
Sampailah Kai dan Lana di tempat yang sudah di sepakati dengan Marlin. Mereka terkesiap melihat ramainya kerumunan melingkari mobil limousine yang di pakai Marlin, dan Bobby terlihat ada di sana, membuat Lana dan Kai khawatir.
"Ramai sekali ada apa ini Kai?" Lana penasaran sekaligus ketakutan.
"Lana, tunggu sini!... Kai akan ke sana" jawab Kai menenangkan Lana.
"Tunggu!!!...aku ikut denganmu Kai" Lana mengikuti Kai dari belakang.
Mereka berdua berjalan mendekati kerumunan dan menghampiri Bobby.
"Nona Lanaris!!!, anda tidak apa-apa?!" Suara perempuan berteriak histeris, yang tidak asing adalah suara Charlotte.
Lana dan Charlotte pun berbincang berdua.
"Nona...untung saja anda ikut Kai, menjenguk keluarga nya" bisik Charlotte ke arah Lana.
Kai pun menghampiri Bobby.
"Ada apa ini?, Bobby??!!" tanya Kai penasaran.
"Kai!!!.....untung saja nona Lanaris bersama mu, Marlin tertembak, kondisinya lumayan parah, darah yang keluar cukup banyak, tapi Marlin sudah di larikan ke Rumah Sakit terdekat oleh anak buahku...Marlin sudah menceritakan semuanya, dia bilang untung saja ada Kai membawa motor dan mengantarkan nona Lanaris ke kampus, jadi nona Lanaris aman...Marlin sempat membuat pingsan salah satu penjahat, dan sudah di amankan, tapi naas dia tertembak di dadanya...tapi....Kai bukankah kau cuti hari ini?!!, bagaimana bisa bertemu nona Lanaris?"
Marlin menyembunyikan hubungan ku dengan Lana, aku harus berterima kasih padanya, Marlin seperti saudaraku sendiri, Marlin sudah menolongku, siapapun yang menyakiti nya akan menjadi urusan ku!!!, pikir Kai.
"Saya..." Kai terbata-bata.
"Kebetulan rumah keluarga Kai, satu arah dengan kampus ku, jadi karena aku takut terlambat aku ikut Kai naik motor" Tiba-tiba Lana menghampiri mereka, Kai dan Bobby.
Untung saja Lana datang, batin Kai.
"oooh....baik nona....apa nona tidak terluka?" jawab Bobby.
"Saya baik-baik saja, Bobby"
"Bobby!!....saya ingin melihat keadaan Marlin, saya ingin melihat kondisi nya, dan bolehkah saya bertemu dengan salah satu penjahat nya untuk mengintrogasi nya, karena bagaimana pun Marlin seperti saudaraku" tegas Kai.
"Tenang Kai...penjahat nya sudah di amankan...kau bisa ke Rumah Sakit untuk melihat Marlin" Bobby menenangkan Kai sembari menepuk pundaknya, Bobby melihat wajah geram Kai.
Bobby memberitahukan Kai tempat Marlin di rawat dan Kai bergegas menaiki motor melajukannya dengan cepat, tanpa melihat sekitar, Kai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi langsung menuju Marlin.
"Bobby, tolong laporkan ke papa, bahwa aku baik-baik saja, saya dan Charlotte akan mengikuti Kai ke Rumah Sakit" Lana melihat Kai yang di penuhi amarah membuat Lana khawatir.
"Baik nona" ucap Bobby.
"Charlotte ayo..." Lana mengajak Charlotte.
Dengan kecepatan tinggi, Kai melajukan motornya, berharap Marlin baik-baik saja.
Sampailah Kai di rumah sakit dan melihat beberapa anak buah Bobby yang cukup mengenal nya sedang menjaga ruangan Marlin.
"Marlin...Marlin...apa dia baik-baik saja?!" tanya Kai tergesa-gesa kepada salah satu anak buah Bobby.
"Tenang Kai...Marlin sudah di tangani oleh pihak Rumah sakit, peluru yang tertanam di dadanya sudah di operasi, pasti Marlin akan baik-baik saja...sedikit saja tak tertolong Marlin bisa kehabisan darah, tadi tuan Bobby bilang kau akan datang Kai, jadi kami menjaga nya untukmu" ucap salah satu penjaga.
Kai mengintip Marlin yang terbaring di dalam sebuah ruangan, dia hanya bisa melihat dari balik kaca melihat Marlin tak berdaya.
Aku tak ingin kehilangan seseorang lagi, Marlin seperti saudaraku, apapun yang terjadi padanya, aku tidak akan tinggal diam, pikir Kai.
"Apakah kalian tahu?!!...di mana penjahat itu di tahan?" tanya Kai dengan emosi.
"Tuan Bobby tidak mengijinkan kami memberitahukan mu Kai" ucap salah satu penjaga.
Kai menghampiri penjaga itu, dan mengangkat kerah bajunya.
"Beritahukan aku di mana penjahat itu di tahan???!!" amarah Kai semakin meledak.
Kai melepaskan cengkraman tangannya, penjaga itu sudah ketakutan.
Charlotte menghampiri para penjaga, sedangkan Lana menarik Kai ke luar Rumah Sakit.
"Apa yang kau lakukan?!!, tahan amarahmu kai" Lana menenangkan Kai dan memeluknya.
"Aku tidak bisa kehilangan seseorang yang peduli padaku lagi, Marlin baik padaku dalam kondisi seperti itu saja dia masih sempat melindungiku, Marlin menyembunyikan hubungan kita, aku harus membalas kesakitan Marlin" Kai terbata-bata menjelaskan.
