I Love You No Matter What

I Love You No Matter What
Chapter 34 - Menyusun Rencana



"Nona...Nona...Nona Lanaris, ada sesuatu yang penting, aku harus memberitahukan Nona soal Kai...nona...tolong buka pintu" bisik Adam sambil mengetuk pintu kamar Lana dengan perlahan.


"Adam...apa yang kau lakukan?, di depan kamar putri ku?!" Richard yang baru saja sampai rumah melihat Adam mengetuk pintu kamar Lana.


Adam terperanjat ketakutan dan menunduk.


"Sa...sa...ya..." Adam terbata-bata.


Tiba-tiba Lana membuka pintu.


"Hai Adam...terimakasih sudah datang, aku perlu kau membelikan obat sakit kepala untukku, masuklah sebentar akan ku berikan resep dokter nya" ucap Lana sembari mempersilahkan Adam masuk.


"Lana...kau terlalu banyak mengurung diri, akan ku panggil dokter untuk memeriksa mu" ucap Richard.


"Aku tidak perlu apapun darimu!!!" teriak Lana ke arah Richard.


"Terserah!...dasar anak manja" Richard meninggalkan putrinya.


Lana melihat Richard sudah menghilang, masuk ke kamarnya.


"Adam...tadi kau bilang soal Kai?" tanya Lana antusias.


"Benar nona, tuan Richard berbohong kepada anda bahwa Kai telah wafat, kemarin saya bertemu nona Charlotte, dia memberitahukan bahwa Kai masih hidup dalam keadaan koma, dan dalam beberapa hari Nona Charlotte ingin menjemput anda untuk melihat keadaan Kai" ucap Adam.


"Benarkah?!!...ah..Syukurlah"


"Nona...saya harus cepat kembali berjaga"


"Baiklah...terimakasih Adam"


Adam pun bergegas pergi dari kamar Lana dan bertugas kembali.


Syukurlah Kai, aku sangat merindukanmu, aku ingin segera menemuimu, aku ingin pergi dari sini, aku harus menyusun rencana agar bisa bertemu Kai, batin Lana senang.



Richard mengumpulkan beberapa anak buah kesayangan nya di ruangan kerjanya, Richard ingin membuat rencana penyerbuan ke daerah Baron.



Richard sudah tidak sabar memenangkan taruhannya bersama Ken.



Mereka pun berunding dan membagi tugas.



"Tuan Richard...anda lebih baik tidak usah ikut dalam penyerbuan, itu sangat berbahaya" ucap salah satu dari mereka.



"Benar tuan...setahu saya Baron memiliki banyak anak buah, anda bisa saja terluka" sahut yang lainnya.



"Tapi aku ingin membunuh Daryl Silas karena sudah mengambil sebagian hartaku dan membuatku jatuh" jawab Richard.



"Bagaimana jika kondisi sudah aman tuan Richard baru bisa masuk dan melancarkan rencana anda...apabila belum aman tuan Richard bisa terbunuh"



"Hmmm...iya" jawab Richard singkat.



"Tuan...percaya pada kami...kami bisa melumpuhkan mereka dengan serangan kejutan, mereka tidak tahu rencana kita"



"Baguslah kalau kalian percaya diri...aku tidak sia-sia membayar kalian dengan mahal, kalian harus berhasil, apabila kalian gagal...habislah aku dan juga kalian semua" Richard pun sangat ketakutan dengan taruhannya bersama Ken, apabila gagal Ken akan mengambil semua miliknya.



Di balik pintu ruang kerja Richard ada istrinya atau mamanya Lana yang mendengar semua ucapan dan rencana mereka.



Mamanya Lana berjalan perlahan dan meninggalkan ruangan kerja Richard dan menghampiri Lana di kamarnya.



Lana yang sedang terbaring memikirkan akan bertemu Kai, membuatnya sangat senang dan tidak sabar.



"Lana...Lana.." mamanya Lana yang tiba-tiba membuka pintu dengan keras dan langsung menutup pintu itu dengan keras membuat Lana sangat terkejut.



"Mama....ada apa?!"



"Papamu...Lana, kenapa kau pucat sekali?...apa kau sakit?!" Tiba-tiba mamanya lupa melihat kondisi Lana yang kurus dan pucat.



"Mama....ada dengan papa?" tanya Lana penasaran yang langsung terduduk di tempat tidur nya.



"Papamu ingin menyerang Kelompok Baron, malam ini...mungkin riwayat Baron akan musnah malam ini" ucap mamanya.



"Apa?!!...Mah, ada Kai...Kai masih hidup, Kai koma...aku harus memberitahukan Adam, agar Charlotte tahu" Lana berdiri dan terhuyung hampir jatuh.




