah Sakit tujuan mereka.
Mereka pun turun dari mobil.
"Kai, ku tunggu kalian di parkiran mobil ya" ucap Mario. Kai mengangguk.
Sampailah di Lobby Rumah Sakit, Kai mendaftarkan tantenya, kebetulan Kai sudah menelepon hari sebelumnya untuk membuat janji temu dengan dokter pribadi tantenya. Semua mata melihat ke arah Lanaris, mereka membicarakannya.
"Iya Lanaris Rowen"
"Nona Lanaris dengan siapa?, di mana bodyguard nya?" mereka lanjut berbisik.
Lanaris merasa tidak nyaman dan Kai menenangkan nya.
Saat nama tantenya di panggil, Kai dan Lana mengantarkan nya.
"Selamat siang dokter" Kai menyapa dokter yang biasa merawat tantenya.
"Hallo nyonya Lidya dan Kai, apa kabar?, tunggu dulu...apakah anda Nona Lanaris? Lanaris Rowen?, anda datang ke Rumah Sakit Daerah kecil ini adalah suatu kehormatan, apa Anda mengenal Kai?" Dokter langsung tertuju ke arah Lanaris.
"Nona Lanaris teman saya dokter" Kai langsung menjawabnya. Lana hanya tersenyum kecut.
"Wah Kai beruntung sekali kau berteman dengan Nona Lanaris, salah satu pemegang saham terbesar Rumah Sakit ini, keluarga Rowen"
"Iya Dokter" jawab Kai singkat. Lana hanya terdiam.
"Mari kita cek kondisi kesehatan nyonya Lidya"
Dokter pun mempersilahkan Lidya berbaring dan perawat membantunya. Dokter mulai memeriksa Lidya.
"Nyonya Lidya, apakah anda rutin meminum obat yang saya berikan?, bila tidak rasa sakit akan muncul lagi"
Lidya hanya terdiam.
"Tante..."Kai melihat ke arah tantenya.
"Saya sudah tidak apa-apa dokter, badan saya sudah sehat" Lidya membantah.
"Tapi nyonya suatu saat akan muncul lagi, harus rajin Kemoterapi dan rutin pengobatan"
"Hmmm....maaf menyela, dokter saya ingin bertanya, bagaimana agar tantenya Kai bisa sehat?" tiba-tiba Lana berbicara.
"Harus operasi nona, pengangkatan tumor di paru-paru dan setelah itu ada pemulihan"
"Saya akan menanggung semuanya" ucapan Lana membuat orang yang ada di ruangan itu langsung melihat ke arahnya.
"Lana...hmm...maksud ku nona Lanaris, bisa kita bicara sebentar" Kai membawa Lana keluar ruangan.
"Lana...aku tidak mau menyusahkan mu, jangan bicara apa pun, tanteku adalah tanggung jawab ku, ini urusan keluarga ku" Kai berbisik ke arah Lana karena takut orang lain mendengar.
"Kai...aku hanya ingin membantu, aku akan sangat marah sekali jika ada hal buruk menimpa keluarga mu, dan aku tidak bisa menolong nya, kumohon Kai..kau sudah menyelamatkan aku waktu itu dan menjadi bodyguard ku, aku berhutang budi padamu, saat ini saat yang tepat, hanya ini yang bisa aku lakukan..Kai..."
"Huftt..entahlah, apa kata mereka?, aku tidak mau menjadi parasit buatmu Lana"
"Kai, kau kekasih ku, bukan parasit ku"
"Tapi..."
"pssstt"
Lana meninggalkan Kai terpaku dan ke ruangan dokter itu lagi.
"Bagaimana dokter?, bisakah kau secepatnya menangani tantenya Kai, semuanya biar saya yang menanggungnya"
"Nona Lana, tidak perlu seperti ini" Lidya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa tante, Lana hanya bisa membantu ini, tolong tante terimalah"
"Bagaimana dengan Kai?, apa dia setuju?"
Kai pun masuk ke ruangan itu.
"Kai?"
"Hmm..baiklah"
"Kalau begitu, mari kita mengurus semuanya, untuk semua keperluan dan tanda tangan persetujuan dari nona Lanaris dan tuan Kai sebagai penanggung jawab" Dokter memberikan kertas persetujuan operasi, Mereka berdua pun menandatangani nya.
"Untuk operasi, bisa secepatnya dok?" tanya Lana.
"Bisa nona Lanaris, bisa kami persiapkan lusa, bagaimana?"
"Jadi, apakah tante Lidya malam ini harus bermalam di Rumah Sakit?" Kai penasaran.
"Iya Kai" jawab dokter.
"Karena ini permintaan VIP jadi kamu harus menangani secepatnya" lanjut dokter itu.
"Tapi kami belum mempersiapkan semuanya"
"Kai...tidak apa-apa, tante bisa, nanti tolong bilang Mario agar mengantar barang-barang tante, kamu tetap bekerja saja"
"Benar Kai, tantemu di rawat di ruangan VIP, lebih nyaman dan terkontrol hingga pemulihan" jawab dokter.
"Baiklah..terimakasih dokter, saya menitipkan tante saya, tolong kabari saya soal operasi nya, saya akan mengirim Mario dan bibi untuk menengok sewaktu-waktu"
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik"
"Baik nona Lanaris"
Kai dan Lana pun berpamitan kepada tante Lidya dan meninggalkannya di sebuah ruangan VIP yang nyaman.
Mereka pun pulang kembali ke rumah bibi dan menceritakan semuanya, Mario dan bibi sangat berterima kasih kepada Lana.
Kai dan Lana pun berpamitan harus segera kembali, karena waktu sudah banyak terlewat, Kai harus memberikan Lana kepada Marlin.