"Kai....masih ada Lana di sini" Lana memeluk Kai kembali dengan erat dan Kai pun membalas pelukan Lana.
Charlotte datang menghampiri mereka.
"Kai...tadi anak buah kakakku menelepon, kau ingin menemui yang melukai Marlin kan penjahat itu?" jelas Charlotte dan Kai mengangguk.
"Kakak ku akan mengantarmu ke tempat penjahat itu di tahan, kau pulanglah ke apartment mu, kakakku sudah menunggu di sana...hmm...dan Nona, tuan Rowen menelepon ku agar anda segera pulang karena nyonya sangat khawatir" ucap Charlotte.
"Baiklah Charlotte, Kai...aku pulang dulu, nanti malam aku akan datang padamu, dan kamu kembali lah ke apartment mu ya" Lana mencium pipi Kai dan pergi bersama Charlotte meninggalkan nya.
Kai melihat Lana dan Charlotte pergi, lalu dia pun pergi meninggalkan Rumah Sakit menuju apartment nya.
Sampailah Kai ke apartment para pegawai, Kai melihat Bobby sudah menunggunya.
"Kai...ayo ikut aku!" ajak Bobby.
Kai memakirkan motornya dan memasuki mobil yang di kendarai Bobby.
Dalam perjalanan.
"Kai...kau begitu murung, Marlin pasti baik-baik saja tidak usah khawatir" Dalam keheningan tiba-tiba Bobby mengajak bicara Kai.
"Kau tidak tahu begitu banyak orang-orang yang peduli padaku pasti akan pergi, meninggalkan ku...aku ingin menjadi kuat dan menjaga mereka, tidak mau kehilangan mereka" Kai tertunduk.
"Aku tahu rasanya Kai...sedari kecil aku dan Charlotte tidak pernah mengetahui siapa orang tua kami, saat umurku 4 th dan Charlotte 2 th saat itu, bahkan kami tidak ingat siapa ibu dan ayah kami, yang selalu aku ingat dan harus aku jaga selamanya adalah satu-satunya keluarga ku yaitu adikku Charlotte, kami hanya berdua menghadapi kesulitan dunia ini, Apabila kakek nona Lanaris tidak menyelamatkan kami, mungkin kami mati di jalanan, Charlotte sering menjodohkan ku dengan banyak wanita tapi aku menolak nya, aku takut, kasih sayang ku padanya akan hilang bila aku bertemu wanita lain, aku hanya ingin Charlotte menemukan pria yang bisa membahagiakan nya, dan...banyak rumor kau dan Charlotte...hmmm....berpacaran, apabila rumor itu benar ku harap kau bisa menjaganya dan membahagiakannya"
Kai terhentak mendengar ucapan Bobby.
"Aku dan Charlotte hanya berteman...dan...ku harap kau tidak salah sangka" jawab Kai.
"Hmm...baiklah...semoga saja kau tidak membohongiku...ok....kita sudah sampai, ini adalah bekas pabrik milik keluarga Rowen, Sekarang kami gunakan untuk menghukum para musuh atau pengkhianat" Bobby menghentikan mobilnya dan mengajak Kai turun.
Kai melihat sebuah bangunan besar tak terawat, di penuhi rumput liar dan berbau bangkai, di jaga beberapa orang dengan badan yang besar, saat Kai berjalan mengikuti Bobby, beberapa penjaga menyapa Bobby dan Bobby memperkenalkan Kai kepada mereka.
"Masuklah Kai...kau akan bertemu pria yang membahayakan nyawa Marlin" Bobby menunjuk kepada seorang pria yang terikat terduduk lemas penuh luka.
Kai pun mendekati pria itu, pria itu mendongak kan kepalanya karena mendengar langkah Kai.
"Jangan...ampuuun....saya sudah bilang, saya tidak sengaja...supir itu melawan lalu Leo yang menembaknya, aku hanya mengikuti perintah...tolong selamatkan aku..." pria itu meringis ketakutan.
"Siapa Leo?!!!!...Siapa Leo!!!!" gertak Kai dengan keras memukul tembok di belakang pria itu, semua orang melihat Kai, termasuk Bobby.
"Tuan Baron yang mengirim kami, untuk menculik putri Rowen karena bodyguard nya 'The executor' sedang tidak menjaga putri Rowen, tapi rencana kami gagal, kami hanya melihat supirnya, saat saya menodongkan pistol, supirnya memukulku dengan senjata yang dia ambil dari kakinya, saya pun tumbang dan kulihat Leo melepaskan tembakan ke arah supir itu, dan teman-teman ku lari, supir itu menelepon meminta bantuan, setelah itu aku tidak ingat apa-apa" jelas pria yang terikat itu.
"Akulah The executor!!!" teriak Kai sembari mencekik leher pria itu.
Bobby menghentikan nya.
Kai...amarah nya sungguh mengerikan, the executor, apakah itu julukan Kai?, kenapa pria ini tahu julukan nya Kai?, batin Bobby.
"Kai...jangan bunuh dia, kita masih membutuhkan banyak informasi" sergah Bobby.
"Ampunnnn....jangan bunuh saya...benarkah kau the executor?!!!!...ampuni saya...Leo bilang the executor tak kenal ampun...tapi tolong ampuni saya...bukan saya yang menembaknya" pria itu menangis dengan keras.