"Aku tidak tahu...badanku lemah...mual setiap harinya...mah, tolong Lana...Mama bisa panggil Adam dan berikan ini...aku akan menulis pesan"



"Mama mendengar semua cerita mu dan Kai...kau sangat mencintai nya, Papamu selalu bilang Kai sudah mati, tapi kau tidak menyerah...kau mendengar kan Mama, untuk tetap hidup...Mama senang jika kau pun bisa bersama dengan Kai, dengan pria yang kau cintai dan hidup bahagia...Mama sangat menyayangimu"



Lana yang sedang menulis pesan untuk Charlotte lewat Adam pun tersenyum melihat mamanya yang berbicara seperti itu, dan langsung memeluknya.



"Lana pun menyayangi mama, Lana akan terus hidup buat kalian semua" peluk Lana erat kepada mamanya.



"Oh iya...ini mah, surat yang sudah ku tulis berisi pesan untuk Charlotte...aku mohon ya mah berikan pada Adam" Lana memberikan surat berisi pesan itu kepada mamanya.



"Iya sayang...akan mama lakukan yang kamu perintah kan, tapi...mama akan panggil dokter juga untuk memeriksa keadaan mu ya"



Lana mengangguk menyetujuinya.



Mamanya pun keluar kamar Lana dan mencari Adam untuk memberikan surat pesan untuk di sampaikan kepada Charlotte.



- Kediaman Daryl Silas -


Marlin yang duduk di kursi roda, melihat Kai yang sedang koma.


"Kai...kasihan sekali nasibmu" gumam Marlin.


"Apakah kau Marlin?" tanya seorang pria di belakang Marlin yaitu Daryl.


Marlin pun menengok.


"Benar tuan Daryl...saya Marlin"


"Saya dengar dari Charlotte, kau sangat dekat dengan Kai putraku, aku sangat berterimakasih" ucap Daryl.


"Kai...orang yang baik, siapapun bisa melihat nya" jawab Marlin.


"Aku ingin kau bekerja denganku"


"Terimakasih tuan Daryl, saya senang sekali" ucap Marlin.


Tiba-tiba Ezra datang.


"Tuan...ada yang ingin kami bicarakan di ruang kerja"


Daryl pun meninggalkan Marlin yang sedang menemani Kai.


- Di Ruang Kerja Daryl -


"Charlotte...benarkah yang kau katakan?" tanya Daryl.


"Benar tuan Daryl...tuan Ken memberitahukan tentang rencana Richard Rowen yang ingin menghabisi Baron, dan dalam waktu dekat ini mereka akan melakukan penyerbuan" jawab Charlotte.


"Tuan Daryl dan Tuan Kai beserta keluarga sebaiknya berlindung di tempat aman, biar saya dan semua anak buah saya yang mengurusnya" Ezra memberi usul.


"Apakah Richard tidak tahu kalau kita sudah mengetahui rencananya?" ucap Daryl.


"Sepertinya tuan Richard tidak tahu" jawab Ezra.


Kriiing!


Ponsel Charlotte berbunyi.


"Permisi Tuan, saya ada telepon dari Adam salah satu mata-mata di kediaman Rowen"


Daryl mempersilahkan Charlotte mengangkat telepon.


"Apa?!...malam ini, ok Adam terimakasih" ucap Charlotte dan mengakhiri telepon nya.


"Tuan...Richard Rowen akan menyerbu malam ini"


"Benarkah??!!" Ezra terkejut.


"Iya...tuan Daryl dan keluarga yang lain secepatnya harus di amankan" ucap Charlotte.


"Hmmm...apa kalian tidak apa-apa?" tanya Daryl.


"Jangan khawatir kan kami tuan" ucap Ezra.


Daryl, Kai dan beberapa kerabat Kai pun segera di amankan di tempat lain, demi keselamatan mereka.


"Sayang...ikutlah tuan Daryl biar aku di sini, aku ingin kau selamat" ucap Ezra kepada Charlotte.


"Aku bisa menghadapi nya" Charlotte yang keras kepala.


"Aku tidak mau kalau hal buruk menimpamu" lanjut Ezra.


"Aku pun tidak mau hal buruk terjadi padamu, aku takut kehilangan mu seperti aku kehilangan Bobby, aku akan di sini memastikan kau selamat" jawab Charlotte.


"Hmmm....baiklah tapi jangan terlalu jauh dariku" ucap Ezra.


"Iya...iya...kau meremehkan ku"


Ezra memeluk dan mencium kekasihnya di ruang senjata.


Aku akan menjagamu selalu Charlotte, batin Ezra.